Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Wajah di Balik Masker


__ADS_3

Aku tak tahu apa yang membuat ibuku menamai diriku Tampan Menawan. Aku tahu ini hanya sebuah nama yang menyesatkan bagi yang mendengarnya begitu langsung bertatap muka denganku. Tak terbayangkan sesaknya pikiran seseorang jika tahu aku yang berwajah gado-gado ini ternyata bernama Tampan Menawan. Bahkan aku sendiri tak pede mengenalkan namaku ke depan kelas ketika giliranku maju ke depan kelas memperkenalkan diri sebagai Tampan Menawan. Tahun ajaran baru ini aku tetap sekolah meski corona menjadi pandemi dimana-mana, wilayahku masih zona hijau dan guru murid melaksanakan KBM dengan tatap muka. Hari pertama Senin, 13 Juli 2020 aku pertama kali masuk sekolah di SMA Harapan Bangsa, bertemu dengan pelajaran bahasa Indonesia dengan hari pertama memperkenal diri di depan kelas. Aku deg-degan ketika ketiba giliranku tiba, dan Bu Susi Firdaus menyuruhku ke depan.


Jujur saja aku memilih sekolah di SMA ini untuk sebuah tujuan, masa lalu yang hendak ku sembunyikan dengan memilih berteman dengan orang-orang baru dan teman yang baru pula.Sekolah ini jaraknya 10 KM dari rumahku. Dengan mengendarai sepeda motor dalam kondisi normal bisa kutempuh dengan hitungan menit atau dengan angkot bisa menghabiskan sejam perjalanan kalau tidak terlalu sering ngetem. Kadangkala aku menunggangi mobil BMW pemberian orang tua ku dengan menamakan waktu tempuh 15 menit. Kata ibuku mobil bisa sedikit menutupi ketidak pede-an ku yang sudah di tingkat memprihatinkan.


"Tuhan! Hari ini aku di suruh maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri," aku berteriak kecil dalam hati.


Aku pikir aku akan mendapat kedamaian dengan sekolah ini, tapi ternyata di hari pertama aku sudah dihadang oleh sebuah masalah yang selama ini aku takutkan.


Aku sempat berpikir sebenarnya musibah pandemi Covid-19 ini sedikit berpihak padaku, saban hari aku sembunyikan wajahku dari penglihatan orang-orang di balik masker. Aku baru melepas ketika sedang sendirian di kamar kala di rumah atau dalam toilet ketika berpergian.


Di sekolah saban awal menapaki halaman sekolah hingga masuk di pelajaran bahasa Indonesia ini aku tak berani melepaskan masker yang membungkus wajah ku. Ketika orang lain dengan leluasa memamerkan wajah belia mereka, aku tetap menyembunyikan wajah ku di balik masker.


Tapi Tuhan, sekali lagi aku sebut nama besar itu untuk menenangkan diri. Setiap anak yang maju diminta memperkenalkan diri tanpa masker.


"Ayo ke depan," pinta Bu Guru kepadaku, kala aku ragu dan terdiam beberapa saat.


Teman-teman sekelas ku mulai menatap ku ketika aku mulai melangkah dengan gontai ke depan. Mereka barangkali penasaran dengan wajah ku.


Mata-mata mereka mulai mengiring ku seolah-olah ingin aku cepat-cepat memperkenalkan diri, mereka tak tahu apa yang aku rasakan. Betapa saat ini aku serasa berjalan di atas bara berduri yang bisa saja membuat aku roboh tak berdaya kapan saja, untung langkah tertatih ku mampu mengantar ku berdiri di depan kelas.


Aku mencoba untuk melawan sembilu ini, aku lelaki harus berani, aku coba berpikir positif dan menyusun kekuatan diri.


Tidak akan ada yang berteriak, tidak akan ada yang mengejek, tidak akan ada yang terpingkal-pingkal begitu nanti aku membuka masker ku. Kalau itu terjadi tamat lah riwayat ku hari pertama di sekolah ini.


"Silahkan dimulai memperkenalkan diri, nama,tempat tinggal, dan sebagainya," ibu Guru kembali mendesak ku.

__ADS_1


Aku coba usir perih ini.


"Namaku Tampan Menawan," kataku sedikit gemetar


"Sekarang lepas masker nya," Pinta Bu Guru lagi.


Aku mulai berkeringat dingin mendengar perintah itu, aku perhatikan satu persatu wajah teman-temanku di tempat duduk mereka. Semua menatap penasaran ke arah ku. Mata mereka bagaikan sorotan-sorotan cahaya api yang siap membakar hati yang sudah terluka ini. Ribuan dan bahkan jutaan ejekan telah terlontar dari teman-temanku sebelumnya, apakah tragedi itu berlanjut di lingkungan baru ku ini?


Tanganku pun perlahan membuka tali masker yang melingkar mengikat kuat di bagian belakang kepalaku, tanpa aku sadari masker ku terjatuh saking gementar nya tangan ini membukanya.


Aku tak tahu apa yang bakal terjadi, ketika tahu kondisi wajah ku. Dengan sigap aku segera berbalik memunggungi teman-temanku dan memungut maskerku yang terjatuh. Aku berharap mereka belum melihat wajah ku ini dengan cara seperti ini. Cara ini sungguh mengerikan bagiku, lebih mengerikan dari masa lalu yang hendak ku sembunyikan.


Cukup lama aku berbalik posisi membelakangi teman-temanku. Hingga detak-detak langkah itu menuju arah ku. Bunyi sepatu tinggi tumit Bu Susi yang beradu dengan lantai kelas sangat menyiksa bagiku, seirama dengan degup jantungku yang mulai kencang. Langkah Bu Susi yang semakin mendekat ke arah ku membuatku benar-benar ketakutan. Kalau-kalau Bu Susi membalikkan wajah ku hingga terlihat oleh teman-teman sekelas ku.


Benar saja, Bu Susi membalikkan badan ku. Dalam sekejap saja semua ternganga melihat wajah ku. Sebagian dari mereka mulai tertawa terkekeh-kekeh.


Hampir semua teman-teman sekelas tertawa mendengar ledekan itu.


"Sittt! Sepertinya wajah penuh corona," Lanjut salah seorang lagi, kali ini suara wanita.


Aku gemetar bercampur geram, baru kali ini aku diberi gelar sesadis ini, sejahat ini tanpa ampun. Memang jerawat yang menempel di wajah ku besar-besar, tapi aku tak tahu kalau virus corona serupa dengan jerawat ku ini.


Lebih parah lagi, semua tertawa cekikikan tanpa ampun.


aku hampir oleng, namun aku coba kuat. Aku berusaha memandang seluruh wajah teman-temanku yang senang sekali melihat keadaan wajah ku, kecuali seorang teman wanita yang duduk di tengah-tengah, dia tampak geram dengan kelakuan teman-teman sekelas.

__ADS_1


"Hushhh. Diam semuanya!" Bentak Bu Susi.


Semuanya terdiam, suasana kelas jadi diam. Aku kembali memandang wajah seorang teman yang tadi terlihat geram dengan ejekan itu. Beradu pandang dengan wajahnya, aku seperti mendapatkan sebuah ketentraman. mata itu benar-benar berbeda dengan mata teman-temanku yang lain, teduh dan memberi kesejukan. Tiba-tiba dia membuka masker nya, seluruh wajahnya kelihatan dengan jelas olehku.


Dia tiba-tiba tersenyum ke arah ku, dia cantik sekali. Tiba-tiba saja aku menikmati pemandangan yang luar bisa indahnya. Melunturkan seluruh rasa malu ku. Kenapa baru kali ini aku melihat wanita secantik itu, inikah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama itu.


"Baiklah Tampan Menawan, silahkan duduk" Pinta bu Susi.


Aku tergeragap dengan perintah itu, sontak saja lamunan ku tentang teman cantik ku itu buyar seketika.


"Wajah Corona" celetuk seseorang, aku tak tahu sumbernya dari mana.


Suasana kelas kembali riuh, diselingi bisikan-bisikan, mereka bilang wajahku wajah corona.


Tentu mereka tentu dengan cepat mereka meniru, memanggil ku si wajah corona.


Aku benar-benar tak kuasa lagi menahan lara dan perih di dadaku ini. Semua seolah sudah mencapai puncaknya. Aku tiba-tiba seperti kaku, tidak bisa melangkah menuju kursi tempat duduk ku.


Suara teman-temanku ibarat ribuan paku yang memantek raga ku hingga diam tak bergerak. Aku tak bisa bersuara. Aku seperti hendak jatuh dan roboh ke lantai sekolah.


"Buuuuk! Aku tiba-tiba roboh ke lantai hingga tak sadarkan diri.


****


 

__ADS_1


bersambung............


__ADS_2