
"Ada apa Reyhan, kenapa kamu malah meninggalkan Sharma, kenapa dengan begitu saja kamu lebih percaya pada orang lain daripada calon istrimu?" Arinda terus saja memarahi Reyhan yang bercerita jika ia membatalkan hubungannya dengan Sharma.
"Kamu seharusnya ada untuk mendukungnya, bukan malah ikut ikutan seperti orang orang. Mengucilkan Sharma,"
"Apa Reyhan harus mendukung orang yang sudah menghianati Reyhan, Ma?"
Arinda menghela nafas, lalu menepuk bahu putranya.
"Sharma tidak mengkhianati kamu. Kamu sendiri yang egois dan tidak mau percaya pada Sharma!"
"Ma, Reyhan akan ke Singapur. Mungkin akan lama." Pria itu justru malah mengalihkan pembicaraan
"Kenapa kamu ingin pergi?"
"Reyhan perlu menenangkan diri, ma."
"Dan kamu akan menyesal karena sudah mencampakan Sharma. Begitu?"
Reyhan duduk ditepi tempat tidurnya, memijit pelipis pelan
"Ma. Reyhan sudah mengambil keputusan dan Reyhan yakin pada apa yang sudah Reyhan lakukan. Mama gak perlu khawatir."
Arinda hanya menghela nafas. Entahlah, ia juga tidak tau bagaimana cara memberitahukan putranya bahwa keputusan yang diambilnya terlalu cepat.
"Kamu yang sabar yah, Shar." Syifa mengusap bahu Sharma berkali kali, dan gadis itu hanya mengangguk anggukan kepalanya saja.
Sepulang dari kantor, Indah dan Syifa memang mampir ke rumah Sharma untuk memberi suport pada gadis itu. Karena bagaimanapun, keduanya tak percaya pada gosip yang beredar. Setelah Sharma menjelaskannya, ia semakin percaya jika sesungguhnya Sharma hanyalah seorang korban
"Semuanya sudah menjadi takdir. Sharma," sahutnya lagi. Indah juga mengangguk mengiyakan. Sharma tidak bersuara, ia hanya mengangguk anggukan kepalanya saja setiap Indah dan Syifa menguatkannya
**
Hari ini, Azam kembali datang ke rumah Sharma dengan membawa Fariz yang ia suruh meminta maaf pada gadis itu, juga menyerahkannya pada Sharma akan mengadili Fariz dengan cara yang bagaimana. Husaen sangat geram sekali pada pria itu, ingin rasanya ia mencabik cabik saja wajahnya, tapi mengingat jika Allah tidak suka pada orang yang main hakim sendiri. Maka Husaen mengurungkan niatnya
"Saya mohon maaf Sharma. Saya terpaksa menjadikan kamu bahan balas dendam saya pada Pak Reyhan. Saya mohon maaf, saya menyesal Sharma." sahutnya dengan memohon. Sudah beberapa kali ia mengatakannya. Sementara Sharma hanya menyeka air matanya
"Saya sudah memaafkan Pak Fariz,"
"Kamu boleh menghukum saya, Sharma."
Sharma tersenyum
"Apa dengan menghukum Pak Fariz semuanya akan kembali menjadi normal? Kalaupun Pak Fariz bersedia memberi kesaksian, itu tidak berpengaruh apapun. Mas Reyhan tetap tidak percaya pada saya dan semua orang tak akan merubah penilaiannya terhadap saya!"
__ADS_1
Fariz hanya menunduk
"Saya mohon maaf Sharma. Demi Allah, saya menyesal sudah menjadikan kamu sebagai tumbal,"
"Pulanglah Pak, minta maaflah pada Allah. Memohonlah padanya untuk tidak memberikan Pak Fariz, karma."
Sharma berlalu dari sana ke halaman belakang. Ia tak kuasa menahan sakit dihatinya, meski ia berusaha setegar mungkin dan percaya jika ini adalah rencana Allah. Tapi tetap saja, ia merasa jika jalan hidupnya sedikit tidak adil
"Pak, saya izin menemui Sharma,"
Husaen mengangguk, sementara Azam berlalu menyusul Sharma.
"Kamu dengar apa yang putri saya katakan?"
"Pergilah!" usir Husaen tanpa mau menatap pria itu. Ia tidak mau amarahnya semakin memuncak
Dani menepuk bahu Fariz, membuat Fariz tersentak dan kemudian mengangguk. Lalu pergi keluar darisana diikuti Dani yang memastikan kepergiannya
Azam perlahan melangkah mendekat pada Sharma, kemudian duduk di kursi panjang itu. Disamping Sharma yang nampak sudah menghentikan tangisnya
"Pak Azam," gadis itu menegur
Mungkin bukan waktu yang tepat untuk Azam mengatakannya. Tapi kedatangannya menyusul kemari memang untuk membahas hal ini dengan Sharma
Sharma meremas pinggiran gamisnya, kemudian menoleh pada Azam yang nampak menatap taman belakang yang ada dihadapannya
"Sharma, saya melamar kamu bukan tanpa pertimbangan yang matang. Saya tau pernikahan itu adalah janji suci mata Allah, tidak bisa sembarangan dilakukan jika tidak ada niat untuk ibadah."
"Saya ingin memperistri kamu bukan atas hasutan nafsu. Tapi karena saya tulus, Sharma. Saya sudah istiqharah untuk ini, saya sudah meminta petunjuk pada Allah dan saya sudah meyakinkan perasaan saya terhadap kamu,"
"Menikahlah dengan saya jika kamu bersedia."
Sharma diam. Posisinya benar benar sedang dalam keadaan yang sulit saat ini
"Pak Azam. Sharma juga perlu meyakinkan hati, dan beristiqharah. Tolong beri Sharma waktu,"
"Baik. Kabari saya jika kamu sudah memiliki pilihan!"
**
"Kamu yakin Rey, kemarin aku datang dengan Roger ke rumah Sharma, dan melihat dia begitu murung sekali. Dia korban, Rey." Dinar berusaha mencegah kepergian Reyhan yang memilih untuk mengisolasi diri ke luar negri
"Aku yakin Dinar, keputusanku tidak akan goyah. Aku tetap akan pergi, dan biarkan Sharma sendiri."
__ADS_1
"Aku tidak yakin jika setelah ini akan ada pria yang ingin padanya."
"Jaga bicaramu Reyhan. Kenapa kamu jadi kurang ajar pada Sharama?" Dinar emosi sendiri
"Pergilah ke tempat sejauh mungkin. Sharma tidak pantas mendapatkan kamu sebagai calon imamnya kelak. Kamu tidak layak," sahutnya yang kemudian mengambil jubah putihnya dan berlalu dari meja makan. Suasana sarapan pagi itu menjadi kacau, dan Arinda memilih untuk hanya diam
Reyhan meletakan sendok dan garpunya. Ia sudah tidak berselera. Ia mengatakan hal itu semata mata karena dirinya kecewa. Ia kecewa pada Sharma
"Ma, Reyhan akan segera berangkat. Pesawat Reyhan take off satu jam lagi. Reyhan akan sering datang mengunjungi mama." pamitnya pada Arinda, kemudian mencium punggung tangan Arinda dan kedua pipi perempuan paruh baya itu. Setelah mendapat ucapan hati hati dari Arinda, lantas Reyhan berlalu dari sana
Meski setiap langkah mengingatkannya pada Sharma. Ia tetap akan pergi jauh, kalau perlu ia tidak usah kembali lagi ke tanah air. Karena kembali, hanya akan menambah luka dihatinya
Andai Arinda mau diajak pindah, mungkin Reyhan bisa melakukannya
**
Ini adalah hari ke-7, setelah Azam untuk yang kedua kali melamarnya. Dan Sharma sudah berada pada keputusan untuk mengambil sebuah pilihan yang sudah diyakini oleh hatinya. Sharma yakin keputusannya tidaklah salah. Terutama ketika ia mengetahui dari Syifa jika Reyhan pergi ke Singapura dan akan menetap disana, meninggalkannya. Yang artinya tidak ada lagi yang bisa Sharma harapkan dari hubungannya dengan Reyhan
"Kamu yakin nak?" tanya Husaen ketika akad nikah akan segera berlangsung
"Sharma yakin ayah. Do'akan Sharma, semoga Pak Azam menjadi imam yang baik untuk Sharma." sahutnya dengan lembut. Husaen mengangguk, mengecup kening putrinya yang hari ini nampak cantik dengan kebaya pengantin yang dipakainya
"Bunda akan menjemput kamu setelah ijab kobul," Sharma mengangguk. Kemudian hanya tersenyum saat Husaen berlalu dari kamarnya
Sharma lantas menatap dirinya dalam pantulan cermin. Ia belum bisa percaya jika yang menikahinya adalah Azam, bukan Reyhan yang sempat ia khayalkan menjadi imam
Samar samar Sharma mendengar ijab kobul yang dilangsungkan di ruang tengah dan dihadiri beberapa saksi itu, siap dilakukan.
"Qobiltu nikaahahaa wa tazzwijahaa bil mahril madz-kuur"
Suara sah terdengar serentak setelahnya
Air mata Sharma mentes begitu saja ketika ia mendengar suara Azam yang mengucapkan ijab secara lancar dalam satu kali tarikan nafas. Lalu ia berucap hamdalah, sekarang ia sudah sah menyandang status sebagai seorang istri
Bunda datang ke kamarnya dan membawa Sharma untuk duduk disamping Azam. Sharma melihat hanya sekitar 10 orang yang berada disana. Hanya penghulu, orang tua tunggal Azam, Dani, RT di kompleks perumahan Sharma. Dan sisanya adalah tetangga dan pemuka agama di daerah itu
"Terimakasih Pak Azam," sahut Sharma saat Azam akan mencium keningnya. Azam tersenyum lembut, lalu mendaratkan bibirnya di kening Sharma. Sharma memejamkan mata. Ia dan Azam memang baru saja saling mengenal, tapi Sharma merasa damai dan nyaman dekat dengan Azam
Suasana haru terjadi di ruang tengah kediaman Husaen begitu akad nikah selesa di gelar. Melepas putri satu satunya pada pria yang tiba tiba saja datang melamar tentu saja membuat Husaen dan Salamah ragu melepas kepergian sang putri yang nanti akan di boyong oleh suaminya.
Sementara di lain tempat, Reyhan terlihat frustasi setelah mendapat kabar dari Akbar jika Sharma menikah dengan Azam.
"Aku tidak menyesal meninggalkan Sharma. Lihatlah sekarang bagaimana dia membuktikan dirinya yang sesungguhnya."
__ADS_1
TBC