Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Rahasia Penculikan


__ADS_3

Sesampai di sebuah ruang rahasia yang disebutkan ibuku tadi aku melihat banyak sekali tumpukan-tumpukan buku kuno. Buku-buku kuno yang tersusun rapi di sepanjang rak-rak yang memenuhi kamar tersebut. Aku baru pertama kali masuk ke kamar ini. Kamar yang pintu masuknya harus melewati kamar nenekku atau orang tua perempuan dari ibuku yang sudah lama meninggal dunia.


Walaupun ini kamar yang tersembunyi keadaannya cukup terawat, mungkin ada pembantu khusus yang ibu percaya untuk merawat kamar yang penuh buku-buku lama tersebut.


"Kamu akhirnya masuk ke kamar rahasia ini Tampan, kamar rahasia ini berfungsi sebagai perpustakaan yang menyimpan begitu banyak buku-buku dari leluhur kita," kata ibuku sambil membuka salah satu lemari kayu yang terbuat dari kayu yang belum aku lihat sebelumnya.


Buku-buku yang nampak di lemari sangat terawat di dalam lemari tersebut. "Lemari yang unik baru pertama kali aku melihatnya, Bu."


"Semua bahan kayu dan dari lemari ini didatangkan dari Arab. Kayu koka yang didatangkan para pendahulu kita dari negeri para nabi. Untuk melindungi buku-buku sakti yang dipercaya oleh para leluhur kita. Buku-buku sakti itu juga terbuat dari kayu tersebut" ujar ibuku.


"Buku sakti!" ujarku keheranan.


"Iya. Buku-buku yang khusus dalam lemari ini semunya buku sakti yang terbuat dari kayu koka. Kayu bermutu tinggi yang juga digunakan Nabi Nuh sebagai bahtera," jawab ibuku.


"Apa mungkin masih ada buku sakti jaman sekarang. Apa Ibu percaya?"


"Selalu ada keanehan di jaman yang sudah maju sekalipun, makanya kamu ibu bawa ke sini untuk memberikan buku ini," kata ibuku sambil mengambil sebuah buku berukuran telapak tangan manusia dewasa.


Aku


Aku memperhatikan buku kecil tersebut. Dari covernya yang beraksara indonesia kuno sudah tergambar bahwa buku tersebut berasal dari jaman silam. Aku tak percaya ketika tanganku mengambili buku tersebut buku itu tidak memiliki berat sama sekali. Seringan kapas. Buku yang sangat tipis. Tetapi ketika aku membuka lembaran demi lembarannya aku  tak percaya lembaran-lembaran yang beraksara kuno itu tak pernah ada halaman penghabisannya.


"Kenapa buku ini Bu. Aku tak pernah menemukan halaman terakhir. Selalu muncul halaman-halaman baru?" tanyaku pada ibuku seolah tak percaya.


"Namanya juga buku sakti Tampan. Buku itu yang bisa kamu manfaatkan untuk menyelamatkan tunanganmu Feby Romansa. Buku itu memiliki kekuatan mampu menghalau makhluk halus yang jahat, menghalang dari sihir, melindungi diri dari kekejaman musuh dan banyak lagi. Tentu seijin Yang Maha Kuasa," jelas ibuku.


"Tapi aku tak bisa membaca tulisan kuno yang ada di lembaran buku ini, Bu. Bagaimana mungkin?"


"Buku sakti ini bernama Kitab Lentera Jiwa. Cukup disimpan di bagian dada yang dimaksudkan untuk tujuan elok dan baik. Maka kitab ini akan menyatu dengan pemakainya," kata ibuku.


"Di simpan di dada? Bagaimana aku bisa menyimpan di dada?"

__ADS_1


"Penggunanya harus memakai baju yang memiliki saku di bagian dada," jawab ibuku.


"Lalu bagaimana buku ini bisa menemukan penculik calon istri saya Bu."


"Cukup niatkan di hati kamu untuk mencari keberadaan Feby yang sedang diculik. Dengan kekuatan buku itu akan serta merta membawamu ke tempat yang kamu yakini keberadaan Feby Romansa," jelas ibuku.


"Apakah buku ini bisa membuat penjahat ketakutan, Bu?"


"Tergantung seberapa besar keinginan kamu, Tampan. Kalau niat kamu begitu besar menyelamatkan Feby Romansa, Kitab Lentera Jiwa akan menyatu dengan perasaan itu. Kalau kamu jago bela diri untuk menghajar penjahat maka buku itu akan memiliki roh dalam ilmu bela dirimu," jelas ibuku lagi.


"Aku hanya bisa bela diri taekwondo, itupun sudah lama tidak latihan," kataku makin penasaran.


***


Hatiku makin dirasuki kecemasan yang semakin menjadi-jadi tatkala para penculik itu membawa aku masuk ke dalam sebuah rumah. Pikiran aku semakin tak menentu terhadap para penculik tersebut walau aku tak dilukai secara fisik semenjak aku disekap di perjalanan tadi hingga tiba di rumah ini tetap saja aku dihantui oleh berbagai macam kengerian yang bisa menimpaku. Mereka bisa saja berbuat tak senonoh padaku, mencekikku atau menjadikan aku sebagai alat untuk memeras orang tuaku.


Para penculik itu melepaskan kain penutup wajah mereka saat tiba dalam sebuah ruang rumah tersebut. Rupanya mereka tidaklah berwajah sangar seperti perampok kebanyakan. Mereka masih muda-muda berusia di bawah tiga puluh tahunan. Di sebuah kursi besar aku disuruh duduk.


"Silahkan duduk Nona! jangan takut, karena kami tidak akan pernah menyakitimu," ujar salah satu di antara mereka.


Orang yang aku tanya tersebut hanya diam saja tanpa berkata sepatah juapun. Lalu ada langkah-langkah cepat menuju ruangan ini. Rupanya dari arah pintu masuk tampak berjalan dua orang lelaki yang juga masih muda. Aku seperti pernah melihat kedua orang tersebut. Aku mencoba mengingat-ingat.


"Astaga!" aku terkejut ketika yang aku lihat adalah dua orang yang pernah Eyang Jiwo saat aku dan Senopati Adi Raka berada di rumah sakit. Kedua pemuda itu merupakan kaki tangannya Eyang jiwo. Apakah penculikan ini ada hubungan dengan Eyang Jiwo?


"Kalian telah menyelesaikan tugas dengan baik karena telah berhasil membawa gadis ini ke sini," kata anak buah Eyang Jiwo yang sebelah kiri.


"Tapi ada dua orang di antara kami yang terluka dan satu sekarat," jawab salah satu dari ke empat orang penculik yang membawaku ke rumah ini.


"Teman kalian yang terluka dan sekarat akan sembuh dengan pil ini, berikan pada mereka," anak buah Eyang Jiwo yang sebelah kiri memberikan sebungkus obat pada salah satu dari empat penculikku tersebut.


"Teman yang sekarat tidak berhasil kami bawa karena kami terburu-buru saat polisi datang, bagaimana keadaannya saat ini kami tidak tahu."

__ADS_1


"Dia ada di rumah sakit dan di bawah naungan polisi, berikan obat ini dan bawa secepatnya ke sini dengan menyamar sebagai perawat pria," kata anak buah Eyang Jiwo yang sebelah kanan dari posisiku berdiri.


keempat orang yang menculikku pun segera berlalu setelah menyerahkan aku pada anak buah Eyang Jiwo.


Dua kaki tangan Eyang Jiwo menatapku. Lalu,mereka memberikan senyumannya.


"Senang sekali bertemu lagi," sapa kaki tangan Eyang Jiwo yang di sebelah kiri dari hadapanku.


"Aku tahu kalian berdua anak buah Eyang Jiwo, walau aku tak kenal nama kalian. Aku tak tahu memanggil kaliandengan sebutan apa? dan kenapa aku diculik seperti ini?" kataku padanya.


"Aku Rendy dan rekanku Dio. Kami berdua diutus Eyang Jiwo untuk menemui di sini," kata orang yang sebelah kanan yang mengaku bernama Rendy.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2