Keyakinan Hati

Keyakinan Hati
Balas Dendam


__ADS_3

Hari ini, Sharma tidak datang ke kantor karena Reyhan juga melarangnya untuk datang. Subuh tadi, Reyhan berangkat ke singapur untuk mengecek kondisi perusahaannya yang sedang bermasalah disana


Jadilah Sharma memilih untuk datang saja ke panti asuhan.


Sedangkan di panti asuhan sendiri. Azam tengah berada disana, melepas penat ketika jam istirahat kantor. Ia tengah melihat anak anak panti yang tengah bermain bola, sementara Dani di belakangnya nampak berdiri dengan setia


"Sharma," lirih Azam ketika melihat gadis itu memasuki pagar panti. Para anak


k perempuan yang sedang bermain masak masakan segera berhambur menyambutnya dengan bahagia. Sama seperti biasanya


"Ini haanya kebetulan," Azam berucap lirih saat Sharma berjalan ke arahnya. Ia ingin menolak untuk bertemu Sharma jika bisa. Tapi sayang, smesta seolah malah sengaja mempertemukan mereka


"Tidak ada yang kebetulan Pak Azam, Bapak sendiri yang pernah mengatakannya pada saya. Saya harap Bapak tidal lupa." sahut Dani dengan santainya. Sementara Azam menatapnya, lalu menatap Sharma yang sudah berdiri dihadapannya


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam."


"Pak Dani, apa kabar?" ia menyapa Dani karena memang mengenal pria itu


"Baik nona Sharma, senang sekali bisa bertemu dengan anda." Sharma tersenyum menangggapinya


"Oh. Perkenalkan, ini atasan saya. Pak Azam,"


Sharma mengalihkan tatapannya pada Azam yang tengah tersenyum


"Sharma,"


"Azam."


Sesaat Sharma merasa sekelilingnya begitu hening. Seolah tidak ada kehidupan lain, ia hanya melihat satu kehidupan melalui mata Azam, yaitu dirinya. Sharma


Sharma tersadar, dan kemudian tersenyum. Memutus tatapannya dengan Azam


"Pak Azam, donatur tetap di panti ini nona Sharma. Yang sudah memberi donasi pada panti asuhan selama beberapa tahun ini." sahut Dani yang membuat Sharma mengangguk angguk mengerti


"Oh yah. Tidak biasanya nona Sharma datang dihari hari biasa seperti sekarang?" tanya Dani dengan beberapa lipatan di dahi


"Ohh, euu iya. Kebetulan atasan saya sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negri. Saya tidak masuk kantor hari ini,"


Azam mengangguk, sedangkan Dani tersenyum penuh arti. Kemudian perlahan ia pergi meninggalkan dua orang itu. Membuat Azam merasa canggung dengan keadaan sekarang, dan Sharma pun merasa begitu


Sampai tak lama, datang Luna diantara mereka yang membuat keduanya bernafas lega, setidaknya mereka tidak hanya duduk berdua disana


"Kak Sharma udah lama?" tanyanya yang langsung mengambil duduk di samping Sharma


"Baru nyampe. Ibu Rosa dimana?"


"Di dalem, lagi nemenin Nana tidur siang."


Sharma ber oh ria. Lalu mengamati anak anak yang sedang bermain. Sampai kemudian ia melihat Ilham yang terlibat perdebatan dengan kawannya


"Tapi kamu gak tau kan siapa orang pertama yang menemukan mesin uap?" tantang Ilham pada kawannya yang bertubuh gempal itu


"Siapa emangnya?"


"James watt." Ilham menyahut bangga


Anak bertubuh gempal itu mengernyitkan dahi


"Kalau orang yang pertama kali menemukan kapal selam? Siapa?" anak bertubuh gempal itu bertanya. Ilham nampak berfikir, Sharma dan Azam memperhatikan


"Mmm,"


"Cornelius van Drebbel." sahutnya kemudian


"Pada pinter banget sih," sahut Sharma yang membuat dua anak itu menoleh dan tersenyum ke arahnya


"Kalau gitu, coba Kak Sharma mau tanya sama kalian berdua. Siapa orang pertama yang menulis lafadz bismillah?" tanya Sharma yang membuat dua bocah kecil itu terdiam


"Siapa orang yang pertama menjadi khalifah islam?" tanya Sharma lagi


Azam menatap Sharma, kemudian tersenyum lembut melihat raut meneduhkan gadis itu


"Emangnya siapa Kak Sharma?" tanya Ilham yang memilih untuk menyerah menebaknya


"Orang yang pertama kali menulis bismillah itu, Nabi Sulaiman as."


Keduanya nengangguk anggukan kepala


"Kalau orang yang pertama menjadi khalifah islam, siapa?" kini bocah bertubuh gempal yang bertanya


"Abu Bakar As siddiq RA." Sharma menoleh saat Azam yang menjawab pertanyaan dari kawan Ilham. Ia teresenyum


"Boby baru tau," lirihnya sambil menggigit jari

__ADS_1


Sedangkan Ilham masih penasaran sehingga kembali bertanya


"Kalau orang yang pertama menjadi raja dalam islam, siapa?" tanyanya


Sharma diam


"Kak Sharma nggak tau yah," tebaknya sambil menunjuk Sharma dengan jenaka


"Muawiyah bin Abi Sufyan." Sharma terdiam, kemudian lagi lagi menoleh pada Azam yang menyahut secara bersamaan dengannya. Luna nampak tersenyum


"Ciee Kak Sharma," dua anak laki laki itu malah menggoda Sharma. Membuat Sharma salah tingkah, sedangkan Azam tampak biasa saja


"Wah, Pak Bos tau juga?" bocah gempal yang bernama Boby itu bertanya


Azam tersenyum


"Sebagai orang islam, kita harus tau sejarah agama kita, meski hanya hal kecil. Kalau bukan kita, memang siapa lagi?"


"Ilmu dunia, harus seimbang dengan ilmu akhirat. Dunia ditanganmu, dan akhirat di hatimu!"


"Paham?"


Ilham dan Boby mengangguk mantap. Azam mengangkat jempolnya pada dua anak itu. Sementara Sharma, entahlah ia merasa tak asing dengan Azam. Juga tersentuh dengan argumen pria tampan disampingnya


**


Reyhan berjalan santai memasuki ruangannya setelah tadi melakukan rapat darurat dengan beberapa dewan direksi. Dibelakangnya Devan mengikuti


"Bagaimana kabar tante?" tanya Devan setelah duduk di sofa. Reyhan duduk di kursinya


"Jauh lebih baik,"


Devan mengernyit.


"Ada apa?"


"Dia memiliki teman baru sekarang,"


"Calon ayah barumu?"


Reyhan tertawa


"Tentu saja bukan!"


"Lantas?"


"Kamu akan segera menikah Rey?"


Reyhan mengangguk. Devan terperangah tidak percaya


"Wanita mana yang mampu membuatmu jatuh hati setelah Rayana, Rey?"


Reyhan hanya mengangkat kedua bahunya. Lalu menyodorkan ponselnya ke arah Devan. Jarak sofa dan meja kerja Reyhan yang jauh mau tak mau membuat Devan beranjak dan menggapai ponsel Reyhan. Melihat foto yang pria itu tunjukan


Dahi Devan berkerut, tapi kemudian ia mengangguk dan tersenyum


"Cantik. Dia yang membuatmu menjadi Reyhan sekarang?" tanya Devan setelah cukup lama mengamati foto Sharma, membuat Reyhan mengambil ponselnya secara paksa


Reyhan mengangguk menyahuti pertanyaan Devan barusan.


"Dia gadis baik baik?" tanya Devan seperti orang ragu. Membuat Reyhan mengernyit tidak mengerti


"Maksudmu?"


"Maaf Rey. Aku tidak berniat untuk menjelek jelekan calon istrimu, hanya saja aku mengingat Nadia."


"Mantan tunanganmu?" tebak Reyhan yang mengingat nama gadis itu. Devan mengangguk


"Kamu tau, dulu aku gagal menikah dengannya karena ternyata dia berselingkuh dengan rival bisnisku."


"Lalu?"


"Dia seperti calon istrimu. Seorang wanita muslimah, tapi sayang. Dia berkhianat."


"Sharma tidak sama dengan Nadia!" Reyhan menyahut spontan. Membuat Devan memilih untuk mengalah dan terdiam saja melihat saudara sepupunya itu tersenyum sendiri menatap foto calon istrinya


**


Ini adalah hari ketiga Reyhan berada di Singapur. Dan hari ini, ia akan terbang ke Indonesia, ke tanah air. Dan secepatnya akan melamar Sharma


Sementara Sharma, hatinya merasa senang sekali mendapat pesan dari Reyhan jika pria itu akan segera pulang


"Kak Sharma ngapain?" tanya Nazwa saat melihat Sharma yang membongkar isi lemarinya. Ia sedang memilih gamis untuk di pakainya malam ini jika Reyhan langsumg datang ke rumahnya nanti


"Mmm, lagi beres beres." dustanya sambil tersenyum pada gadis kecil itu

__ADS_1


"Om bos udah lama gak dateng kesini, Kak. Kemana dia?"


"Kamu kecil kecil kepo," cibir Sharma sambil mencubit hidung Nazwa


"Nazwa kan cuma pengen tau," gadis kecil itu cemberut


"Apa bedanya dong?"


Nazwa tertawa. Lalu ikut membereskan pakaian Sharma. Sharma hanya tersenyum pada gadis itu sampai kemudian bunyi ponsel mengalihkan perhatiannya


Sharma mengambil ponselnya yang berada di atas bantal tempat tidur. Pesan masuk dari nomor baru


+628582******


Assalamualaikum, Sharma. Ini saya, Reyhan. Malam ini saya tidak bisa datang ke rumahmu. Bagaimana jika kamu yang datang ke sini, bawa makanan rumahan untuk saya. Nanti saya kirim alamatnya


+628582*****


Saya sedang tidak enak badan. Tolong kamu datang, yah


"Mas Reyhan," Sharma mematung sejenak, ragu. Lalu membalas


Me


Kenapa Mas Reyhan ganti nomor ponsel?


+628582*****


Saya meminjam ponsel petugas hotel. Ponsel saya sedang di charger


Sharma mengangguk, kemudian mengambil gamis yang menjadi pilihannya. Gamis putih yang beberapa hari kemarin dibelikan oleh Reyhan


"Kamu mau kemana nak?" tanya Salamah saat melihat putrinya yang nampak rapih


"Ayah belum pulang dari mesjid bun?"


"Kamu ditanya malah balik nanya ke bunda."


Sharma tersenyum


"Bunda masak apa?"


"Malah tanya lagi,"


"Sharma mau ke mas Reyhan sebentar bun. Dia lagi gak enak badan, pengen dibawain masakan dari rumah."


Salamah diam sebentar, kemudian mengangguk dan menyiapkan bekal untuk Sharma bawa kepada Reyhan


"Makasih bunda," sahutnya sambil menerima rantang dari Salamah


"Kamu datengin Reyhan cuma sendiri nak?"


Sharma diam. Sejujurnya ia juga ragu, terlebih hari sudah menjelang malam. Mau mengajak Nazwa, tapi gadis kecil itu sudah pamit tidur tadi


"Sharma enggak lama bunda. Nganterin makan aja, nanti langsung pulang lagi,"


Salamah terdiam. Mempertimbangkan apa yang barusan disampaikan sang putri, bukan ia tidak percaya pada Reyhan. Hanya saja, ia merasa tidak tenang membiarkan putrinya pergi sendiri untuk mendatangi lelaki malam malam begini


"Bunda,"


"Sharma bakalan langsung pulang."


"Yasudah, kamu hati hati yah!"


"Iya bunda. Asalamualaikum,"


Sharma menyalami Salamah, dan Salamah dengan berat hati membiarkan putrinya itu pergi


**


Sharma berjalan pelan ke arah kamar nomor 312 sesuai alamat yang diberitahukan Reyhan, ia mengetuk pintu hotel dan tidak ada sahutan dari dalam. Hatinya merasa ragu, tidak biasanya Reyhan menginap di hotel, tapi pria itu beralasan jika ia ingin menenangkan diri terlebih dahulu dan tidak ingin Arinda khawatir pada keadaannya


Tak lama, pintu kamar terbuka


Sharma terperangah dan sadar


"Assalamualaikum, mas Reyhan." Ia memegang gagang pintu dan masuk. Terlihat seorang pria dengan stelan rapih telah menunggu dengan posisi memunggunginya. Sharma tersenyum


"Ini aku bawain masakan buatan bunda." Sharma menaruh rantang itu diatas nakas


"Aku gak bisa lama lama mas, karena ...," Sharma terdiam saat pria yang satu ruangan dengannya itu berbalik


"Pak ....., Fariz"


Fariz tersenyum melihat gadis itu yang nampak panik di tempatnya

__ADS_1


"Apa kabar, Sharma?"


TBC


__ADS_2