
"Ini Sharma?"
"Yaamapun. Ternyata cuma luarnya aja yang polos yah,"
"Bukannya dia lagi deket sama Pak Reyhan yah. Kok tidur sama orang kain sih."
"Gila ya. Dia depan kita aja alim, aslinya ternyata munafik banget."
Syifa mendelik pada orang orang yang sedang menggosipkan Sharma, setelah melihat foto tidak senonoh yang sedang beredar. Syifa tau dan ia juga sudah melihatnya, tapi hatinya menolak percaya, ia kenal Sharma sejak dulu. Sangat mustahil Sharma melakukan hal seperti itu keculi ada sesuatu hal yang terjadi padanya
"Kerudungan, tapi munafik. Mending kita yang nakal apa adanya." sahut salah seorang wanita berpakaian seksi, namanya Desy dan banyak gosip beredar jika dia bekerja sampingan menjadi wanita malam yang setia melayani para lelaki hidung belang. Dan sungguh perkataannya tadi sangat menyulut emosi Syifa
"Saya, nggak papa kerja sampingan jadi pacar om om. Yang penting nggak munafik, kaya si Sharma. So alim, kerudungan, tapi goda gidain Pak Reyhan. Sekarang malah tidur sama laki laki lain,"
Syifa mengepalkan tangannya, kemudian menatap orang orang itu dengan tajam
"Heh mbak! Mohon maaf yah, saya rasa pendapat mbak keliru, jangan menghina pakaian sopan Sharma. Bukankah menutup aurat itu wajib bagi setiap wanita muslim, kerudung itu penting bahkan di perintahkan langsung oleh Allah, kepada Nabi. Pendapat yang mbak sampaikan tidaklah benar, mbak dengan bangga memamerkan pekerjaan hina mbak dan membandingkannya dengan Sharma."
"Coba fikirkan, seorang wanita yang beragama islam tetapi tidak mau menjalankan perintah Allah untuk menutup auratnya boleh dikatakan jujur, tidak munafik? Apa islam nya hanya di KTP saja?"
"Kenapa berkata munafik pada orang yang jelas jelas menjalankan perintah Allah untuk menutup aurat dan berpakaian sesuai syariat?" Syifa menghela nafasnya. Beberapa orang disana mendengarkan dan nampak merenungkannya. Syifa memang junior disini. tapi untuk menyampaikan kebenaran, meski hanya sebesar biji dzarah, ia berhak dimanapun dan apapun posisinya
"Saya memang junior disini, tapi bukan berarti saya akan diam saja mendengar hal tidak benar. Saya memilki hak untuk menyuarakan kebenaran disini."
"Mbak dengam bangga memamerkan kemaksiatan mbak. Dengar ini, dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu. Katanya ;
'Saya mendengar Rasullallah SAW bersabda, ; " Semua umatku dimaafkan, kecuali orang oarang yang mujahir (suka menampakan kejahatan/kemaksiatannya sendiri dengan rasa bangga atau melakukan maksiat di depan umum, tau jika salah, tetapi dia terus melalukan maksiat tersebut)."
Mereka semua terdiam. Terutama Desy, ia meremas remas rok ketat yang dipakainya
"Memang susah, berbicara dengan orang orang yang hanya mementingkan urusan dunia!" sindirnya dengan pedas yang kemudian memilih untuk langsung duduk dan bekerja
"Kerja kerja," sahut seorang pria yang baru saja datang dan melihat mereka masih mematung seperti tadi
Reyhan duduk dengan tidak tenang tempatnya, sampai kemudian ponselnya berdering, telpon masuk dari Sharma, tapi ia tidak ingin mengangkatnya. Beberapa kali gadis itu menelpon dan Reyhan merijeknya
Bayangan 2 minggu yang lalu saat di toilet restoran melintas dikepalanya. Hatinya tiba tiba saja menuduh jika saat itu juga Sharma yang berusaha menggoda Fariz
Cukup lama Reyhna terdian dan mempertimbangkan hubungannya dengan Sharma. Dan ia sampai pada satu keputusan, hubungan mereka harus berakhir
Reyhan memilih untuk balik menghubungi gadis itu. Bagaimanapun, ia harus berbicara dengan Sharma
"Assalamualaikum Mas," Reyhan menghela nafas mendengar suara Sharma
"Waalaikumsalam,"
"Mas Reyhan kenapa tidak ada menghubungi Sharma?"
"Sharma," suara Reyhan begitu lemah sekali. Tidak hanya lemah, bahkan ia juga sedang menahan amarah
"Demi Allah Mas, aku di jebak!"
Persis! Itulah yang sudah di perkirakan oleh Reyhan. Sesuai apa yang sudah disampaikan Fariz padanya
"Berikan ponselnya pada ayahmu, Sharma. Saya ingin bicara!"
Lama Reyhan menunggu. Mungkin gadis itu sedang melamun, sampai kemudian Reyhan merasa jika ponsel, sudah tidak dalam genggaman Sharma
"Assalamualaikum, Pak Husaen,"
"Waalaikumsalam,"
__ADS_1
"Maaf Pak, sepertinya saya tidak bisa melanjutkan hubungan saya dengan Sharma," Reyhan menjeda kalimatnya, rasanya sulit sekali menyampaikan hal ini pada ayah Sharma
Reyhan menunduk, mencoba menguasai diri. Bagaimanapun, semalam ia sudah memikirkannya dan sudah membuat keputusan
"Saya menerima kesalahan apapun, kecuali pengkhianatan. Maaf Pak,"
"Assalamualaikum,"
Reyhan memutus sambungan, kemudian meletakan ponselnya dan menyangga dagu. Plihan berat, yang sudah menjadi keputusannya
**
Salamah mengusap usap punggung Sharma yang terisak setelah mendengar pernyataan Reyhan yang disampaikan oleh Husaen. Ia pun merasa terpukul karena Reyhan terlalu cepat mengambil keputusan, bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan Sharma. Tapi apa yang dikatakan Husaen memanglah benar, jika Reyhan lebih percaya dengan apa yang dilihatnya, maka sulit baginya untuk percaya pada Sharma
"Ini sudah menjadi ketentuan Allah nak, rezeky, maut, jodoh. Semuanya sudah diatur oleh Allah."
"Bunda, tapi Sharma malu pada orang orang. Sharma malu, bagaimana nanti orang orang akan menilai Sharma," sahutnya dengan sesenggukan
Tak lama terdengar seruan salam dari luar. Husaen melihat dan mempersilahkan tamunya untuk masuk dan duduk dengan mereka
Sharma melepas pelukan sang bunda saat dua tamunya itu masuk. Ia menyeka air matanya
"Pak Azam. Terimakasih sudah menolong Sharma," sahutnya yang diakhiri senyuman manis, matanya sembab. Azam begitu miris melihatnya
"Tapi maaf Sharma, saya tidak bisa menghentikan Fariz yang sudah menyebar fotomu," sahut Azam dengan kalem. Padahal hatinya amat bergejolak, ia marah mengingat hal itu
Sharma hanya mengangguk dan terdiam
"Ini lah yang membingungkan nak Azam, kami tidak tau harus dengan cara apa menutupi aib ini," mata Husaen memancarkan suatu emosi. Bukan marah pada putrinya, tapi ia marah pada orang yang sudah merusak harga diri dan kehormatan putrinya. Namun begitu, ia tetap percaya jika semuanya sudah di atur oleh Allah
Azam dan Dani hanya diam. Sejujurnya, Azam sudah memikirkan solusi untuk masalah ini, meski ia tak yakin jika Sharma akan setuju dengan rencananya
Azam yang semula menunduk lantas mengangkat pandangannya
"Apa nak Azam?"
Azam diam, lalu menatap Sharma yang memancarkan mata penuh harap pada Azam
"Menikahlah dengan saya, Sharma."
Sharma mengerjap bingung. Apa ini cara satu satunya? Kenapa begitu mengejutkan? Apa pria dihadapannya ini sedang bermain main?
"Pak Azam,"
"Maksud bapak, menikah pura pura seperti di novel novel ?"
Azam sedikit tertawa
"Mungkin terkesan hanya lelucon, tapi saya bersungguh sungguh Sharma. Pernikahan bukanlah ajang untuk bermain main."
Husaen nampak diam mempertimbangkan. Salamah juga hanya diam
"Dengan begitu, saya akan bilang pada media jika kamu adalah istri saya. Dan foto itu saya yang sengaja mengambilnya ketika kita berbulan madu. Tapi begitu foto itu tersebar, kita tidak mengetahuinya karena ada tangan jahil yang mencoba memfitnah kamu. Bagaimana?" Azam mengemukakan opininya
Sharma masih belum percaya dengan apa yang didengarnya. Semuanya terlihat seperti tidak nyata baginya
"Kamu bisa mempertimbangkannya. Barangkali kamu juga harus berbicara secara langsung dengan Reyhan. Kamu harus menjelaskan semuanya, jika Reyhan percaya dan mau membantu kamu. Maka pernikahan diantara kita tidak perlu terjadi."
"Sebaliknya, jika Reyhan tetap tidak percaya, kamu bisa menghubungi saya kapan saja."
"Ayah,?" Sharma bertanya pada Husaen
__ADS_1
"Ayah setuju, tapi jika kamu tidak yakin. Maka semua ayah serahkan sama kamu," tutur Husaen. Ia mengatakan hal ini bukan tanpa pertimbangan, melihat Azam yang begitu tulus ingin membantu Sharma, ia merasa jika Azam adalah pria yang baik
**
Siang ini, Sharma mengajak Reyhan untuk bertemu di sebuah taman. Meski sepanjang menuju ke taman tadi Sharma banyak sekali mendapat tatapan dan cibiran dari orang orang. Tapi ia tetap kuat dan sabar
Lama Sharma menunggu sampai kemudian Reyhan datang. Pria itu terlihat begitu enggan menatapnya
"Mas Reyhan," Sharma beranjak dari duduknya
"Apa yang ingin kamu katakan? Saya buru buru,"
Sharma terdiam. Ia merasa begitu terpukul dengan sikap Reyhan
"Aku mau membahas tentang foto itu mas, demi Allah. Aku dijebak, Pak Fariz yang mengirimkan pesan atas nama kamu sehingga aku percaya mas," sahutnya dengan suara yang dibuat setenang mungkin
"Bagaimana jika saya tidak percaya,?"
"Mas, aku punya saksi dan bukti. Pak Azam,"
"Azam?"
Sharma mengangguk
"Pak Azam yang sudah menolongku dan membebaskan aku dari Pak Fariz,"
Reyhan tertawa renyah, membuat Sharma heran pada bagian manakah Reyhan merasa jika yang dikatakannya memiliki kelucuan
"Kenapa mas Reyhan tertawa?"
"Sharma, bagaimana jika ternyata malam itu kamu bukan hanya tidur dengan Fariz? Tetapi juga dengam Azam?"
Sharma menggeleng sambil menutup mulutnya yang terperangah karena terkejut. Bagaimana mungkin Reyhan tega mengatakan hal itu padanya?
"Mas,"
"Ternyata saya sudah salah menilai kamu, Sharma. Ternyata kamu sama saja dengan wanita diluaran sana."
"Mas Reyhan tidak mempercayai aku?"
"Beri saya satu alasan kenapa saya harus percaya dengan kamu?"
Sharma sudah tidak bisa lagi menghalau air matanya. Cairan bening itu tumpah begitu saja membentuk anak sungai di pipinya
"Aku berusaha ikhlas dengan hinaan dan cibiran dari semua orang, tetapi aku tidak bisa tahan juka hinaan itu dilontarkan dari laki laki yang aku sayangi. Laki laki yang aku harapkan menjadi seorang imam hidup untukku," sahut Sharma. Sedangkan Reyhan sedari tadi membuang tatapannya
"Demi Allah mas, malam itu aku berniat menemui kamu, aku hanya di jebak karena Pak Fariz dendam sama kamu!"
"Maaf, Sharma. Aku tidak bisa mempercayai kamu lagi"
Sharma menyeka air matanya. Menatap Reyhan yang terlihat begitu membenci dirinya
"Aku tidak akan memaksa mas Reyhan untuk percaya. Silahkan, mungkin jalan takdir kita memang harus seperti ini." Sharma menjeda kalimatnya
"Setelah hari ini, Aku harap mas Reyhan tetap menjadi Reyhan yang sekarang. Jangan pernah meninggalkan salat, mas Reyhan."
"Terimakasih, untuk semuanya."
"Assalamualaikum,"
Sharma berlalu dengan luka dihatinya yang begitu parah. Mungkin memang beginilah jalan hidupnya dengan Reyhan, dan ia tidak dapat menolak
__ADS_1
Reyhan terduduk di bangku taman, hanya menundukan kepalanya. Ia merasa sudah sangat melukai Sharma, tapi gadis itu juga sudah melukai perasaan dan mengkhianati dirinya
TBC