
Sharma baru saja selesai membereskan berkas berkas penting untuk keperluan rapat Reyhan dengan Dewan Direksi saat tiba tiba saja ponselnya berdering, telpon dari Syifa
"Assalamualaikum Syifa"
"Waalaikumsalam. Kamu dimana Shar? Kita makan siang yu"
Sharma diam, ia melihat Reyhan yang masih sibuk betkutat dengan komputernya. Tidak enak rasanya jika ia keluar untuk makan siang, bagaimana jika nanti Reyhan membutuhkan bantuannya?
"Sharma?" Syifa menegur saat Sharma hanya berdiam saja
"Pak Reyhan belum selesai kerja Fa. Kayaknya gak bisa deh"
"Yah. Padahal aku pengen makan siang sama kamu"
Sharma sedikit tertawa
"Kamu kenapa jadi so romantis begini sih Fa?"
Giliran Syifa yang tertawa diujung sana
"Aku izin ke Pak Reyhan dulu. Kalau di bolehin, nanti aku kasih kabar ke kamu"
"Ohh, yaudah kalau begitu"
Panggilan terputus setelah Syifa mengucap salam. Sharma melangkah menuju meja kerja Reyhan. Reyhan yang sedang menghadap komputernya berhenti mengetik, kemudian menatap Sharma dihadapannya
"Ada apa Sharma?"
"Pak. Ini sudah jam makan siang"
Reyhan diam sebentar, kemudian melihat arloji di pergelangan tangannya dan mengangguk
"Saya masih ada beberapa pekerjaan. Kamu kalau mau makan siang, silahkan keluar"
Sharma mengangguk
"Kalau begitu saya permisi. Bapak jangan lupa makan"
Sharma berlalu, tapi sebelum tangannya memegang handle pintu. Reyhan sudah lebih dulu memanggilnya
"Sharma"
Sharma berbalik
"Iya Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kamu bisa membelikan makanan untuk saya?"
Sharma mengangguk, Reyhan tersenyum. Kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya
**
"Gimana gimana, kamu betah nggak jadi Asisten Pribadi Pak Reyhan?" Syifa bertanya antusias. Pasalnya, semenjak Sharma menjadi Asisten Pribadi Reyhan, keduanya sudah jarang bertemu di kantor. Dan beberapa hari ini juga Sharma jarang makan di kafetaria perusahaan
Ia lebih sering makan di ruangannya dengan Reyhan dan juga Akbar sambil mengerjakan sesuatu
"Betah nggak betah Fa. Ya namanya juga kerja"
__ADS_1
Syifa tersenyum. Dari mereka bertiga, nampak hanya Indah yang terlihat murung . Bahkan ia tidak makan dengan benar sejak tadi
"Mbak Indah kenapa?" Tanya Sharma sambil menyentuh lengan wanita itu
"Nggak papa" Indah mengahut dengan tersenyum setelah sebelumnya sempat sedikit terkejut
"Tidak papa Mbak. Mbak kalau ada masalah, silahkan bercerita saja"
Syifa nampak nengangguk mendukung usulan Sharma, kemudian beralih menatap Indah yang menghela nafasnya
"Mbak ngerasa akhir akhir ini Mas Akbar berubah" Sahutnya kemudian dengan tampang pasrah
"Berubah bagaimana Mbak?"
"Tidak tau. Pokoknya Mbak ngerasa dia terlalu sibuk bekerja, dan Mbak sejujurnya sering cemburu melihat dia banyak bertemu dengan wanita" Jujurnya. Sharma dan Syifa hanya saling bertukar pandang. Mereka tidak tau menahu masalah seperti itu dalam rumah tangga
"Shar"
Sharma tersentak saat Indah tiba tiba saja memanggil namanya
"Kenapa Mbak?"
"Apa akhir akhir ini kamu ada liat Mas Akbar sama wanita lain?"
Sharma tersenyum, kemudian menggeleng
"Apa Mbak salah jika cemburu. Mbak takut Mas Akbar marah, apalagi tadi pagi Mbak menolak untuk berangkat bersama karena Mbak merasa kesal" Indah menyesali sikapnya pada sang suami
"Mungkin itu hanya perasaan Mbak saja. Cemburu hal yang wajar kok Mbak, tapi jangan berlebihan. Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan umul mukminin saja, istri rasullallah, memiliki rasa cemburu"
Indah diam
Indah diam
"Lebih baik Mbak bicara secara baik baik saja. Mungkin Mas Akbar ada suatu masalah, Mbak bisa bertanya dan membantu Mas Akbar"
Indah lagi lagi hanya diam. Tapi beberapa detik kemudian. Ia nampak hanya tersenyum dan mengangguk
"Terimakasih Sharma"
Sharma mengangguk. Sampai tak lama ponsel Indah yang berada diatas meja berdering
"Mas Akbar" Sahutnya, Sharma dan Syifa mengangguk. Mempersilahkan Indah untuk mengangkat telpon
"Hallo Mas?"
"Kamu sudah makan?"
"Ini sedang makan, sama Sharma dan Syifa"
"Mas boleh minta tolong, bawakan Mas makan siang, yah"
"Iya Mas. Nanti aku kesana"
"Iya, kamu makan saja dulu"
Pangggilan terputus, Indah melirik pada Sharma dan Syifa yang memang memperhatikannya. Ia kemudian tersenyum
__ADS_1
"Sepertinya Mbak sudah berburuk sangka sama Mas Akbar"
Sahutnya. Dua gadis muda itu hanya tersenyum. Sampai kemudian ia pamit untuk mengantarkan makan pada suaminya
"Yasudah Fa. Kita cepat, biar cepat ke masjid juga"
Syifa mengernyit
"Kamu memangnya tidak tau Shar?"
"Tau apa?"
"Mushola di lantai atas"
"Kenapa memangnya?"
"Sudah bisa dipakai. Aku dengar Pak Bos menyuruh Mas Akbar untuk mengurusnya"
"Kemarin Mas Akbar menyuruh pihak kebersihan untuk membereskannya"
Sharma diam. Ia tiba tiba saja mengingat obrolannya dengan Reyhan beberapa waktu lalu saat membahas perihal mushola lantai atas
"Nanti kita ke mushola lantai atas saja. Ya"
Sharma mengangguk
"Baik, nanti kita akan bahas ini pada rapat sore nanti. Skretaris saya akan mengurusnya"
Sharma masuk dengan perlahan, berdiri tak jauh dari Reyhan yang memunggunginya. Setelah menutup telpon. Lantas Reyhan berbalik, mengernyit menatap Sharma dibelakangnya. Ia tidak sadar saat Sharma masuk ke ruangan mereka
"Maaf Pak"
Reyhan mengangguk, kemudian duduk di kursi putarnya
"Pak Reyhan"
"Ya"
"Terimakasih"
"Untuk?"
"Mushola lantai atas"
Sharma tersenyum, kemudian meletakan makanan pesanan Reyhan dimejanya. Lalu ia pergi kembali keluar untuk ke mushola
Reyhan hanya menatap kepergian gadis itu, sampai menghilang dibalik pintu keluar, setelah Sharma benar benar tidak ada. Mata Reyhan beralih pada makanan yang dibawakan Sharma
Seulas senyum dengan mudahnya terbit dibibir Reyhan
"Sharma. Terimakasih" Lirihnya
TBC
Mohon maaf karena author jarang up disini. Karena author mengerjakan 3 novel yang sedang on going, dan juga sedang melakukan tahap revisi pada novel My Handsome Teacher
Terimakasih untuk kalian yang sudah meluangkan waktu membaca Keyakinan Hati:")❤
__ADS_1