Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Meninggalkan Jejak Hitam


__ADS_3

Berbincang dengan Senopati Adi Raka aku jadi lupa segalanya. Aku tahu semua kekuatan cinta bisa mengalahkan segalanya. Apalagi cintan yang dibalut oleh hal-hal yang berbau magis seperti yang ditanamkan oleh Eyang Jiwo pada kami berdua. Dalam kondisi normal saja percintaan seseorang boleh dipopulerkan oleh ungkapan jatuh cinta sejuta rasanya. Tapi kondisi ini ribuan kali lipat jauhnya dari istilah itu. Semacam ada magnet tal terlihat yang akan selalu mendekatkan kami berdua.


Larut dalam perbincangan panjang dengan Senopati Adi Raka yang penuh kekuatan magis membuat aku tak menyadari kedua orang tuaku ternyata telah pulang. Aku benar-benar ceroboh dan kekuatan magis cinta itu terlalu kuat. Hingga aku tak memberi aba-aba pada Bi Ratna tentang kepulangan Ayahku yang seharusnya diwaspadai.


Ayah menatap penuh kecurigaan pada Senopati Adi Raka mungkin saja dia bisa mengingat bahwa Senopati Adi Raka pernah didorong keluar lift oleh Pak Trisno sewaktu insiden kecil di Hotel Samudra.


"Ada tamu rupanya," kata ayahku memandangi Senopati Adi Raka.


"Itu ayahku," bisikku pada Senopati Adi Raka.


Senopati Adi Raka memberi salam pada ayahku. Sambil menjabat tangannya. Ayahku tak membalas jabatan itu.


"Tunggu! seru ayahku. "Aku sepertinya pernah melihatmu. Bukankah kau yang waktu itu ada di Hotel Samudra mencari Feby."


Senopati mencoba mengingat kejadian itu. "Saya kira waktu itu Feby sedang dalam masalah. Ternyata itu ayahnya sendiri. Maafkanlah kelancangan saya," ujar Senopati Adi Raka.


"Feby kamu sudah bertunangan dengan Tampan Menawan, kenapa lancang sekali membawa tamu laki-laki kesini," kata ayahku keras.


Mendengar pernyataan ayahku membuat wajah Senopati Adi Raka bersemu merah. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.


"Feby bukankah kau dan aku telah berjanji sehidup semati," kata Senopati Adi Raka padaku.


Aku hanya bisa menunduk tak bisa memberi jawaban apa-apa.


"Sekarang semuanya sudah jelas! Pergilah dari sini sebelum amarahku muncul," kata ayahku lagi.


"Aku mencintainya Ayah!" kataku pada ayahku.


"Aku juga sangat mencintai Feby Om," balas Senopati Adi Raka.

__ADS_1


Percuma ada cinta di hatimu untuk Feby. Dia sudah punya tunangan yang sangat tampan dan putra konglomerat! Sekarang pergilah sebelum aku memberikan pelajaran padamu," ancam ayahku.


"Tidak bisa Om. Feby milik saya. Kami sudah mengikat janji jauh-jauh hari di waktu lalu. Kami tak mungkin dipisahkan," kata Senopati Adi Raka.


"Apa kamu bilang!" Emosi ayahku sudha tak terbendung lagi. "Pak Trisno!! teriaknya.


Pak Trisno bergegas masuk ke dalam rumah. "Ada apa Tuan?"


"Usir pemuda konyol ini dari rumah saya," perintah ayahku pada Pak Trisno.


"Keluar!" Pak Trisno mendorong tubuh Senopati Adi Raka. Tubuh itu terjajar hingga beberapa meter dari tempatnya berdiri ke arah pintu.


Aku mengejar Senoapti Adi Raka, berdiri di sampingnya. "Jangan perlakukan tamu saya seperti ini Pak Trisno!"


"Minggir kamu Feby!" bentak ayahku.


Dalam suasana seperti itu Senopati Adi Raka malah menggenggam erat tanganku. Mencium keningku. "Tidak apa-apa sayang! tenanglah!"


Pak Trisno maju ke depan. Tanganya hendak mencengkeram kerah baju Senopati Adi Raka. Namun, kali ini Senopati Adi Raka menangkap tagan Pak Trisno sebelum berhasil memegang kerah baju itu. Kali ini Senopati Adi Raka yang menangkap tangan Pak Trisno mendorong tubuh sopir ayahku itu hingga terjajar beberapa langkah ke belakang.


Pak Trisno segera bangkit lagi dan hendak melayangkan tinju pada muka Senopati Adi Raka. Namun lelaki yang aku cintai itu berhasi mengelak. Sehingga yang ditunju oleh Pak Trisno hanya ruang kosong belaka. Perkelahian tak terelakan lagi antara Pak Trisno dengan Senoapti Adi Raka.


Pak Trisno yang jago ilmu bela diri memasang jurus-jurus silat melawan Senopati Adi Raka. Tak disangka Senopati Adi Raka mampu meladeni jurus-jurus silat Pak Trisno. Untuk sementara perkelahian pun imbang.


Pak Trisno yang tak menyangka Senopati akan melawannya dengan jurus silat. Ia dengan beringasnya mengeluarkan sebilah pisau dari dalam mobilnya. Sementara Senopati Adi Raka menanti dengan waspada.


Tiga jurus sudah dikeluarkan oleh Pak Trisno namun dia tak berhasil mencapai sasarannya Pisau itu tak sedikitpun menyentuh tubuh Senopati Adi Raka. Kini giliran Senopati Adi Raka yang menyerang Pak Trisno. Akhirnya pertarungan sengit itu terjadi.


Aku dan Ayahku hanya menyaksikan pertarungan itu dengan rasa khawatir. Hingga serangan ke tujuh belas yang dilancarkan oleh Senopati Adi Raka membuat Pak Trisno kewalahan. tak lama kemudian ia dipukul mundur oleh Senopati Adi Raka. Hingga pisau yang jadi senjatanya berhasil direbut oleh Senopati Adi Raka, dan pisau itu kini malah mengarah pada paha Pak Trisno.

__ADS_1


Sebelum pisau itu mengenai Pak Trisno. Aku berteriak. "Aa Senopati cukup!"


Senopati Adi Raka menghentikan serangannya yang bertubi pada Pak Trisno demi mendengar suaraku.


Pak Trisno menari nafas lega demi Senopati Adi Raka menghentikan seranganya.


Namun, aku sangat terkejut. Tiba-tiba ayahku mengancungkan pistol pada Senopati Adi Raka. Aku menghalangi ayah menembak Senopati Adi Raka.


"Jangan ayah!" seruku.


"Feby masuk!" kata ayahku garang padaku.


"Tidak. Ayah aku mohon turunkan pistolnya. Berbahaya!" teriakku pada ayahku. Sementara aku halangi tubuh Senopati Adi Raka dari hadangan pistol ayahku.Kini pistol itu mengarah tepat ke dadaku.


Ibuku yang sedari tadi diam saja menyaksikan keributan ini akhirnya mendekat ke arahku. Dia berteriak-teriak histeris melihat ayahku menodongkan pistol persis ke arahku. Dalam suasana panik seperti itu aku sarankan Senopati Adi Raka keluar dari ruang tamu ini.


"Aa lari!" ujarku.


Senopati Adi Raka tak ada pilihan lain melihat kondisi seperti ini. Ia akhirnya mundur ke luar ruangan. Ayahku berusaha mengejar. Aku dan ibuku menahan langkah ayahku agar tak keluar ruangan itu. Namun, ayahku yang terlanjur marah mendorong aku dan ibuku dengan beringasnya. Hingga kami terjajar beberapa langkah. Ibuku bahakan sampai jatuh di dekat kursi.


Di saat-saat genting seperti ini untunglah Senopati Adi Raka sudah berhasil menghidupkan mesin mobilnya yang di parkir di luar pagar rumah. Aku melihat ayahku terus saja mengejar mobil itu. Tak di sangka ayahku melepaskan tembakan pistolnya sebanyak dua kali. Tembakan pertama menyasar pada pagar rumah yang terbuat dari besi. Aku melihat di dinding itu meninggalkan jejak hitam dan peluru tertanam di sana. tembakan kedua berhasil menembus kaca depan mobil Senopati Adi Raka persis di bagian setir mobil. Aku tak tahu apakah Senopati Adi Raka terluak karena mobilnya tetap saja melaju. Dua kali tembakan tadi meletus dengan kerasnya.


Letusan pistol itu terdengar kemana-mana. Keriuhan yang terjadi mengundang dan menarik perhatian banyak orang. Para tetangga yang mendengar tembakan itu mulai berkumpul ingin mengetahu kejadian yang sebenarnya.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2