Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Diborgol Seperti Penjahat


__ADS_3

“Siapa di luar,” aku mendekat ke arah pintu.


Tak ada jawaban dan sunyi.


“Tok. Tok. Tok.” Terdengar suara pintu di ketuk lagi.


“Apakah Aa Senopati itu?” Aku mendekatkan telinga lebih dekat ke daun pintu.Kali ini terdengar suara bisikan-bisikan obrolan, ada beberapa orang pikirku.


“Kami petugas hotel,” sebuah jawaban dari luar. Aku belum memutuskan membuka daun pintu. Ternyata Senopati Adi Raka belum datang. Terbersit pertanyaan di benakku. Kenapa petugas hotel datang di saat-saat tengah malam seperti ini. Petugas hotel biasanya akan muncul pada saat pagi hari untuk mengganti perkakas hotel atau sebagainya.


“Ada keperluan apa?”


Tidak ada jawaban. Aku mulai curiga dan memutuskan untuk tidak membuka pintu kamar hotel.


Namun pintu tiba-tiba terbuka, ternyata karyawan hotel itu menggunakan kunci lainnya untuk membuka pintu kamar. Aku ingin marah dan membanting pintu kamar tersebut. Namun alangkah terkejutnya aku melihat ayah dan ibuku tiba-tiba muncul dari belakang petugas hotel.


Tidak hanya ada ayah dan ibuku saja, rupanya Pak Trisno dan Bi Gina juga ikut serta ke hotel ini. Darimana mereka tahu keberadaanku, karena hanya Senopati Adi Raka yang aku beri tahu dan mengahrapkan kedatanganya. Ayahku menatapku sinis, seperti hendak memarahiku dan sebentar lagi ia akan memaksaku pulang.


"Bereskan kopernya," Perintah ayahku pada Pak Trisno di sampingnya.


Melihat gelagat seperti itu aku segera menghalangi langkah Pak Trisno. Lalu aku segera menyambar koper di dekat lemari pakaian kamar hotel ini."Jangan Pak Trisno!!" ujarku.


"Diam!!!" bentak ayahku keras ke arahku. Lalu ayah menyeret tanganku. Kemudian mengikatnya dengan tali dengan posisi tangan menyilang ke belakang punggung. Aku tak ubahnya seperti buronan diperlakukan seperti ini.


"Lapaskan aku, Yah!!" aku menangis parau.


Ibuku nampak sedih dengan keadaan ini.


"Mana kain penutupnya, Bu!" ayahku berseru ke arah ibuku.


Lantas ibuku bergegas mengeluarkan kain dari dalam tas yang disandangnya, lalu menutupi tanganku yang diikat sehingga ikatan itu tak terlihat.


Aku digiring oleh ayahku menuju lift kamar hotel, posisku ada di tengah-tengah diapit oleh ayah dan ibuku. Sementara di belakngku ada Pak Trisno membawa koperku, di sampingnya lalu ada Bi Gina.

__ADS_1


Menunggu antrian lift cukup lama aku hanya bisa terpekur, dalam masa menunggu itu tiba-tiba dari dalam lift muncul seorang yang tak asing bagiku. Dia adalah Senopati Adi Raka. Memakai jaket warna biru dan celana levis warna hitam dan rambut diisisir menyibak ke atas.


"Aa Senopati!!!" aku memanggil cepat sebelum langkah itu bergegas pergi.


Dipanggil seperti itu membuat Senopati spontan melirik ke arahku yang ada ditengah tengah kawalan ayah, ibuku, Bi Gina dan Pak Trisno. Semuanya menatap ke arah Senopati Adi Raka.


"Neng Feby," jawab Senopati Adi Raka setelah menatapku dalam keadaan seperti ini.


"Siapa kamu?' tanya ayahku.


"Saya Senopati, ingin menemui Neng Feby," jawab Senopati Adi Raka sambil melihat ke arah tanganku yang tertutup kain.


"Ada apa ini?" tanya Senopati.


"Jadi kamu biang kerok kaburnya, Feby?" tanya ayahku.


Lalu bergegas ayahku menuju ruang lift yang sudah terbuka, diikuti oleh yang lainnya.


Mendengar permintaan pertolongan seperti itu, Senopati Adi Raka segera menanhan pintu agar lift tidak menutup. Ia membuat gerakan berlari dan badannya sudah masuk separuh.


"Dorong ia keluar!!" ayahku menyuruh Pak Trisno mendorong tubuh Senopati.


Pak Trisno segera mendorong tubuh itu hingga terjajar beberapa langkah keluar pintu lift, selanjutnya litf otomatis menutup sendiri.


"Hentikan!" aku masih sempat mendengar teriakan Senoapti Adi Raka dari dalam lift.


Aku tak tahu apakah Senopati akan menyusulku yang dibawa ke area parkir hotel. Aku berharap Senopati Adi Raka bisa merebutku dari genggaman atau cengkraman ayahku.


Begitu aku digiring masuk mobil oleh ayahku. Aku masih melihat arah lift agar Senopati Adi Raka segera datang. Hanya saja menunggu lift hotel yang cukup lama membuat Senopati mungkin akan terlambat memburuku


yang sudah akan berjalan.


Pak Trisno segera menghidupkan mesin mobil dan kami semua meninggalkan lokasi Hotel Samudra. Aku masih menoleh ke belakang berharap Senopati Adi Raka tetap menyusulku.

__ADS_1


***


Kegelisahan menggunung di hatiku.Sehari lagi menjelang hari pertunanganku dengan Tampan Menawan aku semakin tak leluasa bergerak. Hatiku semakin memberontak. Aku hanya tak ingin pertunangan itu terjadi. Dalam mimpipun aku tak ingin semua itu terjadi, apalagi di dunia nyata. Sementara kini setiap waktu aku dijaga oleh dua orang pekerjadi rumah ini secara bergantian. Semenjak aku dipaksa pulang setelah melarikan diri ke


Hotel Samudra malam itu, aku kembali dikurung di gudang. Penjagaan super ketat karena ayahku menyewa banyak pekerja  ke rumah ini untuk menjagaku secara bergiliran. Aku benar-benar mati kutu.


Di gudang sebagai penjara rumah ini aku semakin terpuruk larut dalam kepedihan. Setiap waktu yang ku lewati


membuatku hanya bisa terdiam dalam seribu bahasa. Kuabaikan semua kata-kata ayahku yang terus saja membujuk dan merayuku. Kubiarkan ibu terus menasihatiku agar mentaati saja segala peritah ayahku. Mulutku kukunci rapat-rapat untuk mereka berdua dan untuk semua orang yang datang ke kamar  di gudang ini. Aku benci pemaksaan ini. Aku benci dengan nasib yang akan menimpaku. Aku benci orang-orang di rumah ini yang


senantiasa patuh menuruti perintah ayahku. Tiba-tiba aku benci semuanya.


Aku tak lagi mau memakan makanan yang diantarkan pekerja rumah ke gudang ini. Aku ingin membeku. Sebeku hati orang tuaku.


“Kenapa belum makan juga Non Feby,” pekerja wanita itu mencoba menghidangkan nasi dan lauk pauk lebih dekat


ke arahku.


Aku tetap diam seperti beku. Tak beraksi dan hanya memandang ke satu tempat, yakni dinding  tembok ini. Aku hanya bisa berimajinasi bisa menembus batas dinding tersebut, melayang pergi dan berlalu jauh ke sebuah hati


yang aku tuju, Senopati Adi Raka. Hanya lelaki itu yang bisa membebaskan aku dari sini. Dia orang yang aku cintai dan mencintaiku. Cepat atau lambat dia pasti akan menolongku terlepas dari kekejaman ini.


Dia orang yang berpendidikan tinggi, punya uang, dia dan ayahnya penguasa yang tentu bisa melawan keluerga


orang tua Tampan Menawan. Hanya butuh waktu sampai dia tahu lokasi rumah ini. Bi Ratna pasti akan kembali ke rumah ini. Pembantu setia yang baik hati pada diriku ini pasti akan kembali dan menghubungkan aku dengan Senopati Adi Raka.


“Rambutnya aku rapikan ya, Non. Sebentar lagi Ibu dan ayah Non Feby akan ke sini. Mengajak Non ke sebuah salon kecantikan,” pekerja kedua yang bertugas menyediakan baju dan perlengkapan pakaian mencoba menyisir rambutku. Namun yang lebih membuat aku kaget adalah pemberitahuan tentang ajakan nanti ke salon. Tentu berkaitan juga dengan hari pertuananganku dengan Tampan Menawan.


Aku mengibas tangan pekerja rumah tangga itu. Membuat sisirnya terjatuh. Dia hanya menggeleng dan membiarkan aku kembali menatap tembok dinding gudang ini. Sedikitpun aku tidak akan mau bergaya dan bersolek untuk hari pertunanganan itu. Apalagi harus dibawa ke salon.


 


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2