
Lelaki itu datang begitu tiba-tiba. Lalu menculik Feby Romansa dari halaman rumahku. Aku
seperti mengenal wajahnya, dia sangat gagah tapi bersikap seperti rahwana.
“Penculik,” seruku.
Aku tak melihat ketakutan di wajah Feby Romansa, dia malah tersenyum lalu melambaikan tangannya seolah-olah mengucapkan selamat tinggal menyuruh aku melupakannya.
Aku yang sangat takut kehilangan Feby berusaha mengejar ke tempat yang sangat jauh, hingga mereka berdua tiba di sebuah tempat yang sangat megah, bangunan serupa istana yang setiap sudut dijaga oleh banyak pengawal dan bodyguard.
Aku yang mengejar sendirian tertangkap sebelum memasuki rumah itu untuk mengambil Feby kembali. Orang-orang yang menangkapku menghadapkanku pada lelaki itu dengan tangan diikat. Aku tak berdaya. Sesampai di hadapan mereka Feby dan lelaki itu seolah-olah tengah dimabuk asmara.
“Lihat apa yang ingin aku tunjukan padamu,” kata lelaki itu.
Aku memperhatikan Feby malah senang dipelukan lelaki itu,
aku kembali cemburu tak tertahankan. Aku mencoba berontak. Tapi ikatan itu terlalu kuat.
“Bedebah, lepaskan! Dia milikku,” ujarku memaki.
Lelaki itu hanya tertawa mendengar ucapanku.
“Kamu lihat bukan, akulah orang yang memiliki dia. Agar kamu percaya aku akan memcumbuinya di depanmu. Hahhaha,” kata lelaki itu dengan terbahak-bahak.
Aku kembali menggeliat mencoba melepaskan ikatan itu, perkataannya barusan benar-benar menguras emosiku.
“Apa yang kamu lakukan,” bentakku.
Tangannya kulihat mulai melepaskan baju yang dikenakan Feby satu persatu, kini hanya tinggal pakaian dalam, sehingga yang terlihat Feby sangat seksi. Lalu lelaki itu juga membuka pakaiannya satu persatu sehingga yang tertinggal celana dalam. Dan tangannya mulai begerilya di seluruh tubuh Feby Romansa.
“Apa yang kamu perbuat!!! Hentikan!” teriakku.
Namun. Bukannya berhenti lelaki itu malah melanjutkan aksi vulgarnya.
“Aku ingin membuktikan padamu bahwa wanita ini milikku, bukan milikmu,” ujarnya.
“Tidaaaak! Ini tak boleh terjadi, pengecut! Lepaskan aku,”
“Kamu seharusnya sadar diri dengan wajah pas-pasan yang kamu miliki hendak mencintai Feby. Lihat kami berdua sangat serasi bukan. Aku ingin membuktikan bahwa kami berdua saling mencintai,” kata lelaki itu lantang.
Lantas dia mulai mencium bibir Feby Romansa berulang-ulang kali, gadis yang aku cintai itu tidak meronta dan malah menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh lelaki itu.
“Lepaskan aku,! Teriakku makin kepanasan.
“Selagi kamu masih ingin mendapatkan Feby, kami akan semakin memperllihat cumbu rayu ini padamu,” ujarnya lagi.
__ADS_1
Kali ini tangannya mulai bergerilya ke bagian dada feby, aku hanya menutup mata tak kuasa lagi melihatnya. Namun lelaki itu menghampiriku lalu menyiramku dengan air sehingga mataku terbuka.
Rupanya aku bermimpi dan terbangun dengan jipratan air minum dari ibu.
“Kamu bermimpi apa sampai menjerit seperti itu,” kata ibuku.
“Astaga. Lagi-lagi aku mimpi seram bu,” kataku.
"Mimpi itu hanya bunga tidur. Ayo bangun. Sudah pukul 08.00 Wib. Bangun. Itu si Zibran sudah menunggumu. Katanya mau berenang," kata ibuku.
Mendengar perkataan ibu aku langsung menuju ruang tamu menjemput Zibran dan membawanya ke kolam renag di di sebelah selatan rumah.Tanpa pikir panjang setelah memakai pakaian renang aku dan Zibran segera menceburkan diri ke dalam kolam renang. Terasa segar dan memiliki rasa keindahan tersendiri karena matahari yang baru mulai bersinar di ufuk timur. Sementara sejuknya hembusan angin dari utara menusuk-nusuk hingga ke ulu hati.
"Eh Zib, semalam saya mimpi seram dengan Feby Romansa," kataku pada Zibran di saat kami menepi ke pinggir kolam setelah berenang beberapa kali.
"Sampai terbawa tidur. Mungkin lelaki dalam youtube itu membuat kamu gelisah," Zibran menanggapi.
"Iya. Barangkali lelaki yang menculik Feby Romansa dalam mimpi itu, dia orangnya," jawabku.
"Jangan sampai itu terjadi dalam kehidupan nyata," kata Zibran.
"Aku jadi penasaran dengan arti mimpi itu, coba aku tanyakan dulu pada Mas Roky perihal mimpi ini, sambil dia membawakan handuk dan minuman ke sini. Kamu mau minum apa, Zib?
“Aku mau secangkir kopi saja, kalau ada sepotong roti buat ganjal perut, sudah mulai lapar,” jawab Zibran.
“Mas Rocky!!!” aku berteriak memanggil nama pembantuku itu.
“Iya Den,!” jawabnya dari kejauhan.
Mas Rocky lantas berjalan tergopoh-gopoh ke arahku.
“Bikin dua gelas kopi panas,” perintahku.
Disaat yang bersamaan Zibran menceburkan diri ke kolam renang, karena posisinya berdekatan dengan Pak Rocky jadi kecipratan air.
“Awas Den, jangan suka berendam lama-lama! Nanti anumu bisa mati suri,” teriak Pak Rocky pada Zibran.
Zibran menghentikan berenang dan kembali ke tepian kolam renang.
“Salah kali Pak, justru anu yang sering berendam bisa membesar,hehe,,,” jawab Zibran berkelakar.
“Iya. Kalau anumu direndam pakai minyak tanah bisa melar dan besar, hahah,” jawab Pak Rocky tak kalah dari Zibran.
“Huh! Cocok kalau gitu, ketemu lawan, Pak Rocky orangnya suka berkelekar sama kaya Zibran,” kataku menyela.
“Emang benar kalau direndam pakai minyak tanah bisa melar?” Zibran penasaran.
__ADS_1
“Hahaha. Coba saja sendiri,” jawab Pak Rocky. “Untung minyak tanah sudah tidak ada jaman sekarang . Kalau ada pasti sudah dipraktekin sama ini anak,” kata Pak Rocky lagi.
“Ada kok!” jawab Zibran polos.
“Kalau ada bawa ke sini, tak praktekin langsung,” kata Pak Rocky tak kalah seru dan langsung melangkah ke arah Zibran.
“Takuuuut!!” teriak Zibran lantas langsung menceburkan diri lagi ke kolam.
Lagi-lagi muka Pak Rocky kecipratan air. Lantas pergi sambil mengusap-usap mukanya.
“Memang kaya gitu ya, kalau dikasih minyak tanah bisa besar,” tanya Zibran padaku.
Aku menggeleng kepala dan mengangkat bahu pertanda tak tahu harus menjawab apa, untung tak lama kemudian Pak Rocky sudah kembali dengan dua cangkir kopi dan beberapa potong roti di nampan. Lalu bergegas meletakkannya di meja pingkir kolam.
“Ini Den masih panas kopi dan rotinya, silahkan diminumdan dimakan! Nanti keburu dingin,” katanya.
Lantas aku memanggil Zibran yang sedang berenang ke sana ke mari. Lalu langsung menyerbu ke menja di pinggir kolam renang. Kemudian meminum seteguk kopi dan melahap sepotong roti.
“Emang bisa besar kalau pakai minyak tanah, Pak?” Zibran mengulangi pertanyaan yang sama kepada Pak Rocky.
Pak Rocky tak langsung menjawab, lantasan memandang seluruh tubuh Zibran yang hanya mengenakan celana dalm ketat. Mata Pak Rocky tertuju pada bagian ************ Zibran.
“Itu bentuknya sudah besar kok,” kata Pak Rocky sambil menunjuk-nunjuk bagian bawah tubuh Zibran.
Zibran langsung menekap area sensitif bagian tubuhnya itu yang memang membayang begitu jelas.
“Ahh Resek, kok dipelototin seperti itu, ngak normal ya,” kata Zibran.
“Bukan begitu, anak jaman sekarang selalu penasaran dengan hal yang berbau begituan, coba kalau disuruh mengaji dan belajar ogah, lagian mana mungkin itumu bisa besar karena minyak tanah, yang ada malah melepuh seperti karet, hahahha,” kata Pak Rocky.
“Pak Rocky, mau nanya arti mimpi dong,” kataku masih penasaran dengan mimpi semalam.
“Mimpi basah ya,” tebaknya.
“Huh. Tidak,” jawabku ketus.
“Lantas mimpi apa, Den?”
“Mimpi penculikan. Jadi orang yang saya dukai itu diculik oleh orang tak dikenal,”
“Wah! Itu pertanda baik Den. Jodoh tidak kemana, wanita yang Den sukai itu akan segera masuk perangkap Den Tampan,” jawab Pak Rocky.
“Benarkah!”
Pak Rocky lalu mengangguk dan melangkah lebih dekatke arahku. “Den meman lagi suka sama siapa?”
__ADS_1
“Kepo! Nanti saya kenalkan kalau sudah menikah ya,”
Bersambung....