
Reyhan, Akbar dan Sharma baru saja tiba di sebuah restoran jepang yang dijadikan Fariz untuk lokasi pertemuan bisnis mereka. Terlihat dimeja besar khusus sudah berada dua orang dengan pakaian formal yang menunggu mereka. Nampaknya itu adalah Fariz, dan Skretarisnya
"Mari Pak." salah seorang pelayan pria mengantar Reyhan ke arah meja pesanan Fariz
Reyhan berjalan diikuti oleh Akbar dan Sharma. Sampai ketika tiba disana, Reyhan dapat melihat seorang Fariz Carwall. CEO perusahaan Fariz Fashion
Fariz bangkit, menyalami Reyhan dan Akbar. Ia juga mengulurkan tangannya pada Sharma, sedangkan gadis cantik itu hanya menangkup kedua tangannya didepan dada. Membuat Fariz tersenyum karena ternyata, gadis yang ditemuinya itu bukanlah gadis sembarangan
Tapi tunggu!
Entah mengapa Reyhan merasa tidak nyaman saat melihat tatapan nakal Fariz pada Sharma
"Pak Fariz." Akbar menyadarkan Fariz yang tengah menatap Sharma. Ia tau bosnya tidak akan suka dengan hal itu
Fariz tersadar. Lalu mempersilahkan Reyhan dan dua rekannya untuk duduk
"Pak Reyhan dengan Skretaris dan ...?"
Fariz mengerlingkan matanya pada Sharma
"Asisten pribadi, sekaligus calon istri saya." sahut Reyhan dengan menekan kata calon istri, agar Fariz sadar dengan status dan tingkah lakunya pada Sharma nanti
"Owww," Fariz berdecak dan hanya mengangguk anggukan kepalanya, kemudian memilih untuk mengalihkan pembicaraan
"Pekerjaan atau makan dulu?" tanya Fariz selaku orang yang mengundang
"Makan." Reyhan menyahut tanpa ragu. Fariz mengangguk setuju
Dan mereka memilih untuk makan lebih dahulu sebelum membicarakan mengenai pekerjaan.
Makan siang berlangsung dengan khidmat. Dengan sesekali Fariz mencuri curi pandang pada Sharma, tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian Reyhan yang mulai merasa tak nyaman melihat pemandangan itu
Sama halnya dengan Sharma, ia pun merasa jika Fariz terus menatapnya, sehingga ia merasa tak nyaman dan memilih untuk mengundurkan diri
"Maaf, saya permisi dulu ..," pamitnya yang beranjak dari duduk dan pamit ke toilet. Fariz nampak memperhatikannya dan beberapa detik kemudian, ia juga pamit ke toilet
Reyhan asik mengobrol dengan Skretaris Fariz, sementara Akbar mengamati kepergian Fariz yang terlihat mencurigakan. Ia merasa ada yang tidak beres
Sharma mencuci tangannya di wastafel, kemudian menatap dirinya dalam pantulan cermin. Menghela nafas, dan kemudian merapihkan letak kerudungnya. Lalu ia keluar dari kamar mandi setelah merasa sedikit tenang
"Astagfirullah," Sharma memegangi dadanya saat melihat pria tak asing yang berdiri didepan pintu toilet. Ia terkejut
"Pak Fariz," decaknya setelah menetralisir keterkejutannya tadi
"Hay, Sharma."
Sharma tersenyum canggung
"Saya duluan Pak," Sharma melangkah, tapi Fariz menghalangi jalan gadis itu. Membuat
langkah Sharma mau tidak mau harus berhenti
"Pak Fariz. saya duluan!" Sharma menekan kalimatnya. Awalnya ia tidak ingin berseudzon pada Fariz yang terus menatapnya sejak mereka bertemu. Tapi saat sekarang Fariz terlihat mulai berani, Sharma merasa harus waspada
"Ayolah Sharma. Kita mencoba untuk saling mengenal lebih jauh." sahutnya dengan seringai menjengkelkan dimata Sharma
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa," gadis itu masih berusahan bersikap lembut
"Kamu tidak perlu jual mahal terhadap saya. Reyhan juga tidak mengetahui ini, kita hanya berdua disini."
Fariz baru akan menyentuh wajah Sharma, tapi gadis itu menjauh dan menunduk. Membuat Fariz berdecak tidak suka
"Jangan naif Sharma, kita sudah hidup dizaman modern. Sudah tidak ada lagi adab yang perlu dijaga dizaman sekarang,"
"Apalagi hanya sebuah kehormatan yang murah harganya. Kamu perlu saya bayar berapa?"
__ADS_1
"Ayolah Sharma. Kamu percaya kan, jika dizaman ini, kehormatan tidak berarti apa apa. Kamu salah satu dari wanita wanita penggoda? Di balik kerudungmu itu?" Fariz berbicara dengan penuh ledekan
Sharma tersenyum sinis
"Maaf pak, bapak sudah salah menilai!"
"Zaman memang sudah berubah pak. Tetapi agama saya tidak!"
Fariz terdiam
"Maaf Pak Fariz, saya permisi!"
"Saya menginginkan kamu, Sharma!"
Fariz mencekal pergelangan tangan Shama
"Pak, apa bapak sudah tidak waras!" Sharma berontak
"Saya akan berteriak. Lepaskan tangan saya Pak Fariz, ini tidaklah benar.!" Gadis itu histeris
Fariz tersenyum sinis, dan menyeret Sharma untuk masuk ke toilet pria
"Pak Fariz,"
Fariz berbalik, tubuhnya seketika saja menegang begitu melihat pria penuh kharisma dihadapannya dengan rahang yang mengeras
Ia dengan segera melepas cekalannya. Membuat Sharma mundur beberapa langkah sambil memegangi tangannya
"Pak Reyhan, maafkan saya. Saya tidak bisa menolak ini, Sharma menerobos masuk kedalam toilet pria dan memaksa saya Pak." sahutnya dengan wajah memelas. Bersikap seolah olah dirinya adalah korban. Sementara Sharma yang memegang pergelangan tangannya yang memerah hanya melongo tidak percaya
"Pak Reyhan, tidak." gadis itu membela diri
"Sungguh Pak Reyhan. Aku mengetahui status Sharma dengan jelas, aku tau dia adalah calon istrimu dan aku tidak berani bertingkah macam macam."
"Calon istrimu yang menggodaku. Wanita ini busuk dibalik kerudung yang membungkus kepalanya pak." fitnahnya tanpa rasa bersalah
"Dia menggodaku pak." Fariz masih terus saja membela diri. Sementara air muka Reyhan nampak semakin tidak terbaca, tapi matanya jelas memancarkan kemarahan yang begitu dahsyat
Beberapa detik kemudian, ia perlahan menghampiri Fariz dengan tersenyum
"Calon istriku menggodamu, pak?" tanya Reyhan dengan penuh ancaman
Fariz mengangguk mantap
"Katakan. Bagaimana dia menggodamu?
Karena dia tidak pernah menggodaku atau mungkin tidak bisa, bahkan!"
Fariz gelagapan, menatap Sharma yang nampak berkaca kaca iris cokelat indahnya
"Katakan!"
"Ayo katakan!" Reyhan mulai berteriak
Reyhan melanglah menyudutkan Fariz yang nampak terpojok. Kemudian ...,
"SETAN!"
BUGH!
Dengan kalapnya Reyhan meluncurkan pukulan bertubi tubi pada wajah dan perut pria dihadapannya. Sharma yang terkejut memilih untuk menjauh
"Kamu bilang Sharma menggodamu, huh?"
"Dasar ********!"
__ADS_1
"Hina kamu,"
Reyhan masih saja memukuli Fariz dengan brutal sementara Fariz bahkan tidak mampu memberikan perlawanan
Reyhan mencengkram kerah kemeja Fariz, nafasnya memburu. Amarah sedang menguasai dirinya dan ia mencoba menahannya, ia sadar jika sekarang setan sedang mengendalikan dirinya
"Kamu tau, calon istriku adalah orang yang sangat aku hormati setelah ibuku. Mustahil dia menggodamu, dengan jelas aku melihat jika dia adalah korban disini,"
"Lalu kamu bilang jika dia menggodamu? Kamu mendzoliminya, menghina kerudungnya dan memfitnahnya, dan kamu harap aku akan percaya kepada orang seperti kamu?"
"Jangan harap!"
Bugh!
Reyhan kembali melayangkan pukulan pada wajah Fariz
"Awalnya aku ingin bekerja sama sengan perusahaanmu, berinfestasi disana dan membantumu memajukan perusahaan sialanmu itu. Tapi setelah perlakuan bejad kamu terhadap calon istriku. Jangan salahkan aku jika perusahaan mu sampai gulung tikar setelah ini!"
"Tidak ada kerja sama, tidak ada investasi. Persetan dengan perusahaanmu!"
"Mas Reyhan, sudah!" Sharma melerai setelah beberapa pelayan restoran datang dan melihat mereka
"Dengar ini baik baik. Kalau kamu sampai menampakan diri lagi di depan aku atau Sharma. Maka hidupmu tidak akan tenang!" Reyhan mendorong Fariz sampai terjatuh, kemudian merapihkan jasnya dan berjalan menghampiri Sharma
"Kamu tidak apa apa Sharma?" tanyanya dengan khawatir
Sharma menggeleng. Reyhan menatapnya iba, ini adalah salahnya yang terlalu lengah, padahal sejak awal ia sudah curiga kepada Fariz. Tapi ia malah lepas mengawasi Sharma, kalau bukan Akbar yang tadi mengingatkannya, Reyhan tidak tau apa yang nantinya terjadi pada calon istrinya. Bahkan ia tidak sanggup untuk sekedar membayangkannya saja
"Ayo kita pulang," ajaknya. Sharma mengangguk dan berjalan dibelakang Reyhan
"Beri tahu skretarisku berapa kerugian yang harus aku bayar untuk kerusakan dan keributan yang terjadi disini," sahut Reyhan pada manager restoran yang ditemuinya diantara beberapa orang
Manager dengan kemeja navy blue itu mengangguk patuh. Sementara Reyhan berlalu, sekilas ia melihat Fariz yang terkulai lemas bersandar pada dinding dengan beberapa luka lebam diwajahnya, sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar. Mengenaskan! Tapi itu belum setimpal dengan apa yang dilakukannya pada Sharma
Reyhan masih merasa dendam
"Bapak tidak apa apa menyetir sendiri?" tanya Akbar saat ia bertemu Reyhan
"Tidak papa."
"Hati hati kalau begitu, biar saya yang mengurus ini," sahutnya yang dijawab anggukan oleh Reyhan. Kemudian ia berlalu dengan Sharma
Saat sudah masuk ke dalam mobilpun. Sharma hanya terdiam, membuat Reyhan serba salah dan iba padanya. Juga dendam pada Fariz. Seharusanya Reyhan tidak mengiyakan undangan Fariz untuk makan siang dengannya. Atau setidaknya Reyhan tidak perlu mengajak Sharma untuk datang
"Sharma."
Sharma menoleh
"Kenapa Mas?"
Yah. Setelah resmi berta'aruf, Reyhan memang meminta Sharma untuk memanggilnya sama seperti Sharma memanggil Akbar dengan embel embel mas
"Kamu baik baik saja?"
"Apa, si brengsek itu sempat menyakiti kamu?" tanya Reyhan lagi dengan wajah yang mendadak membali terlihat begitu emosi
"Tidak Mas. Dia hanya berhasil memegang tangan Sharma," sahut Sharma dengan pasrah. Sementara urat urat tangan Reyhan nampak menegang, ia merasa kepalanya mendidih mendengarnya. Bahkan ia saja tidak pernah menyentuh sedikitpun permukaan kulit Sharma, semata mata karena ia menghormati calon istrinya. Menghormati harga diri seorang wanita
Tapi Fariz sialan itu dengan seenaknya memperlakukan Sharma tanpa rasa hormat
"Mas Reyhan,"
Reyhan menoleh tanpa nenyahut
"Kamu jangan dendam!"
__ADS_1
Reyhan terdiam, menatap mata sayu Sharma. Kemudian mengangguk patuh dengan manis. Membuat Sharma juga tersenyum karena merasa lega, jika memang Reyhan tidak menyimpan dendam dihatinya
TBC