
Sharma berdiri didepan pintu kamar mandi di kamarnya. Bayangan kejadian saat di dalam mobil dengan Reyhan ketika pulang menari nari didalam kepalanya
Beberapa kali dia mengucap istighfar, sampai kemudian memutuskan untuk masuk ke kamar mandi guna membersihkan diri.
**
"*Rayana sedang mengandung Rey"
Bagai tersambar petir disiang bolong, tiba tiba saja Reyhan merasa dadanya sesak saat mendengar pernyataan Dinar mengenai kondisi tunangannya
"Hamil?" lirih Reyhan
"Apa dia anakmu Ray?" Tanya Dinar dengan penuh selidik, ia tau bagaimana karakter saudara sepupunya. Apalagi hubungannya dengan Rayana sudah berjalan lama, mustahil jika Reyhan belum pernah menyentuh Rayahan, menyentuh dalam artian yang berbeda
Reyhan menggeleng
"Berapa usia kandungannya?"
"Empat minggu!"
"Dia berusaha ingin membunuh bayinya"
Reyhan semakin menggeleng kuat, ia bahkan sudah dua bulan tidak bertemu dan menyentuh Rayana. Mustahil Rayana mengandung anaknya
"Rey"
"Rey, kamu mau kemana?" Dinar berteriak dan bangkit dari duduknya saat Reyhan berlalu begitu saja keluar dari ruangannya
Brak!
Pintu ruangan dimana Rayana sedang berbaring terbuka dengan kasar, terbanting keras. Rayana yang sudah siuman dan sedang mengistirahatkan diri nampak terkejut dengan kedatangan Reyhan yang masuk dengan wajah penuh kilatan amarah
Rayana hanya menghela nafas. Ia sudah menduga akan situasi seperti ini pasti menimpanya. Ia tinggal membujuk Reyhan, dan Reyhan akan luluh padanya. Optimis, begitu batim Rayana
"Anak siapa yang sedang kamu kandung?" Tanya Reyhan dengan kilatan amarah dimata tajamnya
"Rey" Rayana mulai merengek. Andalannya jika sedang membujuk Reyhan
"Kamu gak perlu merayuku, Raya. Bilang padaku! Anak siapa yang sedang kamu kandung?" tanya Reyhan dengan penuh penekanan
"Rey. Aku bisa menggugurkannya"
Reyhan tersenyum meremehkan
"Jangan pernah menghubungiku. Tidak ada hubungan apapun lagi diantara kita!" Reyhan menatap Rayana dengan penuh amarah. Melepas cincin tunangannya dan melemparnya pada Rayana
Rayana nampak terperangah dan tidak percaya. Ia turun dari bed rumah sakit
"Rey, aku mohon jangan tinggalin aku Rey. Aku mohon" Sahutnya dengan memegang lengan Reyhan. Ia histeris, tapi Reyhan tak menghiraukan
"Rey, aku janji akan menggugurkan bayi ini, dan kita bisa bersama sama lagi. Aku mohon!"
"Bayi yang ada dalam kandunganmu tidak bersalah. Kamu lah yang bersalah Raya, kamu mengkhianatiku, bermain api dibelakangku!"
Reyhan melangkah. Rayana menangis histeris ditempatnya
"Reyhan. Reyhan!"
"Jangan tinggalin aku, Rey"
"Reyhan, aku lebih baik mati kalau kamu ninggalin aku"
"Reyha.........nnn"
Reyhan memilih untuk tidak perduli, ia terus saja melangkah, keluar dari ruang rawat inap Rayana.
Bagi Reyhan. Keputusannya meninggalkan Raya sudah benar, jika saja Raya mengandung anaknya, maka ia akan bertanggung jawab. Tidak akan mengabaikan apalagi meninggalkannya.
Sehari setelah kejadian di rumah sakit, Reyhan mendapat kabar dari rumah sakit jika Rayana meninggal karena bunuh diri.
Kabar itu menjadi tamparan keras untuk Reyhan. Bagaimanapun, Rayana adalah wanita yang begiti dicintainya meski wanita itu sudah mengkhianatinya
Reyhan terpaku menatap jasad Rayana yang terbujur kaku. Ia merasa bersalah karena terakhir kali bertemu dengan Rayana, mereka bertengkar hebat
"Rey"
Reyhan menoleh saat Dinar memanggilnya
"Rayana bilang dia minta maaf sama kamu!"
"Kenapa dia bunuh diri?"
"Dia histeris saat kamu ninggalin dia Rey. Dia bilang, jika kamu ninggalin dia, lebih baik dia mati"
"Dia, gak bisa kehilangan kamu*!"
__ADS_1
Reyhan terbangun dari tidurnya, keringat dingin mengucur dari dahinya. Nafasnya memburu, lagi dan lagi mimpi itu datang menghantuinya
Rayana masih saja masuk dalam mimpinya dan membuat Reyhan merasa bersalah padanya.
Reyhan menggapai ponselnya, kemudian melihat jam dan waktu menunjukan pukul 2 pagi. Ia menghela nafas, kemudian beranjak dari tempat tidur, matanya menangkap benda yang belakangan ini tak pernah jauh dari jangkauannya
Reyhan memilih untuk ke kamar mandi, mengambil wudhu dan mendirikan salat malam. Berdoa pada yang maha kuasa untuk diampuni dosa dosanya. Tak lupa juga berdoa hal lain untuk meyakinkan diri dan hatinya. Setelahnya, ia membaca al-qur'an pemberian Sharma
Setelah selesai dengan ritual malam yang belakangan ini sering dilakukannya. Reyhan hanya berdiri didepan pintu balkonnya, melipat tangan didadanya sambil menimang ponselnya. Ia ingin menghubungi Sharma, tapi takut mengganggu gadis itu
"Biar kirim pesan saja" sahutnya sambil mengetikan pesan
"Jika Sharma membalas, maka dia juga melaksanakan salat malam"
**
Sedangkan dikediaman Husaen, Sharma baru saja selesai melaksanakan salat malam yang tak pernah lupa dijalankannya jika sedang tidak halangan. Baru ia akan kembali melanjutkan tidurnya, suara denting ponsel mengurungkan niatnya
Pak Bos
Sharma
Sharma mengernyit, kemudian mengetikan balasan pesan
Me
Wa'alaikumsalam
Pak Bos
Kamu salat malam?
Me
Alhamdulilah. Iya
Pak Reyhan juga?
Pak Bos
Saya terbangun karena mimpi buruk, lalu salat karena tidak bisa tidur lagi
Me
Pak Bos
Kamu?
Me
Saya akan tidur lagi
Pak Bos
Kalau begitu selamat tidur
Sharma tersenyum, kemudian menggeleng dan menyimpan ponselnya. Ia tidak mau berlebihan dengan perasaannya. Harus selalu ada kontrol dalam dirinya
**
Hari ini, Reyhan mengajak Sharma untuk datang ke panti asuhan pada hari sabtu, dan Sharma tidak menolak. Toh mereka sedang libur bekerja
"Siapa?" Tanya Reyhan saat ponsel Sharma berdering
"Dokter Roger"
Reyhan mengangguk, kemudian kembali fokus pada gagang stirnya. Sementara Sharma mengangkat telpon
"Waalaikumsalam Dok"
"Kamu dimana?" Tanya Roger diujung sana
"Sharma di jalan. Mau ke panti"
"Tumben hari sabtu, bukan besok"
"Iya"
"Kebetulan, saya juga memang akan mengajak kamu ke panti"
"Oh yah. Kamu naik taxi?"
"Sharma dengan Pak Reyhan, Dok"
Roger nampak terdiam
__ADS_1
"Dok, dokter kalau mau ke panti menyusul saja"
"Iya. Saya baru akan berangkat"
"Hati hati Dok"
"Iya Sharma!"
Sambungan terputus setelah Dokter Roger mengucapkan salam
"Dia juga datang ke panti?" tanya Reyhan. Sharma mengangguk
Seperti biasa, setiap datang ke panti, Sharma selalu disambut hangat oleh anak anak panti yang merindukannya
Tak lama dari itu, Roger juga muncul. Berbaur dengan mereka.
"Luna. kamu ambil minum ya" Sahut Ibu Rosa saat melihat Dokter Roger, Sharma dan juga Reyhan
Luna mengangguk dan beranjak masuk kedalam panti mengambilkan minum untuk tamu yang sedang datang ke panti
Sharma nampak sibuk mengajarkan anak anak panti melukis. Sementara Roger dan Reyhan duduk disalah satu bangku panjang di bawah pohon setelah Ibu Rosa pamit. Keduanya kompak mengarahkan tatapannya pada Sharma
"Saya tau Bapak menyukai Sharma" Roger membuka percakapan
"Dokter juga?"
Roger tersenyum
"Dokter menganggap saya sebagai saingan?"
"Tidak Pak Reyhan" Sahutnya dengan tersenyum
"Kenapa? Bagaimana jika Sharma memilih saya?"
Roger tertawa rendah
"Perasaan cinta saya pada Sharma didasarkan pada rasa hormat Pak. Jadi, apapun keputusan dan pilihan Sharma nanti, saya akan menghargai dan menghormatinya" terangnya dengan yakin
"Artinya kamu menyerah. Bukankah Dokter harus yakin. Yah, yang penting Dokter yakin pada Sharma"
"Bagaimana jika Sharma tidak yakin pada saya?"
Reyhan diam. Kemudian mengangguk setuju pada pernyataan Roger yang sebelumnya pernah ia dengar dari Sharma
Sharma masih asik mengajari anak anak panti melukis, Roger yang tiba tiba mendapat pasien harus bergegas untuk kembali ke rumah sakit
"Kamu cape?" tanya Reyhan saat Sharma sudah selesai mengajari anak anak melukis
"Lumayan"
Gadis itu meneguk minuman yang disodorkam oleh Luna. Sementara Reyhan hanya tersenyum
"Ehhh, ayo Kak Luna bantuin beres beres alat lukisnya" ajak Luna saat anak anak nampak akan menyerbu Sharma dengan Reyhan. Mereka menurut dan membereskan perlatan melukisnya
Tinggalah hanya Sharma dengan Reyhan disana. Hanya saling terdiam
"Sharma"
Sharma menoleh
Reyhan menghela nafas
"Saya menyukai kamu Sharma" jujurnya tanpa ragu
Sharma terdiam menatap wajah Reyhan
"Tapi seperti yang sudah kamu bilang, jika kamu tidak bisa berpacaran. Bagaimana jika kita melakukan ta'aruf. Agar kita saling mengenal lebih baik lagi satu sama lain?" Usulnya
Sharma masih terdiam
"Pak ..,"
"Saya tidak akan memaksa kamu. Kamu bebas menentukan pilihan kamu Sharma. Tapi saya bersungguh sungguh dengan ini"
"Saya bersedia, Pak Reyhan"
Reyhan menoleh
"Kamu yakin?"
Sharma mengangguk. Membuat senyum Reyhan merekah, ingin rasanya ia memeluk Sharma, tapi itu tidak mungkin dilakukannya
Satu langkah baginya untuk mendapatkan Sharma
TBC
__ADS_1