Keyakinan Hati

Keyakinan Hati
Sebuah Perubahan


__ADS_3

Azam nampak menyangga dagunya dengan wajah murung. Ruangan nyamannya yang didominasi dengan warna abu itu sama sekali tidak membuatnya nyaman berada disana


Sampai kemudian saat seseorang memasuki ruangannya, ia beranjak dari duduknya


"Bagaimana?" Tanyanya begitu Skretaris kepercayaannya itu masuk kedalam ruangannya. Meski ia dapat membaca raut wajah sang Skretaris yang sepertinya tidak membawa kabar baik untuknya


"Nona Sharma adalah Asisten Pribadi Pak Reyhan, Pak. Pak Reyhan mengangkatnya menjadi Asisten Pribadinyanya setelah sebelumnya nona Sharma bertugas dibagian divisi design Pak"


Azam duduk dikursinya. terutama setelah Dani kembali berkata


"Saya rasa Pak Reyhan menaruh hati pada nona Sharma. Dan nampaknya hubungan keduanya memang terlihat akrab"


Azam hanya diam.


Haruskah ia menyerah untuk Sharma?


Disaat mana sesungguhnya dirinya hanya berjuang sendirian. Ia hanya selalu mengawasi Sharma dari jarak terjauh


"Pak Azam. Apa, Bapak baik baik saja?"


"Saya tidak apa apa"


"


Reyhan sudah berada di rumahnya setelah tadi sore menemui klien pentingnya diluar kantor. Ia sedang duduk diatas tempat tidur sambil membaca buku kecil yang diberikan Sharma beberapa bulan yang lalu. Sedikit banyak. Ia sudah bisa membaca ayat ayat al-quran. Apalagi selama ini ia dibantu oleh Akbar dan guru mengaji yang memang sengaja ia mintakan tolong


Reyhan melihat jam, pukul 19.10


Artinya sudah masuk waktu shalat isya. Entahlah, tiba tiba saja hatinya tergerak untuk mengambil wudhu dan melaksanakan salat. Meski setengah ragu, tapi Reyhan tetap melakukannya


"Sharma, saya memang tidak mungkin untuk menjadi sesempurna Rasull kita saat kelak menjadi imammu. Tapi saya akan berusaha sebisa mungkin untuk menjadi imam yang baik untukmu!"


**


Arinda hanya berdiri diambang pintu kamar sang putra sambil menunggu putranya itu selesai melaksanakan salat


Beberapa bulan terakhir ini, Reyhan memang menunjukan perubahan yang amat mencolok. Ia sudah hampir tidak pernah lagi meninggalkan salat, ia juga sering belajar membaca al-quran dengan mendatangkan guru mengaji secara langsung ke rumahnya


Arinda merasa terkejut tentu saja melihatnya, ia sadar jika keluarganya ini bukanlah keluarga yang kental dengan nilai nilai agama. Bahkan sejak kecil, Reyhan sangat jauh sekali dengan didikan agama


Tapi akhir akhir ini. Dia banyak bercerita tentang gadis yang membuatnya jatuh hati dan ingin memperbaiki diri. Arinda penasaran dab ingin melihat, siapa gadis itu. Gadis, yang sudah membuat putranya menjadi seperti sekarang


"Mama ...,"


Arinda tersadar dari lamunannya saat Reyhan memanggilnya. Dia sudah selesai salat


Arinda tersenyum dan duduk ditepi tempat tidur. Sementara Reyhan merapihkan peralatan salatnya


"Ada apa Mama ke kamar Reyhan. Mama ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan?"


Tanya Reyhan setelah ia duduk disamping Arinda


Arinda tersenyum, kemudian menggenggam tangan putranya


"Mama cuma ingin ke sini saja"


Reyhan hanya tersenyum. Kemudian memeluk Arinda dari samping, membenamkan wajahnya pada bahu sang Mama


"Reyhan laper" Manjanya yang membuat Arinda tertawa


"Yasudah. Ayo kita makan"

__ADS_1


Laki laki itu mengangguk dan keluar dari kamar dengan menggandeng sang Mama, meski usianya sudahlah matang, tapi kepada Arinda, dia tetaplah manja. Dan Arinda juga selalu menganggap jika Reyhan adalah putra kecilnya


"Bagaimana dengan gadis itu?" Tanya Arinda disela sela mereka makan


Reyhan menghentikan makannya, kemudian menatap Arinda yang menunggu jawabannya dengan antusias. Akhir akhir ini, Reyhan memang banyak bercerita tentang Sharma kepada sang Mama. Dan dari ekspresi yang selalu Reyhan liat, Mamanya menyukai Sharma dari cerita yang disampaikannya


"Dia baik. Kemarin kami baru saja makan berdua sebelum berangkat ke panti"


Reyhan tersenyum mengakhiri kalimatnya. Dan Arinda juga hanya tersenyum


"Kamu kapan kapan ajak Sharma kemari, Mama ingin bertemu dengan dia"


"Nanti akan Reyhan fikirkan, Ma"


"Secepatnya, nak"


Reyhan terbengong, tapi beberapa detik kemudian. Ia mengangguk


**


"Bagaimana kerjaanmu, nak?"


Tanya Husaen saat ia sedang berada di ruang keluarga dengan Sharma, sementara Nazwa sedang duduk lesehan sambil mengerjakan PR-nya


Sharma menoleh, kemudian menaruh ponselnya dan menatap sang Ayah


"Kerjaan Sharma baik yah. Ada apa?"


"Bagaimana bos mu?"


Sharma setengah tertawa dengan heran mendengar pertanyaan Husaen


"Bos Sharma baik Ayah. Kenapa Ayah bertanya tentang bos Sharma?"


"Apa dia laki laki yang kamu harapkan menjadi imammu kelak?"


"Apa kalian memiliki hubungan lebih? Jika iya, maka lebih baik cepat halalkan hubungan kalian sebelum terjadi fitnah nanti"


"Ayah. Dia hanya bos Sharma, dia tidak mungkin memiliki perasaan lebih pada Sharma, hubungan kami hanya sebatas partner kerja"


"Tapi kalian terbiasa bersama Sharma. Ayah takut terjadi sesuatu hal dengan hubungan kalian yang nantinya akan menimbulkan fitnah"


"Ayah. Ayah harus percaya pada Sharma. Sharma selalu mengingat semua nasihat nasihat Ayah" Sahut Sharma sambil menggenggam tangan Ayahnya


Husaen tesenyum mendengar penuturan tulus putrinya. Ia percaya dengan putri satu satunya itu


"Akhir akhir ini, Pak Reyhan banyak berubah Ayah"


Husaen mengangguk mengerti, ia tau sedikit banyaknya bagaimana orang orang seperti Reyhan yang lalai dalam menjalankan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan


"Kamu yang membuat dia berubah?"


Sharma tersenyum


"Perubahannya dimulai dari dirinya sendiri Ayah. Dan Sharma hanya perantara"


Sharma terlihat berbinar saat mengatakannya, dan Husaen dapat mengartikan ekspresi sang putri sehingga ia bertanya ;


"Apa kamu mulai menyukai bos mu?"


Sharma terdiam seperti tertangkap basah, bibirnya berucap istighfar beberapa kali

__ADS_1


"Kamu sudah harus mengontrol perasaanmu, Sharma"


"Iya Ayah"


**


"Sharma"


Sharma yang baru saja akan beranjak setelah menyerahkan berkas yang perlu ditandatangani oleh Reyhan kembali berbalik


"Ada apa Pak?"


"Apa ada berkas yang salah?"


"Tidak ada"


Sharma terdiam, menunggu Reyhan mengutarakan apa yang ingin dikatakannya


"Siang nanti, ikut bersama saya ke rumah"


"Rumah Bapak?"


Reyhan mengangguk


"Pak, saya tidak bis..."


"Saya tidak tinggal sendiri Sharma. Kita tidak hanya akan berdua nanti"


"Bukankah kamu juga sering datang ke rumah Dokter itu"


Sharma hanya diam


"Mama saya ingin bertemu dengan kamu"


"Memangnya ada apa Pak?"


"Saya hanya sering bercerita tentang kamu. Dan Mama saya penasaran, jadi dia ingin bertemu dengan kamu"


"Apa tidak bisa jika sedikit saja tertutup. Tidak secara terang terangan mengatakannya padaku?" Sharma membatin


"Bagaimana Sharma?"


Sharma mengangguk samar


"Tapi Pak, nanti siang Bapak akan ada acara makan siang bersama dengan pemenang tander kemarin" Sahut Sharma. Mengingatkan jadwal Reyhan


"Itu urusan gampang, saya bisa membatalkannya. Saya ingin makan siang dengan kamu dan Mama nanti" Reyhan mengatakannya dengan blak blakan. Membuat Sharma untuk beberapa detik hanya mematung mencerna ucapan Reyhan, sampai kemudian laki laki itu kembali bersuara


"Apa kamu mendengar saya Sharma?"


Sharma hanya mengangguk, kemudian permisi untuk masuk ke ruangannya. Hatinya berdebar, dan nasihat Husaen tadi malam bersahut sahutan dengan kalimat yang tadi dikatakan oleh Reyhan


Sharma menjadi pusing sendiri, tapi ia juga harus pandai menjaga pertahanan diri


Pergi ke rumah Reyhan dan bertemu dengan Mamanya. Mengapa Sharma merasa ia akan dikenalkan selayaknya calon istri?


Tidak tidak!


Sharma memukul pelan kepalanya sendiri. Jangan sampai dirinya terlalu berharap besar pada manusia


Reyhan hanya bosnya, dan dia adalah bawahan. Mereka hanyalah partner kerja, jadi jangan melibatkan perasaan disini

__ADS_1


TBC


__ADS_2