Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Jiwa dan Raga yang Terbuat Dari Cinta


__ADS_3

Dari pembicaraan ibunya Senopati Adi Raka tersirat bahwa kedua orang tuanya ini belum mengetahui insiden yang terjadi di Hotel Samudra. Barangkali saja Senopati terlanjur jatuh sakit sebelum sempat menceritakan semua itu pada ibu dan ayahnya.


Kupandangi lagi tubuh Senopati Adi Raka yang terbaring lemah tak sadarkan diri di hadapanku. Matanya masih terpejam, tubuhnya tak bergerak seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Namun, kenapa selang infus tidak dipasang di tubuhnya. Aku juga tidak tahu kenapa dokter yang menanganinya tak memasang alat-alat bantu kesehatan di seluruh tubuhnya.


"Aa Senopati dalam keadaan tak sadarkan diri, kenapa tidak dipasang infus di mulutnya oleh perawat, Bu," kutanyakan pertanyaan yang mengganjal itu pada ibunya.


"Tadi sebelum pingsan seperti ini, Senopati berpesan agar saat engkau datang, seluruh alat kesehatan yang terpasang di tubuhnya dilepaskan dahulu," jawab ibunya.


Tiba-tiba ayah Senopati bangkit dari tempat duduknya lalu mendekat ke arahku. Ayah Senopati seperti hendak menyampaikan sesuatu padaku. Lama aku menunggu dia berbicara tapi masih tetap diam seribu bahasa. Seolah-olah ada perasaan yang mengganjal dan berat di hatinya menyampaikan sesuatu tersebut.


"Sebentar lagi seseorang yang kami percaya di kampung sebagai orang yang ahli di bidang pengobatan kebhatinan akan datang ke sini," akhirnya suara itu keluar juga dari mulut ayah Senopati Adi Raka.


Anggukan dari ibunya Senopati juga sebagai isyarat memperkuat pernyataan ayahnya. "Dia yang tahu luka Senopati yang sebenarnya. Dokter juga bingung dengan penyakit yang sedang didera Senopati."


Aku hanya terdiam saja mendengar ucapan-ucapan kedua orang tua dari Senopati Adi Raka.


"Bisikkan pada Senopati bahwa kamu ada di sini Feby, barangkali dengan usaha itu dia akan terjaga dari pingsannya,' kata ayah Senopati Adi Raka.

__ADS_1


Aku ikuti saran dari ayah Senopati Adi Raka. Aku gengggam dengan sangat lembut jemari kanan Senopati. Llau aku dekatkan kepalaku di dadanya. Aku bisa mendengar detak jantung Senopati. Detak jantung itu terasa kuat dan makin lama makin berdetak dengan cepatnya. Kemudian aku tatap wajahnya yang sangat berwibawa tapi rupawan itu, lalu aku berbisik dengan sangat perlahan: "Aa Senopati, sadarlah aku bersamamu saat ini. Cintaku belahan jiwaku."


Ucapan itu sangat pelan kugaungkan di rumpun telinga Senopati Adi Raka, sebenarnya aku malu kalau kedua orang tuanya mendengar. Tapi pada kondisi saat ini kukesampingkan rasa malu itu teramat jauh. Tak ada reaksi apa-apa dari Senopati Adi Raka atas bisikan itu. Dia tetap diam tak bergerak.


"Cobalah sekali lagi, Feby," ibunya Senopati tiba-tiba menyemangatiku lagi.


Aku usap-usap dada Senopati Adi Raka berulangkali. Lalu aku panggil namanya dengan sangat mesra berulang kali.Sampai mulutku kelelahan memanggil nama Senopati Adi Raka.  Sampai-sampai jemarinya kulihat mulai bergerak-gerak secara perlahan. Senopati pun membuka matanya. Dia menatap aku untuk pertama kalinya. Aku sambut mata yang telah membuka itu dengan senyuman.


Melihat Senopati Adi Raka tersadar ayah dan ibunya langsung berdiri mendekati posisi kepala Senopati Adi Raka. Keduanya pun mengucapkan syukur yang tiada tara.


Senopati meraih jemariku. Mencoba untuk duduk. Ayahnya berusaha membantunya untuk duduk. Senopati lalu mendekapku dengan sangat erat. Kami berdua saling melepaskan rindu yang terpendam selama ini.


"Aa Senopati. Aku selalu merindukanmu," balasku.


Tak lama kami melepaskan rindu. Tiba-tiba dua orang masuk ke kamar rumah sakit ini. Seorang lelaki tua yang dibantu berjalan dengan tongkat. Di sisi kiri dan kanannya nampak dua orang mengiringi laki-laki tua tersebut. Aku memperhatikan lelaki tua itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dari caranya berpakaian aku menangkap nuansa gaya berpakaian orang-orang jaman dahulu di film-film kerajaan maupun film laga. Di lehernya menggelantung kalung bergambar hati manusia. Begitu juga di tangannya. Namun, entah kenapa semua ini tidak begitu menakutkan. Aku menganggapnya biasa saja.


Ayah Senopati menyalami orang tua itu penuh takjub, disusul ibunya. Barangkali itu orang yang dimaksud oleh ayahnya tadi: seseorang yang ahli di bidang kebathinan.

__ADS_1


"Aku tak bisa lama-lama di sini. AKu harus segera memeriksa bhatin Senopati Adi Raka," katanya pada ayah Senopati Adi Raka.


"Aku memohon mempersilahkan pada Eyang Jiwo dengan sangat hormat," jawab Ayah Senopati Adi Raka.


Jadinya namanya Eyang Jiwo. Aku kembali menatap orang yang dipanggil Eyang Jiwo tersebut. Bila memandanginya aku seolah-olah menatap orang yang ada di jaman ribuan tahun yang silam. Begitu kuno tapi tidak membuat orang yang baru melihatnya ketakutan. sementara dua orang yang mendampinginya berpenamilan biasa saja selayaknya orang jaman sekarang, hanya saja keduanya membawa benda-benda aneh yang juga berasal dari jaman masa silam. Benda yang tak pernah aku lihat di jaman ini. Aku yakin kedua orang ini adalah kaki tangannya Eyang Jiwo dan benda aneh yang dibawa keduanya merupakan milik eyang Jiwo.


Eyang Jiwo menatap ke arah Senopati Adi Raka. Tatapan yang aku lihat semakin kuat bersamaa dengan komat-kamit yang tak kunjung berhenti dari mulutnya. Komat-kamit itu semakin lama semakin cepat. Hingga membuat Senopati Adi Raka terpejam dalam duduknya. Entah kenapa ia terpejam seperti itu? apakah efek komat kamit atau bacaan mantra dari Eyang Jiwo. Sampai-sampai keringat bercucuran dari seluruh wajah Senopati Adi Raka, tanganya juga kulihat bercucuran keringat. Eyang Jiwo mengehntikan mulutnya berkomat-kamit, matanya kini juga terpejam. Dia membuat gerakan seperti bertapa dengan sebelah tangan kananya yang di silangkan di depan hidungnya. Tiba-tiba pejaman mata itu membuka kembali dan menatap ke arah Senopati Adi Raka. Aenhnya tubuh Senopati Adi Raka tiba-tiba terkulai lemas dan tak sadarkan diri.


Eyang Jiwo mendekati Senopati Adi Raka, lalu membaca sesuatu dan mengusap-usap wajah dan tubuh Senopati Adi Raka. Tubuh itu pun siuuman kembali.


Selanjutnya Eyang Jiwo menatapku tiba-tiba. Aku melihat dia juga berkomat-kamit kepadaku sebagaimana ia melakukan pada Senopati Adi Raka. Mata itu entah mengapa seperti membawa aku masuk ke dalamnya. Tiba-tiba saja orang yang berada di hadapanku bukan lagi Eyang jiwo, tapi tak lain Senopati Adi Raka.


Tatapan mata Senopati Adi Raka sangat memberikan kesejukan dan keteduhan di dalam jiwa dan ragaku. Aku seperti merasakan seluruh jiwa dan raga Senopati Adi Raka terbuat dari cinta yang dipersembahkan untukku. Akupun merasakan hak yang serupa, jiwa dan ragaku terbuat dari cinta untuk Senpati Adi Raka. Ketenangan dan kesenangan, kesejukan, kemesraan yang teramat indah itulah perasaan yang aku rasakan sat ini, hingga tak terlukiskan lagi dengan kata-kata.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2