
Sharma patut merasa bersyukur. Setelah Azam melakukan konferensi pers, kini ia tidak terlalu risih saat datang ke tempat tempat ramai. Orang orang tak lagi menatapnya dengan tatapan jijik. Setidaknya Sharma merasa tenang dengan hal itu.
Sharma merebahkan tubuhnya sepulang mengantar Azam bertemu dengan salah satu kliennya di sebuah hotel.
"Sudah pada pulang?" Salamah menghampiri kedua orang itu. Azam beranjak dan menggapai tangan wanita itu untuk ia cium punggung tangannya. Dan Sharma pun melakukan hal yang sama.
"Udah bun,"
"Nazwa mana?"
"Ke warung bentaran. Nak Azam mau minum?"
"Enggak usah Bunda, nanti saya ambil sendiri."
"Kok ambil sendiri?"
Azam tersenyum sambil melepas dasinya
"Saya nggak mau repotin bunda,"
"Bukan bunda yang mau ambil minum. Sharma, kan istrinya." sahut bunda sambil tertawa, kemudian berlalu dari sana. Azam menoleh pada Sharma, istrinya itu tersenyum. Lalu memutus tatapannya dari Azam dan hendak beranjak.
"Mas Azam mau minum apa?"
"Minum apa aja."
"Sharma bikinin ya,"
Azam mengangguk
"Mas tunggu dikamar," Sharma yang hendak melangkah kembali menoleh, kemudian mengangguk dan pergi menuju dapur. Sementara Azam beranjak ke kamar mereka.
Melepas jas kantornya dan kemudian duduk ditepi tempat tidur. Sharma muncul dengan segelas minuman ditangannya, lalu menyerahkannya pada Azam. Azam menerimanya dan mengucapkan terimakasih pada sang istri, kemudian melegutnya.
Sharma mengambil duduk disamping suaminya itu sambil tersenyum.
"Sharma,"
"Kenapa mas?"
"Saya sudah fikirkan ini. Bagaimana, setelah resepsi pernikahan kita nanti, kita pindah ke rumah pribadi saya?"
Sharma diam. Ia sudah menjadi istri Azam, dan sudah menjadi kewakiban seorang istri untuk ikut dengan suaminya kemanapun.
"Saya minta izin sama kamu. Biar kita sama sama nyaman nanti. Kebetulan juga rumah pribadi saya dekat dengan perusahaan."
"Sharma ikut mas Azam saja."
"Jadi kamu setuju?"
Sharma mengangguk
"Oh ya. Besok kita berkunjung ke rumah ayah, bagaimana?"
Sharma diam
"Sharma malu, mas." cicitnya yang membuat Azam tertawa
"Lebih malu lagi kalau kita tidak kesana."
Akhirnya Sharma hanya bisa mengangguk. Dan besok akan bertemu dengan ayah mertuanya. Kebetulan ia memang hanya pernah sekali bertemu dengan ayah mertuanya itu. Yaitu saat acara akad nikah 3 hari yang lalu
**
Sharma mengulurkan tangannya pada Azam. Azam menoleh, lalu mengulurkan tangannya. Sharma mengecup punggung tangan sang suami. Keduanya baru saja selesai salat subuh berjama'ah.
__ADS_1
Azam kembali menghadap kiblat. Berdo'a untuk hari ini, dan berterimakasih untuk hari-hari yang sudah terlewat.
"Sharma,"
Azam berbalik menghadap istrinya.
"Kenapa mas?"
"Kamu menyesal menikah dengan mas?"
"Tidak," Sharma menyahut spontan
"Kenapa?"
"Salah jika Sharma nyaman dengan suami Sharma sendiri?"
Azam hanya diam.
"Mas Azam tulus kepada Sharma. Sharma sayang pada mas Azam,"
Azam tersenyum, kemudian membawa sang istri dalam pelukannya dan mencium dahi Sharma.
"Tidak tau kenapa. Kadang Sharma bersyukur musibah itu pernah menimpa Sharma. Karena dengan begitu, Allah menunjukan pada Sharma, siapa saja orang yang tulus, sayang dan percaya pada Sharma."
"Terimakasih mas Azam. Terimakasih sudah hadir dalam hidup Sharma,"
Azam tak menyahut, ia hanya kembali mendaratkan beberapa kecupan di dahi istrinya
-
"Mas Azam, jangan ihh." Sharma terus saja menggerutu saat akan sarapan. Setelah membuatkan kopi untuk suaminya dan masak untuk semua orang rumah, Sharma mendatangi Azam di kamar yang sedang membereskan pakaiannya untuk dibawa ke rumah pribadi mereka nanti.
"Kalau dibawa semuanya berat, Sharma." sahut Azam, berusaha membujuk istrinya untuk tidak membawa semua pakainnya yang berjumlah 2 koper.
"Satu koper bawa pindah. Sisanya, buat ganti kalau nanti menginap disini,"
"Enggak!"
Azam mempercepat langkahnya. Kemudian merengkuh pinggang sang istri, membuat Sharma tertawa dengan bisikan yang disampaikan oleh Azam. Sampai keduanya duduk di meja makan.
Sharma hanya mencebikan bibir saat Azam tersenyum padanya, ia berusaha menepis senyumnya agar tak dilihat Azam. Ia menyendokan nasi dan beberapa lauk untuk sang suami setelahnya.
"Liat liatan terus. Mentang mentang pengantin baru," Nazwa meledek dengan cuek sambil memakan sarapannya.
Sharma mengernyitkan dahi pada gadis kecil itu.
"Anak kecil." Ledeknya. Salamah dan Husaen tertawa.
"Tapi nanti kalau Nazwa udah besar. Nazwa juga mau nikah sama orang yang kaya om Azam ah."
"Kenapa?" tanya Sharma dengan heran
"Ganteng, baik, soleh, sayang lagi sama Kak Sharma." sahutnya.
Azam hanya tertawa sambil mengusap puncak kepala Nazwa. Sharma juga melakukan hal yang sama, mengusap puncak kepala anak kecil itu dengan senyum diwajahnya.
Salamah dan Husaen yang melihatnya hanya tersenyum. Satu hal yang ada dihati dan fikiran mereka sekarang saat melihat Sharma dengan Azam, mereka sebagai orang tua sama sekali tidak menyesal sudah merelakan Sharma menikah dengan Azam.
Sharma terlihat bahagia, Salamah dan Husaen mampu merasakannya.
**
Sesuai apa yang sudah dikatakan Azam, siang ini mereka datang ke rumah ayah Azam untuk berkunjung.
Ayah Azam yang kebetulan berada di teras dan sedang membaca koran menyambut keduanya dengan sedikit terkejut, karena sebelumnya Azam tidak mengabarinya jika akan datang.
__ADS_1
"Ayah tidak tau kalian akan datang. Jadi tidak menyiapakan apapun,"
"Tidak papa Ayah. Kami hanya berkunjung," sahut Azam
"Kita makan siang bersama saja ya."
Azam dan Sharma hanya mengangguk. Lalu masuk dengan ayah Azam
"Kamu ini cantik dan baik. Wajar, Azam sampai tergila gila sama kamu," sahut Ayah saat mereka sudah duduk di sofa di ruang tengah. Sharma hanya melihat Azam, pria itu menggelengkan kepalanya. Merasa ayahnya akan sedikit membuatnya malu pada Sharma.
"Saat kalian belum menikah. Azam sering memandangi foto foto kamu di laptopnya."
Ini yang Azam takutkan. Sang ayah membongkar aibnya dan ia malu sendiri pada Sharma karena sudah menjadi fans rahasia gadis itu selama ini, meski sejujurnya Sharma sudah mengetahuinya.
"Ayah, udahlah. Azam malu sama istri Azam," sahutnya. Menghentikan aksi sang ayah yang semakin lama akan semakin memojokannya. Sementara Sharma hanya tersenyum saja.
"Mas Azam pengagum rahasia Sharma. Ayah?" Sharma juga malah ikut ikutan memojokan Azam.
Ayah Azam mengangguk mantap sambil mengangkat jempolnya.
Dan, baiklah. Azam hanya bisa pasrah
**
Azam mengangguk saat Sharma akan mengetuk pintu rumah seseorang.
"Enggak papa." sahutnya, meyakinkan Sharma.
Sharma mengangguk. Lalu mengetuk pintu, tak lama muncul seseorang. Seorang wanita paruh baya yang nampak kaget melihat kedatangannya.
"Sharma," wanita itu langsung memeluk Sharma.
"Tante,"
"Mama." wanita itu menolak disebut tante.
"Mama. Apa kabar?" tanyanya setelah pelukan keduanya terlepas, ada rasa haru dihatinya melihat tatapan mantan calon mertuanya itu.
"Baik,"
Arinda menatap pria yang bersama dengan Sharma.
"Ini mas Azam, ma. Suami Sharma,"
Azam tersenyum, menyalami Arinda. Membuat Arinda tak percaya jika yang menjadi pendamping hidup Sharma sesungguhnya adalah Azam, bukan putranya.
Sharma, gadis yang menjadi menantu impiannya gagal begitu saja. Calon menantu yang ia pamerkan dengan bangga pada ibu Roger, ternyat sekarang hanya menjadi orang lain baginya.
"Sharma datang kemari untuk mengundang tante ke acara resepsi pernikahan Sharma nanti."
Arinda mengangguk
"Selamet yah, semoga kamu selalu berbahagia. Bagaimana pun, meski kamu tidak menikah dengan Reyhan dan tidak menjadi menantu mama. Mama tetap sayang sama kamu,"
Sharma mengangguk. Lalu kembali memeluk wanita itu
Azam hanya melihatnya dan tersenyum, mengerti jika pernah terjadi kekeluargaan disini.
3 Hari setelahnya, resepsi pernikahan digelar disebuah tempat out dor dengan tema serba putih. Kebahagiaan menyelimuti Sharma dengan Azam yang saat itu menjadi raja dan ratu sehari.
Syifa sibuk memberi ucapan selamat dan menginginkan untuk segera menyusulnya ke pelaminan. Indah datang kesana dengan Akbar, memberi ucapan selamat pada Sharma juga membawa kabar gembira jika ia tengah hamil anak pertama. Roger juga datang dengan Dinar yang sekarang mantap berhijab, mereka juga memberitahukan jika akan segera menyusul Sharma ke pelaminan.
Dan Arinda juga datang, memberikan do'a terbaiknya untuk Sharma.
Sharma bersyukur untuk ini. Untuk kehadiran Azam, untuk kebahagiaan yang sekarang sedang menyelimutinya.
__ADS_1
God's promise of happiness is real.
TBC