Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Prahara Hilangnya Cincin Tunangan


__ADS_3

Hari ini bumi seolah-olah sangat bersahabat dengan penghuninya yakni alam semesta dan manusia. Angin bertiup dari arah utara dengan kesejukan sempurna. Dingin terasa di kulit. Seakan-akan angin itu ditiupkan dari kawasan puncak gunung-gunung yang tinggi di tanah Jawa. Suasana ini membuat aku rindu padang Gunung Salak di Bogor, Gunung Ciremai di Jawa Barat atau Gunung Singgalang maupun Gunung kerinci di tanah emas Sumatera. Kerinduan aku lampiaskan dengan memperhatikan puncak Gunung Salak sejadi-jadinya dari halaman rumah ini, dengan menatap Gunung Salak sudah mewakili gunung- gunung serupa yang aku rindukan.  Gunung tempat tumpuan dan harapan kehidupan manusia di masa depan.


Sejenak impianku terbang pada sosok Senopati Adi Raka. Seandainya dia adalah gunung biarlah aku jadi hamparan hutan di sekitarnya. Gunung dan hutan tempat bertahta ribuan bunga yang aku senangi. Gunung dan hutan yang bagaikan seorang arjuna dengan srikandinya.


"Feby Romansa sudah selesai berjemurnya, sudah pukul 11 siang, sinar ultraviolet yang bagus untuk penangkal corona sudah lewat. Marilah naik," kata ibuku memanggil dari beranda rumah.


Panggilan ibu menghentikan lamunanku tentang gunung dan hutan. Aku baru sadar hari ternyata sudah mendekati puncaknya siang hari. Tapi angin yang sepoi-sepoi dan matahari yang bersinar lembut karena tertutup gumpalan awan tebal seolah-olah hari masih pagi.


Aku tak menghiraukan panggilan ibuku. Aku masih betah berjemur di sini di tepi laman rumah ini. Menghayal yang indah-indah tentang gunung dan hutan dimana di sana ada aku dan Senopati Adi Raka menjadi Raja dan Ratu. Dari pada aku di kamar seharian memikirkan cincin tunangan yang hilang. Ah entah mengapa cincin yang hilang itu mengusikku kembali, firasat tak enak mengalir ke hati dan sanubariku. Siapa yang mengambil cincin berlian dengan harga miliaran itu. Hanya ada Bi Ratna di kamar pada waktu itu, tak mungkin dia yang mencuri! Barangkali saja ada pembantu lainnya yang masuk ke kamar. Aku yang salah, aku yang ceroboh menggeletakkan cincin mahal itu di sembarangan tempat. Seharusnya aku menguncinya di dalam laci. Esok atau lusa atau dalam waktu sangat dekat ini ayahku pasti akan menanyakan keberadaan cincin itu.


"Masuklah Feby! Ayahmu hendak mengobrol sesuatu," tiba-tiba saja ibuku sudah ada di belakangku. Langkahnya yang ringan tak kedengaran olehku. Firasat buruk itu semakin menjadi-jadi. Apakah hal yang aku pikirkan akan terjadi juga dalam waktu dekat ini. Apa yang harus aku katakan tentang cincin yang raib itu jika ayahku menanyakan.


"Mengobrol tentang apa, Bu," aku coba menguasai diri.


"Entahlah. Ibu juga belum dikasih tahu perihal itu. Mari temui ayahmu."


Dengan berat hati aku melangkah menemui ayahku. Dia telah menanti kedatanganku di kursi ruang keluarga. Ibuku duduk di samping kiri ayahku sementara aku hanya berdiri saja.


"Duduklah Feby. Jangan seperti orang canggung, kami orang tuamu," kata ayahku.


"Salam dulu pada Ayahmu," kata ibuku.


Aku pun mencium tangan ayahku, lalu duduk persis di hadapannya.


"Berjemur pagi hari itu bagus untuk kesehatan asal jangan melewati batas waktu," kata ayahku.


"Iya Feby. Semenjak jam delapan pagi tadi kamu terus saja berjemur hingga pukul sebelas siang. Kulitmu bisa legam," sambung ibuku.


"Kamu sudah bertunangan dengan Si Tampan. Harus pandai merawat kecantikan diri," sambung ayahku lagi. "Dua hari lagi Ayah akan mengantarmu ke rumah Pak Wibisono. Anaknya Tampan Menawan akan menunggumu di sana untuk sebuah acara."

__ADS_1


Dadaku berdetak lebih kencang ketika kata-kata ayahku mengarah pada kata-kata acara. Pasti ujung-ujungnya ayahku menyuruhku memakai cincin tunangan yang telah hilang itu.


"Acara apa ayah?" tanyaku sedikit gusar.


"Ribuan wartawan akan berkumpul di rumah Pak Wibisono. Para wartawan itu berkumpul mewakili media-media yang berseteru dengan keluarga Pak Wibisono atas kasus yang melibatkan calon suami dan dirimu waktu di sekolah," jelas ayahku.


Aku sedikit merasa lega. Berarti para media itu kalah melawan keluarga konglomerat itu. Hal tersebut membuktikan bahwa fitnah dan gembar-gembor selama ini telah usai. Tampan Menawan tak terbukti memperkosa aku. Artinya pernikahan aku dengan Tampan tak perlu terjadi. Pernikahan itu diharapkan terjadi terjadi karena ingin menyelamatkan keluarga orang tua Tampan Menawan yang terlanjur ternoda.


"Kenapa aku harus hadir ayah!" ujarku.


"Karna akan diadakan acara jumpa pers. Kalian berdua harus mengklarifikasi untuk pertama kalinya pemberitaan tak benar itu. Media-media nasional akan menyiarkan klasifikasi itu secara live dan mereka juga akan meminta maaf atas kekeliruan yang selama ini terjadi," lanjut ayahku lagi.


"Iya Feby. Ibu sudah menyiapkan gaun yang indah untuk kamu pakai mendampingi Tampan Menawan di cara jumpa pers itu," sambung ibuku. Gaun yang indah itu akan sangat cocok dipadu padankan dengan perhiasan yang kami miliki. Ada kalung emas putih bermata berlian pemberian calon suamimu dan ada cincin tunangan berlian murni dari Tampan Menawan untukmu. Pakailah semuanya pada acara jumpa pers nanti."


Tubuhku seperti meleleh mendengar ucapan ibuku barusan. Seluruh tubuhku dialiri oleh keringat yang mengucur deras. Sebentar lagi tentu ayah atau ibuku akan menanyakan juga cincin berlian mahal itu.


Dalam kondisi seperti ini aku tak ada pilihan lain selain mengatakan pada kedua orang tuaku bahwa cincin itu telah hilang di kamar.


"Ma..Maaf Ibu cincin itu hilang," akhirnya aku katakan yang sebenarnya.


Ayahku langsung berdiri dari posis duduknya mendengar pengakuanku sementara ibuku nampak gigit bibir menahan kelu.


"Feby. Kamu tahu cincin itu harga tujuh belas miliar rupiah. Bagaimana bisa hilang?" kata ayahku dengan nada bergetar. "Ayo katakan dimana kau menyimpannya terakhir kali!"


Tangan ayah mencengkeram bahuku disertai dengan ucapan itu. Aku segera menuju ke kamar. Ayahku mengikuti dari belakang dan ibuku melangkah dengan wajah cemas.


"Tenanglah Mas!" kata ibuku yang mengiringi di belakang ayah.


"Diam! Bagaimana aku bisa tenang. Apa kata Pak Wibisono nanti jika tahu cincin tunangan dari putranya hilang!" bentak ayahku.

__ADS_1


Sesampai di kamar aku tunjukkan posisi terakhir cincin yang aku letakkan di meja lemari kamar ini. "Aku meletakkan di sini, Ayah."


"Ceroboh sekali! Kamu pikir pertunanganan itu benda mainan. Cincin itu sakral pengikat bagi kalian berdua. Pasti ada pekerja di rumah ini yang telah mencurinya!' seru ayahku keras.


"Bi Aya! Bi Ratna! Bi Rukmi! Bi Narsih!" panggil ayahku pada para pemabtu rumah ini dari dalam kamarku dengan lantang.


Empat orang nama yang dipanggil saat ini memang sedang mempersiapkan makanan siang di rumah ini. Bi Ratna muncul untuk pertama kalinya lalu disusul Bi Narsih. Semua nampak cemas melihat wajah penuh kemarahan ayahku.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2