
"Assalamualaikum, mas Reyhan." Ia memegang gagang pintu dan masuk. Terlihat seorang pria dengan stelan rapih telah menunggu dengan posisi memunggunginya. Sharma tersenyum
"Ini aku bawain masakan buatan bunda." Sharma menaruh rantang itu diatas nakas
"Aku gak bisa lama lama mas, karena ...," Sharma terdiam saat pria yang satu ruangan dengannya itu berbalik
"Pak ....., Fariz"
Fariz tersenyum melihat gadis itu yang nampak panik di tempatnya
"Apa kabar, Sharma?"
Sharma mundur satu langkah
"Kenapa Pak Fariz ada disini?" tanyanya dengan gugup
"Saya?" Fariz menunjuk dirinya sendiri. Lalu tertawa, membuat Sharma merinding melihatnya
"Saya yang mengirim pesan itu pada kamu Sharma,"
Sharma menggeleng tidak percaya
"Kamu berfikir jika itu Reyhan?" tanyanya dengan wajah yang seolah kasihan melihat Sharma
"Sayang sekali Sharma," ia menggeleng gelengkan kepala, kemudian berjalan ke arah pintu dan menguncinya. Membuat Sharma terperangah ketika menyadari jika sekarang ia terjebak. Berdua dengan Fariz di dalam kamar hotel
"Apa yang akan bapak lakukan?" tanyanya dengan khawatir
"Bersenang senang dengan kamu tentu saja."
"Tolong bapak jangan macam macam,"
"Hanya satu macam Sharma, tenang saja."
Sharma menggeleng, kemudian kembali melangkah mundur saat Fariz melangkah untuk mendekat padanya
"Pak, saya mohon."
"Pak Fariz!"
Sharma melihat ke belakangnya saat tubuhnya sudah menabrak tembok. Ia sudah tidak bisa mundur lagi
"Pak Fariz, saya mohon."
Fariz menggeleng sambil mengamati wajah cantik Sharma
"Saya juga menyukai kamu Sharma, kamu cantik. Bagaimana jika kamu meninggallkan Reyhan dan bersama sama saja dengan saya."
"Saya tidak mau,"
"Kamu menolak saya? Kenapa saya merasa sedih sekali Sharma,"
"Pak Fariz, saya mohon. Saya ingin keluar pak, ini tidak benar pak. Tolong,"
"Kamu semakin cantik saat memohon seperti ini Sharma."
Fariz menilik penampilan Sharma, membayangkan bagaimana tubuh indah Sharma dibalik pakaian yang menutup habis tubuh wanita itu. Pikiran liarnya bekerja dengan sangat cepat
**
Reyhan menghentikan langkahnya ketika baru saja sampai di bandara. Ia mendapat pesan dari nomor baru yang mengatasnamakan Fariz
Air mukanya berubah seketika begitu melihat pesan dan beberapa foto yang baru saja di kirim olehnya.
+628582****
Bagaimana Pak Reyhan. Apakah perjalanan bisnis anda menyenangkan? Malam ini saya dengan Sharma sudah menikmati malam syahdu yang menyenangkan
"Sharma," lirihnya dengan lemas. Reyhan mengingat obrolannya dengan Devan saat hari pertama berada di singapur
"Apa benar jika Sharma," ia menggeleng dengan raut kecewa
Sementara Fariz dikamar hotelnya hanya menatap Sharma yang ia buka kerudungnya, dan sekarang gadis itu tengah berbaring dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya terlihat damai
Fariz tersenyum
"Sharma. Andai kamu sama seperti Rayana yang dengan mudahnya aku ajak tidur bersama. Mungkin aku tidak akan sampai membuatmu begini," sahutnya sambil membelai wajah Sharma
Fariz mengajak Sharma untuk tidur bersama. Meski ia tau Sharma akan menolak, dan sayangnya gadis itu malah mencoba untuk melawannya dengan hendak memukul kepala Fariz dengan vas bunga. Tapi sungguh, saat Sharma pinsan karena kepalanya terbentur tembok, Fariz tidak sengaja mendorongnya
__ADS_1
"Sayang sekali Sharma, aku tidak bisa meniduri kamu karena kamu sedang pinsan,"
"Dan, aku memang tidak ingin menidurimu. Kamu terlalu baik, kamu harus di hormati meski aku sudah membuatmu tidak terhormat karena ...,"
Fariz menatap foto Sharma yang ia sebar di berbagai sosial media dengan mengatasnamakan perusahaan Reyhan. Dengan begitu, reputasi perusahaan Reyhan akan hancur, begitu juga dengan Reyhan. Memang itu yang Fariz inginkan
"Tapi bibirmu, kamu sengaja menggodaku Sharma?"
"Baiklah, akan aku kabulkan!"
Fariz mendekati wajah Sharma, baru ia akan menempelkan bibirnya di bibir Sharma, suara pintu yang dibuka secara paksa mengalihkan
Seorang pria berdiri disana dengan wajah penuh amarah
"Pak Azam," lirihnya dengan takut
"Harusnya saya memenjarakan kamu saat satu minggu yang lalu kamu coba melecehkan Sharma,"
Nafas Azam memburu. Kalau bukan karena ia tak sengaja mendengar obrolan seorang resepsionis yang menyebut nyebut nama Sharma, maka ia tidak akan tau jika Sharma sedang dalam bahaya sekarang
Fariz menggeleng. Ia lupa jika ia sedang berada di hotel milik Azam sekarang, mantan atasannya
Azam melihat Sharma yang berbaring tanpa kerudung yang membungkus kepalanya, diatas tempat tidur, tangannya terkepal dengan kuat dan langsung menghajar Fariz dengan brutal
"Kamu apakan Sharma, huh?"
Fariz memegang ujung bibirnya yang langsung berdarah
"KAMU APAKAN SHARMA?!"
"Tidak Pak. Sharma belum sempat saya apa apakan!"
"Belum sempat kamu apa apakan?"
"Apa maksud kamu?"
Rahang Azam mengeras, ia kembali memukul Fariz sampai Dani datang dan menghentikannya
"Pak,"
"Kamu urus dia!"
Tak lama dua orang petugas wanita datang menghadap Azam
"Ganti pakaiannya dan pakaikan dia kerudung!" Suruh Azam tanpa mau menatap Sharma. Ia sungguh merasa terpukul melihat gadis yang dicintainya di perlakukan seperti itu
Dua petugas hotel wanita itu mengangguk menuruti apa kata Azam. Lalu Azam keluar dari kamar hotel. Dani sudah membawa Fariz entah kemana
"Sudah pak,"
Azam menoleh, melihat Sharma yang sudah diganti pakaiannya. Azam mendekat, lalu menghubungi Dani terlebih dahulu
"Tahan Fariz. Jangan biarkan dia kabur sampai Sharma sadar!"
Azam menatap Sharma, dengan iba. Lalu duduk di tepi tempat tidur dan meraih tubuh Sharma
"Maaf Sharma," sahutnya sebelum tangannya benar benar menyentuh tubuh gadis itu
Lain halnya dengan Reyhan yang merasa amat kecewa pada Sharma, ia pulang ke rumah Arinda dengan perasaan resah yang luar biasa. Membuat Arinda yang merasa haus dan bangun dari tidurnya untuk mengambil minum heran pada putranya itu
"Reyhan ada apa?"
Reyhan menggeleng. Ia lebih memilih untuk berlalu ke kamarnya membuat Arinda heran. Padahal dia sangat merindukan putranya
Dia yang menggodaku, Pak Reyhan. Dan saya tidak bisa menolak
Sharma sendiri yang mengajakku untuk datang ke hotel
Dia akan bilang padamu jika saya yang menjebaknya. Saya harap Pak Reyhan tidak mempercayainya. Sharma itu aktris polos yang begitu hebat
Reyhan mengacak rambutnya frustasi. Terlebih saat melihat bekas chatan Sharma dengan Fariz yang memang menunjukan bukti kuat jika Sharma yang menggoda Fariz dan mengajaknya untuk bertemu di hotel
Jujur Reyhan sulit percaya, namun mengingat fakta tentang Nadia, ia merasa adalah tidak heran jika Sharma pun memiliki watak demikian. Devan benar,
"Sharma. Ternyata selama ini aku sudah salah mengenalmu,"
"Aku menerima apapun. Kecuali pengkhianatan, kenapa kau memilih untuk mengikuti jejak Rayana?"
Reyhan merogoh ponselnya saat benda pipih itu berdering. Telpon dari salah satu karyawan perusahaannya
__ADS_1
"Ada apa?"
"Bapak buka sosial media sekarang juga,"
"Baik!"
Reyhan memutus panggilan dan membuka sosial medianya. Foto Sharma tanpa kerudung yang berada di sebuah kamar hotel dan tubuhnya yang dibalut selimut terpapang disana. Membuat kesan jika gadis itu hanyalah gadis manis yang selama ini hanya berpura pura polos saja di depan semua orang
Reyhan tidak bisa berbuat apa apa. Satu hal yang sekarang dirasakannya. Kecewa
Ia kecewa pada Sharma
**
Pagi ini, Sharma hanya terisak saat Salamah menceritakan jika semalam ia diantarkan pulang oleh Azam. Dan Sharma mengingat dengan baik bagaimana kejadian naas itu menimpanya semalam. Ia masih beruntung karena Fariz belum berbuat hal menjijikan padanya
Sharma lebih terpukul lagi begitu melihat fotonya yang tersebar di berbagai sosial media. Hal itu sungguh melukai perasaannya, merusak kehormatan dan mengobrak abrik harga dirinya
"Sabar sayang," Salamah berusaha menenangkan putrinya. Husaen juga sudah gusar di tempatnya
"Maafkan Sharma, bunda. Ayah," ucapnya dengan penuh penyesalan
"Bagaimana dengan Reyhan, Sharma?"
"Apa dia tau masalah ini?" tanya Husaen tiba tiba saja. Sharma terdiam, ia teringat jika Reyhan tidak menghubunginya sama sekali sejak semalam. Bahkan sampai hari ini
"Sharma belum menghubungi mas Reyhan, ayah. Tapi mas Reyhan pasti sudah mengetahui hal ini."
"Lalu kenapa dia tidak menghubungi kamu?"
Sharma menggeleng. Ia pun tidak tau kenapa Reyhan tak memberi kabar padanya
"Nazwa ambilin hape Kak Sharma di kamar yah," pinta bunda yang langsung diiyakan oleh Nazwa. Ia pergi ke kamar Sharma dan kembali dengan membawa ponsel Sharma
Sharma menerimanya dan menelpon Reyhan. Berharap harap cemas menunggu respond diujung sana. Beberapa kali Sharma menelpon dan mendapat rijekan darisana
"Bagaimana nak?"
"Mas Reyhan nggak angkat telpon dari Sharma, bunda."
Salamah menepuk bahu putrinya. Sedangkan Husaen nampak hanya memijit pelipisnya
Tak lama, ponsel Sharma berdering. Telpon dari Reyhan
"Mas Reyhan," lirih Sharma yang kemudian dengan cepat menggeser ikon hijau
"Assalamualaikum Mas,"
"Waalaikumsalam,"
"Mas Reyhan kenapa tidak ada menghubungi Sharma?"
"Sharma,"
"Demi Allah Mas, aku di jebak!"
Persis! Itulah yang sudah di perkirakan oleh Reyhan
"Berikan ponselnya pada Ayahmu, Sharma. Saya ingin bicara!"
Sharma diam, ia merasa nada bicara Reyhan dingin sekali padanya. Apa dia marah karena Sharma sudah merusak reputasi perusahaannya? Tapi sungguh, Sharma hanyalah korban
"Nak," Salamah menegur
Perlahan Sharma menyodorkan ponselnya pada Husaen. Husaen menerimanya, mendengarkan apa yang ingin dikatakan Reyhan sampai panggilan terputus. Raut wajah Husaen terlihat begitu kecewa
"Kenapa ayah?" tanya Sharma, menepis fikiran fikiran buruk yang tiba tiba saja bersarang di kepalanya
"Reyhan memutuskan hubungannya dengan kamu, Sharma. Dia tidak menerima pengkhianatan,"
"Tapi mas Reyhan cuma salah paham, Ayah."
"Tapi dia lebih percaya dengan apa yang dilihatnya, Sharma. Kita bisa berbuat apa?"
Sharma menggeleng. Kenapa kenyataan seperih ini menghampirinya? Kenapa Tuhan memberinya ujian yang tak sanggup di lalui oleh Sharma
Sharma tau Tuhan sedang mengujinya dan ia harus sabar. Tapi apa harus dengan cara seperti ini?
TBC
__ADS_1