
Nisa kembali tersenyum sambil menundukkan wajahnya. Serasa malu untuk mengungkapkannya apalagi dengan Richo.
"Dia akan menikah dengan pilihan orang tuanya."
"Apa!. Laki laki macam apa dia!" Ungkap Richo kesal.
"Kenapa seenaknya dia menjanjikan seseorang, tapi dia sendiri membatalkan perjanjian itu!"
Harus senang atau malu yang dirasa kan Nisa saat ini setelah mendengar celoteh Richo yang terlihat kesal.
"Mungkin bukan dia orang yang ditunjuk Allah buat membimbingku menuju jannah bersamanya dok? ". Balas Nisa dengan suara lembut dengan senyuman dibibirnya.
Richo pun sedikit tenang dengan ucapan Nisa yang terakhir kali. Senang dan sedikit kecawa yang dia rasa saat ini.
"Sabar lah. Yakin lah. Suatu saat kamu mendapatkan yang lebih baik dari dia". Ucap Richo menyadarkan.
"Syukurlah. Tunggu aku Nis. bersabarlah, setelah aku kembali aku ingin kita menikah". Batin Richo menatap dalam Nisa yang masih tertunduk menatap gelas berisi kopi hitam itu.
"Andai Dokter Richo tahu perasaan ku padanya, apa dia mau menerimaku?. Sudahlah, mana mungkin dia menyukai aku juga. Maaf kan aku dok, dalam diam ternyata aku sudah mencintai mu." Batin Nisa yang sesekali menatap Richo.
Bebarapa saat mereka saling mengobrol, akhirnya mereka kembali disibukkan dengan beberapa pasien yang datang silih berganti.
Diruangan kerja Nisa ditemani dengan Clarisa, dengan beberapa minuman bahkan cemilan Nisa.
Karna jam pulang, tapi mereka masih dengan santai saling mengobrol.
"Jadi Richo udah tau kalau kamu gak jadi tunangan Ris?" Tanya Clarisa semangat.
" Tanggapan nya Gimana?" Sambungnya lagi.
"Biasa aja. Walau awal nya sedikit kesal terhadap Randy yang membatalkan pertunangan itu. Tapi akhirnya dia reda juga". Jawab Nisa yang memang kenyataan dia alami bersama Richo.
" Koq biasa aja sih??" Tanya Clarisa heran sambil memakan cemilan.
" Jadi mau kamu gimana?, Tertawa terbahak bahak, salto salto ditempat, tau paling gak menangis terisak isak. Gituu??" Jelas Nisa sewot.
"Setidaknya kan kita tau, kalau dia suka kamu Nis, jadikan kalau kamu gagal bertunangan dengan Rendy pasti kan dia bahagia. Karna ada kesempatan untuk dia. Ni koq gk ya? ." Ucap Clarisa bingung.
"Yang selalu punya anggapan kalau dia suka sama aku kan klian bertiga. Makanya, plis deh, kalian itu jangan buat gosip yang gak gak ya?". Ungkap nya kesal seakan teman temannya memberi harapan palsu akan Fakta kalau Richo menyukainya.
"Ishh Belum tentu Nis, mana tau setelah kalian keluar dari ruangan, Dianya lompat lompat bahagia. Kita kan belum tau" Sambung Clarisa tak mau mengalah.
" Clarisaaa!! Udah deh. Ah!" Jerit Nisa kesal.
"Dia akan berangkat 3 hari lagi. Kalau pun dia ada rasa, pasti tadi ungkapin itu sebelum dia pergi." Sambung Nisa kembali.
__ADS_1
" Kan masih ada waktu 3 hari lagi. Tunggu aja dulu, kalau gak kamu aja yang ungkapin. Gimana?.Aku temani?" Muncul ide gila Clarisa.
"Tau ah.. Capek ngomong sama kamu" Nisa mulai membereskan barang barang untuk pergi.
"Eh kita gerak sekarang ni?" Ajak Clarisa untuk menemui 2 sahabatnya itu.
Mereka memang berjanjian ketemu dicafe langganan. Karna sudah lama tidak ngumpul bareng, sekaligus mengadakan pesta kepergian Calvin dan Kylin yang akan berangkat menjadi tim relawan tanpa Clarisa dan Nisa.
"Ia ayok cepat, ambil barang barang kamu sana!" Seru Nisa pada Clarisa, yang langsung buru butu berhambur keruangannya.
Sedang Nisa, setelah mendengar ucapan Clarisa merasa ada betulnya. Dia berharap dengan waktu hanya 3 hari ini, Richo mengungkapkan perasaanya.
Lalu ikut berhambur menyusul Clarisa dirungannya. Stelah semua siap, mereka berlalu menuju Cafe, yang memang ternyata sudah ada Calvin dan juga Kylin yang baru juga sampai.
"Selamat sayang sayang ku. Kalian berangkat juga. Huhh aku bangga sama kalian." Ungkap Nisa sambil melirik Calvin yang masih terlihat kesal. Begitu juga dengan Kylin.
Calvin kesal karna sedari awal memang tak ingin pergi, sedangkan Kylin kesal karna hanya dia dan Calvin yang terpilih tanpa 2 sabahatnya lagi.
"Dok..." Mewek Kylin.
"Hmm. Awas aja kalian ya. Ini pasti doa kalian kan. Sampe harus aku yang terpilih." Ungkap Calvin kesal sambil memakan pesanan mereka.
" Koq doa kita sih?. Malah kita berharap dari awal kita yang pigi. ya kan Nis?" Sambut Clarisa tak terima.
" Haa.. itu tau." Sambung Nisa.
"Tapi kan kamu gak jadi Nikah Nis,?Kenapa gak mencoba mengajukan lagi?. " Sambut Calvin.
"Kalau Clarisa udah payah. Dia mana mau ikut. Dia kan mau nempel terus sama suaminya".Kesal Calvin.
" Oh.. Jelas donk. Makanya kalian Nikah. Biar tau rasanya Rindu jauh bersama suami" Sambung Clarisa.
"Sok ia kamu Cla!!" Sambung Nisa.
" Sombong amat ni anak. Mentang mentang yang udah Nikah luan. Awas aja kalau aku nikah, aku balas dendam kekamu." Ancam Calvin tak terima.
" Yeee,, mau balas gimana. Kan jelas jelas aku yang Nikah luan. wekkk" Ejek Clarisa lagi.
" Udah ah!. Gak selesai selesai brantem kalian. makan Ntuh!" Lerai Nisa.
" Ia juga sih." Sambut Calvin menyadari.
Akhirnya mereka makan dengan lahap, sambil melanjutkan canda gurau mereka yang tak ada habisnya. Apalagi kalau bersama dengan Calvin, Selalu aja bahan untuk dicandakan.
Setelah pesta makan selesai, akhirnya mereka kembali kerumah masing masing.
__ADS_1
***
Ke esokan harinya. Dengan penuh harap Nisa memasuki Ruangan Richo. Lalu meletakkan bekal siang untuknya. Seperti biasa, sebelum keruangannya dia merapikan dahulu meja kerja Richo.
Dengan hati yang mengharap dia akan bertemu Richo, Lalu Richo akan mengungkapkan perasaanya. Sebagaimana dengan perkataan teman temannya, bahwa Richo juga menyukai nya.
Krekkk. Suara pintu terbuka.
Nisa sedikit terkejut akan kedatangannya.
" Assalamualaikum." Sambut Richo saat memasuki Ruangannya.
" Waalaikumsalam" jawab Nisa dengan senyuman sumringah.
" Makasih ya Nis, selalu merapikan tempat kerja ku. Dan juga bekal siang ini." Ucap Richo senang sambil mendudukkan dikursi mejanya.
Sedangkan Nisa sendiri masih pada posisi awalnya, berdiri dengan senyum manis yang dia punya.
" Ia dok." Jawabnya.
"Kira kira dia ungkapin gk yah.? Ya Allah sampai kapan aku terus nunggu dia disini. " Batin Nisa yang masih berdiri.
"Aku pasti akan rindu masakan dan senyum manis kamu Nis selama sebulan. Kumohon bersabar lah?" Batin Richo pula sambil meng aktifkan komputernya.
"Saya izin ya dok" Ucap Nisa sambil melangkah berat kakinya karna masih berharap dipanggil kembali oleh Richo.
Richo hanya mengangguk, tersenyum, untuk mengantarkan kepergian Nisa dari ruangannya.
Hingga sampai Nisa pun keluar dan menutup kembali pintu itu.
"Ya Allah." Lirih Nisa saat dibalik pintu.
Sedangkan Richo hanya terus mengusap usap wajahnya, Karna sebenarnya dia juga bingung. Antara ungkap dahulu atau langsung saja melamar Nisa setelah kepulangannya. Karna dia sudah tau bahwa Nisa sudah gagal bertunangan dengan Randy.
" Sabar. Masih ada 2 hari lagi." Ungkap Nisa lagi sambil menjalankan langkahnya menuju ruangannya.
**SEMANGAT.!!!
TERIMA KASIH TEMAN ATAS DUKUNGANNYA..
JAGN LULA TINGGALKAN JEJAKNYA YA...?
LIKE, COMENT, FAV, DAN VOTE NYA JUGA KALAU BOLEH..
Sehat selalu**...
__ADS_1