Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Sesuatu yang Ganjil


__ADS_3

Aku tak percaya di balik tubuh atletis dan sangat gagah itu tersembuyi wajah ngeri membuatku dan teman-teman sekelas ku bergidik. Aku yakin dia sangat tersiksa dengan wajah penuh jerawat tapi berbentuk agak ganjil dan aneh itu. Dari awal aku sudah menangkap bahwa dia lelaki yang penuh luka dan menyimpan seribu kecewa. Aku tak kuasa melihatnya meringis perih ketika teman-teman sekelas menyoraki nya tanpa ampun. Dalam sekejap wajahnya menyiratkan selaksa kepucatan, dia lebih banyak diam, mendengarkan suara cekikikan penuh ejekan. Aku sedikit memberinya senyuman tatkala dia menatapku. aku ingin memberinya semangat dengan mencoba melepas masker yang menutup wajah ku. Akupun menangkap perubahan besar di wajahnya, dia nampak senang.


Namun celakanya, sebuah ejekan datang tiba-tiba menimbulkan keriuhan. Semua teman sekelas seperti mencap nya berwajah seperti corona. Aku melihat segumpal  badai besar di sudut matanya. Hal ini membuat teman-teman sekelas semakin bergidik menatapnya lebih lama. Tak sampai semenit, dia roboh ke lantai.


Aku atas inisiatif sendiri melompat mendekati tubuhnya yang jatuh, aku mencoba membangunkannya. Namun sia-sia dia tetap diam. Bu Susi menyuruh beberapa teman laki-laki menggotong tubuhnya ke ruang UKS sekolah.


Aku sendirian menunggui Tampan di Ruang UKS, sementara teman-teman yang membantu menggotong tubuh Tampan telah berlalu, mereka mencoba menarik tanganku untuk kembali ke kelas. Namun, entah kekuatan apa yang membuat aku tetap ingin menunggui Tampan sampai siuman. Sementara Bu Susi sedang mengambil air dan bawang media atau alat untuk mencoba menyadarkan tubuh Tampan.


Aku menatap tubuh Tampan dari ujung kaki sampai ujung rambut, tak ada yang menakutkan di raga itu selain wajahnya yang penuh dengan jerawat-jerawat besar. Tubuhnya tinggi dan atletis menebar bau wangi yang menghinoptis kaum hawa, dadanya bidang, rambutnya tebal dan hitam. Dilihat dari ujung kaki sampai ujung kepala tampilan Tampan sangat bersih dan rapi.  Seandainya wajahnya tidak semengerikan dan menggidikan penuh nanah itu, aku yakin dia orang yang paling tampan di dunia ini sesuai dengan namanya.


"Tolong percikan air ini di wajahnya dan bawah putih ini ciumkan pada hidungnya," pinta Bu Susi yang tiba-tiba masuk.


"Baik Bu," kataku sembari mengambil secangkir air dan dua siung bawah putih dari tangan Bu Susi.


"Oh.. ya. Tadi Bi Ranum sudah disuruh bikin teh manis hangat, nanti berikan minuman pada Si Tampan!" perintah Bu Susi seraya berlalu.


Aku tak tahu harus bagaimana, memercikan air atau memciumkan bawang putih terlebih dahulu?


Akhirnya aku memutuskan untuk menciumkan bawang putih terlebih dahulu.


Bawang putih aku tempelkan di hidungnya, aroma nya yang tajam membuat Tampan bereaksi cepat dia perlahan bergerak hingga menggeser tanganku persis menyentuh kumis nya yang tipis.


Perlahan matanya yang terpejam membuka.Tangannya bergerak cepat menangkap tanganku yang tadi tak sengaja menempel di mulut kecilnya yang berkumis tipis.


Tak disangka dia juga merangkul ku dengan tangan kiri sementara tangan kanannya tetap memegang erat pegelangan tanganku.


Entah apa yang terjadi, Tampan memperhatikan belahan dadaku yang jelas terlihat olehnya karena posisi merunduk seperti ini. aku mencoba menarik sekuat tenaga, namun sia-sia...


Tangannya perlahan-lahan mengarahkan jemariku ke arah selangkangannya...


sesuatu yang ganjil terjadi.

__ADS_1


Aku berusaha lagi melepaskan tanganku dari genggamannya sebelum tangan itu sampai di bawah pusarnya, tapi tetap saja aku tak berkutik. Tampan sangat kuat, kekuatannya sebesar badannya. Hingga jemariku menyentuh sesuatu yang bergerak-gerak di balik celana Tampan. Aku baru kaki ini merasakan hal yang menjijikan ini, seumur


hidupku. Sesuatu yang bergerak itu makin menonjol ketika tanganku dielus-elus ke areanya yang sensitif itu.


Praaaaang!!!! Suara sebuah gelas jatuh.


Rupanya Bi Ranum telah muncul di balik pintu, dan menyaksikan kejadian itu. Tampan reflek melepaskan tanganku dan mendorong tubuhku hingga posisinya dudukku normal kembali. Aku menunduk malu sambil dengan muka merah padam. Sementara Tampan kembali rubuh seperti pingsan lagi.


Bi Ranum masih berdiri ternganga terpaku dengan keadaan tadi. Aku harus menyelamatkan kesalahpahaman ini. bahwa apa yang terjadi tidak seperti yang dilihat oleh Bi Ranum.


"Bi. Tadi si Tampan sudah mulai sadar, hendak dikasih teh manis bikinan bibi, tapi langsung pingsan lagi," kataku pada Bi Ranum.


"Maaf, gelasnya jatuh, tadi Bibi sempat lihat tikurs besar sekali melintas di depan Bibi." Jawab Bi Ranum.


Aku terkejut dengan jawaban itu, jadi bukan karena aksi tidak senonoh Tampan tadi gelas itu terjatuh.


Aku perlahan menarik nafas lega.


Sekarang aku harus pergi secepatnya dari sini, ternyata Si Tampan memang pantas berwajah buruk rupa sesuai dengan kebejatannya, bathinku dalam hati.


Sebelum aku melangkah keluar Bi Ranum muncul kembali di ambang pintu. Bergegas Bi Ranum meletakkan secangkir teh hangat di samping Tampan yang menyebalkan itu yang menurutku pura-pura pingsan.


"Bi. Aku mau ke kelas dulu, Bibi di sini jaga Tampan sampai sadar," Kataku pada Bi Ranum.


Wanita paruh baya itu mengernyitkan kening nya, pertanda enggan menuruti kataku.


"Jangan, Neng. Saya mah takut, wajahnya sangar," bisik Bi Ranum ke telingaku.


Aku memandang wajah Tampan, menggidikan dan bejat, aku harus segera berlalu, aku tak ingin kejadian tadi sampai terulang kedua kalinya. Kesialan yang tak pernah ku duga.


"Maaf ya Bi, saya harus ke kelas, Bibi jaga sebentar saja, nanti ada yang gantiin." kataku.

__ADS_1


"Ya sudah deh, Neng buruan ya," kata Bibi Ranum dengan nada pasrah.


Meninggalkan ruang UKS, aku harus melewati ruang guru terlebih dahulu. Namun, langkahku sedikit terhenti dengan suara perempuan yang penuh kemarahan. Aku memperhatikan perempuan itu sekilas, seorang ibu-ibu dengan gaya sosialita, barangkali orang tua siswa. Ternyata dia mengumbar kemarahan pada Bu Susi guru bahasa Indonesia. Ada apa?


Aku mencoba menangkap kata-kata lantang yang dilontarkan pada Bu Susi yang hanya terdiam tak berkutik.


"Apa yang Ibu telah lakukan pada anak saya, Tampan sampai pingsan,,, hahhh!!!!" Bentak wanita sosialita itu garang.


Bu Susi masih terdiam....


"Sekarang tunjukan dimana anak saya!!!" bentak ibu itu lagi.


Jadi dia ibunya Si Tampan, aku mengangkat bahu dan segera berlalu...


Namun suara panggilan Bu Susi mengagetkan ku.


"Feby. Antar Ibu ini ke ruang UKS!"


Aku hanya terpana mendengar perintah Bu Susi. Aku kembali membayangkan perlakuan tak senonoh dari anaknya Tampan. Andai saja Tampan itu orangnya polos dan tidak mesum seperti perlakuannya padaku tadi, tentu dengan sangat bangga aku mengantar ibunya.


Aku menatap wajah Bu Susi yang penuh harap agar aku mengantar Ibunya Si Tampan ke ruang UKS.


Aku tak tega menolak perintah itu, toh tak ada salahnya aku mengantar ibu itu ke ruang UKS.


"Ayo Bu, ikut aku!"


 


 


Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2