
Sharma hanya meremas pinggiran kebaya yang dikenakannya. Sekarang ia sudah berada dikamarnya bersama dengan Azam yang sudah sah menjadi suaminya. Menjadi imam dihidupnya.
Tapi ia merasa begitu canggung berada disana. Ia tidak tau apa yang harus dilakukannya saat Azam keluar dari kamar mandi nanti.
Sharma semakin cemas ketika pintu kamar mandi terbuka. Menampakan Azam yang keluar dari sana, ia sudah memakai piamanya. Tangannya memegang handuk kecil yang ia pakai untuk mengeringkan rambut basahnya.
"Sharma?"
Sharma mendongak, tatapannya bertemu dengan mata cokelat Azam.
"Mandilah. Lalu istirahat setelah ini, kamu pasti lelah." sahutnya yang membuat Sharma beranjak dari duduknya. Ia dengan ragu beranjak dan membawa baju ganti ke kamar mandi
Azam hanya tersenyum. Lalu beranjak ke tempat tidur sambil membawa laptopnya dan duduk bersila disana. Mengambil ponsel lalu menghubungi Skretarisnya, Dani
"Dani,"
"Iya pak"
"Kamu sudah siapkan untuk acara besok?"
"Sudah pak. Saya sudah mengirim surat resmi kepada beberapa redaksi. Semuanya sudah beres, hanya tinggal bapak saja dan nona Sharma yang mempersiapkan diri."
Azam tersenyum
"Baiklah. Terimakasih Dani, kamu sudah banyak membantu saya."
"Sudah menjadi kewajiban saya pak."
"Baiklah. Kamu istirahat saja dulu. Sekali lagi terimakasih Dani,"
Azam menutup telpon. Kemudian tersenyum begitu melihat Sharma keluar dari kamar mandi. Ia memakai gaun tidur, untuk pertama kalinya Azam melihat gadis cantik itu tanpa balutan hijab yang menutupi kepalanya, rambut hitamnya dibiarkan tergerai begitu saja.
Sharma memang sengaja tidak memakai hijab. Meski belum ada perasaan cinta dihatinya untuk Azam, tapi dimata agama, pria itu sudah sah menjadi suaminya. Sudah menjadi hak Azam melihatnya. Ia sudah halal bagi Azam untuk dilihat dan juga disentuh.
"Kenapa di situ?" tanya Azam saat gadis itu malah hanya mematung di pintu kamar mandi.
"Tidurlah, pasti kamu lelah."
Sharma mengangguk, lalu perlahan duduk di samping Azam dan merebahkan tubuhnya. Sementara Azam masih sibuk dengan laptopnya, mencoba mengalihkan sesuatu yang berdesir dihatinya dan seolah mendesak dirinya. Fokusnya sudah dialihkan pada Sharma sejak gadis itu keluar dari kamar mandi.
Sharma hanya memperhatikan suaminya, kebetulan kantuk juga belum menyerangnya.
Azam menyerah!
Ia sudah tak dapat fokus bekerja, dan matanya juga belum mengantuk, berlama lama dengan Sharma hanya membuatnya merasa tidak bisa menahan hasratnya.
"Sharma, sepertinya malam ini saya akan tidur dibawah. Kamu ada matras?" sahut Azam yang kemudian hendak beranjak. Tapi tangan Sharma menyentuh lengan pria itu.
"Pak Azam,"
Azam menoleh dan menatap mata teduh Sharma
"Bapak tidak perlu menahan diri, Sharma sudah menjadi istri Pak Azam. Halal bagi Pak Azam untuk menyentuh Sharma," sahutnya. Azam hanya diam, ia tau hal itu. Tapi maksudnya, dia tidak ingin memaksa Sharma karena gadis itu pasti masih mencintai Reyhan. Azam tidak ingin terkesan memperkosa istrinya sendiri.
"Pak Azam tau Firman Allah dalam surat An-Nisa: 19. Dan pergaulilah istri istrimu dengan baik"
"Lalu dalam surat al-baqarah:228 yang berbunyi, Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah maha Perkasa lagi maha Bijaksana."
Azam tersenyum menatap Sharma. Kemudian membelai satu sisi wajah gadis itu
"Tidak papa jika kamu belum siap."
"Tapi Sharma akan berdosa jika mengabaikan suami Sharma,"
"Tidurlah. Biar saya cerita sesuatu sama kamu,"
Sharma menatap Azam yang nampak tersenyum dengan tatapan teduh dan hangat padanya. Lalu membaringkan diri. Azam menyimpan laptop, lalu kembali dan berbaring disamping Sharma. Sharma miring menghadap sang suami, sementara Azam terlentang dengan satu tangan diatas dahi, ia fokus menatap plafon kamar Sharma.
"Sharma,"
"Hmm "
__ADS_1
"Boleh saya jujur satu hal, sama kamu?"
"Apa?"
Azam terdiam. Lalu, menoleh dan tersenyum lembut pada Sharma
"4 tahun yang lalu, saya bertemu dengan seorang gadis," Azam memulai ceritanya
"Dia sedang membaca al-qur'an di salah satu masjid yang dekat dengan perusahaan saya."
"Lalu Pak Azam jatuh cinta pada gadis itu?" tanya Sharma yang membuat Azam menautkan alisnya
"Darimana kamu tau?"
"Sharma bisa melihat pancaran berbeda dari mata Pak Azam saat menceritakannya," sahut Sharma dengan tersenyum. Tapi mendadak hatinya tidak enak mendengar sang suami bercerita tentang gadis lain
Azam hanya tersenyum, lalu melanjutkan ceritanya
"Kamu benar Sharma, saya langsung jatuh cinta padanya. Tapi sayang, ternyata saat itu ia masih duduk di bangku SMA kelas 11. Saya menunda waktu untuk datang melamarnya. Sampai kemudian saya menetap di luar negri selama dua tahun. Saat saya kembali, saya berniat akan melamarnya. Tapi sayang, "
"Dia sudah menikah?" tebak Sharma dengan cepat. Ia merasa geregetan dengan cerita Azam
"Belum. Tapi ia dekat dengan seorang dokter anak. Akhirnya, saya memilih mundur dan hanya mengamatinya."
"Saya kira kami masih diperkenankan untuk selalu bertemu. Kami ternyata menghadiri kajian yang sama disetiap hari minggu, gadis itu mungkin tidak pernah melihat saya. Tapi saya selalu melihatnya dan saya merasa damai, Sharma. Kami juga pernah tidak sengaja bertemu di masjid dekat perusahaan tempat ia bekerja, bahkan kami pernah bertemu di sebuah panti."
Sharma semakin miring menatap Azam yang kini juga sudah mengganti posisi. Berhadapan dengannya
"Lalu gadis itu? Dia menikah dengan Dokter anak tersebut?" tanyanya, penasaran dan tidak sabaran.
Azam menggeleng. Membuat Sharma mengernyit heran.
"Dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Dokter itu."
"Lalu?"
"Ternyata dia justru memiliki hubungan dengan bosnya."
Sharma menyimak teliti. Ia merasa ada yang janggal disini
"Bapak jadi menikah dengan dia?" tanya Sharma ragu ragu. Artinya ini bukan pernikahan pertama bagi Azam. Tapi dulu Azam pernah menikah dengan gadis yang membuatnya jatuh cinta itu.
"Iya,"
"Kenapa berpisah?"
"Siapa bilang berpisah?"
"Lantas?" Sharma semakin heran
"Apa Sharma ini istri kedua Bapak?"
Azam tertawa
"Kamu tidak ingin bertanya siapa gadis itu?"
Sharma terdiam. Cukup lama sekali, sampai ..... Ia menyadari sesuatu hal
"Apa gadis itu adalah Sharma?"
Azam tersenyum lembut. Lalu mengangguk, Sharma terlihat merubah ekspresinya. Kesal, marah, terkejut dan tidak percaya
"Gadis itu adalah kamu, Sharma." sahutnya
"Saya kira Allah sengaja menyusun sekenario ini untuk kita. Saya tau hati kamu masih untuk Reyhan, tapi saya yakin. Seiring berjalannya waktu ...., "
"Sharma akan belajar mencintai Pak Azam,"
Ungkapan spontan Sharma membuat senyum di bibir Azam merekah.
"Terimakasih, Sharma."
__ADS_1
"Sama sama. Pak Azam sudah baik pada Sharma,"
"Jangan panggil saya Bapak, Sharma." pintanya dengan tertawa
"Mas Azam,"
Azam mengangguk setuju. Lalu, keduanya diselimuti keheningan setelahnya. Denting jam di dinding kamar Sharma adalah yang paling mendominasi diantara keduanya
"Sharma,?"
Perlahan Sharma menoleh. Menatap mata Azam yang seolah mengisyaratkan sesuatu padanya
"Sharma siap, mas."
**
Azam menggenggam tangan Sharma saat istrinya itu nampak gugup ketika beberapa kamera sudah mengarah pada mereka. Kilatan blitz sejak tadi sudah beberapa kali menerpa wajah keduanya. Suasana ruangan khusus konferensi pers terdengar sedikit riuh. Mengingat sangat langka bagi seorang Azam Ar-Rasyid muncul di muka umum, apalagi di depan media. Terutama Azam menggandeng seorang wanita yang belakangan ini menghebohkan jagat dunia maya
"Tenanglah,"
Sharma hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya
"Saya disini, untuk memberikan pernyataan tentang sebuah foto yang belakangan tersebar luas di sosial media. Yang mencoreng nama baik Sharma Amandita Rasyid." Azam membuka konferensi persnya dengan kalimat pernyataan mengenai status Sharma
Para wartawan mulai berkasak kusuk begitu mendengar nama belakang dari wanita yang baru saja disebutkan oleh Azam
"Benar. Dia adalah istri saya!" Azam bagai menjawab keheranan diraut wajah para wartawan
Konferensi pers yang ditayangkan langsung di tv dan beberapa media itu cepat membuat masyarakat luas tau. Dengan wanita yang belakangan ini menghebohkan masyarakat karena fotonya yang menyebar luas
"Saya menikahinya 1 bulan yang lalu. Untuk beberapa alasan, saya memang tidak ingin mengumumkan pernikahan ini pada media. Terutama mengingat kenyamanan kami yang sama sama berkecimpung dalam dunia kerja."
"Tapi belakangan, kami di resahkan oleh tangan jahil yang sudah mencemarkan nama baik istri saya. Itulah kenapa saya mengadakan konferensi pers ini. Apa yang kalian lihat. Belum tentu adalah sebuah kebenaran."
"Foto itu adalah foto saat kami berbulan madu satu minggu setelah menikah. Saya yang mengambil foto itu, tapi sayang. 2 minggu yang lalu ponsel saya hilang dan ditemukan oleh orang yang menyebar foto tersebut."
Azam menatap mata semua orang yang masih menunggu kelanjutan kalimatnya
"Awalnya saya ingin menghukum orang itu dengan hukuman seberat beratnya. Tapi istri saya memaafkannya dan membiarkan dia lolos begitu saja. Tidak adil bukan?" Azam tertawa setelahnya
"Tapi biarkan! Setidaknya, setelah ini saya harap masyarakat tidak salah paham pada Sharma dan tidak memandang ia sebagai wanita tidak baik."
"Dan, saya memohon maaf yang sebesar besarnya pada perusahaan Artaffa Corporation karena insiden ini, perusahaan tersebut sedikit tercemar."
"Dan ....," Azam menatap Sharma penuh arti. Kemudian beranjak dari duduk dan menggenggam tangan Sharma
"Karena semua orang sudah tau tentang pernikahan kami. Maka secepatnya kami akan mengadakan resepsi. Terimakasih," Azam beranjak dengan cepat sambil menggenggam tangan Sharma. Meninggalkan media yang ingin banyak bertanya padanya. Benar, Azam memang sengaja menghindari sesi tanya jawab. Karena akan repot jika ia salah berbicara nanti
Para pengawal yang berjaga di pintu keluar mencoba menghentikan para wartawan yang hendak mengejar Azam dan Sharma.
Siaran konferensi pers itu membuat sebagian masyarakat mengubah penilaiannya pada Sharma. Meski masih ada beberapa diantaranya yang tetap bersikukuh menganggap Sharma sebagai wanita murahan
Reyhan yang melihat siaran itu melalui laptop cepat membanting benda itu. Ia tidak perduli meski dalam laptopnya banyak sekali file-file penting perusahaan
ia tidak percaya Sharma melakukan hal ini meski ia tau Azam berbohong tentang ia yang sudah lama menikahi Sharma. Tapi ia tetap tidak bisa menerima hal ini. Dan untuk mencari kebenaran tentang kejadian yang menimpa Sharma, ia pun enggan melakukannya. Ia tau jika Sharma benar adalah korban dan ia sudah salah karena meninggalkan wanita itu, ia takut menyesal.
"Mas Azam kenapa bohong?" tanya Sharma saat keduanya sudah berada didalam mobil
"Bohong apa?"
"Jika kita akan melakukan resepsi."
"Saya tidak berbohong. Bukankah kita hanya baru melakukan akad, maka biarkan kita melakukan resepsi nanti."
Sharma mengangguk mengerti
"Lalu, sekarang kita akan kemana?"
"Mencetak undangan."
"Hah. Secepat itu?"
__ADS_1
"Ya. Kenapa tidak?"
TBC