Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Keinginan yang Aneh


__ADS_3

Bagaimana aku bisa menghindari Tampan Menawan. Aku dengannya bertunangan di bawah kendali ayah yang tak mungkin aku bisa hindari. Resiko yang besar juga menghadang jika aku tak jadi menikah dengan Tampan Menawan. Adakah jalan yang bisa ditempuh untuk menghindari semua ini.


"Menghindari berarti kehancuran perusahaan ayah saya di depan mata. Kehancuran banyak orang yang bekerja padanya Eyang," ujarku setelah lama berpikir.


"Ikutlah dengan kami ke kaki Gunung Kelud di Jawa Timur. Di sana kamu akan menikah dengan Senopati Adi Raka. Kamu tentu akan bahagia untuk selama-lamanya," jawab Eyang Jiwo.


Aku cukup terkejut mendengar perkataan Eyang Jiwo. Tidakkah dia memikirkan resiko yang aku maksudkan. Orang tuaku tentu tak akan membiarkan semua ini terjadi.


"Aku khawatir dengan ayahku Eyang, dia bisa nekat memenjarakan kita semua jika hal ini terjadi. Bukan tak mungkin pertumpahan darah akan terjadi," ucapku penuh kekhawatiran.


"Tidak perlu risau dengan semua itu Feby. Aku sudah menyiapkan kembaranmu untuk menggantikan posisimu di tengah- tengah keluargamu," jawab Eyang Jiwo.


Menyiapkan kembaranku. Aku jadi aneh dan merinding dengan ucapan Eyang Jiwo. Kata-kata yang terasa konyol. Tapi, bukankah dia nampak sangat hebat. Mungkinkah dia bisa menciptakan kembaranku. Aku jadi berpikir dia akan membuatku jadi dua.


"Bagaimana bisa aku mempunyai kembaran Eyang?"


"Di dunia ini yakinlah bahwa ada sekitar 14 orang yang mempunyai kemiripan wajah, kamu tentu mempunyai tiga belas orang kembaran yang hampir serupa denganmu," jelas Eyang Jiwo.


Tapi walau ada orang yang serupa dengan aku, bagaimana caranya mengetahui keberadaan orang tersebut. Bagaimana bisa dia mengantikan posisiku sebagai Feby Romansa di tengah-tengah kelurgaku.Sungguh hal yang rumit. Aku yang kebingungan akhirnya hanya diam saja. Bukankah Eyang Jiwo itu orang yang aneh, aku jadi penasaran dari mana asal muasal Eyang Jiwo. Jangan-jangan dia hidup sudah berabad-abad lamanya. Sehingga bisa menemukan tiga belas orang yang menyerupai diriku. Padahal dari yang aku baca dan aku dengar hanya ada tujuh atau delapan orang yang mempunyai kemiripan yang sama.


"Kamu tentu bingung Feby, dengan yang aku utarakan. Kamu tak usah bingung dan khawatir lagi karena semua itu bukan perkara sulit. Di Jawa Timur banyak gadis-gadis desa yang bisa disulap menyerupai dirimu," ujar Eyang Jiwo.


"Bagaimana bisa Eyang?"


"Melalui persembahan empat belas rupa, gadis itu akan menjelma menjadi dirimu tanpa sedikitpun perbedaan."

__ADS_1


Jadi persembahan itu bisa mengubah gadis desa itu menjadi diriku. Artinya aku akan melewati ritual lagi. Pasti ini sangat menegangkan. Tapi demi Senopati Adi Raka aku akan melakukan semua ini. Bukankah janjiku sudah sehidup semati dengannya. Tapi resikonya mungkin terlalu besar. Aku akan kehilangan keluargaku. Kehilangan ibu yang aku cintai, kehilangan sanak saudara, kehilangan ayah dan orang-orang yang aku kenal. Posisiku akan digantikan selamanya oleh orang yang menyerupai diriku jika hal ini terjadi.


"Malam ini juga kita akan berangkat ke Kediri sebelum polisi atau yang lainya mengetahui keberadaan kita di tempat ini, penculikanmu ini tentu membuat mereka akan bertindak dengan cepat," kata Eyang Jiwo.


"Siapa saja yang ke sana Eyang," kataku penuh kekhawatiran.


"Tentu kamu dan Senopati Adi Raka yang akan ke sana, orang tua Senopati juga akan mendampingi selama beberapa waktu," jawab Eyang Jiwo.


***


Tuhan lindungilah kekasih hatiku belahan jiwaku yang kini menjadi tunanganku itu dari segala marabahaya. Doa itu selalu aku panjatkan mengobati kegelisahanku saat ini. Aku tak ingin sesuatu yang buruk menimpa pujaan hatiku itu. Aku tak ingin ia ditemukan terluka atau kurang sedikitpun. Senyumnya di saat acara jumpa pers itu selalu menghantuiku, senyuman pertama darinya yang mengisyaratkan kecintaan. Tuhan! Dialah wanita impianku, jangan sampai ada yang merebutnya dari hidupku. Siapakah orang-orang yang telah menculiknya dan melukai kedua orang tua Feby  Romansa.


Hari ini polisi masih melakukan pencarian pada Feby Romansa dan melakukan pengejaran pada para penculiknya. Semoga saja polisi berhasil meringkus para pelaku dan membongkar dalang di balik penculikan ini. Terus terang saja penculikan yang terjadi pada Feby Romansa mengingatkan aku pada mimpi buruk yang pernah aku alami sebelum aku terjalin pertuanganan dengan Feby Romansa. Aku terus berpikir adakah kaitannya penculikan terhadap Feby Romansa dengan mimpi itu. Bukankah mimpi itu seperti sebuah firasat yang buruk, kini mimpi itu jadi kenyataan.


Aku perlu keterangan dari para saksi yang melihat atau mengalami penculikan tersebut. Aku ingin tahu apa sesungguhnya yang terjadi sehingga bisa mengambil kesimpulan.


Sesampai di rumah sakit. Ibu Feby Romansa menangis sesenggukan meyambut kedatangan kami, ibuku mencoba menangkannya. Sementara ayah Feby yang tidak mengalami luka yang begitu serius nampak senang dengan kehadiran kami. Dia pun mulai bercerita.


"Semua penculikan itu serasa ada kaitannya dengan lelaki yang datang ke rumah beberapa hari sebelumnya. Kami mengsusir lelaki stres yang nekat datang ke rumah menemui Feby. Perkelahian dan baku tembak di antara kami tak dapat dihindari saat itu," ujar ayah Feby Romansa.


"Bisa saja ada kaitanya, Pak!" tanggap ibuku.


Aku menelaah ucapan ayah tunanganku itu. Aku mengambil kesimpulan bahwa benarlah yang menculik Feby Romansa adalah lelaki yang mencoba merebut Feby Romasa dari tersebut.


"Sayangnya. Hingga saat ini belum ada kabar dari polisi tentang pengejaran mereka terhadap para pelaku penculikan itu," kata ayah Feby Romasa. "Andai saja para pelakunya tertangkap tentu akan  mengungkap tabir keberadaan lelaki itu."

__ADS_1


"Yang sabar ya Pak, mudah-mudahan Feby Romansa dilindungi sama Sang Kuasa. Dan para pelakunya lekas tertangkap," kata ibuku.


"Amin!" jawab ibu Feby Romansa sambil sesenggukan.


"Bapak dan Ibu tenang saja. apapun keadaan Feby Romasa nanti. Aku akan senantiasa menerimanya. Aku juga akan berusaha mencarinya sampai ketemu," entah kekuatan apa sehingga aku berani menyampaikan kata-kata itu pada kedua orang tua Feby Romansa.


"Terimakasih Tampan. Kamu memang calon suami anakku yang baik," kata ayah Feby Romansa memujiku."


"Hati-hati Tampan, biarlah polisi menjalankan tugasnya dulu membernatas semua ini," kata Ibu Feby Romasa.


"Ibu tak usah risau dengan keselamatan Tampan. Sudah kewajiban dia menyelamatkan calon sitrinya dari segala bentuk kejahatan," jawab ibuku meyakinkan kedua orang tua Feby Romansa.


Aku hanya mengangguk meyakinkan kedua orang tua Feby Romansa. AKu akan sanggup berkorban apa saja demi Feby Romasa, karena kekuatan cinta ini begitu besar untuk bisa menyelamatkannya.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2