Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Mencoba Melepaskan Diri


__ADS_3

"Benarkah apa yang diucapkan ayahmu itu, Nak?" tanya ibuku memastikan.


Aku mengangguk pelan mengiyakan, "aku sudah mencintainya, Bu."


Ibuku tiba-tiba mendekap dan memelukku erat, "Anak Ibu, perjodohanmu dengan Tampan memang sudah tak bisa dielakkan lagi, kamu harus bisa melupakan lelaki itu."


"Ucapan ibumu betul," sambung ayahku tiba-tiba.


"Aku sudah terlanjur mencintai lelaki itu, Bu. Biarlah aku pergi jauh bersamanya, lepaskan aku," bisikku di rumpun telinga Ibuku, Ayahku tidak akan mendengar bisikan ini.


"Ibu tak bisa berbuat apa-apa nak," jawab ibuku.


Aku melepaskan pelukan ibuku, rasanya memang percuma untuk mengatakan ini semuanya. aku ingin berbicara panjang lebar pada ibuku, tapi keberadaan ayahku yang juga di sini juga membuat keadaan tidak leluasa dan kaku.


"Oh. Ya Bu. Malam ini anak kita akan ada yang menemaninya di gudang ini," kata ayahku. "Ayah sayang pada anak kita, Bu. Biasanya tak ada yang dihukum dengan ditemani seperti ini."


"Siapa yang menemaninya, Mas?"


"Bi Gina yang akan menemani, dia akan tidur di sini menemani Feby."


Habis berkata begitu ayahku mengajak ibuku kembali menaiki tangga menuju lantai satu rumah ini, lalu Pak Trisno yang menjaga pintu gudang mengunci, dan tinggallah aku sendiri dengan seribu kesunyian.


                                                                                  ***


Tiga hari lagi menuju pertunangan aku dengan Tampan Menawan aku semakin gelisah. Apa yang harus kulakukan. Aku hendak kabur dari tempat ini tapi tak tahu bagaimana caranya. Hari baru beranjak malam, ibuku dan ayahku sedang tidak ada di rumah karena menghadiri sebuah undangan pernikahan seorang teman karibnya. Aku terus mencoba berpikir bagaimana caranya kabur dari gudang ini. Semuanya seperti sangat membosankan.

__ADS_1


Sebenarnya ide ini sudah muncul di benakku semenjak hari kemarin, kabur di saat Bi Gina mulai masuk ke gudang ini untuk menemaniku. Bi Gina baru akan masuk pukul 09.00 WIB, saat membuka pintu gerbang ini nanti dan semuanya akan kulakukan.


Aku terus mondar-mandir memikirkan segala resiko yang terjadi, mematangkan rencana ini agar terlaksana dengan baik. Aku memang sudah tak sabaran melakukan semua ini dan bisa kabur secepatnya. Aku berharap di saat tersebut ayah dan ibuku belum pulang.


Tiga hari lagi menuju pertunangan aku dengan Tampan Menawan aku semakin gelisah. Apa yang harus kulakukan. Aku hendak kabur dari tempat ini tapi tak tahu bagaimana caranya. Hari baru beranjak malam, ibuku dan ayahku sedang tidak ada di rumah karena menghadiri sebuah undangan pernikahan seorang teman karibnya. Aku terus mencoba berpikir bagaimana caranya kabur dari gudang ini. Semuanya seperti sangat membosankan.


Sebenarnya ide ini sudah muncul di benakku semenjak hari kemarin, kabur di saat Bi Gina mulai masuk ke gudang ini untuk menemaniku. Bi Gina baru akan masuk pukul 09.00 WIB, saat membuka pintu gerbang ini nanti dan semuanya akan kulakukan.


Aku terus mondar-mandir memikirkan segala resiko yang terjadi, mematangkan rencana ini agar terlaksana dengan baik. Aku memang sudah tak sabaran melakukan semua ini dan bisa kabur secepatnya. Aku berharap di saat tersebut ayah dan ibuku belum pulang.


Tiga hari lagi menuju pertunangan aku dengan Tampan Menawan aku semakin gelisah. Apa yang harus kulakukan. Aku hendak kabur dari tempat ini tapi tak tahu bagaimana caranya. Hari baru beranjak malam, ibuku dan ayahku sedang tidak ada di rumah karena menghadiri sebuah undangan pernikahan seorang teman karibnya. Aku terus mencoba berpikir bagaimana caranya kabur dari gudang ini. Semuanya seperti sangat membosankan.


Sebenarnya ide ini sudah muncul di benakku semenjak hari kemarin, kabur di saat Bi Gina mulai masuk ke gudang ini untuk menemaniku. Bi Gina baru akan masuk pukul 09.00 WIB, saat membuka pintu gerbang ini nanti dan semuanya akan kulakukan.


Aku terus mondar-mandir memikirkan segala resiko yang terjadi, mematangkan rencana ini agar terlaksana dengan baik. Aku memang sudah tak sabaran melakukan semua ini dan bisa kabur secepatnya. Aku berharap di saat tersebut ayah dan ibuku belum pulang dari pesta pernikahan.


Aku akhirnya mendengar suara pintu gudang ini dibuka pertanda Bi Gina sudah datang untuk menemaniku tidur di ruang ini. Saatnya rencana ini dimulai, melarikan diri.


Aku segera merobohkan diri di depan pintu yang menghubungkan antara gudang dengan lantai satu rumah ini. Aku pura-pura pingsan agar Bu Gina dan Pak Trisno panik.


"Paak Trisno!!!" kata Bi Gina tak lama kemudian setelah ia mendapati diriku yang pura-pura pingsan.


Mendengar pekikan spontan Bi Gina, Pak Trisno juga masuk ke dalam gudang.


"Ada apa Bi? tanya Pak Trisno.

__ADS_1


Aku yang pura-pura pingsan menggeliat ke kiri dan ke kanan  lalu pura-pura merintih dan menunjuk-nunjuk ke gudang.


"Ada apa Non?" tanya Bi Gina.


Aku yang menunjuk-nunjuk ke arah gudang membuat Pak Trisno penasaran, ia bergegas menuruni tangga memperhatikan sekeliling dengan seksama.


"Bi. Gina tolong ke bawah sebentar!" perinthaku pada Bi Gina. Ia menurut saja menyusul langkah Pak Trisno.


Aku segera memanfaatkan kesempatan ini untuk keluar dari gudang, aku segera mengunci Bu Gina dan Pak Trisno berduaan dalam gudang.


Aku masih sempat mendengar teriakan memburu Pak Trisno ke atas sebelum aku berhasil mengunci pintu Gudang.


"Non Feby!!! buka pintunya, teriak Pak Trisno,


"Non, nanti Tuan marah besar," kata Bi Gina juga, suara mereka terdengar samar.


Aku tak mempedulikan teriakan itu, aku tetap saja berlari menuju kamarku. Mengendap-endap ke atas dan takut ketahuan dengan pembantu rumah yang lainnya. Untunglah semuanya sudah pada tidur sehingga di dalam rumah ini keadaan sepi.


Sesampainya di kamar aku bereskan semua pakaianku dalam satu koper, baju-baju yang penting aku masukkan ke dalam koper. Hanya satu hal yang belum aku temui, yaitu handphone, hanya alat komunikasi itu satu-satunya yang bisa menghubungkan aku dengan Senopati Adi Raka.


Aku jadi ingat waktu itu Bi Ratna bilang tentang Senopati Adi Raka yangmenghubungiku, tapi ibuku yang mengangkat telepon. Barangkali saja handphone itu ada di kamar Ibuku. Lalu bagaimana caranya agar aku bisa ke kamar ibu. Kamar itu tentunya dikunci.


Lalu aku teringat akan laptop milikku yang aku titipkan sama Bi Ratna. Pasti laptop itu ada di sana. Aku segera ke kamr Bi Ratna yang mudah-mudahan tidak dikunci. Aku segera menuju ke kamar para pembantu di bagian belakang rumah ini. Aku mengendap-endap menuju kamar itu. Sesampainya di pintu kamar aku mencoba membuka pintu, aku menarik nafas lega, ternyata kamar dalam keadaan tidak terkunci. Aku kemudian mencari laptop dan menemukannya di lemari kamar Bi Ratna yang juga dalam keadaan tidak terkunci.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2