Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Di Pelukan Senopati Adi Raka


__ADS_3

Polisi yang sudah selesai memeriksa surat-surat mini bus Mang Tatang memeriksa kami satu persatu yang ada di dalam mobil. Perasaanku penuh dengan kewaspadaan kalau-kalau para polisi ini mencurigai keberadaanku. Aku buru-buru menggunakan masker yang didapat dari ibu Senopati Adi Raka, agar wajahku tidak terlihat sepenuhnya oleh polisi aku menaikkan masker hingga menyentuh kedua belah mata ini. Senopati Adi Raka makin menggenggam tanganku dengan eratnya membuat aku sedikit merasa rileks dan tenang.


Selesai memeriksa seluruh penumpang dan identitasnya, polisi melanjutkan pemeriksaan pada isi mobil termasuk bagasi. Rupanya para polisi itu bukan razia masker atau mencurigai aku sebagai korban penculikan, melainkan razia narkoba yang banyak beredar dari Jakarta ke Pulau Jawa belakangan ini.


Merasa tidak menemukan apa-apa para polisi meminta maaf pada semua penumpang dan akupun merasa lega.


Perjalanan panjang selama delapan jam tanpa kendala apapun. Selama dalam perjalanan Senopati tak sungkan memelukku di depan kedua orang tuanya sekalipun, hal ini membuat kaku tak bisa tidur walaupun perjalanan berlangsung pada malam hari. Aku selalu terjaga di dalam pelukan orang yang kau cintai itu. Di sekeliling kami para penumpang lainnya sudah tertidur pulas, termasuk dua orang kaki tangan Eyang Jiwo yang duduk di bagian paling belakang. Hanya saja di rest area semua penumpang kembali terjaga untuk sekedar makan atau ke toilet untuk keperluan lainya.


Waktu hampir mendekati subuh manakala mobil sudah sampai di rumah yang dituju. Ternyata lokasi ini merupakan sebuah padepokan yang berfungsi sebagai perguruan silat di bawah asuhan Eyang Jiwo. Kami pun disambut oleh beberapa orang anak buah Eyang Jiwo di beranda rumah mereka.


Dio dan Rendy menghantar kami ke sebuah kamar untuk beristirahat. Ayah dan Ibu Senopati istirahat di kamar yang paling ujung sedangkan aku istirahat di kamar bagian tengah bersamaSenopati Adi Raka.


Aku cukup sungkap sekamar dengan Senopati Adi Raka,mengingat kami belum terikat pertalian apapun jua. Namun, Eyang Jiwo telah mengatur hal ini sedemikian rupa dan akupun hanya menurut saja.


Suasana di kaki Gunug Kediri yang dingin membuat aku menggigil, di kamar ini kasur nya tanpa selimut. Membuat aku makin menggigil kedinginan.


"Kamu sangat kedinginan,' kata Senopati Adi Raka, dia lantas melepaskan bajunya dan memakaikannya pada ku yang menggigil.


Aku tak tahu kenapa kamar ini sangat dingin, apa sengaja dilakukan Eyang Jiwo agar aku makin dekat dengan Senopati Adi Raka.


"Kamu tak punya baju lain," ujarku tak tega melihatnya dalam kondisi tanpa baju.


"Aku bisa meminjam baju anak buah Eyang Jiwo, tenanglah," bujuk Senopati Adi Raka.


Aku hanya mengangguk, di dalam dekapannya mengapa semuanya terasa sangat nikmat dan sejuk. Membuat cintaku padanya semakin menjadi-jadi. Lalu Senopati membaringkan aku di tempat peraduan klasik dikamar ini, peraduan yang dilengkapi dengan kelambu warna biru berpadu jingga.


Akupun hanya bisa pasrah dalam pelukan Senopati dalam kondisi seperti ini. Dia benar-benar mendekapku penuh kehangatan, dia bagaikan selimut yang menghangatkan tubuh ini hingga rasa mengigil itu benar-benar hilang.


Dalam kondisi lelah seperti ini di tempat asing setelah melakukan perjalanan jauh aku tak juga mengantuk. Sementara Senopati Adi Raka terus saja memelukku tanpa henti.


"Kenapa belum tidur juga sayang," katanya dengan penuh kemesraan. "Sebentar lagi matahari akan terbit. Coba hilangkanlah rasa lelah dengan istirahat yang cukup."


"Di sini semua terasa asing," jawabku.

__ADS_1


"Di sini di kaki Gunung Kelud. Suasana pedesaan masih terasa kental. Tatkala matahari bersinar semuanya akan terasa indah. Ada Aa yang menemanimu di sini, kamu jangan takut. Aku sangat menicntaimu," bisiknya di telingaku.


Aku terasa terbang jauh ke awan mendengar bisikan-bisikan dari Senopati Adi Raka yang terasa begitu nikmat di telingaku.


"Katakanlah kau juga mencintaiku dengan begitu dalamnya," kata Senopati Adi Raka sambil mengencangkan pelukannya. Membuat tubuhnya yang kekar langsung membungkus tubuhku ini.


"Aku juga mencintaimu lebih dari apapun," kataku pada Senopati setekah terdiam cukup lama.


"Oh...Aku sangat senang mendengarnya, aku adalah orang paling bahagia malam ini," kata Senopati Adi Raka penuh dengan kemesraan membuatku makin tenggelam dalam pelukannya.


Di dalam pelukan Senopati Adi Raka membuatku sangat dekat dengan raganya. Pergerakan tubunya dan helaan nafas serta denyut nadinya bisa aku rasakan. Tubuhnya begitu memancarkan aroma maskulin yang luar biasa, tentu parfum yang sangat mahal dari luar negeri sana. Aku juga merasakan ada pergerakan di bagian area lain dari Senopati Adi Raka. Aku mencoba menghindarinya. Tapi setiap aku merenggangkan tubuhku di area itu saat itu pula Senoapti Adi Raka menempelkannya ke tubuhku. Aku hanya merasa geli yang tak tertahankan.


"Feby-ku sayang," katanya sambil menatap mataku dengan mesra.


"Kenapa Aa Seno?" jawabku.


"Tahukah kamu bahwa kita ditempatkan di kamar seromatis ini dengan sebuah maksud," ujarnya.


"Agar kita bisa melakukan apa saja berdua di sini," kata Senopati.


"Asal kita tidak berhubungan suami istri dulu, kita belum menikah!" jawabku cepat.


"Ha,ha, itu sudah tentu sayang, kita akan menikah secepatnya."


Aku hanya memenjamkan kedua bola mata ini mendengar ucapan itu. Aku tentu ingin menikahnya setelah memastikan kondisiku tergantikan oleh sosok kembaranku di rumah orang tuaku. Ada wanita yang menggantikanku yang jadi tunangannya Tampan Menawan. Kondisi ini tentu membuat segala bentuk ancaman akan hilang dan jiwaku tenang.


"Benarkah kembaranku bisa diciptakan oleh Eyang Jiwo," kataku pada Senopati Adi Raka. "Hal ini terasa bagai sesuatu hal yang sangat mustahil."


"Jangan ragukan kesaktian Eyang Jiwo, sayangku. Dia sanggup melakukan itu karena memang punya ilmunya." jawab Senopati Adi Raka.


"Kalau begitu kita tentu tak ragu lagi untuk menikah. Wanita yang menyerupaiku akan membuat kita berdua akan terlindungi selama-lamanya. Di saat itu kita baru boleh melakukan apapun yang kita suka. Kita bisa mempunyai anak seberapapun jumlahnya itu. dan kita akan hidup di sebuah desa impian yang penuh dengan ketenangan," ujarku pada Senopati Adi Raka.


"Berapa anak yang kamu inginkan dari aku," ujar Senopati Adi Raka sambil merayuku.

__ADS_1


"Tiga anak saja cukup," jawabku sekedarnya.


"Aku ingin selusin anak darimu sayang," bisiknya lagi.


"Tidak perlu sebanyak itu, repot mengurusnya nanti," kataku lagi.


"Enam lelaki yang mirip ayahnya dan enan wanita yang mirip ibunya," ujar Senopati Adi Raka lagi.


"Terserah Aa sajalah kalau begitu," kataku menyerah.


"Menikah di usia tuju belas tahun tentu kamu akan bisa memiliki anak sebanyak itu," katanya lagi.


"Iya Aa ku sayang," kataku padanya dengan bisikan.


"Apa kita bisa memulainya sekarang, sudah ngakkuat ini berontak terus," katanya sambil menggodaku.


"Jangan sayang. Hal itu tak boleh terjadi sekarang, belum saatnya," aku mecoba untuk tidur agar Senopati tidak meminta hal yang macam-macam lagi. "Aa aku ngantuk, besok aku mau bangun pagi dan melihat sunrise Gunung Kelud yang konon sangat indah itu."


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2