Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Dihadang di Jalanan


__ADS_3

Semacam ada mantra yang terkandung dalam setiap kalimat puisi yang diucapkannya di depan ratusan jurnalis dan pemburu berita. Sejenak aku terkesima dengan kata-kata yang diucapkannya dan aku seperti hanyut dan tenggelam dalam bait puisi yang disambut tepuk riuh rendah wartawan. Ketika dia memberi bunga-bunga yang indah dan boneka putih selembut awan dari Jepang entah kenapa serasa ada getar-getar asmara yang bersarang di lubuk hatiku yang paling dalam. Aku awalnya terkejut karena boneka itu menyerupai boneka yang hilang di waktu aku kecil. Kebencianku padanya seketika sirna begitu boneka itu mampir di tanganku. Ditambah lagi bunga-bunga indah itu semuanya dipersembahkan untukku.


Akupun menorehkan senyuman pertamaku padanya. Terus terang saja wajahnya yang sangat tampan dan begitu mempesona mampu mengusir bayangan Senopati Adi Raka di benakku.


Saat ini aku bersama ayah dan ibuku serta pak Trisno sedang menuju ke rumah. Boneka itu aku pangku di dadaku dan bunga-bunga itu aku cium berulang kali. Hingga aku tak sadar di sebuah tempat mobil yang kami tumpangi dihadang oleh sekelompok orang bertopeng.


Pak Trisno menghentikan mobil yang kami tumpangi, lalu dia menghadapi sekitar sepuluh orang yang wajahnya tertutup sempurna oleh topeng.


"Apa mau kalian!!!" bentak Pak Trisno garang pada mereka.


Namun tanpa menjawab apa-apa mereka langsung mengeroyok Pak Trisno. Perkelahian satu lawan sepuluhpun terjadi dalam sekejap. Pak Trisno yang jago ilmu beladari bagaimana pun hebatnya tetap terdesak dengan jumlah mereka yang banyak.


Ibuku hanya bisa menjerit ketakutan melihat Pak Trisno dapat serangan telak dari ke sepuluh orang itu. Sementara ayahku dari tadi sibuk menelepon polisi. Selesai berbicara panjang lebar dengan pengaduannya pada polisi ayahku turun dari mobil dan menghadangkan pistolnya pada ke sepuluh orang yang tak dikenal tersebut.


Kesepuluh orang itu bukannya takut melihat pistol ayahku mereka malah langsung menyerang ayahku tanpa didahului oleh kata-kata sepatahpun.


"Pergi kalian semuanya. Atau mati!" ayahku memberi pilihan.


Mereka tak bergeming sedikitpun dengan tetap maju mengepung ayahku. Dalam jarak beberapa langkah lagi menuju ayahku. Tak ada pilihan lain ayahku menembakan pistolnya ke udara memberi peringatan.

__ADS_1


Ke sepuluh orang itu tertegun dengan bunyi pistol yang meletus dahsyat. Namun hanya sesaat saja mereka telah menyerang ayahku.


"Dooor!" sebuah letusan peluru berbunyi kembali. Ternyata ayahku telah memuntahkan pelurunya pada salah seorang yang terdekat ke arah ayahku. Orang tersebut jatuh ke tanah darah bercucuran keluar dari kakinya yangh tertembak.


Sembilan orang masih tersisa tetap menyerang ayahku. Hyaatt!!! sebuah tendangan mengarah pada perut ayahku. Namun ia berhasil menghindarinya. Dengan pistol di tangannya dia memukul orang tersebut di bagian telinga, lalu menembak kakinya dengan peluru. Dua orang berhasil dilumpuhkan oleh ayahku  dengan pistol di tangannya. Orang kedua yang kena tembakan langsung tak berdaya dan terjerembab ke tanah.


Kini masih delapan orang tersisa. Empat orang langsung menyerang ayahku dengan pukulan dan tendangan. Ayahku kembali menembaki mereka, kali ini ayahku tidak lagi menembak bagian kaki. Kondisi yang tak beraturan membuatnya menembak bagian pinggang salah satu di antaranya hingga tergelepar tak bergerak sedikitpun.


Namun, malang nian nasib ayahku sebuah tendangan dari belakang membuatnya tersungkur. Namun ia cepat membalikkan badannya. Satu orang menendang perutnya hingga ayahku mengerang kesakitan. Dalam kesempatan itu ayahku masih melepas tembakan pistolnya, dan sayangnya tidak tepat sasaran karena mengarah ke udara atau ruang hampa.


Kini tendangan dan hantaman mengarah dengan cepat ke seluruh tubuh ayahku. Dalam kondisi terdesak seperti itu ayahku tak mampu lagi melepaskan tembakan dari pistolnya. Hanya saja ayahku masih bisa mengenggam pistol seerat-eratnya dan mempertahankannya agar tak jatuh ke tangan mereka.


"Lari. Selamatkan Ibumu!" ayahku berteriak ke arahku.


Di saat yang bersamaan sirene mobil polisi terdengar dari kejauhan. Orang-orang yang bertopeng itu terperanjat ketika mobil-mobil polisi itu mendekati. Empat orang tiba-tiba berlari ke arahku, aku tak sempat menghindar dari tangkapan para penghadang itu. Namun aku masih sempat memberi tendangan dan pukulan yang membuat keempat orang itu meringis kesakitan. Anehnya mereka tak memukuliku, mereka hanya mengunci seluruh tubuhku dengan tangan-tangan mereka sehingga aku tak bisa bergerak. Aku hanya bisa berteriak kencang ke arah polisi yang sudah sudah hampir sampai. Celakanya aku berhasil dimasukan ke dalam mobil mereka. Sementara tiga orang lainnya telah pula membereskan dua orang temannya yang tertembak di bagian kaki. Namun tak sempat mengangkat satu yang tertembak hingga diam tak bergerak.


Ke semuanya telah masuk ke dalam mobil. Aku dan empat orang masuk ke dalam mobil mini bus dan satu mini bus lainnya memuat dua orang  temannya yang terluka dan tiga lainnya.


 Dalam kondisi cemas seperti ini dalam mobil yang melaju kencang aku masih sempat melihat ayahku yang terluka diselamatkan oleh polisi dan menggotong satu orang yang tertembak hingga diam tak bergerak. Sementara ibuku mencoba mengejar ke arah mobil yang membawaku dengan disertai teriakan histeris. Beberapa polisi masih sempat memburu ke arah mobil yang membawaku. Namun, jarak yang terlalu jauh hingga polisi kehilangan jejak.

__ADS_1


                                                                            ***


Aku hanya bisa menahan perih dan duka mendalam manakala mendapat kabar dari keluarga Feby Romansa bahwa tunanganku diculik sepulang menggelar acara jumpa pers di kediaman orang tuaku. Ibunya sampai kini tak sadarkan diri sementara ayahnya masuk rumah sakit setelah bergumul dengan orang-orang yang menghadang mereka dalam perjalanan pulang. Aku tak bisa memastikan apakah ini perampokan atau penculikan. Apakah keluarga itu punya musuh besar atau semua ini ada kaitannya dengan jumpa pers yang aku gelar. Atau ada orang lain yang hendak minta tebusan dengan menculik Feby Romansa pada kami yang terkait.


"Apa yang harus aku perbuat, Bu!" kataku pada ibuku.


"Kamu harus banyak berdoa pada yang maha kuasa dan iklas menjalani semua ini. Biarlah polisi yang berkerja untuk memberantas mereka" jawab ibuku.


"Tapi Feby itu tunanganku ibu. Aku tak tentram jika harus membiarkan dia diculik tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku begitu mencintainya. Aku harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkannya, kalau tidak aku bisa mati berdiri jika menunggu dia dalam kondisi seperti ini" kataku pada ibuku.


"Ini adalah cobaan Tampan. Ini di luar kendali kita. Kamu harus ingat. Cobaan sebesar apapun harus kamu lewati dengan iklas agar wajahmu tak kembali muncul jerawat kutukan," kata ibuku.


"Ini sudah lebih dari iklas ibu. Aku rela melakukan apapun agar Feby bisa selamat, dia itu calon istriku!"


"Kalau begitu ikut Ibu ke sebuah ruang rahasia di rumah ini!" kata ibuku sambil membalikakn badannya.


Akupun mengikuti langkah cepat ibuku.


 

__ADS_1


 


__ADS_2