Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Sebuah Pertanyaan yang Menyesakkan


__ADS_3

Jantungku berdetak dengan cepatnya, ada perasaan tidak enak menyergap seluruh dadaku. Wali kelasku


entah kenapa tiba-tiba datang ke rumah bersama guru BK. Ini agak janggal. Padahal aku juga baru beberapa jam sampai di rumah setelah beraktivitas di Sekolah.


Kusambut mereka dengan berbagai seribu tanya yang menggurita di hati ini.


“Orang tuanya ada?” tanya wali kelasku itu.


“Sedang di kantor mereka, Bu. Belum pulang,” jawabku.


“Ada apa ya, Bu?” aku balik bertanya.


“Ada hal penting yang ingin kita bicarakan dengan beliau,” jawab guru BK.


“Hal penting!” aku mendesis pertanda tak mengerti.


Apa ada yang salah dengan diriku ini sehingga mereka hendak bertemu dengan orang tuaku. Mungkinkah


ini terkait kasus pemberitaan diriku dengan Tampan menawan yang kini semakin heboh saja. Pertikaian orang tua Tampan sedang sengit-sengitnya terjadi. Inikah imbasnya pada diriku. Kemungkinan aku dapat getahnya dari semua itu. Kemungkinan terburuk yang aku takutkan di DO dari sekolah.


“Kalau orang tuamu pulang, kami titip surat ini pada mereka, esok kami akan datang lagi ke sini”


kata guru BK.


“Surat apa ini!” bisikku di hati, aku sampai gemetaran menerimanya.


Rasa gemetaran itu membuat ketakutanku semakin menjadi-jadi, pasti isinya sebuah hal yang aku


takutkan.


“Jangan buka dulu surat itu, sebelum dibaca oleh ayah atau ibumu,” kata guru walasku kemudian.


“Baik, Bu,” ujarku lemah.


“Oh. Iya. Ada baiknya ini kami sampaikan juga padamu Feby,” kata walasku lagi.


“Apa, Bu?” tanyaku sangat penasaran.


Bu walas memandang guru BK di sampingnya, yang dibalas dengan anggukan. Lalu menatapku lagi. “Salah seorang siswa di sekolah kita positif tertular virus Covid-19, untuk itu sekolah diliburkan selama satu bulan ini.”


“Jadi sekolah kita zona merah sekarang, seluruh aktivitas belajar mengajar akan belangsung di


rumah secara daring dan luring,” lanjut guru BK.


“Terimakasih, Bu infonya,” ujarku sambil mengurut dadaku yang merasa kecemasan.


“Baiklah. Kami pulang dulu,” ujar mereka berpamitan.


Sepeninggal guru BK dan Walas rasa penasaran makin menggunung di hatiku. Ingin kusobek saja surat itu dan mengetahui isinya, tapi pesan mereka membuat nyaliku ciut. Aku mengurungkan niatku untuk melakukannya.


“Non! Ada e-mail,” kata asisten rumah tangga di rumahku. Dia juga menangani seluruh kegiatan di


dunia youtube yang mulai ramai belakangan ini.

__ADS_1


“E-mail dari siapa,” aku menduga permohonan monetisasiku sudah diterima pihak youtube.


“Dari Senopati Adi Raka, orang yang baru Non kenal di Desa Medang,” jawab pembantuku itu.


Hamppir aku tak percaya mendengar penuturan pembantuku itu, hatiku yang muram karena kedatangan surat yang isinya masih misterius dari guru BK dan Walas berubah menjadi indah. Aku memang waktu itu tak meninggalkan nomor Hp untuk Senopati. Hanya tahu nomor akun youtube dan di sana aku cantumkan alamat e-mail.


Aku baca isi email itu dengan seksama.


Semenjak perkenalan itu entah mengapa rasa penasaran di hati ini semakin dalam.


Ribuan waktu telah Aa lewati dalam masa kedewasaan dan pencarian


baru kali hati rasa hati tertambatkan.


Jutaan wanita yang telah Aa temui di persada ini, jutaan wanita terasa


berlalu saja


Tapi semenjak pertemuan Aa dengan Neng , inikah wanita yang dikirim


Tuhan itu?


Rasa rindu dendam setiap malam semakin tak terkendali


Aa sudah ceritakan semua ini pada Ayah pada Ibu, Kalau Neng Berkenan


Mereka ingin berjumpa dengan Neng


Salam hangat dari Aa Senopati Adi Raka


juga.


Akhirnya aku balas juga surat tersebut.


Aa Senopati Adi Raka, entah mengapa e-mail dari Aa begitu membuat hati


ini terenyuh


E-mail ini datang Di saat hati ini lagi butuh ketentraman dan kedamaian


yang saat ini tandus


Terasa bagaikan tetesan hujan yang turun di tengah kemarau yang panjang


Hati ini mengatakan Aa Seno merupakn utusan Tuhan untuk menemani hati


seorang wanita


Feby dengan senang hati ingin berkenalan dengan orang tua Aa Senopati


Salam hangat untuk Aa Seno, Titip Salam rindu dengan orang tua Aa


senopati

__ADS_1


Aku tatapi lama email balasan yang barusan aku tullis sebelem menenkan tombol send di layar laptopku. Lalu aku memandang pada asisten Rumah tanggaku yang masih setia di sampingku.


“Kalau balasan seperti ini, OK ngak Bi?” tanyaku pada asisten rumah tanggaku itu.


“Iya. Tidak mengapa, bagus kok,” jawabnya.


Tanpa ragu lagi aku kirimkan email balsan itu pada Senopati Adi Raka.


“Ohya Bi, saya ngak nyangka dapat dua surat hari ini,”  kataku pada Bi Ratna.


“Rezeki nomplok berarti, Non,”


“Yang dari Senopati, iya rezeki nomplok, tapi yang dari sekolah itu rasanya surat yang tak diinginkan,” jawabku sambil menunjuk pada amplop yang berisi surat dari sekolah yang isinya belum aku ketahui.


Lalu aku sambar surat itu dan menyerahkan pada Bi Ratna, “nanti kalau ayah pulang titip surat ini


padanya. Aku ingin focus belajar di kamar, mungkin nanti malam baru kelar,”


“Baik, Non,”


“Oh. Satu lagi Bi, esok sekolah mulai ditiadakan selama satu bulan, jadi pembelajaran melalui


daring, tidak perlu siapkan bekal apa-apa mulai esok,”


“Baik, Non,” ujar Bi Ratna pertanda paham apa yang aku maksudkan,


“Nanti kalau Ibu pulang, bilangin ya. Esok pagi mau ke rumah teman, bilang aja ke Desa Medang


mau nge-vlog, jangan bilang ke rumah Senopati,” pesanku lagi pada Bi Ratna.


“Baik, Non,” jawab Bi Ratna lagi.


"Besok Siapkan alat-alatnya ya, sekitar puku 01.00 sehabis sholat dzuhur kita OTW,”


“Baik, Non, ada lagi,”


“Ini laptop Bi Ratna ambil lagi, kelola akun youtube dengan baik, kalau ada komentar posistif dari subscriber balas, kalau negatif cuekin saja,”


“Siap Non,” kata Bi Ratna, lantas berlalu dari hadapanku dengan membawa laptop beserta surat dari sekolah.


“Eh.. Bi, aduh lupa,” kataku sambil menepuk jidat.


“Ada lagi, Non,” kata Bi Ratna setelah membalikkan badannya.


“Kalau ada balasan email dari Senopati, segera kabarkan ke kamar, ya”


“Siap, Non. Ada lagi,”


“Sudah,”


Hari ini perasaanku benar-benar campur aduk antara senang dan sedih, dua rasa itu berbaur jadi satu di hati ini, rasa was-was dan kecut dengan surat dari sekolah, dan rasa bahagia dapat email dari Senopati Adi Raka.


 

__ADS_1


Bersambung ......


__ADS_2