
Sharma hanya tersenyum pada Reyhan yang tengah mengobrol akrab dengan Roger. Mereka masih di masjid, dimana hari ini Dinar mantap untuk membaca dua kalimah syahadat. Acara berlangsung dengan penuh rasa haru dan kebanggaan. Bahkan Dinara juga menangis setelahnya, menangis bahagia
"Sharma,"
Sharma menoleh saat Arinda memanggilnya.
"Setelah ini, bagaimana kalau kamu temani mama mencari pakaian muslim?"
Sharma diam sebentar, kemudian mengangguk
"Kamu ada kenalan seorang desainer, atau pemilik butik yang menyediakan pakaian muslim?"
"Ada ma. Ibunya dokter Roger pemilik butik pakaian muslim, gimana kalau kita kesana saja?"
Arinda mengangguk setuju
"Boleh. Kita ajak Reyhan ya,"
Sharma mengangguk. Setelah Reyhan setuju untuk mengantarkan mereka, ketiganya pamit pada Dinara dan Roger untuk berlalu duluan
"Berarti kamu akrab, sama mama nya dokter Roger?" tanya Arinda saat sudah berada dalam perjalanan untuk ke butik Zahro
Sharma melihat Reyhan yang tengah menyetir. Kemudian tersenyum pada Arinda
"Iya, ma. Sharma sering datang dan ikut membantu tante Zahro mendesain pakaian muslim. Kebetulan Sharma kan juga suka menggambar," tutur Sharma dengan lembut
Mulut Arinda membentuk huruf o, ia mengangguk dan tersenyum
"Hebat dong," pujinya kemudian
"Kan calon istri Reyhan, ma." Reyhan akhirnya angkat bicara. Arinda tertawa
"Calon mantunya mama dong," Arinda menyahut dengan bangga. Sementara Sharma yang menjadi bahan olokan anak dengan mama itu hanya tersenyum saja menanggapinya
Setelah perjalanan setengah jam, mobil Reyhan berhenti di depan sebuah butik yang ditunjuk Sharma. Lalu ketiganya turun untuk masuk kedalam butik setelah sebelumnya disambut dengan hangat oleh salah satu pegawai disana
"Mbak Sharma, silahkan." pegawai wanita yang memang sudah kenal dengan Sharma itu mempersilahkan. Sharma mengangguk dengan tersenyum, lalu masuk dengan digandeng oleh Arinda. Reyhan sudah lebih dulu masuk dan duduk di salah satu sofa dekat ruang ganti
"Bagus yah, tempatnya." puji Arinda saat ia sudah masuk dan melihat seluruh interor bergaya glamour di dalam butik
Sharma mengangguk mengiyakan
"Sharma,"
Sharma menoleh ke asal suara yang memanggilnya. Zahro berdiri dengan tersenyum, lalu berjalan menghampirinya
"Assalamualaikum, tante." gadis cantik itu menyalami Zahro, Arinda mengikuti Sharma. Ia juga ingin kenal dengan pemilik butik yang nanti akan jadi langganannya, ia sudah jatuh cinta pada butik ini
"Kamu apa kabar?"
"Sekarang sudah jarang loh. Datang ke rumah tante,"
"Iya tante. Sharma sedikit sibuk sama urusan kantor akhir alhir ini."
"Ini....," Zahro menatap Arinda yang sejak tadi tersenyum padanya
"Arinda, calon mertuanya Sharma " sahutnya memperkenalkan diri, sejenak Zahro terdiam, tapi kemudian ia tersenyum dan menerima uluran tangan Arinda
"Oh yah. Mau melihat desain terbaru saya? Barang kali cocok." tawar Zahro setelah Sharma menyampaikan jika Arinda sedang mencari pakaian muslim. Arinda mengangguk, lalu berjalan dengan Zahro ke arah pajangan pakaian muslim terbaru. Sementara Sharma berjalan ke arah Reyhan yang sudah mengajaknya duduk dengan isyarat
"Kamu gak ada niat beli baju?" tanya Reyhan saat Sharma sudah duduk disampingnya
Sharma menggeleng
"Kenapa?"
"Enggak apa apa."
__ADS_1
Reyhan mengernyit, menatap gadis itu. Membuat Sharma tersipu dan mengalihkan tatapannya ke arah lain
"Jangan ngeliatin ih." sahutnya yang kemudian protes. Sementara Reyhan justru malah tertawa, lalu ia beranjak dan mengambil sebuah gamis berwarna putih yang sedari tadi diamatinya
"Kamu coba!" sahutnya sambil menyodorkan gamis tersebut pada Sharma, Sharma hanya mengernyit
"Kamu coba, nanti mas liat." ia mengulang kalimatnya saat Sharma hanya terbengong
"Sharma nggak mau beli bajum"
"Mas yang traktir,"
"Enggak ah."
"Nggak usah nolak yah, calon istri."
Sharma terdiam, kemudian mengangguk dan mengambil gamis yang di sodorkan oleh Reyhan. Lalu ia masuk ke ruang ganti untuk mencoba stelan gamis yang tadi di berikan oleh Reyhan
Reyhan tersenyum setelah gadis itu berlalu. Beberapa menit Reyhan menunggu sampai kemudian Sharma keluar dari ruang ganti dengan gamis yang tadi dipilihkan olehnya. Gadis itu nampak anggung sekali
"Cantik." puji Reyhan saat Sharma merentangkan tangannya, meminta pendapat Reyhan
Sharma hanya memutar bola matanya, tidak memperdulikan pujian Reyhan barusan
"Kamu ambil yang itu ya, cocok."
"Sharma kan udah bilang, gak mau beli baju."
"Mas kan sudah bilang. Biar Mas yang teaktir,"
Sharma menggeleng. Reyhan mengangkat tangannya ke udara
"Biar mas borong semua gamis disini untuk kamu,"
Sharma terperangah mendengar ucapan bos sekaligus calon suaminya itu
"Yasudah, mau diterima atau tidak?" Reyhan bagai memaksa, membuat Sharma tidak memiliki pilihan lain kecuali mengangguk. Reyhan tersenyum penuh kemenangan, sedangkan gadis itu hanya mengerucutkan bibirnya saja, membuat Reyhan gemas melihatnya
"Ibu kenal akrab dengan Sharma?" tanya Arinda disela sela ia yang sedang memilih pakaian. Zahro menoleh
"Akrab, dia sering saya suruh datang ke rumah, ke butik juga. Karena kebetulan akrab dengan anak saya." sahutnya yang diakhiri dengan senyum
"Bahkan, awalnya saya ingin menjadikannya menantu," sambungnya. Arinda tersenyum menanggapinya. Untung Reyhan bergerak lebih cepat daripada Roger. Begitu batinnya
"Tapi keduluan sama ibu. Mungkin belum berjodoh."
"Sharma gadis yang baik, jarang jarang ada gadis seperti dia di zaman sekarang."
Arinda mengangguk mengiyakan
"Dia calon menantu idaman." Arinda menyahut kemudian, Zahro mengangguk setuju
**
Setelah menghabiskan waktu berjam jam untuk mencari pakaian di butik Zahro, Reyhan mengantarkan Sharma untuk pulang, sementara Arinda sudah pulang duluan karena memilih untuk di jemput supir dari rumahnya
"Maaf ya," sahut Reyhan tiba tiba saja membuat Sharma menoleh heran padanya
"Maaf untuk apa?"
"Mas belum bisa datang ke rumah untuk mengkhitbah kamu,"
Sharma terdiam, ia teringat satu minggu yang lalu Reyhan berkata jika ingin segera mengkhitbahnya, namun akhir akhir ini justru calon suaminya itu disibukan oleh urusan pekerjaan. Dan Sharma tidak bisa menuntut apa apa
"Tidak apa apa, mas. Sharma ngerti kok,"
"Nanti biar Mas siapin waktu yang tepat yah, buat ketemu ayah kamu," katanya, meyakinkan dengan senyum lembut. Sharma mengangguk
__ADS_1
Sampai tak lama, ponsel Reyhan berdering. Menjeda obrolan mereka seputar rencana khitbah.
" Devan," lirihnya ketika melihat ID dilayar ponsel
Devan, adalah saudara sepupu Reyhan yang kebetulan mengurus cabang perusahaan di Singapura
"Sebentar ya," sahutnya pada Sharma. Sharma mengangguk, mempersilahkan Reyhan untuk mengangkat telpon
"Hallo,"
"Rey. Kamu dimana?" tanya orang di ujung telpon
"Aku sedang di perjalanan, ada apa? Ada masalah di perusahaan?" tebaknya
"Iya. Kamu bisa datang kesini besok?"
"Besok?"
"Iya, Rey. Ada masalah darurat, para pegawai satu persatu mengundurkan diri. Aku tidak mengerti bagaimana menanganinya,"
Reyhan diam sebentar
"Baiklah, kamu tenang saja. Aku akan mengurusnya dan datang ke Singapur besok." putusnya
"Baiklah, hati hati dijalan."
"Ya,"
Sharma memperhatikan Reyhan yang nampak melamun
"Mas,"
"Mas Reyhan." tegurnya sekali lagi
"Sharma,"
"Ada masalah apa mas?" tanyanya yang tadi memang mendengar pembicaraan Reyhan dengan Devan
"Ada masalah di cabang Singapur. Sepertinya mas harus kesana besok. Bagaimana?"
"Bagaimana apanya mas?"
"Kamu memberi mas izin,?"
Sharma tersenyum
"Kenapa tidak. Inikan urusan pekerjaan, dan mas memang harus bertanggung jawab sebagai pimpinan,"
Reyhan tersenyum
"Mungkin akan beberapa hari. Tidak papa jika rencana kita di undur,"
"Ti, tidak apa apa." sahutnya setengah ragu
"Benar tidak apa apa?"
Sharma mengangguk. Reyhan setengah tertawa
"Nanti, kalau mas disana. Jaga diri baik baik yah. Jangan lepas komunikasi," sahutnya. Sharma mengangguk patuh sambil tertawa
"Kaya anak kecil ah." cibirnya kemudian
Dan Reyhan memilih untuk tidak perduli. ia hanya tersenyum dengan manisnya. Meski sejujurnya hati kecilnya merasa tidak rela karena harus meninggalkan Sharma, juga kembali menunda niatannya yang akan mengkhitbah gadis itu
Sama halnya dengan Sharma, ia pun sedikit tidak rela karena lagi lagi niat baik mereka harus tertunda
TBC
__ADS_1