Keyakinan Hati

Keyakinan Hati
Journey of Love


__ADS_3

Ini sudah satu bulan berjalan proses taaruf yang dilakukan Sharma dan Reyhan. Kemajuan perkembangan hubungan keduanya jelas terlihat. Pancaran mata dari keduanya tak jarang memperlihatkan jika ada cinta diantara mereka


Cinta yang didasarkan pada keimanan dan ketulusan diantara mereka. Membuat Roger mau tidak mau memilih mundur untuk satu langkah. Menepati janjinya yang akan menghormati apapun keputusan dan pilihan yang diambil Sharma. Justru Sharma mengatakan padanya jika Dinar menaruh hati padanya


Jujur, Roger menyadari perasaan Dinar sejak lama. Tapi sayang, mereka memiliki keyakinan yang berbeda. Dan Roger ingin memiliki istri, yang satu keyakinan dengannya. Beribdah bersama, salat dengan ia yang menjadi imam dan sang istri dibelakangnya menjadi makmum setia untuknya


Sementara Azam ....


"Pak, hari ini nona Sharma ...,"


Azam melepas kacamata bacanya, kemudian menutup berkas yang sedang ia baca. Lalu tatapannya beralih pada sang Skretaris yang berdiri di sebrang meja kerjanya


"Dani, berapa kali saya bilang. Jangan mengorek informasi apapun lagi tentang Sharma." sahutnya dengan helaan nafas berat


Dani terdiam


"Dia sudah memilih Pak Reyhan. Biarkan!"


"Tapi saya tau jika Bapak masih sering melihat foto dan vidio nona Sharma."


"Nona Sharma memilih Pak Reyhan, karena dia tidak tau jika ada Bapak. Andai Bapak menampakan diri dan secara terang terangan menunjukan niat Bapak untuk memperistri nona Sharma, bisa saja dia memilih Bapak."


"Padahal, tanpa nona Sharma tau, Bapak seringkali berada ditempat yang sama dengan nona Sharma. Pengajian hari minggu, masjid dekat kantor Pak Reyhan, panti asuhan ...,"


"Dani," Azam menghentikan ucapan Skretarisnya. Membuat Dani menunduk hormat pada sang atasan


"Maaf jika saya lancang, Pak." sahutnya. Menyesali kelancangannya tadi, meski apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran nyata yang selama ini ia tau


"Saya tau maksud kamu baik, tetapi ini sudah menjadi keputusan Sharma. Apa yang bisa kita lakukan? Datang ditengah niat baik Reyhan yang akan menikahi Sharma?" tanya Reyhan. Dani terdiam


"Itu tidaklah baik Dani. Apalagi jika Sharma memang mencintai Reyhan. Apa yang bisa saya lakukan kecuali hanya merelakan?"


Dani diam. Mencerna apa yang dikatakan sang atasan


"Mungkin Sharma bukan jodoh saya," Azam mengakhiri kalimatnya dengan pasrah


"Jangan membuat mereka tidak nyaman dengan kamu terus mengawasi mereka,"

__ADS_1


"Baik Pak."


"Lakukan pekerjaanmu, dan jangan lagi membahas Sharma," Sahutnya lagi yang langsung dijawab anggukan oleh Dani. Skretarisnya itu keluar, dan Azam mendesah setengah frstasi. Ia tidak merelakan Sharma, ia hanya sedang mencoba belajar untuk mengikhlaskan gadis pujaannya sejak gadis itu duduk di bangku SMA


Gadis berseragam SMA yang tidak sengaja ditemuinya sedang murotal qur'an di masjid yang dekat dengan kantor Azam. Azam langsung jatuh cinta padanya. Tapi sayang, saat melakukan penyelidikan, Azam mengetahui jika Sharma baru saja duduk dibangku SMA kelas 11. Membuat Azam menunda niatannya untuk sementara waktu sampai gadis itu lulus SMA


Namun lagi lagi, Azam harus menahan hati saat tiba tiba saja ia mendapat tugas dari sang ayah untuk ke luar negri selama 2 tahun. Mengurus perusahaan disana


Ketika ia kembali, Sharma sudah duduk di bangku kuliah, sering datang ke panti asuhan yang selama ini mendapat donasi dari perusahaannya. Dan gadis itu dekat dengan seorang Dokter, membuat Azam mundur beberapa langkah dan hanya mengamati Sharma sampai detik ini, sampai ternyata Sharma akan diperistri oleh Reyhan. Galih Reyhan Artaffa. Bukan Roger Lucass


Azam hanya memijit pelipis mengingat perjalanan hidupnya mengamati Sharma. Hanya mengamati. Ia memang kurang berani dalam melangkah ke jalan yang lebih serius sebagai seorang lelaki


Sehingga mungkin ini hukuman untuknya. Harus mengikhlaskan Sharma dengan orang lain, dan ia, memang harus ikhlas


**


"Sharma,"


Sharma mendongak saat Reyhan memanggilnya, kemudian ia melangkah ke arah meja kerja pria itu


"Kenapa Pak?" tanyanya


"Kita hanya berdua, tidak perlu seformal itu."


Sharma tersenyum


"Tapi di kantor, kita tetap atasan dan bawahan, Pak Reyhan." sahut Sharma dengan penuh penekanan


"Baiklah. Terserah kamu saja, calon istri," sahutnya setengah tertawa. Sharma hanya tersenyum


"Baiklah, jadi apa yang bisa saya bantu?" tanya Sharma yang kemudian mengingat alasan ia datang ke arah meja kerja Reyhan


"Oh yah. Jadwalku hari ini."


Sharma mengangguk. Pagi ini, ia memang belum memberitahukan agenda pekerjaan Reyhan untuk hari ini.


"Pagi ini, Bapak hanya bekerja di dalam ruangan ...,"

__ADS_1


Sharma terus membacakan agenda Reyhan untuk hari ini. Sementara Reyhan mendengarkan dengan khusu, sesekali mencuri pandang pada Sharma


"Oh, ya. Dan siang nanti. Bapak akan ada pertemuan dengan Tuan Fariz,"


"Fariz?" tanya Reyhan dengan dahi berkerut


"Benar, perusahaan fashion yang mengajak kita untuk bekerja sama."


"Nama perusahaannya Fariz Fashion, Pak."


Reyhan terdiam. Seperti mempertimbangkan sesutu. Pasalnya, ia merasa tidak asing dengan nama perusahaan itu. Reyhan menggapai telpon kantor, kemudian menghubungi seseorang untuk masuk ke ruangannya. Tak lama, pintu ruangan terbuka, Akbar masuk dengan sedikit tergesa


Sharma yang merasa heran hanya terdiam dan memperhatikan


"Ada apa Pak?" tanyanya ketika sudah berdiri didekat Sharma dengan masih menjaga jarak dengan gadis itu


"Apa kamu tau perusahaan Fariz Fashion?" tanya Reyhan dengan dahi berkerut. Sedari tadi ia berusaha mengingat ingat perusahaan tersebut, tapi nyatanya ia tidak berhasil dan malah menyerah, sehingga memilih untuk menanyakannya saja pada Akbar


"Fariz Fashion?" Akbar berucap lirih sambil mengingat-ingat


Reyhan mengangguk


"Ohh, saya ingat Pak. Fariz Carwall, pendiri perusahaan baru, Fariz Fashion. Sebelumya, dia merupakan general manager di perusahaan XX, tapi dia dipecat karena membocorkan konsep brand perusahaan pada perusahaan pesaing. Satu minggu yang lalu dia mengirimkan surat resmi untuk mengajak perusahaan kita bekerja sama. Dia juga mengundang Bapak secara langsung untuk makan siang hari ini. Apa Sharma belum memberi tahu Bapak?" sahut Akbar


dengan panjang lebar yang diakhiri dengan pertanyaan


"Sudah." Reyhan menyahut singkat


Akbar hanya mengangguk anggukan kepalanya, sementara Sharma hanya terdiam


"Baiklah, nanti siang kita akan bertemu dengannya," sahut Reyhan setelah mempertimbangkan langkah yang akan diambilnya


"Bapak akan bekerja sama dengan Fariz Carwall?" tanya Akbar dengan ragu


"Kenapa tidak?" Reyhan balik bertanya. Akbar hanya menggeleng, Reyhan adalah bos yang bisa melakukan hal apapun


"Fariz Carwall." lirih Reyhan dengan tangan yang menyangga dagunya

__ADS_1


**


__ADS_2