Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Di Sebuah Bongkahan Tanah


__ADS_3

Menjelang sore penggeledahan telah selesai dilakukan pada masing-masing kamar para asisten rumah tangga oleh Pak Trisno dan Pak Aji di bawah pengawasan ayahku. Alhasil, semua kamar itu tidak ditemukan cincin berlian yang menurut ayahku dicuri oleh salah satu pekerja rumah tangga itu. Ayahku yang semakin gusar segera mendatangi kamar bawah tanah dimana para pekerja rumah tangga itu dikurung. Ayahku memberikan ancaman yang lebih menakutkankan lagi. Kali ini ayahku akan memanggil polisi ke rumah untuk menyelidiki kasus tersebut lebih jauh.


"Apakah belum ada di antara bibi yang belum mau mengaku juga," kata ayahku. "Bila mengaku saat ini. Pelakunya akan saya bebaskan dari masalah pidana. Tapi kalau polisi sudah tiba, maka pelakunya tidak akan bisa dimaafkan lagi. Prosedur hukum akan berjalan dan pelakunya akan masuk penjara."


Seperti apapun ancaman ayahku tetap saja tak membuahkan hasil, para bibi itu hanya diam seribu bahasa.


"Mengakulah kalau memang ada di antara para bibi yang mengambil cincin tunangan Feby dan Tampan, saya bersedia memberi hadiah jika berani mengaku, ibuku membujuk dengan sungguh-sungguh.


"Saya menjanjikan masing-masing kalian dapat dua puluh lima juta rupiah jika pelakunya mengaku saat ini juga," tambah ayahku.


Tak ada reaksi apa-apa dari para bibi tersebut. Semua tetap menundukan kepala dan berdiam diri seumpama patung.


"Barangkali memang bukan mereka pelakunya, Mas,' kata ibuku.


"Diam!" bentak ayahku pada ibuku.


Tiba-tiba Bi Rukmi menengadahkan kepalanya. Wanita yang baru bekerja di rumah ini kurang lebih tiga bulan itu seperti hendak mengucapkan sesuatu. "Kenapa harus kami yang dituduh, kenapa tidak menanya Non Feby langsung. Barangkali saja dia membuang cincin itu karena dia membenci Tampan Menawan."


Mata ayahku membesar dengan ucapan Bi Rukmi. Dia memang pekerja rumah tangga termuda di antara yang lainnya. Dia yang tadi sempat tak sadarkan diri kini berani menuduhku yang bukan-bukan.


Aku tidak menanggapi pernyataan itu. Aku hanya diam menenangkan diri tanpa dendam dan amarah sedikitpun. Aku malah memuji keberanian itu, hanya dia seorang yang mampu berkata seperti itu.


"Bi Rukmi jangan mengalihkan pembicaraan pada hal yang tak mungkin terjadi," bela ibuku.


Aku memang membenci pertunangan itu tapi untuk membuang cincin berharga belasan miliar itu mana mungkin aku mau melakukannya.

__ADS_1


Ayahku menatapku, aku tahu itu bukan mata yang mendakwa atas sebuah perbuatan yang aku lakukan tapi lebih kepada melihat rona dan perubahan wajahku saja setelah mendapat tuduhan semacam itu.


"Kenapa kamu diam saja Feby? Kenapa kamu tak membantah pernyataan Bi Rukmi!,Hah!" bentak ayahku.


Aku diam bukan berarti salah. Bi Rukmi memang pernah aku ceritakan tentang ketidaksukaanku akan Tampan Menawan. Apakah dia hanya berpraduga tentang apa yang aku lakukan atau dia memang sengaja memfitnah aku melakukan semua itu, atau jangan-jangan dia sebagai pelakunya dan mencoba menghilangkan jejak. Sikapnya paling aneh semenjak pemeriksaan oleh ayahku tadi siang. Hingga ia pingsan, padahal daya tahan tubuhnya paling kuat di antara para bibi yang lain.


"Kenapa Feby," desak ibuku juga.


"Biarlah waktu yang menemukan pelakunya, Bu. Kalau para bibi tak ada satupun mengaku biarlah saja dulu. Semua itu karena aku yang ceroboh, menyia-nyiakan cincin tunangan itu," jawabku pelan.


"Jadi kamu diam hanya untuk menenangkan pelakunya, dia bisa besar kepala kalau kamu bersikap seperti ini,"  kata ayahku kasar. "Sekarang saatnya memanggil polisi!" Sehabisnya mengucapkan kata tersebut ayahku segera keluar dari kamar bawah tanah. Aku dan ibuku segera menyusul langkah ayah dan meninggalkan para bibi yang semuanya tentu dikuasai perasaan taku cemas tak menentu.


***


Menjelang waktu Isya para polisi berdatangan ke rumahku. Jumlahnya ada sekitar enam orang. Ayahku telah membuat pengaduan tentang pencurian cincin berlian seharga tujuh belas miliar itu hingga polisi segera melakukan penyelidikan. Tak tanggung-tanggung, seekor anjing pelacak masuk ke kamarku untuk mengendus pelakunya. Anjing pelacak itu mulai mengendus dan menelusuri sesuatu yang dianggap mencurigakan. Tiga orang polisi bertugas dengan seekor anjing pelacak sedangkan tiga orang polisi lainnya membuat pertanyaan-pertanyaan dengan seluruh penghuni rumah termasuk enam orang bibi yang salah satunya diduga ayahku sebagai pelakunya. Anehnya pada saat polisi menanyai Bi Rukmi wanita itu kembali pingsan sehingga polisi tak memperoleh informasi apapun darinya.


Sedangkan polisi yang bertugas dengan anjing pelacak belum menyelesaikan tugasnya. Maklum banyak akamr yang diendus oleh anjing pelacak tersebut. Mulai dari kamarku sendiri hingga kamar para pekerja rumah tangga lalu dilanjutkan oleh seluruh kamar yang ada di rumah ini tak luput dari endusan sang anjing pelacak.


Tak puas mengendus dan memeriksa bagian kamar rumah ini saja, seluruh ruangan juga diperiksa, hasilnya masih nihil.


Kini anjing tersebut mengendus ke bagian luar rumah, di samping rumah ada lahan yang digunakan untuk menanam berbagai macam bunga dan sayur-sayuran. Ke sana endusan anjing pelacak itu mengarah.


Di sebuah bongkahan tanah yang bekas digali, anjing pelacak itu terus mengendus-endus. Polisi akhirnya menggali  kembali bongkahan tanah itu.


Tidak berapa lama menggali tanah itu polisi menemukan bungkusan plastik. Di dalamnya polisi itu menemukan cicn tunangan pemberian Tampan Menawan. Polisi menyimpan barang bukti tersebut sebagai barang bukti. Ayahku bertepuk tangan atas temuan itu.

__ADS_1


Kini anjing pelacak kembali melanjutkan tugasnya. Anjing pelacak mengendus-endus jejak pelaku. Anjing pelacak mengarah ke dalam rumah. Itu artinya pelakunya adalah salah seorang yang berada di dalam rumah ini. Anjing pelacak mengarah ke kamar Bi Rukmi. Aku sudah dapat menyimpulkan bahwa pelakunya adalah Bi Rukmi. Anjing pelacak kemudian menggigit salah satu baju Bi Rukmi. Kemungkinan baju itu yang dipakai Bi Rukmi saat melakukan aksi pencuriannya.


"Jadi Pelakunya pemilik baju tersebut, Pak Polisi?" tanya ayahku.


"Betul, Pak!" jawab Pak Polisi.


Lalu anjing pelacak itu dengan baju yang masih dalam gigitannya mengarahkan langkahnya pada Bi Rukmi yang masih pingsan di ruang tengah. Anjing itu meggogong keras pada Bi Rukmi. anehnya Bi Rukmi langsung terbangun.


Semua mata memandang pada Bi Rukmi. Aku tadi sudah berfirasat bahwa Bi Rukmi adalah pelakunya, itu terlihat dari keanehan-keanehan yang terus ia perbuat. Pingsan yang datang secara tiba-tiba mungkinkah dia pura-pura.


"Ibu ikut ke kantor polisi, menjalani pemeriksaan dengan barang bukti yang ada mengarah pada anda sebagai pelakunya," kata Pak Polisi.


"Bukan saya pelakunya, Pak!" kata Bi Rukmi memohon pada polisi itu.


"Di kantor Ibu bisa menjelaskan semuanya!" kata Pak Polisi.


"Tuan. Mohon maafkan saya, saya khilaf. Tapi jangan bawa saya ke kantor polisi," rengeknya pada ayahku.


"Sudah terlambat, Bi. Andai saja Bibi mau mengakui segala perbuatan itu seblum polisi bertindak," jawab ayahku.


Kini nasi sudah menjadi bubur. Bi Rukmi akhirnya dibawa ke kantor polisi dengan barnag bukti yang telah ditemukan oleh pihak kepolisian.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2