Keyakinan Hati

Keyakinan Hati
Teruntuk Reyhan


__ADS_3

Penasaran sama visual Azam? Ntar aku pasang di cast pemain di first meet:")


**


Genap satu tahun Sharma menyandang status sebagai istri dari Azam Ar-Rasyid. Hari-harinya dilalui dengan penuh kebahagiaan


Azam adalah pria yang baik baginya. Imam yang sholeh, dan suami idaman para wanita. Sharma beruntung memilikinya.


"Sayang,"


Sharma menoleh saat Azam menghampirinya sambil membawa jas dan dasi, Sharma mengambilnya. Karena ia tau Azam meminta bantuannya untuk memakai semua itu.


"Sharma belum siapin sarapan. Akhir akhir ini Sharma nggak enak badan,"


"Kamu sakit?"


"Cuma nggak enak badan aja."


"Nanti mas panggilkan dokter, ya."


"Enggak usah. Soalnya ....,"


Azam menyipitkan mata. Jas dan dasi sudah melekat di tubuhnya.


"Ada apa Sharma, jangan buat mas khawatir."


"Sharma udah lama telat datang bulan,"


"Berapa minggu?"


"Sekitar ....., 5 minggu kayaknya."


Azam menyipitkan matanya, kemudian tertawa dan langsung mendaratkan kecupan di dahi Sharma


"Pulang dari kantor, nanti mas temani ke dokter yah. Kita periksa,"


"Kamu jangan sampai kelelahan."


Lihatlah bagaimana Sharma selalu dibuat bahagia hanya dengan perlakuan sederhana dari suaminya.


"Mas berangkat, yah sayang." Azam kembali mencium dahi Sharma, kemudian mengusap perut istrinya dan berlalu setelah Sharma mencium tangannya.


"Hati hati mas," sahutnya sambil melambaikn tangan pada sang suami yang berlalu pergi. Setelah ia hanya sendiri, lantas Sharma pergi untuk mandi dan berganti baju, mencari gamis yang akan di pakainya untuk pergi ke rumah sakit sore nanti.


Dan Sharma hanya bisa mematung saat membuka koper yang isinya jarang ia pakai. Maksudnya adalah akan ia gunakan karena semua pakaian yang ada disana masihlah bagus, tapi hal itu ternyata malah melemparnya ke masa lalu saat Sharma melihat gamis pemberian Reyhan 1 tahun lalu.


Sharma hanya menghela nafas. Sudah 1 tahun ia tak mendengar kabar apapun dari Reyhan. Bahkan saat acara pernikahan Roger dan Dinara5 bulan yang lalu, ia sama sekali tidak melihat Reyhan berada disana.


Meski begitu, Sharma tau perasaan cintanya pada pria itu sudah melebur dan hanya menjadi rasa yang semu. Karena sesungguhnya hatinya sekarang, hanyalah milik Azam.


Hanya milik suaminya.


Singapura


Lama tidak pulang ke indonesia, Reyhan lebih senang menetap di singpura sekarang. Ketika pulang dari acara pernikahan Dinar dengan Roger, ia bertemu dengan Fariz di parkiran gedung.


Dan ternyata bertemu dengan Fariz yang menceritakan rangkain kejadian antara dirinya dengan Sharma jauh lebih menyakitkan bagi Reyhan daripada melihat Sharma yang terus berada dalam gandengan Azam di dalam gedung.


Apa yang ia takutkan terjadi, kebenarannya terungkap dan ia merasa menyesal. Ia menyesal sudah mencampakan Sharma, ia menyesal karena dibutakan oleh rasa kecewa.


Dan ia tidak tau apa yang harus dilakukannya agar dapat melupakan Sharma. Setiap langkah, dirinya hanya di hantui bayang bayang Sharma yang ia hina saat terakhir kali mereka berjumpa. Sharma yang menangis karena dirinya tidak mempercayainya.


"Sharma, andai waktu bisa bergulir ke belakang. Mungkin saya akan mendengarkan kamu. Mungkin saya tidak akan kehilngan kamu sekarang,"


**


Berulang kali Azam mengucap hamdllah dan berterimakasih pada yang kuasa. Juga pada istrinya yang sekarang membuat dirinya berbahagia karena sedang mengandung anak pertama mereka.


Sepulang dari rumah sakit, pria itu terus saja menggandeng Sharma tanpa mau melepaskannya. Dan Sharma harus kerepotan saat Azam ingin membantunya mandi. Sekarang, calon ayah itu sedang sibuk mengeringkan rambut Sharma.


"Sayang,"


"Kenapa mas."


"Lusa, mas akan pergi ke luar negri. Mas ada kerja sama dengan beberapa partner mas disana."


"Kamu ikut saja. Bagaimana?"


"Memangnya kita akan pergi ke negri mana?"


Azam diam, kemudian membalikan kursi putar yang diduduki Sharma.


"Singapura."

__ADS_1


Deg


Azam segera menggenggam tangan Sharma


"Mas cuma tidak ingin meninggalkan kamu, bagaimana?"


Sharma hanya diam


"Kita pasti akan bertemu Reyhan disana. Barangkali kamu ada sesuatu hal yang ingin disampaikan pada dia, mas akan temani."


"Mas,"


"Mas tau kamu terluka mengingat dia Sharma. Tapi permasalahan diantara kalian belum terselesaikan."


"Semuanya sudah selesai mas Azam,"


"Kamu belum berterimakasih pada dia, sayang."


Sharma diam, kemudian hanya memeluk pinggang suaminya yang saat itu memang dalam posisi berdiri. Azam hanya mengusap kepala Sharma berulang kali.


**


3 hari setelahnya Sharma ikut dengan Azam ke singapura. Selama menikah, Azam memang selalu mengajak Sharma dalam urusan pekerjaan jika suaminya itu akan pergi ke luar kota maupun ke luar negri.


"Kamu tunggu disini, ya sayang." pamit Azam sebelum ia akan masuk ke ruang tempat pertemuannya. Lalu mencium dahi Sharma dengan mesra.


Sharma hanya mengangguk, kemudian melambaikan tangan saat suaminya berlalu dengan Dani dibelakangnya.


Sharma hanya duduk di loby gedung itu. Menunggu sampai Azam selesai dengan urusannya nanti.


Sementara di ruang pertemuan. Perlahan langkah Azam melemah saat melihat Reyhan yang sudah berada di ruangan itu. Azam tau hal ini, dan ia sudah mempersiapkan diri.


Reyhan yang melihat Azam juga merasa terkejut. Dan tiba tiba saja ia mengingat Sharma. Bagaimana keadaannya? Apakah Sharma bahagia? Banyak pertanyaan yang bersarang dikepalanya.


Begitu rapat selesai, orang oarang penting itu saling berjabat tangan. Memberi ucapan selamat. Azam pun mendapat giliran berjabat tangan dengan Reyhan.


"Selamat pak Reyhan,"


Reyhan hanya tersenyum dan mengangguk.


"Ada titipan dari Sharma," sambungnya yang membuat Reyhan menatap Azam. Azam mengeluarkan sebuah amplop ditangannya. Kemudian permisi untuk berlalu dari sana.


"Udah selesai mas?" Sharma beranjak dari duduknya saat melihat sang suami.


"Dani, kamu bawa saya dan istri saya ke tempat makan yang sehat." sahutnya sambil mengusap lengan Sharma.


"Baik pak."


"Rumah makan sehat?" tanya Sharma dengan heran


"Buat baby kita," Azam mengusap perut istrinya yang masih rata


"Sharmanya enggak." Sharma berlaga kecewa. Sementara Azam tertawa, lalu mencium pipinya. Membuat Sharma mendaratkan pukulan pada lengan suaminya karena ia sudah menciumnya di muka umum. Sementara Dani yang menjadi obat nyamuk untuk mereka hanya tersenyum saja melihatnya.


"Demi kamu juga sayang,"


"Terimakasih, mas Azam"


Tanpa Sharma dan Azam tau. Jika Reyhan menatap mereka dengan perasaan terluka. Meski dilihat dari segi manapun, dirinya yang bersalah karena sudah mencampakan Sharma.


**


Reyhan kembali ke apartemennya. Membuka surat dari Sharma sambil menikmati angin sore di balkon. Hatinya bergetar kalau ucapan salam yang pertama ia lihat dalam surat.


~~Asalamualaikum Mas Reyhan


Apa kabar?


Semoga sehat dan selalu berada dalam lindungan Allah. Amin~~


Bahkan setelah ia menyakitinya dengan kata kata yang tidak pantas, Sharma masih mendoakan kebaikan untuknya.


~~Mas Reyhan ....,


Ketika kamu membaca surat ini. Maka kita sudah memiliki kehidupan masing masing. Kehidupan yang jauh lebih baik lagi. Kita sudah memiliki jalan sendiri, dengan cerita hidup yang pastinya berbeda. Tidak ada pasangan saling mencintai yang menginginkan sebuah perpisahan.


Ini sudah menjadi takdir Allah. Kita tidak bisa menyangkalnya. Ini nyata dan sudah terjadi di depan mata.


Perihal masa pahit yang pernah terjadi dimasa lalu. Aku percaya itu adalah sebuah ujian buatku, meski harus membuatmu pergi dari sisiku. Tapi sekali lagi aku harus percaya mas, jika semuanya adalah takdir yang tidak bisa kita tolak.


Semuanya tidak selalu buruk mas Reyhan. Dalam masa yang sulit itu, aku bisa melaluinya dengan mudah. Banyak orang disekelilingku yang percaya dan dapat membantuku untuk melewatinya.


Dan kepergianmu, mempertemukanku dengan seseorang yang menawarkan diri untuk menjadi imamku atas keyakinan hatinya.

__ADS_1


Aku tidak ingin menyalahkan kepergianmu. Kamu berhak atas apapun keputusanmu. Selama kita menjalin hubungan, hanya satu kesalahan kamu. Kamu lupa menanamkan kepercayaan padaku mas.


Di masa depan, jika takdir mempertemukan kita kembali. Aku harap semuanya akan tetap sama. Kita tetap bisa berteman dan bercerita~~


Reyhan menyeka air matanya. Lututnya melemas mendengar pernyataan gadis yang sudah membuatnya tergila gila itu.


~~Mas Reyhan, aku sudah dengan suamiku.


Aku bahagia dengannya. Dia anugrah terindah dihidupku setelah kamu, mas. Kamu juga mengenalnya. Dia persis sepertia kamu, dia tampan dan sukses. Bedanya, dia tidak mudah cemburu. Selebihnya, dia persis sepertimu yang begitu tulus menyayangiku.


Mas Reyhan,


terimakasih untuk semuanya. Untuk cinta dan masa yang sudah terlewat. Bagaimanapun, kita pernah membuat cerita.


Mas ingat, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya atas ketentuan Allah, termasuk perpisahan diantara kita. Allah tidak mungkin keliru dalam menentukan takdir manusia. Semua sudah diatur dengan semestinya.


Mungkin keyakinan kitalah yang keliru, mas. Garis takdir, hanya membuat kita saling mengenal satu sama lain, saling menyinggahi, kemudian pergi.


Tidak ada yang salah disini ...,


hanya saja, awalnya terasa begitu sulit.


Namun seiring dengan berjalannya waktu..Semua kembali normal. Aku bisa tanpamu, dan terbiasa dengan kehadiran 'dia'


Mari saling mendo'akan satu sama lain.


Kamu juga berhak bahagia mas, yang sudah terjadi, maka biarlah. Tidak perlu di sesali.


Semoga kamu mendapat makmum yang baik, makmum yang solehah. Yang selalu membawamu untuk selalu berada di jalan yang di ridhoi oleh-nya


Semoga selalu berbahagia mas Reyhan.


Sekali lagi terimakasih untuk semuanya


Wassalamualaikum


Sharma ~~


Reyhan luruh di tempatnya. Matanya basah, ia meremas surat pemberian Sharma


"Saya tidak menyesal Sharma. Saya hanya merasa itu begitu tidak adil saat ternyata kamu mendapat pengganti yang jauh lebih baik dari saya."


Reyhan menunduk


"Berbahagialah Sharma. Saya akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu."


**


Sharma yang sedang membuat susu untuk Azhas Qalesya Ar-Rasyid hanya tersenyum saat melihat Azam yang nampak mengajak putri kecil mereka bermain itu.


Benar, Azhas adalah putri pertama Azam dengan Sharma. Ia baru berusia 5 bulan dan lucu sekali. Mata, hidung, dan bibirnya persis seperti Sharma. Alis tebalnya peris seperti Azam, dia juga mudah tersenyum. Sama seperti kedua orang tuanya.


Sharma menghampiri Azam dan Azhas setelah selesai membuat susu.


"Ngantuk dia," sahut Azam saat Sharma memberikan susu pada Azhas.


"Kok malah mau tidur, kan kita mau ke acara kenaikan kelas Kak Nazwa," sahut Sharma sambil mencubit pipi putrinya.


Azam tersenyum, Azhas sudah memejamkan mata, dengan mulut yang masih mengemut dot botol susunya.


"Sayang," Sharma menoleh pada Azam.


Azam malah menggendong Azhas, meski anak itu masih anteng memasuki alam mimpinya. Sedangkan Sharma hanya membiarkan suaminya, kemudian mengusap peluh yang ada di dahi sang putri.


"Terimakasih untuk semuanya sayang,"


Sharma tersenyum


"Untuk ketulusan kamu pada mas selama ini. Untuk kehadiran Azhas, untuk semuanya."


Azam mencium kening istrinya. Kemudian mencium putri kecil mereka. Azhas menggeliat. Sharma tertawa setelahnya.


"Aku yang makasih sama mas Azam," Sharma menyandarkan kepalanya dibahu Azam.


"Sudah menjadi imam yang baik untuk Sharma, menjadi suami yang baik. Dan menjadi ayah yang baik untuk Azhas."


Azam tersenyum, lalu menggenggam tangan sang istri, mengecupnya. Kini ia punya dua orang wanita berharga dalam hidupnya.


Hidup memanglah penuh kejutan. Apa yang terjadi, sudah diatur dan ditentukan.


THE END


Terimakasih untuk kalian yang sudah membaca cerita ini sampai selesai❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2