
Aku melihat ruangan ini tiba-tiba menjadi tempat yang menakutkan. Tangan Bi Narsih kulihat gemetaran sementara Bi Ratna hanya menunduk saja ke lantai. Aku kembali melihat wajah ayahku yang penuh dengan perasaan emosi. Sementara matanya memandang tajam ke pintu menunggu kedatangan Bi Rukmi dan Bi Aya.
"Bi Rukmi! Bi Aya!" teriak ayahku lagi dengan sangat kerasnya.
Bi Narsih sempat terkaget membuat tangannya semakin gemetaran menahan ketakutan sementara ibuku hanya geleng-geleng kepala. Kalau ayahku sudah marah seperti ini ibuku juga tak mampu berkutik apa-apa. Hanya kecemasan dan rasa khawatir yang makin menjadi-jadi yang menimpa ibuku. Takut kalau sesuatu hal di luar kendali terjadi pada ayahku di saat ayah marah besar seperti ini. Aku dan ibuku tahu betul tabiat ayahku kalau sudah marah, semua akan kacau dan berantakan. Ayahku tipikal orang yang kurang sabar dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Ibuku sudah acap menyampaikan bahwa masalah hendaknya diselesaikan dengan kepala dingin, namun ayahklu mengatakan perlu disertai ketegasan yang teramat tegas.
Kenapa ayahku belum mau belajar juga dari kesalahan sifatnya yang cepat mengambil keputusan di tengah amarah. Beberapa waktu lalu ayah juga marah besar di kantor tempatnya memimpin perusahaan. Kemarahan ayahku pada anak buahnya yang tak mampu mencapai target yang diinginkan perusahaan. Kemarahan ayah berbuah pada banyaknya karyawannya yang mundur dan mengancam kelangsungan perusahaan. Akibatnya saat itu usaha langsung banyak yang tak beroperasi ditambah virus corona yang menjadi pandemi membuat semuanya semakin tak terkendali hilang arah. Kini perusahaan ayahku sudah bangkit lagi, tentu dengan menumbalkan aku. Menumbalkan aku dengan cara mengikat aku dnegan Tampan Menawan. Entah berap triliun uang Pak Wibisono masuk ke perusahaan milik ayahku ini sehingga perusahaannya yang hampir kolap dan rubuh kembali berdiri.
"Kalian tahu kenapa aku semarah ini," tanya ayahku pada para pekerja rumah tangga itu setelah Bi Aya dan Bi Rukmi datang dengan langkah tergopoh-gopoh.
Ayahku memadangi satu persatu para pekerja rumah tangga itu dengan tampang yang marah mencekam. Aku hanya menduga-duga satu di antara wanita pekerja rumah tangga isudah aku ketahui sebgai wanita yang jujur. Bi Ratna tak mungkin melakukan kejahatan itu. Entahlah dengan tiga wanita pekerja rumah tangga yang lainnya.
Mereka semua tentu menduga-duga apa penyebab kemarahan ayahku, terkecuali yang emngambil cincin itu sendiri.
"Tidak tahu tuan," jawab Bi Ratna memberanikan diri namun kepalanya tetap merunduk ke lantai.
Braaaaak! suara kencang yang timbul karena ayahku memukul meja persis dimana tempat aku memposisikan cincin tuangan itu sebelum hilang.
Kulihat Bi Ratna terperanjat mendengar hantaman tangan ayah ke meja di kamarku itu. Bi Aya terlihat pucat sementara dua yang lainnya nampak menggigil.
"Cincin tunangan Feby hilang. Dia menaruhnya di meja ini. Hanya kalian yang bisa masuk ke kamar ini. karena kalian berempat yang bertugas dan terkait dengan kamar ini," ucapan ayahku juga masih disertai dengan hantaman keras pada meja tersebut namun tak sekuat yang tadi.
"Pasti ada di antara kalian yang mengambil cincin berlian berharga miliaran rupiah itu. Ayo mengaku!"
__ADS_1
"Saya tidak Tuan," jawab Bi Rukmi.
"Saya juga tidak Tuan," jawab Bi Aya.
"Apalagi saya Tuan," jawab Bi Narsih.
"Saya tidak mengambil apapun di kamar Neng Feby, Tuan," jawab Bi Ratna.
Mendengar jawaban itu ayahku nampak geram. Dia mengitari para asisten itu dan menatapnya secara tajam satu persatu. Suasana kamar ini semakin mencekam.
"Bibi semua tahu konsekuensinya bila tidak ada yang mengaku satupun jua. Pertama semua akan saya kurung di gudang bawah tanah. Kedua kamar kalian akan digeledah satu persatu. Kalau belum ada juga yang mengaku terpaksa polisi yang memainkan perannya di sini," kata ayahku penuh dengan ancaman.
Para pekerja rumah tangga itu semakin dikecam oleh rasa takut yang teramat sangat mendengar ancaman ayahku. Namun ketakutan mereka hanyalah ketakutan tak ada jua satupun yang mengaku. Aku juga tak tahu siapa di antara mereka pelakunya.
Membuat para asisten rumah tangga itu ketakutan tak tahu apa yang harus diperbuat. Bi Aya sudah mulai menangis sesenggukan.
"Tujuh," ujar ayahku memulai hitungan mundurnya.
"Enam." lanjut ayahku setelah jeda yang agak lama.
Namun tetap tidak ada yang mengaku. Sementara Bi Aya makin menjadi-jadi dengan tangis dan sesenggukan.
Ayahku tak peduli dengan tangis dan air mata tersebut. Lima," lanjut ayahku terus menghitung.
__ADS_1
"Empat!"
"Tiga!" di hitungan ke tiga Bi Rukmi nampak tak kuasa menahan diri, dia tiba-tiba ambruk, aku cepat memberika bantuan padanya. Sementara ayahku tetap tak peduli karena tidak ada juga satupun yang mengaku.
"Dua!"
"Satu!"
Sampai hitungan mundur yang terakhir tetap tidak ada satupun yang mengaku. Ayahku tiba-tiba menelpon seseorang. Aku tak tahu dengan siapa dia berbincang di balik sambungan telepon. Aku hanya menduga ayahku sedang menyuruh pekerja lainnya untuk menggiring para asisten rumah tangga itu menuju ruang bawah tanah, ruang penjara keluarga ini, dimana aku sempat merasakannya.
benar saja dugaanku, Pak Trisno muncul diiringi Pak Aji.
"Kalian berdua. Giring para bibi ke gudang bawah tanah. Selesai itu kunci gudang dengan benar lalu geledah kamar mereka masing-masing untuk mencari cincin berlian atau cincin tunangan Feby yang hilang. Satu diantara mereka adalah pelakunya," ayahku meberi perintah dengan berapi-api.
"Bagaimana dengan Bi Rukmi,Tuan? dia tak sadarkan diri.
"Gotong ke gudang. Beri penanganan kesehatan di gudang sampai dia siuman," perintah ayahku.
"Baik Tuan!" jawab Pak Trisno dan Pak Aji hampir bersamaan.
Pak Trisno dan Pak Aji membimbing para pekerja rumah tangga itu satu persatu ke gudang bawah tanah. Tak terkecuali Bi Aya yang tetap saja menangis tersedu-sedu. Selesai menggirng tiga pekerja rumah tangga itu ke gudang mereka balik lagi untuk menggotong tubuh Bi Rukmi yang tak sadarkan diri.
Aku dan ibuku segera menyusul ke gudang untuk menenangkan para asiten rumah tangga itu. Aku juga membawa perkakas atau media yang bisa menyadarkan seseorang yang sedang siuman.
__ADS_1
"Para Bibi kalau tak salah jangan takut, ya!" kata ibuku sambil mengusap-usap punggung Bi Aya untuk menenangkannya yang sedang sesenggukan.