Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Dibongkar Seorang Psikolog


__ADS_3

Tiga hari berlalu sejak aku tak sadarkan diri, tiga hari itu  kembali menelan kekecewaan. Feby tak pernah menampakan batang hidungnya.  Hari pertama semenjak kejadian itu aku datang lebih pagi di sekolah, berharap bisa menatap Feby lebih dekat, namun dia tak kunjung muncul. Hari kedua, kelas ini semakin terasa perih dan hampa tanpa Feby, ternyata dia sakit. Hari ke tiga, wali kelas mengajak 6 orang perwakilan kelas untuk menjenguk ke Feby ke rumahnya. Aku salah satu di antaranya, hal ini membuatku sedikit bergairah, aku tak sabran ingin bertemu Feby, secepatnya.


Tepat pukul 10.00 WIB, kami akhirnya pergi ke rumah Feby, aku sangat senang sekali dengan ini. Ternyata ada hikmahnya di balik kesakitan Feby, aku bisa jadi tahu rumahnya, rumah wanita yang selalu hadir dalam mimpi-ku setiap hari.


Aku berinisiatif dengan teman-temanku agar ke rumah Feby dengan mobil BMW milik-ku,kebetulan hari ini aku tidak naik sepeda motor ke sekolah.  Aku juga mengajak semua teman yang berkunjung ke rumah Feby membawa bingkisan masing-masing  dengan uang yang kau keluarkan dari dompetku sendiri.


Rumah itu berukuran cukup besar bergaya bangunan eropa dengan pagar yang cukup tinggi, ketika seorang lelaki membuka pagar terlihat di dalamnya pekarangan yang cukup luas, bagasi dengan beberapa mobil dan motor-motor berukuran jumbo.Dilihat dari tampilan rumahnya mencerminkan keluarga Feby cukup berada. Aku sudah menduga Feby tinggal di sebuah istana seperti ini. Walau istana itu tak sebesar istana milik orang tua-ku.


Setelah Bu Tami wali kelas berbincang-bincang sekedarnya dengan ibu-nya Feby, akhirnya kami dipersilhkan untuk masuk ke kamar Feby untuk melihat keadaanya. Aku sangat deg-deg-an bercampur senang sebentar lagi aku bisa melihat wanita cantik itu.


Aku terkejut melihat wajah pucat Feby dari kejauhan, posisiku berada paling belakang membuat dia belum melihat kehadiranku. Feby berusaha sedikit tersenyum dan mencoba duduk ketika ibu walas menyapanya. Gerakannya pelan karena tubuhnya yang dikuasai oleh deman, rambutnya kusut, namun tak mengurangi kecantikannya. Aku berharap dia menatapku, walau wajah jelek ini terus berada di balik masker. Senggak-enggaknya dia tahu keberadaanku.


"Cepat sembuh ya!" kata walas kami lalu menyerhakan sebuah bingkisan berukuran besar ke orang tuanya Feby yang berada di sampingnya.


"Terikamasih Bu," balasnya dengan pelan disertai sedikit senyuman.


Aduh senyuman itu membuat aku kembali terbuai, dalam sekejap aku serasa berada di sebuah tempat yang sangat indah. Aku serasa terbang tinggi bersama seorang bidadari. Senyuman itu lebih indah dari senyuman manusia manapun yang aku lihat sebelumnya, walau kondisinya sedang demam sekalipun.


"Ini ada teman-teman yang datang mewakili teman-teman sekelas," kata walas kami lagi.


"Ada Rianty, Wati, Rona, Saras, Dewi, Bidin, dan Tampan,"


"Hai, Feby cepat sembuh ya," kata Rianty sambil menyerahkan bingkisan di tangannya untuk Feby.


Feby tersenyum menerima bingkisan itu dengan ucapan terimakasih.


Kemudian giliran Wati menyerahkan bingkisan di tangannya, disusul oleh Rona, Saras dan Dewi.


"Sekarang giliran para cowok yang memberikan bingkisan," kata Bidin.


Bidin memberikan bingkisan cukup besar, isinya sejumlah buku bacaan yang memotivasi dan mengisi waktu luang seseorang yang sedang sakit.

__ADS_1


Ketika giliranku tiba, aku berharap Feby menerima pemberianku ini sebagai pemberian yang terbaik di antara pemberian teman-teman yang lainnya.


Aku melangkah mendekati Feby dengan bingkisan di tanganku, tapi disambut oleh sorot mata Feby yang tajam dan terasa ganjil. Ada sorot kebencian yang menyelinap dari mata itu. Feby kemudian menjauh tak memperdulikanku.


Aku seperti merasakan kegelapan atas perlakuan Feby, seperti kerlip lampu yang tiba-tiba padam di saat orang-orang sedang berpesta. seluruh ruang terperangah dengan seribu tanya masing-masing. Ada apa dengan Feby?


Ibunya Feby akhirnya menerima bingkisan itu, lalu menatap Feby yang diam seribu bahasa, sesekali ibunya menoleh padaku.


Aku kembali teringat pada wajahku yang angker dan bernanah ini\, mungkinkah Feby membenciku gara-gara hal itu. Sungguh malang nasibku. Tak berapa lama kami pulang\, aku melangkah hampa dengan perasaan hancur berkeping-keping. ***


Setelah semua teman yang menjengukku bersama Ibu walas pergi aku meneteskan air mata yang sudah kutahan semenjak dari tadi. Awalnya aku merasa senang dengan kedatangan teman-temanku bersama walas. Namun, rasa senang itu mendadak sirna ketika aku tahu ternyata Tampan ada dalam rombongan itu. Hatiku sejenak bagaikan dalam jerangan bara. Emosi ku ingin kuluapkan saat Tampan ternyata berani datang ke rumah ini dan melangkah ke kamar ku setelah apa yang dilakukukannya terhadap ku. Aku ingin aku ingin mencabik-cabik kado yang diberikan oleh lelaki mesum itu di hadapannya. Tapi semuanya berhasil aku redam.


Aku bergegas menyeka air mata ini ketika ibu ku datang lagi ke kamar ini, kali ini ibu ditemani oleh seseorang. Entah siapa?


Mengapa ibu tak bilang-bilang jika ada seorang tamu yang akan mengunjungi ku. Aku menatap wajah ibu mencoba mencari jawaban. Tapi ibu ku tak mempedulikan ku. Aku menatap sosok yang tak kukena itu, dia juga menatapku sambil melepas seuntai senyuman.


"Perkenalkan ibu Risma Handayani, psikolog yang tepat untuk berkonsultasi masalah kamu," kata ibu ku.


"Psikolog!" aku bangkit dari posisi duduk ku di atas ranjang.


Aku tak peduli dengan raga ku yang terasa berat karena sakit dan menahan sesak. Ku seret tangan ibu ku menjauh dari psikolog itu ke pojok kamar ku.


"Ada apa?" tanya ibu ku setengah berbisik.


"Kenapa ibu sampai bawa psikolog segala, ibu pikir aku sakit jiwa," cercah ku berbisik ke rumpun telinga ibu ku.


"Ibu melihat ada yang janggal tadi sewaktu guru dan teman-teman mu datang dari sekolah, ibu rasa ada yang tak beres antara kamu dengan salah seorang teman lelaki kamu itu," jawab ibu ku lebih berbisik lagi.


"Celaka," aku menepuk jidat pertanda panik, psikolog itu bisa membongkar apa yang terjadi antara aku dengan tampan, dan aib ini jadi konsumsi keluarga.


Aku menyesali perlakuan ku tadi pada tampan, seharusnya itu tak boleh terjadi karena akan menjadi pertanyaan banyak orang, termasuk keluarga dan teman-temanku.

__ADS_1


"Ibu takut antara kamu dengan lelaki tadi telah terjadi sebuah hal yang bisa merenggut masa depan kamu," tandas ibu ku sambil menuju pada psikolog.


Ibu lalu berbisik - bisik pada psikolog itu, dibalas dengan anggukan yang serius.


Psikolog itu menatap ke arah ku, memperhatikan tubuh ku dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu mengamati kamar ku secara keseluruhan.


"Feby, kamu harus memahami sebuah kejadian bukan untuk diendapkan dan disesali, tapi untuk diungkap dan untuk mempelajari nya agar menjadi pembelajaran bagi banyak orang,"


Psikolog itu mulai bertutur lembut, tapi di telinga ku tetap bagai bunyi ribuan batu yang di jatuhkan pada seng-seng peternakan ayam, memekakkan gendang telinga.


"Melihat penampilan kamu saat ini, dan mengamati fisik kamu dan di sekitar kamu, saya yakin sesuatu yang buruk telah menimpa kamu", lanjut psikolog itu.


"Aku acak-acakan karena sedang sakit, Bu," sanggah ku.


 


Bersambung.................


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2