
Tanpa terasa sudah seharian aku mengurung diri di kamar ini. Seharian itu pula aku hanya memikirkan Feby yang mungkin juga mendekam di kamarnya karena sakit. Sekira pukul 16.00 WIB ibu mengetuk-ngetuk pintu rumah sambil memanggil nama ku pelan.
"Tampan! Buka Pintu,"
"Sebentar Bu," bergegas aku menuju kamar mandi mencuci muka, lalu berpakaian.
Jarang sekali ibu yang memanggil ku kalau tidak perlu sekali, biasanya pembantu yang mengingatkanku akan segala sesuatu, untuk melayani keperluanku.
Aku dapati ibu dengan rona kecemasan dengan sebuah surat di tangan nya ketika aku membukakan pintu.
"Tampan! Kamu tidak membuntingi orang bukan?" kata ibu ku dengan nada serius.
"Apa," aku terkejut mendengar ucapan ibu. Ibu memang suka berseloroh dengan ku tapi kali ini mimik ibu ku penuh kecemasan, membuat ikut-ikutan cemas.
"Ibu, anak mu ini masih masih suci, masih perjaka, mana mungkin membuntingi orang?" sangkal ku.
"Kamu tahu Feby bukan?"
"Tahu Bu, teman sekelas ku,"
Apakah Feby bunting, kalau aku hanya berhubungan badan dengan nya melalui mimpi basah, atau ada lelaki lain yang menghamilinya. Pantasan dia sakit seperti itu, jadi dia mengidam, pikirku.
"Tidaaak!!!!" jeritku panjang.
Ibu hanya terkejut melihat aku spontan menjerit, bagaimana jadinya kalau Feby bunting oleh lelaki yang tak bertanggung jawab. Seketika tubuh ku terasa lunglai. Seperti hentakan kereta api yang menabrak sebuah kendaraan, yang membuat seluruh penumpangnya terhenyak, dada ku turun naik, tak karuan.
"Apa maksud teriakkan mu, Tampan," ibu ku tak habis pikir.
"Aku mencintai Feby, Bu"
"Jadi kamu telah melakukan perbuatan haram itu," ibu ku mulai serak, suranya parau seperti hendak menangis.
"Aku tak sudi jika dia dihamili orang lain,"
"Jadi bukan kamu pelakunya," ibu ku mulai menarik nafas lega.
Aku menggeleng, membuat Ibu menatapku dan memegang pipi ku.
"kamu tahu kan sayang kalau itu terjadi reputasi keluarga ini sebagai keluarga terhormat dan terpandang bakal sirna dalam sekejap mata, pantangan bagi keluarga leluhur kita untuk menodai ajaran agama. Leluhur bia mengutuk kita, dan Tuhan akan menurunkan ajab pada kita juga,"
"Ibu rasa surat ini salah alamat" lanjut ibu ku kemudian setalah kami terdiam beberapa waktu.
"Surat apa itu, Bu?"
"Surat dari sekolah," kata ibu ku sambil menyerahkan surat itu pada ku.
Aku yang penasaran segera membaca isi surat itu dengan seksama. Mata ku membesar beberapa bagian surat karena terkait sakitnya Feby Romansa, di timbulkan oleh perbuatan terduga Tampan Menawan.
"Aneh!" kata ku pelan. Jadi Feby sakit, ibu ku sudah menduga dia hamil, aku menepuk jidat. Tapi apa gerangan sakitnya terkait diriku.Seribu pertanyaan kembali bertahta di hati ini. lalu mencoba menghubungkan dengan keganjilan sikap Feby waktu di rumahnya tempo hari.
"Awas saja kalau surat itu salah alamat, saya akan tuntut itu sekolah, sampai bangkrut sekalipun," ibu ku mulai meluapkan kemarahannya. Di hadapan ku ibu ibarat dua sisi sifat manusia, terhadap sebuah kekeliruan dia akan sangat garang, namun akan berbaik hati jika terkait rasa kemanusian, dengan cepat ibu ku akan membantu secara materil. Tas ibu ku yang seperti ATM, berisi uang hingga ratusan juta yang dia bawa kemanapun ia pergi dan siap membantu setiap kesusahan yang ia jumpai.
"Atau jangan-jangan sekolah itu hendak mencoba merusak reputasi keluarga kita dengan bekerja sama dengan pihak lain yang ingin menghancurkan raksasa bisnis keluarga ini," kata ibu ku lagi.
"Tentu tidak ibu," ucap ku mencoba menenangkan ibu ku.
"Kita lihat saja esok" kata ibu ku, lalu berlalu dari kamar ku, aku kembali menutup pintu kamar dan sejuta pertanyan tentang Feby kembali menyelungi ku.
****
Dua hari kemudian..
Aku tak tahu entah harus menjawab apa, Jika hati kecil ini bertanya apakah bahagia bisa bertemu dengan Feby? Hari ini aku akan bertemu dengan Feby di sebuah ruang BK di sekolah. Aku dapat kabar dari walas dan dari ibu ku sendiri. Itu artinya Feby sudah sembuh, aku tentu senang dengan keadaan wanita yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi indah ku itu. Namun, di sisi lain aku sedih ternyata kami dipertemukan di ruang BK. Kejahatan apa yang telah aku lakukan pada gadis cantik bernama Feby Romansa itu? Sehingga dia begitu membenci ku lalu melaporkan ke sekolah dan kasus awalnya di selesaikan di ruang BK.
Ibu ku yang tak kalah emosi dengan hal itu sangat bersemangat membawa ku ke sekolah untuk menyelesaikan kasus yang aku sendiri tak tahu apa pun jua. Sangat tergesa ibu ku menuntun langkahnya ke ruang BK yang ditunjukan oleh salah seorang staff sekolah, kami pun tak berdua saja ke sekolah, ibu membawa salah satu security di rumah untuk menemani. Istilah kerennya ada bodyguard yang mendampingi ibu dalam keadaan yang diperlukan. Namun, ibu ku juga orang yang arif dan bijaksana dan ia akan bersifat sangat terbuka dan tidak memihak kepada siapa pun juga menghadapi sebuah keadaan. Yang salah tetap lah salah walau anak nya sendiri.
Pernah ibu membuat sebuah pernyataan mengejutkan pada ku perihal wajah ku yang berubah jelek mengerikan, semua ini karena kutukan leluhur atas ayah ku yang pernah selingkuh dengan wanita lain. Untungnya tidak terjadi perceraian, kalau itu terjadi maka akan ada malapetaka yang sangat besar. Tapi ketika aku bertanya, kenapa atas kelakuan ayah yang selingkuh kok aku yang berubah jadi jelek, jawabnya karena kutukan bisa jatuh pada siapa saja di keluarga kita yang masih bertalian darah, kutukan leluhur yang aneh, jangan-jangan itu hanya kepercayaan yang menyesatkan saja kata ku pada ibu ku, namun ibu ku malah mencak-mencak dan mengatakan jangan harap wajah mu akan normal kalau tidak mempercayai ini semua.
Tadi menjelang keberangkatan ibu ku juga mewanti-wanti agar aku mengatakan apa yang sebenarnya aku lakukan pada Feby. Kalau aku salah ibu mengancam akan memindahkan aku ke sekolah lain.
"Ohhh. Noooo!!!!, kataku. Aku sudah terlanjur menyukai Feby.
Memasuki ruang BK, kami di sambut oleh Bu Gya dengan senyum nya yang ramah. Tidak ada Feby Romansa dan tentu ia juga akan ditemani oleh salah satu orang tua nya ke sini.
Tak lama kami duduk, Bi Ranum telah menyodorkan minuman dan beberapa kotak kue, mata nya sesekali menatap liar pada ku, lalu tertangkap basah oleh mata ku menatap bagian bagian tubuh ku, lalu memberi senyuman pada ibu ku.
"Bu," kata -nya," menyapa ibu ku.
"Ya. Kenapa?" jawab Ibu ku acuh.
Sepertinya ada sebuah hal yang hendak disampaikan.
"Berkat bantuan Ibu, suami saya sudah sembuh," katanya kemudian.
"Sittt!! Kebaikan itu jangan disebut-sebut, nanti tidak berkah," ibu ku memberi isyarat diam pada Bi Ranum.
"Baik Bu, terimakasih, silahkan diminum dan dimakan kue nya" katanya sambil berlalu.
Namun, sebelum Bi Ranum beranjak menjauh, tiba-tiba tiga orang masuk ke ruang BK, tak lain Feby Romansa, Walas dan seorang wanita lain yang belum aku kenal.
Bi Ranum tak jadi keluar karena terlibat pembicaraan serius dengan Bu Tami Walas kami. Aku tak tahu apa yang dibicarakannya. Hasilnya Bi Ranum tak jadi keluar dan ikut duduk di kursi BK bersama-sama.
__ADS_1
__ADS_1
__ADS_1