
Seperti apa yang dijanjikan Arinda. Dan ia benar benar mengajak Sharma untuk mengunjungi galeri mininya yang berada di lantai atas
"Bagus banget Tante," pujinya setelah melihat deretan koleksi hasil lukisan Arinda yang terpajang di dinding, sebagian berada di stand frame dan di tertutup oleh kain putih. Sharma tertarik sekali untuk melihatnya, tapi ia menunggu waktu yang tepat untuk Arinda mau menunjukannya sendiri padanya. Ia tidak ingin bersikap lancang terhadap sesuatu yang dianggap privasi oleh pemilik galeri
"Kamu suka?" tanya Arinda, Sharma mengangguk dan tersenyum
"Suka tante"
Arinda tersenyum senang. Kemudian menggandeng Sharma ke arah stand frame yang jauh lebih besar. Keduanya berdiri disana, menatap lukisan yang masih terhalang kain putih itu
"Kamu mau lihat yang ini?" tanya Arinda
"Memangnya boleh?"
"Boleh kalau kamu mau."
Sharma tersenyum dan mengangguk, dari awal ia memang sudah penasaran dengan hal itu
Arinda membukanya, dimana saat kain putih itu tersingkap dan menampilkan foto seorang pria paruh baya yang tampan dalam lukisan tersebut. Rahangnya yang tegas, dan bulu bulu halus yang berada disekitaran wajahnya. Ia peris seperti Reyhan, dan Sharma dapat menebak, jika beliau adalah Tuan Galih Artaffa, ayah Reyhan
"Ini papa Reyhan," sahut Arinda yang membuat tatapan Sharma beralih padanya. Sharma tersenyum hangat, ia tidak akan bertanya apapun tentang ayah Reyhan. Tidak akan, ia sadar jika ia tidak berhak untuk tau. Tetapi jika Arinda akan menceritakan, ia siap untuk mendengarkan.
"Kamu pasti sudah tau mengenai papa Reyhan yang meninggalkan Tante," sahut Arinda dengan sendu. Sharma segera menggapai tangan wanita itu untuk ia genggam
"Tante tidak tau apa kesalahan tante sampai papa Reyhan neninggalkan tante begitu saja. Tante masih mencintainya Sharma. Tapi tante juga ingin belajar ikhlas dengan kepergiannya, "
Sharma tersenyum dan memeluk wanita yang baru beberapa jam dikekenalnya itu
"Semua sudah menjadi takdir tante, om Galih pergi bukan tanpa alasan. Karena setiap orang pasti memiliki alasan disetiap keputusannya."
"Sharma memang tidak tau ada masalah apa antara tante dengan om. Tapi tante harus yakin, semuanya sudah menjadi ketentuan Allah. Kita boleh berencana, berharap, tapi semua tergantung pada yang maha kuasa,"
Arinda terdiam mendengarkan Sharma
"Bagaimana cara agar tante dapat melupakan dia, Sharma?"
Sharma terdiam, ia tidak menyangka dengan respon cepat dari Arinda
"Biar Sharma ambilkan tante minum," Sahutnya, lalu menuntun Arinda untuk duduk disofa panjang yang berada di ruangan itu
Arinda mengangguk dan membiarkan Sharma berlalu untuk mengambilkan minum untuknya
"Tante Arinda suka teh hangat."
Sharma menoleh saat Dinar menghampirinya sambil tersenyum
"Ohh, saya tidak tau Dok," Sharma meletakan gelas yang sudah diisinya dengan air putih
"Tidak papa. Biar saya buatkan, kamu tunggu saja."
Sharma mengangguk patuh, ia hanya melihat Dinar yang membuatkan teh untuk Arinda. Ia nampak memanaskan air. Sampai kemudian wanita itu berbalik padanya
"Kamu sudah lama bekerja dengan Reyhan?" Tanyanya sambil menuangkan satu sendok gula pasir pada gelas yang dipegangnya
"Saya sudah 4 bulan bekerja di perusahaan Pak Reyhan, tapi menjadi asisten pribadinya, baru satu bulan lebih."
Dinar nampak mengangguk dan tersenyum
__ADS_1
"Kamu tau?" tanyanya tanpa langsung melanjutkan kalimatnya
"Apa?"
"Reyhan sebenarnya menyukai kamu!"
Mata Sharma membulat sempurna. Ada debaran aneh didadanya yang langsung ia tepis begitu saja
"Kamu beruntung Sharma. Dikelilingi oleh 2 pria baik yang mengagumi kamu!" sahutnya, ada senyum sendu ketika ia mengatakannya
"2 pria?" tanya heran Sharma
"Reyhan dengan Roger. Mereka adalah 2 pria baik yang selalu berada disekitar kamu. Bukankah begitu Sharma?"
Sharma hanya terdiam. Bagaimana mungkin Dinara mengambil kesimpulan seperti itu?
"Kamu beruntung," sahutnya lagi
Sharma tersenyum
"Apa Dokter Dinara menyukai Dokter Roger?"
Dinara sempat terpaku saat Sharma melayangkan pertanyaan itu padanya. Sharma pun juga tidak mengerti mengapa ia bertanya tentang itu. Tapi satu hal yang ia tau, ia dapat melihat bagaimana perubahan raut wajah Dinara saat menyebut Dokter Roger yang menyukainya. Yaa, ia seperti sedang ...., cemburu
"Apa yang kamu katakan?" tanya Dinara dengan tersenyum. Ia berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya sudah terlihat jelas oleh Sharma. Ia berjalan ke arah pantry dan menuangkan air panas pada gelas yang sudah ia isi dengan gula dan teh. Kemudian kembali pada Sharma
"Kita sama sama wanita Dok. Kita dapat saling memahami, saya tau bagaimana perasaan Dokter pada Dokter Roger hanya dengan melihat mata Dokter." Sahut Sharma saat keduanya kembali berhadapan
Dinara terdiam sambil mengaduk teh hangat yang baru saja dibuatnya
"Kami berbeda keyakinan, Sharma"
Sharma tersenyum
Dinara tersenyum, kemudian menggapai tangan Sharma
"Sekarang saya mengerti, mengapa Reyhan dan Roger, begitu mengagumi kamu. Kamu gadis yang baik Sharma."
"Dokter juga baik"
"Tidak seperti kamu."
"Setiap orang diciptakan berbeda dengan kelebihan dan kekurangannya masing masing. Tapi selalu ada kebaikan pada diri seseorang, itu pasti"
Dinara tersenyum, kemudian mengangguk. Sharma juga tersenyum. Perasaan setiap orang itu rumit, begitu yang Sharma simpulkan
"Sering sering datang kemari ya Sharma. Tante senang kamu ada di rumah ini,"
Sharma hanya tersenyum saat Arinda mengatakannya. Ia akan pulang dan Arinda seolah enggan ditinggalkan
"Insyaallah."
Sharma menyalami wanita itu, Reyhan hanya tersenyum. Sampai keduanya berjalan ke arah mobil Reyhan. Dinar sudah pulang lebih dulu karena ada suatu urusan
Mobil yang dikemudikan Reyhan melaju keluar dari gerbang rumahnya. Arinda hanya melambaikan tangan dengan perasaan sedihnya
"Terimakasih Sharma,"
__ADS_1
Sharma menoleh saat Reyhan mengucapkan terimakasih padanya
"Terimakasih untuk apa?"
"Kamu sudah mau saya bawa ke rumah dan bertemu dengan mama saya,"
"Mungkin sudah takdir, saya bertemu dengan tante Arinda." gadis itu menyahut sambil tersenyum
"Takdir?" dahi Reyhan berkerut
"Bukankah tidak ada istilah kebetulan. Semuanya sudah di tentukan,"
"Termasuk pertemuan saya dengan kamu?"
Sharma menoleh, kemudian tersenyum setelah sebelumnya ia sempat terpaku
"Iya. Pertemuan saya dengan Syifa, Mbak Indah, Mas Akbar, Dokter Roger. Semuanya bukan kebetulan,"
"Maksud saya dalam artian yang berbeda Sharma,"
Sharma terdiam. Dari awal dia sudah mengerti, tapi ia merasa canggung. Terlebih mereka hanya berdua saja di dalam mobil
"Tidak semua yang bertemu itu harus bersama Pak," sahutnya dengan suara lemah
"Bisa saja jika saya melamarmu,"
"Menjadikan kamu istri saya. Dengan begitu, bukankah takdir akan membuat kita bersama?" Reyhan berambisi
"Perkara menikah itu tidaklah mudah Pak Reyhan. Menikah itu adalah ibadah yang paling lama, sehingga kita tidak boleh salah dalam memilih pasangan. Perlu keyakinan hati untuk memilih pasangan hidup."
"Saya sudah yakin Sharma,"
"Bapak sudah yakin, tetapi saya? Apa Bapak tidak ingin tau saya yakin atau tidak?"
Reyhan tersenyum, kemudian mengangguk
"Jadi saya harus bagaimana Sharma?"
"Jawabannya, hanya Bapak sendiri yang tau"
"Bagaimana saya akan tau langkah apa yang akan saya ambil jika saya tidak mengetahui perasaanmu"
Sharma terdiam, cukup lama. Sampai kemudian ia bersuara
"Saya sedang meyakinkan hati,"
"Untuk?"
"Untuk Pak Reyhan"
TBC
*Mohon maaf jarang up. Karena aku lebih condong ke novel lain:")
Sebenernya idenya udah matang, cuman openingnya yang kadang bingungš¤
Terimakasih untuk kalian yang sudah baca
__ADS_1
Minalaidzin Walfaidfzin
Mohon maaf lahir dan batinš*