Keyakinan Hati

Keyakinan Hati
Hadiah


__ADS_3

"Reyhan?"


Azam menopang dagu, mendengar penuturan sang Skretaris yang baru saja datang dari panti. Panti yang selama beberapa tahun ini sudah sering dikunjungi dan didanainya


"Iya Pak. Mereka datang berdua, saya juga tidak tau ada hubungan apa antara nona Sharma dengan Pak Reyhan. Karena yang saya selidiki saat itu, nona Sharma hanya karyawan biasa yang bekerja di perusahaan Pak Reyhan"


"Dan hari ini, saya melihat ada yang berbeda. Terutama dengan tatapan Pak Reyhan pada nona Sharma" Tutur Dani setengah ragu


"Apa setelah kematian tunangannya Reyhan sama sekali belum memiliki pacar?" Tanya Azam kemudian


"Sepertinya begitu Pak" Dani menyahut mantap


"Lalu, apa hubungannya dengan Sharma. Sepertinya ada yang kamu lewatkan Dani"


"Saya mengerti Pak. Saya akan langsung mencari tahu, permisi"


Setelah Dani berlalu dari ruang kerjanya. Azam hanya mendesah pasrah, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan berfikir


"Seandainya Sharma dengan Reyhan memiliki hubungan khusus. Apa aku harus menyerah?"


**


Sharma baru saja keluar dari mobil Reyhan sepulang dari panti, dan seorang pria yang duduk sambil bercengkrama dengan Nazwa di beranda rumah nampak beranjak saat melihat kedatangannya


"Asalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Dokter Roger" Sapa Sharma saat ia sudah ada di teras, dengan Reyhan yang mengikutinya


"Iya Sharma. Saya mau mengembalikan barangmu yang tertinggal di rumah kemarin, saya sudah mengirimkan pesan, tapi kamu tidak membalasnya"


"Seharusnya saya langsung mengantarkannya kemarin, tapi saya ada keperluan mendadak. Makannya saya datang sore ini"


Roger menjelaskannya dengan detail, ia juga tersenyum pada Reyhan yang tidak lain adalah Bos di rumah sakit tempatnya bekerja, Reyhan hanya mengangguk samar. Sharma juga hanya mengangguk anggukan kepalanya saja, tapi kemudian,


"Tapi Sharma tidak mendapat pesan dari Dokter" Sahut Sharma dengan heran


"Ahh, benarkah. Tapi saya jelas jelas mengirimkan pesan"


Sharma diam dengan keheran heranan, sementara Reyhan yang sesungguhnya sudah mencampuri privasi Sharma hanya diam dan acuh tak acuh saja


"Yasudah tidak apa apa Sharma, dan ....," Roger terlihat ragu


"Kenapa Dok?"


"Seperti biasa, Mama saya selalu merepotkan. Jika ada waktu, kamu ditunggu dirumah, ada beberapa hasil desain yang ingin Mama tunjukan padamu"


"Dia tidak percaya dengan pendapat saya" Sambungnya setengah bercanda. Sharma hanya mengangguk anggukan kepalanya.


Reyhan?


Dahi laki laki itu berkerut mendengar penuturan Dokter dihadapannya. Hatinya bertanya tanya, apa mereka sedekat itu? Bahkan keluarga mereka juga sudah saling mengenal, bahkan Sharma sudah sering dibawa ke rumah Dokter itu


"Insyaallah. Jika ada waktu, nanti Sharma kesana"


Roger mengangguk, sejenak menatap Reyhan yang tetap tak bergeming di posisinya


"Sharma, kalau begitu saya permisi. Sudah sore, barangmu sudah saya kembalikan pada Bunda kamu"


"Iya, terimakasih Dok. Maaf merepotkan"


"Tidak papa. Saya duluan, asalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam"


Setelah mobil Dokter itu berlalu dari pekarangan rumah Sharma. lantas pandangan gadis itu jatuh pada Bosnya yang belum juga berpamitan, padahal waktu sudah menjelang senja


"Pak Reyhan tidak langsung pulang?"


Tanyanya setengah ragu


"Kamu bahkan belum mempersilahkan saya duduk Sharma" Sahutnya yang membuat Sharma kikuk


"Euu, kalau begitu. Silahkan duduk, biar Sharma ambilkan minum"


Reyhan mengangguk, sementara Sharma berlalu, dan tatapan Reyhan tetap lekat pada gadis itu yang menghilang dipintu masuk, sampai ia tidak sadar jika ada gadis kecil yang memperhatikannya


"Pak Bos naksir Kak Sharma ya?" Tebaknya dengan jari telunjuk yang mengarah pada Reyhan yang nampak tersenyum ramah padanya


"Kak Sharma cantik"


"Cantik saja tidak cukup Pak Bos. Kak Sharma itu baik, lemah lembut, penyayang dan taat sama perintah Allah" Sahutnya dengan polos. Reyhan hanya menanggapinya dengan tersenyum saja


"Kak Sharma punya pacar?"


Nazwa diam sebentar, kemudian tersenyum


"Enggak ada. Tapi banyak yang mau sama Kak Sharma"


"Siapa?"


"Pak Dokter, dan Pak Bos"


"Berarti kita berdua harus bersaing untuk mendapatkan Sharma"


"Bersaing?! Berlomba lomba dalam kebaikan. Kak Sharma pasti akan nemilih orang yang dekat dengan Allah, agar bisa membimbing Kak Sharma menuju jannah"


Reyhan tersenyum, ternyata kecerdasan Sharma begitu menurun pada Nazwa yang bahkan masih sangat kecil untuk mengerti hal tersebut yang terasa sangat gamang bagi Reyhan


"Yang seperti Rasullallah"


Gadis itu tersenyum, sementara Reyhan mengangguk anggukan kepalanya penuh arti


Sampai tak lama, Sharma muncul dengan sedikit tergesa gesa sambil membenarkan letak pashmina panjang yang dikenakannya. Ia nampak sudah mengganti pakaian


"Ada apa Sharma?" Reyhan beranjak dari duduknya


"Tidak apa apa Pak. Hanya saja, persediaan minuman sudah habis. Saya ke warung sebentar"


"Biar saya antar"


"Tidak apa apa. Dekat kok"


"Tidak apa apa. Biar saya antar"


Sharma kemudian mengangguk, lalu menjulurkan tangannya pada Nazwa, ia ingin mengajak gadis kecil itu. Sharma tidak ingin para tetangganya berfikir macam macam jika ia jalan hanya berdua saja dengan Reyhan


Reyhan yang mengerti lantas hanya mengikuti apa yang Sharma lakukan. Keduanya berjalan keluar dari pagar rumah Sharma menuju warung Ibu Firda yang berada tak jauh dari tempat tinggal Sharma


"Kamu sering belanja kesini?" Tanya Reyhan diperjalanan mereka


"Saya sering berbelanja kebutuhan pokok disini"


"Kenapa tidak ke supermarket?"


Sharma sejenak menoleh dan tersenyum

__ADS_1


"Yang berbelanja ke supermarket kan banyak. Sedangkan sekarang, jarang ada orang yang mau berbelanja di warung warung tetangga"


"Padahal mereka yang memiliki warung kecil, sangat butuh untuk membiyayai sekolah anak anak, dan hidup mereka" Tutur Sharma, Reyhan hanya mengangguk anggukan kepalanya


Setelah dari warung, Sharma pulang dengan Reyhan dan Nazwa. Reyhan langsung pamit karena waktu yang memang sudah sangat petang


Bersamaan dengan itu, Husaen juga datang dari toko materialnya. mereka hanya mengobrol sebentar dan kemudian Reyhan tetap pamit untuk pulang


**


Arinda baru saja menyiapkan makan malam saat putranya datang. Ia terlihat senang sekali. Pasalnya, Reyhan sangat jarang makan malam di rumah, tapi hari ini putranya itu meminta dirinya untuk memasak menu makan malam, dan Arinda sangat senang sekali. Bahkan ia tidak membiarkan pelayan dirumahnya untuk membantunya memasak


Ia ingin memasak khusus untuk Reyhan


"Sudah pulang?" Tanyanya, menyambut Reyhan yang beranjak ke meja makan


"Iya Ma. Reyhan ingin makan malam dengan Mama"


"Mama sudah masak semua makanan kesukaan kamu, ayo"


Reyhan tersenyum dan mengangguk, sampai Arinda menarik tangannya untuk duduk dikursi meja makan. Berbagai menu makanan kesukaannya sudah terhidang diatas meja


Arinda menyendokan nasi, dan mengambilkan beberapa lauk untuk Reyhan


"Ayo makan"


"Masakan Mama selalu menjadi favorit lidah Reyhan" Pujinya setelah mencicipi masakan sang Mama


Arinda tersenyum menanggapi pujian putranya


"Maafkan Reyhan Ma. Selama ini, Reyhan jarang meluangkan waktu untuk Mama"


"Tidak papa nak. Mama mengerti"


Reyhan tersenyum dan melanjutkan makan, setelah makan, ia masuk ke kamarnya dan memejamkan mata, tapi ia mengingat sesuatu


Reyhan lantas beranjak ke lantai bawah, ke garasi dan mengambil sesuatu dari mobilnya.


Begitu sampai dikamar, Reyhan membuka buku kecil itu setelah sebelumnya mengambil wudhu


Membuka lembar demi lembar dengan seulas senyum di bibirnya, ia masih menelaah ayat ayat suci yang tercetak dengan rapih disana


Ia mengenang sesuatu dan semakin membuat senyumnya merekah


"Ini untuk bapak"


Reyhan yang sudah menghidupkan mesin mobil lantas menoleh pada gadis itu


"Ini apa Sharma?"


"Al-Qur'an"


Reyhan mematung sejenak. Apa karena ia tidak bisa membaca Al-Qur'an sehingga Sharma memberikan buku berisi ayat suci tersebut padanya


"Kelak, Bapak akan menikah dan berkeluarga. Apa jadinya jika anak Bapak bertanya mengenai ayat suci dan Bapak tidak mengetahuinya"


"Biarkan anak anak belajar dengan kamu nanti"


Sharma tersenyum dengan rona malu diwajahnya, ia kemudian menggeleng


"Orang yang paling rugi di dunia ini. Adalah orang yang tidak bisa membaca Al-Qur'an" Sahutnya kemudian, ia tidak ingin terlena dengan ungkapan spontan Reyhan padanya. Ia tidak ingin khilaf, apalagi sampai lupa diri


"Terimakasih Sharma, terimakasih"

__ADS_1


Reyhan tersenyum hangat, sampai kemudian ia mulai melajukan mobilnya, meninggalkan panti


TBC


__ADS_2