Keyakinan Hati

Keyakinan Hati
Berkunjung


__ADS_3

Mobil Reyhan melaju membelah jalanan ibu kota yang cukup padat siang itu. Reyhan menyetir dengan fokus, meski sesekali melirik kesamping kirinya. Sharma disampingnya nampak duduk dengan tenang, tatapannya tetap ke depan, tak pernah ia melirik lirik ke samping atau kemanapun kecuali samping kirinya. Ia tidak berani jika melirik samping kanan


"Sharma"


Suara Reyhan yang memanggil nama gadis itu memecah keheningan yang sejak lama tercipta


"Kenapa Pak?"


"Apa kamu punya pacar?"


Sharma mengernyit. Kali ini ia menoleh pada Reyhan yang nampak fokus pada kemudi


"Tidak" Ia menyahut spontan


"Kenapa? Saya rasa banyak yang ingin sama kamu"


"Kenapa begitu?"


"Karena kamu cantik!"


"Fisik saja tidak cukup!"


Reyhan diam. Ia melupakan siapa lawan bicaranya, tapi kemudian ia tersenyum saat Sharma membuka suara


"Andai para lelaki melihat wanita dari hatinya, bukan fisik. Pasti para wanita akan berlomba lomba memperbaiki diri mereka dalam kebaikan!" Sahutnya. Reyhan nampak mengangguk anggukan kepalanya


"Meski pun cantik secara fisik ada dalam anjuran dalam memilih calon istri. Tapi sunnahnya adalah menikahi wanita yang baik agamanya"


"Wanita, dinikahi karena empat hal. Hartanya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, maka kamu akan beruntung H.R Bukhori" Sharma tersenyum. Sementara Reyhan mengangguk


"Kamu benar Sharma"


"Tapi bukankah menjalin suatu hubungan tidak harus langsung ke jenjang pernikahan? Kita perlu pendekatan agar saling memahami, dengan berpacaran, bukankah itu akan mudah?"


"Kenapa memilih pacaran? Kenapa tidak ta'aruf saja, mencoba saling mengenal bukankah jauh lebih baik. Dalam islam, pacaran itukan dilarang"


"Pacaran itu artinya mendekati zina, bukan tidak mungkin jika nantinya melakukan zina"


"Makannya, Allah dalam firmannya mengatakan ; Wa laa taqrobuuz zinaa. Bukan langsung wa laa tazni"


"Bukan jangan zina. Tapi, jangan mendekati"


Reyhan tersenyum. Andai Sharma adalah istrinya, mungkin sekarang, ia akan langsung menepikan mobilnya, memeluk dan kemudian mencium Sharma. Tapi tidak mungkin untuk saat ini


"Saya senang mendengar kamu banyak berbicara Sharma"


Sharma tergagap


"Maaf Pak. Saya sudah banyak berbicara" Sesalnya


"Tidak papa. Kamu memberi saya pengetahuan Sharma. Bukankah kita harus saling mengingatkan?"


Sharma menoleh, kemudian tersenyum


"Jadi itu alasan kamu tidak mau berpacaran?"


"Saya juga tidak mau menambah dosa untuk orang tua saya.nSaya hanya akan menunggu pria yang dengan keyakinan hatinya, mau mengkhitbah saya"


"Saya seperti mendapat signal Sharma" Sahut Reyhan bagai pada dirinya sendiri


Sharma terkesiap


"Maksud Bapak?"


"Tidak!"

__ADS_1


Sharma hanya mengangguk dalam diam, ia mendengar jika tadi Reyhan mengatakan sesuatu, tapi ia tidak yakin dengan apa yang tadi didengarnya. Ia takut salah dengar


**


"Reyhan"


Arinda yang sedang duduk menikmati cofe diteras depan rumah megah mereka dengan cepat menyambut kedatangan putranya yang katanya akan membawa gadis yang akhir akhir ini sering diceritakannya


"Mama" Reyhan memeluk Arinda


Setengah ragu. Sharma turun dari mobil Reyhan. Ia langsung mendapat tatapan penuh dari Arinda


"Assalamulaikum, nyonya Arinda" Sapanya dengan senyum hangat


Arinda tersenyum saat Sharma menggapai dan mencium punggung tangannya


"Waalaikumsalam. Panggil Tante saja" Sahutnya tanpa melepas tangan Sharma. Sharma mengangguk dan tersenyum


Dan lagi. Arinda memperhatikan Sharma, gadis muda yang cantik dengan balutan pakaiannya yang sangat sopan, anggun dan terlihat menyejukan. Begitu penilaiannya


"Saya Sharma"


"Tante tau. Reyhan banyak bercerita tentang kamu"


Sharma terdiam, kemudian menatap Reyhan yang nampak mengobrol dengan seorang wanita didepan pintu masuk


"Ayo masuk. Kita makan siang"


Sharma mengangguk. Kemudian melangkah saat Arinda menggandengnya masuk kedalam, untungnya Sharma sudah melaksanakan salat zuhur di mushala kantor sebelum berangkat bersama Reyhan, sehingga sekarang mereka bisa langsung melaksanakan makan siang


"Sharma" Tegur wanita yang tadi mengobrol dengan Reyhan


"Dokter Dinar"


Pantas saja Dinar merasa tidak asing dengan gadis yang dibawa Reyhan, ternyata dia adalah Sharma. Wanita, yang selalu dibangga banggakan oleh Roger, dan ternyata Reyhan juga mengincarnya. Karena jika tidak, mustahil Reyhan akan membawanya ke rumah mereka dan mengenalkannya pada Arinda. Dinar hafal saudara sepupunya.


Yang ia tau hanya satu, jika semua wanita muslim, wajib menutup auratnya


"Kalian saling mengenal?" Tanya Arinda


"Dinar pernah bertemu beberapa kali sama Sharma di rumah sakit, Tante"


Arinda hanya mengangguk anggukan kepalanya, kemudian mengajak mereka bertiga untuk masuk kedalam rumah menikmati makan siang


Jujur, Sharma merasa sangat canggung berada ditengah tengah keluarga Reyhan. Meski, tanpa ada papa Reyhan disana. Menurut kabar yang pernah Sharma dengar dari Indah, papa Reyhan pergi meninggalkan keluarganya tanpa alasan yang jelas


"Sharma, jangan sungkan. Makan yang banyak, ya" Arinda menegur saat Sharma sedikit melamun tadi


"Iya Tante"


Sharma baru sadar jika ternyata sedari tadi Reyhan mencuri curi pandang padanya, membuat Sharma semakin canggung rasanya


**


"Kamu naksir Sharma, Rey?" Tanya Dinar saat keduanya tengah memandangi Sharma yang tengah melukis dengan Arinda di taman halaman belakang


Reyhan yang tengah bersandar pada salah satu pilar dengan tangan terlipat di dada hanya menoleh


"Dia cantik" Sambung Dinar dengan mata yang menatap pada Sharma yang sesekali tersenyum disana dengan manisnya


"Cantik saja tidak cukup Dinara!"


Dinara mengernyit, kemudian menatap Reyhan yang sedari tadi tidak melepaskan tatapannya dari Sharma


"Sejak kapan kamu banyak penilaian pada wanita. Bukankah saat berpacaran dengan Rayana kamu bilang, yang paling penting adalah cantik, cukup cantik!"

__ADS_1


Reyhan terdiam, membuat Dinara sadar jika dirinya sudah salah berbicara


"Maaf Rey, aku tidak bermaksud menyinggung perihal dia"


Reyhan hanya mengangguk. Kemudian tetap fokus pada Sharma


"Sharma itu berbeda dengan wanita lainnya, dia cantik secara fisik, juga dengan hatinya. Dia sosok yang seperti magnet, mampu menarik siapapun untuk menggilai pesonanya"


"Kamu benar, Rey"


Reyhan tersenyum, bangga


"Aku memang sudah jatuh hati pada Sharma. Aku tidak tau sejak kapan, tapi ketika dekat dengannya, aku merasa nyaman. Ketika melihat wajahnya, aku merasa bahagia. Ketika melihat senyumannya, aku merasa dia adalah alasan kenapa aku tercipta"


Dinara tersenyum. Saudara sepupunya tidak pernah sepuitis itu, tapi apa yang dikatakan Reyhan, Dinar melihat banyak ketulusan dalam setiap kata yang diungkapkannya


"Kenapa kamu tidak langsung melamarnya?" Reyhan menegakan tubuhnya, kemudian tangannya beralih pada saku celananya. Tersenyum, lalu menggeleng


"Kenapa?"


"Aku tidak bisa tiba tiba saja melamarnya, aku belum mengetahui bagaimana perasaan Sharma padaku. Aku takut jika nanti dia malah akan menghindar"


"Sejak kapan kau berubah menjadi pesimis dan payah seperti itu Rey?"


"Dengar, banyak yang ingin pada Sharma Rey. Termasuk Dokter Roger"


"Dokter Roger?" Reyhan seperti berfikir dan kemudian mengangguk


"Ahh, aku tau!"


"Dia menyukai Sharma" Sambung Dinar dengan senyum getir, dan hal itu tidak luput dari perhatian Reyhan


"Kau cemburu?" Tanya Reyhan. Dinar hanya diam. dan Reyhan tau, jika diamnya wanita berarti adalah 'iya'


Lalu, tatapan keduanya kembali pada Sharma dan Arinda


"Bagusnya kasih warna apa?" Tanya Arinda saat ia akan memberi warna pada beberapa kerikil yang digambarnya. Ia sedang melukis halaman belakang rumahnya, termasuk juga kolam renang dan gazebo yang berada disana


"Mm, warna yang netral sama bunga diatasnya Tante" Usul Sharma yang langsung mendapat anggukan dari Arinda


"Coba kamu, yang mewarnai Sharma"


"Boleh Tante?"


"Tentu saja boleh sayang. Reyhan bilang, kamu juga suka melukis kan?"


Sharma mengangguk


"Nanti, Tante akan kasih liat kamu, galeri mini tante"


"Makasih Tante Arinda"


Arinda menyentuh tangan Sharma. Menggenggamnya


"Jangan sungkan. Tante seneng ketemu kamu"


Sharma terdiam. Ia merasa tersentuh dengan ungkapan singkat yang tulus dari Mama Bosnya ini


"Tante boleh peluk kamu?"


Sharma diam, kemudian mengangguk. Arinda beranjak dari duduknya, kemudian memeluk Sharma


"Tante juga senang, Reyhan dipertemukan dengan kamu, Sharma!"


Deg. Sharma memejamkan matanya, mencoba mengontrol perasaan tak wajar yang dirasakannya

__ADS_1


Husaen benar. Ia jika dirinya sudah jatuh hati pada bosnya. Sharma sudah jatuh hati pada Reyhan


TBC


__ADS_2