
Malam ini aku teringat lagi akan Senopati Adi Raka. Aku mengkhawatirkan keadaanya sekarang ini. Semenjak kami berpisah di rumah sakit beberapa waktu lalu hingga kini belum ada jua kabar dari lelaki yang aku sangat cintai tersebut. Apakah yang terjadi padanya?
Tiba-tiba terlintas di benakku. Apakah Senopati Adi Raka sedang marah padaku. Permintaannya untuk mengantarnya sampai pulang yang tak bisa terpenuhi olehku karena keadaan. Atau ada hal lain yang membuatnya tiba-tiba menjauhiku. Eyang Jiwo yang memiliki kesaktian tinggi itu memang telah mengetahui tentang diriku yang telah bertunangan dengan seorang lelaki. Tapi apa mungkin rahasia ini disampaikan pada orang tua Senopati Adi Raka. Bisa kacau misiku bersuamikan seorang lelaki yang aku cari. Tapi bukankah Eyang jiwo telah memberi pengobatan mistis bernama persembahan cinta jiwo. Walaupun tidak mencapai titik yang sempurna bukankah itu semua akan mengakibatkan cinta kami akan selalu ada satu sama lain, untuk selamanya.
Seumpama Senopati Adi Raka sudah mengetahui bagaimana keadaan aku yang sebenarnya, apa kira-kira yang akan terjadi padanya. Apakah dia akan marah besar padaku karena telah membohonginya. Apa tidak sebaiknya aku tetap berterus terang padanya tentang kondisi yang menimpaku.
Karena suatu saat dia pasti akan tahu sendiri apa sesungguhnya yang terjadi. Terlebih esok hari aku harus menghadiri jumpa pers di banyak media nasional bersama Tampan Menawan serta kedua belah pihak keluarga kami yang terlibat. Pasti ini akan mengungkap jua tabir yang sebenarnya. Tapi tidak! Aku akan menyimpan rahasia ini sampai tiba saatnya nanti. Besok aku akan memakai jilbab serta masker yang berfungsi sebagai cadar sehingga siapapun pasti tidak akan mengenalku.Tidak akan aku pakai gaun mahal yang sudah disediakan ibuku. Biarlah aku memakai baju muslimah yang mampu membuat banyak hal yang buruk menjadi lebih baik.
Tiba-tiba Bi Ratna masuk kamarku. Tentu ada hal yang sangat penting yang ia sampaikan padaku.
"Neng. Ada Senopati Adi Raka di ruang tamu," ucap Bi Ratna.
Tak disangka-sangka kalimat itu terlontar dari mulut Bi Ratna padaku. Untunglah orang tuaku tidak ada di rumah kalau ada urusan bisa jadi kapiran. Darimana Senopati Adi Raka tahu alamat rumah ini? Kebetulan hari ini aku tidak dikawal oleh dua orang polisi wanita lagi. Karena keduanya sedang cuti tiba-tiba jadi bertugas seperti yang diharapkan ayahku. Sementara ayahku yang sudah terlanjur berangkat tak sempat mencari petugas lain untuk menjagaku. Jadilah di rumah hanya ada para asisten rumah tangga saja.
Aku segera menuju ruang tamu rumah ini dan aku dapati Senopati Adi Raka duduk di kursi.
"Aa Senopati!' aku memeluk erat tubuh kekar itu. Rindu yang terpendam begitu dalam seolah-olah sudah ribuan hari kami berpisah. Senopati Adi Raka mengecup keningku dengan sangat mesra. Dalam waktu sekejap kami seakan-akan merasakan nikmatnya melepas rindu.
__ADS_1
"Aku semenjak itu terus saja menelusuri setiap kota mencari alamat rumahmu. Di sebuah buku milik perusahaan Telkom aku ketahui rumah ini atas nama orang tuamu. Akhirnya aku malam ini menemukan rumahmu juga," kata Senopati Adi Raka.
Ingin rasanya aku terbang bersama Senopati Adi Raka dari rumah ini. Sebelum ayah dan ibuku pulang malam ini. Tapi apa katanya nanti bila aku meminta hal yang demikian. Aku urungkan niat tersebut. Aku hanya bisa memasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa.Sesuatu yang terjadi tak boleh dibuat-buat biarlah mengalir apa adanya. Seandainya ayah atau ibuku pulang saat ini juga kau hanya bisa pasrah saja. Bukankah itu yang dinamakan cinta. Tak bisa dipisahkan satu sama lain. Seperti api yang tak akan pernah terpisah dari baranya.
"Kedatangan Aa Senopati sudah lama aku tunggu di rumah ini. Tapi karena kondisi dan keadaan yang memaksa kita berdua dalam kondisi yang tidak normal." ujarku.
"Ini hanya suprise aja buatmu kekasihku," jawab Senopati Adi Raka. "Aku sengaja tak memberi kabar lewat email terbebih dahulu agar kamu tahu betapa besar rasa rindu ini."
Sebenarnya aku yang salah selama ini menyembunyikan semua ini dari Senopati Adi Raka. Sekian lama menjalin hubungan asmara dengannya tak pernah sekalipun aku memberikan alamat rumah ini. Semua karena terganjal dengan orang tuaku dan pertalian dengan Tampan Menawan.
Senopati Adi Raka meminum air putih alkali yang disajikan Bi Ratna. Dia lalu mulai bercerita tentang peristiwa bermula ia jatuh sakit waktu itu.
"Pagi harinya setelah peristiwa malam Aa aku mulai menggigil tak karuan. Aa Seno berpikir itu pasti karena efek kelelahan malam itu," tutur Senopati memulai ceritanya. Akupun mendengarnya dengan seksama.
Senopati Adi Raka menceritakan bagaimana malam kejadian itu perasaannya tak menentu. Ia mengira Aku disekap oleh penjahat padahal itu yang melakukannya kedua orang tuaku sendiri yang memaksa aku pulang dari pelarian malam itu. Pelarian untuk menemui Senopati Adi Raka sendiri.
Dalam perasaan tak menentu itu ia terus mengikuti rombongan ayah dan ibukuku. Menuruni lift dan segera ke parkiran Parkiran Hotel Samudra. Di parkiran ia masih sempat melihat arah laju mobil yang dikemudikan Pak Trisno. Hingga sebuah kecelakaan kecil mengaburkan jejak mobil dimana ada aku dan kedua orang tuaku beserta romobongannya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana mobil yang Aa serempet itu," tanyaku.
"Aa Seno minta maaf padanya. Lalu meninggalkan kartu nama dan menyelesaiakan masalah itu secara baik-baik di rumah, saat itu juga masalahnya selesai."
"Syukurlah," jawabku.
Senopati Adi Raka rupanya melanjutkan pengejaran meski sudah kehilangan jejak mobil yang dikendarai Pak Trisno. Ia memburu jalanan yang sama dan memilih salah satu persimpangan bila menemukannya. Sehingga lama sekali berputar-putar tak tentu arah hingga pukul tiga pagi. Jam lima baru ia tiba di rumah dalam kondisi tubuh dan psikis yang sangat kelelahan. Pagi harinya Senopati sempat tak sadarkan diri hingga langsung di bawa ke rumah sakit. Di rumah sakit kondisinya tak menentu kadang ia sadarkan diri kadang kala ia p[ingsan kembali. Namun dalam masa itu Senopati Adi Raka masih sempat mengirimkan email mengabarkan kondisinya.
Di rumah sakit dokter tak mengetahui sakit yang diderita oleh Senopati Adi Raka, mereka hanya mengira itu tipes. Padalah selain kondisi fisik Senopati Adi Raka yang kelelahan ada lagi kondisi jiwa yang tak bia sembuh tanpa kehadiranku di sisinya. Dalam kondisi kritis itu aku datang ke tempat Senopati Adi Raka dirawat. Ia pun tersadar. Hingga menjalani pengobatan kebathinan oleh Eyang Jiwo.
__ADS_1