
Setelah perjalanan pulang yang dimaksud Reyhan, akhirnya mobil berhenti di pelataran sebuah rumah mewah yang tak lain adalah rumah Arinda. Tentu saja membuat Sharma heran karena sebelumnya Reyhan tidak mengatakannya jika akan datang ke mari
"Mas, kita ke rumah?...,"
"Calon mertua kamu." sahut Reyhan sambil melepas seatbeltnya. Sharma hanya tersenyum membalas ucapan Reyhan. Lalu keduanya turun dari mobil dan berjalan ke dalam rumah
"Assalamualaikum," ucap Reyhan saat memasuki rumah, lalu tersenyum pada Sharma yang berdiri disampingnya.
"Waalaikumsalam," terdengar sahutan dari arah dapur. Tak lama, Arinda muncul dengan tampilan yang berbeda, ia terlihat sedikit kesulitan, namun membuat Reyhan dan Sharma senang melihatnya
"Subhanallah, tante." Sharma berdecak takjub
Arinda nampak tersenyum, ia sedikit tersipu malu dan kemudian membenarkan letak pashmina yang dikenakannya
"Mama cantik sekali." puji Reyhan sambil menggandeng sang mama
"Kamu ini," Arinda merasa malu sendiri karena disana ada Sharma. Ia memukul lengan Reyhan dengan pelan
"Sharma, mas ke atas. Kamu temenin mama ya." sahut Reyhan sebelum berlalu ke kamarnya
Sharma mengangguk, lalu ia berjalan dengan Arinda ke arah sofa di ruang tv
"Tante cantik sekali," Sharma juga memuji, membuat Arinda tersipu tidak karuan. Tapi ia teringat sesuatu dan kemudian bersuara
"Panggil mama!" suruhnya. Kali ini, Sharma yang tersipu malu, tapi beberapa detik kemudian, gadis cantik itu tersenyum dan mengangguk
"Sesuai dengan perkataan kamu, Sharma. Mama memang harus menerima takdir. Dan mama ingin nenjadi orang yang lebih baik lagi, mama ingin lebih dekat dengan pencipta kita." tuturnya dengan tulus
"Alhamdullillah!" ucap Sharma sambil mengelus punggung tangan Arinda
"Kamu mau ngajarin mama mengaji?" tanya Arinda dengan penuh harap. Kemudian senyumnya merekah begitu gadis dihadapannya mengangguk mengiyakan
Sementara ditempat lain. Di sebuah ruangan bernuansa putih. Seorang wanita dengan jubah rumah sakit memasuki ruangan itu setelah sebelumnya sempat mengetuk pintu dan pemilik ruangan mempersilahkannya untuk masuk
"Dinar,"
Dinar tersenyum, lalu berjalan ke arah meja kerja Roger.
"Aku ingin membicarakan sesuatu." sahutnya. Terlihat ada keraguan diwajahnya, tapi ia menutupinya dengan tersenyum
Roger diam sebentar. Kemudian mengangguk mengiyakan
"Silahkan,"
Dinar menarik kursi disampingnya, kemudian duduk berhadapan dengan Roger
"Roger,"
__ADS_1
"Ya."
Dinar menghela nafas
"Mungkin ini lancang. Tapi, seperti yang sudah kamu tau. Aku, suka sama kamu. Kita sudah dewasa, dan...,"
Dinar menghentikan kalimatnya saat melihat perubahan di wajah Roger yang nampak bimbang
"Aku tau keyakinan kita berbeda, Roger. Dan kita tidak mungkin bersama, kamu pasti akan menolakku." sahutnya setengah ragu, ia menghela nafas untuk menetralisir perasaannya. Kemudian tanpa ragu ia meluncurkan sebuah kalimat ;
"Roger, aku ingin berislam!"
Spontan, Roger menatap manik hijau itu dengan perasaan tidak karuan. Takjud dan juga tidak percaya. Apakah Dinar sedang bermain main?
"Dinar, kamu tidak bisa bermain main dengan hal ini." Roger angkat bicara
"Sejak kecil, aku memang sering bergaul dengan anak anak yang memiliki keyakinan yang sama denganmu. Aku sering merasa tersentuh kala mereka membaca ayat suci kitab mereka. Dan ketika mengenalmu, aku ingin belajar banyak tentang islam."
"Akhir akhir ini, aku sering mendengar kajian dari sosial media. Aku juga banyak bertanya pada Reyhan dan Sharma, juga pada orang orang terpercaya. Ustadz, ulama," sahutnya dengan manis
"Aku mendengar banyak keindahan tentang islam. Dan percayalah Roger, aku sudah jatuh cinta pada agama mu jauh sebelum aku jatuh hati padamu,"
Roger tersenyum haru mendengarnya. Sedikit tertawa dan menggeleng pada Dinar
"Subhanallah!" ungkapnya dengan menggebu. Dinar menanggapinya dengan tersenyum
Roger mengangguk yakin. Bagaimana pun, jika memang Dinar yakin dengan keputusannya, maka Roger juga harus membimbingnya.
**
Reyhan baru saja akan mengajak Sharma dan Arinda untuk makan siang. Kebetulan tadi siang ia dan Sharma belum makan dengan benar. Ah, mengingat kesana hanya akan membuatnya emosi
Reyhan melangkah perlahan saat samar samar ia mendengar bacaan al-qur'an dari kamar sang mama
"Alif laaam mim"
"Aliff .., laaamm." Arinda menghentikan bacaannya saat ia tidak bisa melanjutkannya karena tidak tau
Tapi Sharma dengan sabar mengajarkan Arinda, menuntunnya untuk membaca ayat suci. Reyhan hanya berdiri di ambang pintu, melihat dua perempuan yang disayanginya itu, lantas ia tersenyum
Reyhan merasa beruntung di pertemukan dengan Sharma. Ia bersyukur, gadis itu sudah membawa banyak perubahan pada hidupnya. Reyhan banyak mendapat hidayah semenjak mengenal gadis itu
"Cantik ma," sahut Sharma saat Arinda menunjukan hasil lukisannya setelah selesai belajar mengaji dan makan siang bersama. Sementara Reyhan berada di ruang kerjanya
Lukisan yang ditunjukan Arinda adalah gambar Arinda dengan dirinya saat berpelukan dihalaman belakang rumah Arinda ketika pertama kali Sharma datang ke rumah ini. Arinda melukisnya melalui foto yang ternyata diambil Reyhan saat keduanya tengah berpelukan
"Iya dong, mama." Arinda menepuk dadanya dengan bangga, sementara Sharma hanya tersenyum saja. Lalu, keduanya duduk di sofa disudut ruangan itu
__ADS_1
Sharma mengedarkan padangannya ke seluruh sudut ruangan itu, ia jatuh cinta setiap kali masuk ke galeri milik Arinda
"Mama ingin kamu segera menikah sama Reyhan," sahutnya sambil mengelus punggung tangan Sharma, Sharma menatapnya
"Biar rumah ini rame. Ada kamu, terus nanti ada anak anak kamu sama Reyhan, pasti seru. Iya 'kan?"
Sharma hanya menahan senyumnya. Bukan tidak senang dengan impian dan keinginan Arinda, hanya saja ia takut mendahului takdir. Meski sejujurnya ia pun meras hal demikian akan sangat menyenangkan
Setelah waktu menjelang sore, Reyhan mengantarkan Sharma untuk pulang. Sepanjang perjalanan mereka hanya menikmatinya dengan terdiam. Sampai kemudian suara Reyhan memecah keheningan
"Sharma,"
Sharma menoleh
"Secepatnya mas akan segera mengkhitbah kamu,"
Sharma mengernyit, ia bukan tidak senang dengan kalimat yang baru saja dikatakan Reyhan. Hanya saja ia merasa Reyhan mengatakannya dengan tiba tiba
"Maksud, Mas. Proses ta'aruf kita sudah lama, mas rasa kita sudah cukup untuk saling mengenal. Bukankah semakin cepat jauh lebih baik, mas takut jika terlalu lama di tunda tunda kita malah akan memupuk dosa."
Sharma diam, mempertimbangkan apa yang dikatakan Reyhan barusan
"Apa kamu masih belum yakin, dengan mas?" tanya Reyhan yang membuat Sharma mengeleng dengan spontan
"Setelah menikah, mas juga bisa leluasa jagain kamu. Mas tidak ingin hal seperti tadi terjadi lagi sama kamu," sambungnya
Sharma mengangguk. Apa yang Reyhan katakan memanglah benar, jika sudah menikah, maka ia bisa terus berada didekat Reyhan
"Bagaimana? Apa kamu setuju?"
Sharma mengangguk. Membuat Reyhan tersenyum dan mengucap hamdalah dengan senang
Meanwhile, disebuah rumah sakit disalah satu ruangan, seorang pria nampak meringis saat seorang perawat sudah selesai mengobati lukanya. Sang skretaris yang berada disampingnya beberapa kali menerima telpon, air mukanya kerap kali berubah
Setelah perawat tadi keluar, lantas Fariz bertanya pada skretarisnya
"Ada apa?"
"Maaf pak. Tapi beberapa investor yang baru saja menanam saham di perusahaan kita, memilih untuk menarik investasi mereka dan membatalkan kerja samanya dengan kita," sahutnya setengah ragu, takut takut jika atasannya akan marah nanti
"Lalu?"
"Kemungkinan perusahaan kita gulung tikar!"
Fariz menggeram. Mencengkram sprei rumah sakit dengan kuat. Lalu membanting vas bunga yang berada di atas meja disamping brangkarnya
Reyhan tidak main main dengan kata katanya untuk membuat perusahaannya gulung tikar. Dan Fariz, tidak akan diam saja untuk ini
__ADS_1
TBC