
“Tak ada pilihan lagi. Selain mengeluarkan Kamu dan Feby Romansa dari sekolah,” ujar ibuku yang tiba-tiba datang menghampiriku yang sedang berjemur di pagi hari di beranda rumah.
Kalimat yang ibu sampaikan tentu bagaikan sambaran petir di siang bolong bagiku. Baru beberapa sehari yang lalu sekolah diliburkan, karena virus corona menjangkiti seorang siswa, kini aku dan Feby juga dikeluarkan dari
sekolah. Aku menatap lekat-lekat wajah ibu seolah tak percaya, namun dalam genggaman tangannya kulihat sebuah amplop besar dengan cap stempel sekolah.
Jadi ibuku pagi-pagi sekali sudah ke sekolah dan kembali dengan amplop itu, aku tak habis pikir kalau-kalau aku dan Feby dikeluarkan secepat itu.
“Kenapa ini bisa terjadi, Bu.Kenapa Ibu biarkan saja sekolah mengeluarkan kami berdua. Ibu punya uang untuk mempertahan saya dan Feby di sana.”
“Kamu pasti takut. Tidak bertemu Feby, bukan?” tanya ibuku.
Aku tentu diam saja mendengar pertanyaan itu. Tidak sekolah selama sebulan akibat virus corona saja sudah membuat aku semakin terpisah dari dia. Apalagi harus keluar dari sekolah tentu tak ada harapan sama sekali bagiku untuk melihat wajah Feby.
“Bukan hanya itu Bu. Sekolah itu masa depan, penting bagi saya,”
“Apa kamu lupa pembicaraan kita beberapa hari yang lalu,” tanya ibuku.
“Pembicaraan yang melibatkan ayah juga bukan?”
“Iya,” sahut ibuku.
“Rencana menikahkan saya dengan Feby tentu akan semakin terhalang, jika kita sudah keluar dari sekolah,”
“Tentu tidak Tampan. Kamu dan Feby keluar atas kehendak Ibu, bukan kehendak sekolah. Semua demi kebaikan kamu dan masa depan kamu dengannya, juga demi kebaikan sekolah itu sendiri, citra sekolah itu seakan ternoda dengan berita menyesatkan itu.”
“Jadi. Ibu yang menginginkan saya dan Feby keluar,!!!” tanyaku dengan sedikit amarah yang tertekan di dalam rongga dada.
“Kamu akan menikah dengan Feby, untuk sekolah bisa lanjut dengan paket-C,” jawab ibuku lantang.
“Bagaimana mungkin, Bu” tanyaku ketus.
“Mungkin, Uang yang bicara,” kata ibuku.
“Ternyata ayahmu mengenal orang tuanya Feby Romansa, kedua orang tuanya merupakan pengusaha menengah yang hampir pailit, dan perwakilan perusahan kita telah menelpon kedua orang tua Feby untuk membantu perusahaan mereka, syaratnya kamu dan Feby harus menikah,”
“Hah,!” tentu aku senang dengan bagian kalimat ibuku barusan, tapi bagaiman dengan Feby Romansa.
Sejenak aku terdiam dan membayangkan pernikahanku dengan wanita yang aku cintai itu, tapi dia tidak mungkin mau jadi milikku. Itu jelas kendala yang menghadang sekarang, apalagi umur kami masih 16 tahun.
“Saya dan Feby masih 16 tahun, Bu,”
__ADS_1
“16 tahun mendekati 17 tahun, kamu dengan Feby selisih hanya 4 bulan, Feby lahir Februari dan kamu juni, dia lebih tua, dan Sore inikelanjutan pembicaraan hubungan kalian dan kerjasama perusahan yang pailit akan dilakukan di kediaman mereka, kami sduah mengatur pertemuan,” lanjut ibuku.
“Secepat itukah,” tanyaku hampir tak percaya.
“Lebih cepat lebih baik,” jawab ibuku. Lalu melangkah ke arah kamarnya.
“Ibu,” kataku memanggil perempuan yang telah melahirkanku itu pelan, ada sesuatu yang ingin aku ungkapkan.
“Ya,” jawab ibuku. Dia yang hendak ke kamar menghentikan langkahnya, lalu duduk di kursi demi mendengar panggilanku.
Aku hanya ingin mencari rahasia seorang wanita dari ibuku, namun entah mengapa aku tak bisa ngomong cepat-cepat.
“Kamu seperti hendak menyampaikan sesuatu,” melihat keraguanku ibuku berdiri dari tempat duduknya, merangkul tubuhku sambil mengusap-usap punggungku.
“Aku malu menanyakan ini pada ibu, ini sesitif sekali,”
“Masalah apakah itu?”tanya ibuku penasaran.
“Aku mencintai Feby, tapi aku tak tahu bagaimana cara menaklukan hatinya, apalagi dengan wajah buruk rupa seperti ini,” ungkapku kemudian.
Ibuku melepas rangkulannya, memandangku lekat-lekat dengan mata yang hampir berkaca-kaca.
Ibuku masih diam saja mendengar pertanyaanku, terpaku beberapa saat.
“Bukankah Ibu dulu pernah muda, pernah dicintai seorang lelaki,”
“Lelaki itu adalah orang yang telah menjadi ayahmu sekarang,”
“Bagaimana Ayah bisa mendapatkan Ibu?” tanyaku penasaran.
“Ayahmu merupakan lelaki yang banyak digilai wanita karena ketampanannya,”
Mendengar penuturan ibu membuatku menganilasi perawakan ayahku. Di usianya yang kepala lima belum sedikitpun penuaan menyentuh dirinya. Masih layaknya seorang bujang. Rambut hitam legam, badan kokoh, Kalau aku berjalan dengannya orang mengira aku sebaya dengan ayahku, Hidungnya mancung,
tubuh semampai, memang pantas jadi rebutan dan idola. Lalu ibuku…
“Ibu orang yang beruntung mendapatkan ayahmu, ibu tidak cantik. Kata orang hidup itu diciptakan berpasang-pasangan yang jelek seperti ibu pasangan orang gagah.”
Ohh.. Benarkah pepatah itu, jadi aku bisa berjodoh dengan Feby Romansa yang merupakan sosok bidadari yang diturnkan dari surga untukku.
“Ibu jangan merendah seperti itu, ibu di mata ayah pasti wanita paling cantik sedunia, secantik bidadari,” aku mencoba menghibur dan membantah ibuku.
__ADS_1
“Pada awal pernikahan, banyak yang iri dengan pernikahan ini. Ada saja yang menggoda ayahmu, sehingga terjadi perselingkuhan menyakitkan itu,,,,,.” Kata ibuku kemudian sambil memandang ke kejauhan, seolah-olah sedang
kembali menjemput mas-masa yang diceritakan itu.
“Jadi Kenapa aku tidak diwariskan ketampanan ayah? kadangkala aku ingin bertukar wajah dengan ayah”
Ibuku mengalihkan pandangan padaku, memegang daguku lalu berkata-kata lagi, “kamu dulu sangat mirip dengan ayahmu sebelum kutukan itu datang,”
“Kutukan sialan,” rutukku dalam hati.
“Ayah kenapa harus berselingkuh, Bu?” tanyaku kemudian.
“Itu dulu, sekarang tidak akan pernah terjadi. Ayahmu telah bersumpah untuk itu,” jawab ibuku.
Aku hanya menghela nafas dalam-dalam mendengar pernyataan itu.
“Sekarang ayahmu sudah mencintai ibumu ini apa adanya, penuh pengorbanan dan saling melengkapi satu sama lain, itu membuat hati ibu semakin luluh dan memaafkan perselingkuhan tersebut” sambung ibuku kemudian.
“Mulai sekarang kamu bisa meluluhkan hati wanita yang kamu sukai dengan meniru sifat ayahmu itu. Wanita itu akan luluh dengan pengorbanan, dengan keiklasan, dengan kesetiaan, dan sejenisnya,”
“Apa aku bisa meluluhkan Feby?’
“Bisa,” Ibu meyakinkanku.
“Berikan yang ia sukai, kamu harus masuk ke dunianya,”
“Tapi, aku tidak tampan seperti ayah!” aku menggigit bibirku mengucapkannya.
“Setelah pernikahanmu nanti dengannya terjadi, semua itu akan kamu berikan pelan-pelan padanya. Percayalah pada ibumu. Feby nanti akan mencintaimu setulus hati jika kamu mau menjalankan semua itu,”
Aku hanya mengangguk pelan mendengar semangat dan trik yang diberikan oleh ibuku, terasa berat tapi untuk Feby aku akan melakukan apa saja nantinya. Hanya dia yang ada di dalam hidup. Dia adalah orang yang sangat aku cintai. Aku mencintainya lebih daripada aku mencintai diriku sendiri. Aku berharap impianku ini kelak benar-benar menjadi kenyataan.
Bersambung..................................................
__ADS_1