Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Perjodohan yang Tak Disangka-sangka


__ADS_3

Malam yang tidak terlalu gelap. Di atas langit bulan purnama nampak bersinar dengan kelembutannya yang gemulai. Kecantikan rembulan malam itu semakin sempurna tatkala kerlipan bintang-bintang yang begitu memukau di sampingnya. Serupa seorang putri yang di kelilingi dayang-dayang yang menari dengan penuh pesona. Jadilah bulan seumpama seorang putri jadi pusat perhatian seluruh jagat raya.


Aku memperhatikan keindahan malam ini tanpa kedipan, sungguh sebuah pesona alam yang tak bisa diuntai kata.Serupa dengan cintaku pada Senopati Adi Raka yang semakin merekah, kita berdua tensu satu perasaan, sama-sama jatuh cinta, sama-sama menikmati malam dan sama-sama menikmati indahnya purnama.


Tuhan telah mepertemukan aku dengan Senopati Adi Raka, sosok lelaki ideal yang aku damba-dambakan selama ini. Tiada lelaki yang seelok dia, tutur katanya yang lembut ramah berwibawa, ketampanannya yang tak terbantahkan, tiada cacat cela yang terlihat, dan berasal dari keluarga terpandang, pesonanya mampu menembus hati ini dalam sekejap. Inilah yang  membuat aku seperti dianugrahi cinta yang maha sempurna. Terimakasih Tuhan.


"Feby!"


Ada suara ibuku yang memanggil. Aku melepaskan pandanganku dari pesona langit, dan mendekat ke arah pintu kamar.


"Ya. Bu!" kataku setelah membuka pintu.


"Ayah dan ibumu mau bicara, mari kamu turun ke lantai bawah," ajak ibuku.


Aku agak terkesiap mendengar ajakan ibu, jarang sekali ayah mengajakku untuk berbicara. Aku teringat akan acara yang diadakan di rumah beberapa hari lalu, aku lebih memilih pergi waktu itu menemui Senopati Adi Raka ketimbang harus mengikuti acara yang katanya penting untukku.


Aku memandang pada ibu, ibu membalas tatapanku dengan penuh keseriusan.Melihat keseriusan ibu aku segera mengikuti langkahnya menuju lantai bawah.Barangkali saja mereka berdua ingin menyampaikan tentang dikeluarkannya aku dari sekolah.


Ayah sudah menantiku di ruang tengah, duduk dengan menghisap sebatang rokok yang hampir menyisakan puntungnya. Begitu aku mendekat, rokok itu segera dimatikan, dan asap terakhir dari rokok yang padam masih menyisakan aromanya yang tajam menyakitkan hidungku.


"Duduk!" kata ayahku saat aku takut untuk terlalu dekat karena bau asap itu.Bukankah asap dari perokok seperti itu lebih mematikan orang-orang di sekitarnya dibanding penghisapnya sendiri.


"Aku duduk di sini saja ayah, alergi dengan asap rokok dan aromanya," aku duduk bersila di lantai sejarak dua meter dari kursi tempat ayahku duduk.


Mendengar penuturanku, ibuku segera mengasingkan asbak rokok yang ada di meja, lalu membujukku segera duduk di kursi.


"Ayolah Feby, ayahmu ingin menyampaikan sesuatu hal yang sangat penting," ibuku membimbingku ke kursi dan aku duduk di hadapan ayah.


"Feby. Karena kamu waktu itu lebih memilih pergi dari rumah, jadi apa yang terjadi di rumah belum kamu ketahui," ayahku memulai ucapannya.


"Iya, nak. Ini penting diputuskan untuk masa depan kita semua," sambung ibuku.


"Kamu harus siap dengan keputusan ayahmu ini dan mematuhinya," kata ayahku lagi.


"Keputusan apa itu ayah?"


"Kami memutuskan akan menikahkan kamu secepatnya!" kata ayahku tegas.

__ADS_1


"Menikaaah!!"pekikku terkejut.


"Iya. Itulah yang kami bicarakan beberapa hari yang lalu saat kamu tak di rumah," kata ibuku.


Aku menggigit bibirku, mencoba berharap ini mimpi belaka, namun semuanya benar-benar terasa perih pertanda ini nyata. Aku merasakan sekujur tubuhku terasa berkeringat dingin mendengar kabar ini. Serupa kobaran nyala api yang hawanya sangat panas dan aku merasakan tubuhku bergetar menahan amarah.Namun, aku menyadari setiap keputusan ayah di tengah-tengah keluarga ini tak dapat ditentang, ia seperti seorang diktator yang tak akan mau disanggah keinginannya.


"Aku tidak percaya, ayah," kataku memberanikan diri.


"Kenapa kamu tidak percaya, lelaki yang akan menjadi calon imam kamu itu sudah ada!" ayahku mulai membentak garang.


Aku memandang ibuku, memeluknya lalu mulai menumpahkan air mata.


"Lelaki itu Tampan Menawan, teman sekolahmu," ibuku memberitahu.


"Tidaakk, Bu,!!! Aku tidak mau," aku mulai meronta di pelukan ibumu.


"Lepaskan pelukan itu," bentak ayahku.


Ibuku melepas rangkulannya mendengar bentakan ayah. kemudian aku hanya bisa sesenggukan menanti titah raja yang kejam di tengah-tengah keluarga ini selanjutnya, ayahku sendiri.


"Orang-orang di luar sana telah menganggap kamu korban pemerkosaan, Tampan Menawan. Tak ada jalan lain untuk menutupi aib keluarga mereka dan keluarga kita selain kalian berdua harus menikah," kata ayahku lagi.


"Plak!" sebuah tamparan kecil mendarat di pipiku. Walau tamparan itu ringan namun cukup mengejutkanku. Ini kali pertama ayahku menamparku. Selama ini kalau memarahiku paling dengan bentakan keras, kediktatoran ayahku atasku semakin sempurna dengan tambahan tamparan ini. Ibuku juga tak dapat berbuat apa-apa karena takut dengan ayahku.


"Kamu jangan membantah perintah ayahmu. Kamu mau mempermalukan orang tuamu pada mereka. Ayahmu ini bisa masuk penjara jika kamu tidak mau menerima perjodohan ini. Uang mereka telah triliunan rupiah masuk ke rekening perusahaan kita, kurang apalagi kebaikan keluarga mereka pada kita, Hahh!" kata ayahku lagi dengan amarahnya yang berapi-api.


"Tak ada jalan lain, Feby. Ikuti saja perintah ayahmu. Kamu juga sudah dikeluarkan dari sekolah karena kasus itu bukan. Jadi kamu tak ada kegiatan lain selain sebentar lagi mengurus rumah tangga," kata ibuku seraya megusap-usap punggungku.


"Saya masih ingin sekolah Bu,"


"Kamu bisa sekolah lagi, ambil paket C, secepatnya ibu akan urus semuanya, ya," kata ibuku meyakinkanku.


"Nanti kamu juga bisa kuliah, setelah menikah," lanjut ibuku lagi.


Aku semakin bercucuran air mata mendengar ucapan ibu, lalu berkata-kata ju."Bukan sekolah yang seperti itu yang aku inginkan, bu. Aku ingin sekolah selayaknya yang lain. Aku menikah bisa dengan orang yang aku pilih."


"Jadi kamu belum mau menuruti keinginan saya," tiba-tiba ayah membentak lagi.

__ADS_1


Aku menggeleng sambil terus menangis.


Aku merasakan ayahku naik pitam dengan jawabanku. dia bergegas entah kemana, ibuku memandangi ayah cemas. Entah apa yang akan dilakukannya. Rupanya ayah kembali dengan kunci gudang di tangannya.


"Mas. Apa yang hendak kamu lakukan," tanya ibuku.


"Dia harus dikurung di gudang bawah tanah rumah ini, sampai dia tunduk sama perintah saya," jawab ayahku.


"Jangan Mas," cegah ibuku.


"Tidak ada pilihan lain," jawab ayahku ketus.


"Sekali lagi saya tanya, sama kamu, kamu mau menyelamatkan keluarga kita dan masa depan kita dengan menikah dalam waktu dekat ini,"


aku tak bisa menjawab, entah mengapa mulutku serasa terkunci, aku jadi teringat pada Senopati Adi Raka, kalau aku terima semua ini, bagaimana dengan perasaannya.


'Ayo jawab! Kalau tidak malam ini kamu akan tidur di gudang bawah tanah," bentak ayahku lagi.


Aku tak tahu harus bagaimana, Tuhan tolong aku dari semua ketidak berdayaanku ini


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


bersambung....


__ADS_2