
Di ruang BK itu kami semua ada berenam orang, Aku, Ibu ku, Bi Ranum, Feby beserta seorang wanita yang belum ku kenal dan guru BK. Suasana masih diam beberapa saat, tak ada seorang pun yang berbicara. Aku juga tak tahu entah siapa yang akan memulai membuka pembicaraan ini. Tentunya dari pihak sekolah antara guru BK atau Walas.
“Mohon maaf sebelumnya, pihak sekolah telah mempertemukan kedua belak pihak. Pihak pertama di dari keluarga Feby Romansa Pihak Ke dua Tampan Menawan, dengan suatu maksud menjernihkan sebuah perkara,” akhirnya guru BK memulai pembicaraan.
Aku hanya tertegun mendengar kata-kata itu, perkara apa yang dimaksud? Dan perkara itu terjadi antara
aku dan Feby yang harus diselesaikan dengan kedua belah pihak keluarga . Aku tatap mata Feby sekilas, mata itu masihkah menyimpan selaksa kebencian padaku, apa sebenarnya yang terjadi antara kami?
“Ada pun Bi Ranum kami ikut sertakan dalam hal ini, karena adanya laporan bahwa Bi Ranum menjadi saksi peristiwa itu dari seorang pekerja dapur sekolah ini, kami pihak sekolah telah berupaya membendung berita ini agar
tak menjadi besar,” lanjut guru BK.
Aku, ibu ku, Feby beserta wanita yang mendampingi Feby
sama-sama memandang pada Bi Ranum, namun ia tertunduk menatap lantai. Feby bahkan menatap wajah Bi
Ranum lebih lama. “Bi Ranum, astaga,” tiba-tiba Feby bersuara dengan agak
tertahan.
“Maaf, Feby,” kata Bi Ranum.
“Jadi Bibi waktu itu bukan melihat tikus,”
“Anu…. Bibi malu mengatakan yang sebenarnya,’” jawab Bi Ranum gugup.
“Tapi Bibi seharusnya tak cerita pada siapapun juga,” kata Feby sedikit panik sambil menekap mukanya.
Hal itu membuat wanita yang di sebelahnya mengusap-usap dadanya, mencoba menenangkan.
“Habis, Bibi tak kuat menahan beban itu sendirian, Bibi akhirnya cerita,”
“Stop! Sebenarnya ini perkara apa, kasus apa ini hingga menyeret Bi Ranum,” kata ibu ku tak sabaran.
“Perkenalkan saya psikolog nya Feby Romansa, Risma” akhirnya wanita di sebelah Feby buka suara.
Jadi dia psikolog! Aku semakin bingung kasus ini melibatkan psikolog segala.
“Awalnya Feby ingin merahasiakan segalanya dari semua orang tentang kasus ini, berawal dari kecurigaan ibunya menangkap sebuah gelagat yang tak baik pada dirinya saat seorang temannya bernama Tampan Menawan, di antara teman-temannya yang datang nenjenguk ia mendapat perlakuan berbeda, seperti telah terjadi sesuatu yang salah di antara mereka berdua,” lanjut psikolog itu.
Aku makin penasaran mendengar penuturan Psikolog tersebut. Terus terang nama ku di sebut-sebut seperti itu memberikan sedikit stimulus pada jiwa dan raga bahwa peristiwa ini tak bisa dianggap enteng.
“Ibu nya Tampan, ijinkan saya bertanya sebuah hal pada anak anda,” kata psikolog itu pada ibu ku.
“Baik, sebelum saya mengijinkan Ibu Risma menanya anak saya, jika kasus ini akan mencoreng arang di keluarga saya, saya berharap itu tidak sebagai kejahatan ibu dan pihak lain yang melakukan fitnah,”
“Tentu tidak, karena kejadian itu ada saksinya,” jawab psikolog itu cepat.
“Tampan, kamu sadar apa yang telah kamu lakukan pada Feby?” Tanya psikolog itu pada ku.
Jantung berdebar kencang ditanya seperti itu oleh seorang Psikolog, seperti ombak yang tiba-tiba bergemuruh besar membuat ku terombang-ambing di lautan lepas tak karuan.
“Aku tak melakukan apa pun terhadap Feby,” akirnya aku menjawab lantang karena tak bersalah.
__ADS_1
Ibu ku sampai menarik nafas lega, ibu ku percaya karena aku jujur dan sangat takut pada kutukan sang leluhur dan Tuhan.
“Kamu tak ingat apa-apa di ruang UKS,” kali ini walas yang menanya.
“Aku baru ingat ketika tersadar saat ibu ku datang dengan wewangian yang sangat khas miliknya,”
“Jadi itu buka pemerkosaan,” kata Bi Ranum, entas keceplosan atau bagaimana.
Hal itu membuat aku bak disambar petir, ibu ku sampai ternganga memandang pada Bi Ranum.
Guru BK juga tak kalah kagetnya dengan ucapan itu.
“Apa kamu bilang, anak saya memperkosa!!!” seketika emosi ibu ku tersulut.
“Ma…Maaf saya keceplosan,” jawab Bi ranum Terbata.
“Tapi itu tidak seperti yang Bibi lihat!” kata Bu Risma psikolog.
“Tapi… Anu nya Tampan sangat besar, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Tampan menarik Feby yang meronta,” kata Bi Ranum.
“Pasti ini fitnah!! Ini fitnah!!!” teriak ibu ku.
“Itu benar “ kata Feby yang dari tadi hanya diam saja.
Mendengar pernyataan Feby aku jadi seperti hendak melompat, roh dari raga ku seketika hendak tanggal. Baru kali ini aku dituduhkan akan perbuatan yang tak pernah aku lakukan.
“Itu tidak benar,” aku mencoba menyanggah pernyataan Feby.
“Anak saya tak pernah berdusta, ini fitnah,” disusul oleh suara ibu ku yang lantang.
“Kalian semua pasti telah bekerja sama untuk menghancurkan keluarga saya, perusahaan saya dan…”
“Tampan benar, “ akhirnya psikolog memutus pembicaraan Ibu ku.
Aku tak tahu mengapa psikolog itu mendukung pernyataan ku.
Bahwa aku tak memperkosa Feby. Kenyataannya memang pemerkosaan seperti yang disaksikan Bi Ranum itu tidak pernah ada, aku dan ibu ku benar.
“Tampan, selama pingsan apa yang kamu rasakan atau mimpi apa yang kamu alami?” Tanya psikolog itu padaku.
Pertanyaan itu membuat ku mencoba mengingat mimpi itu.
“Aku hanya mimpi basah bersama Feby,” jawab ku sedikit malu.
Aku melihat wajah ibu ku sedikit merah mendengar pernyaataan itu.
“Kamu bermimpi sedangkan Feby tidak bermimpi, kamu tak
menyadari telah melakukan perbuatan yang tak senonoh dan ganjil pada Feby dalam
masa pingsan itu,” kata psikolog tersebut.
“Jadi kamu telah melakukannya di alam bawah sadar,” kata ibu
__ADS_1
ku pada ku.
“Kamu tidak hamil kan Feby,” tanya ibu ku pada Feby.
Feby hanya menggeleng.
“Jangan berpikir sejauh itu Bu, tak mungkin Feby hamil
karena perkosaan itu tak pernah ada, Karena itu semua hanya mimpi,” psikolog
Feby yang menjawab.
“Iya, aku tak sampai kenapa-napa karena mimpi itu,” sambung Feby.
Aku dan ibu ku bernafas lega dengan pernyataan itu, artinya aku aman.
Ibu ku akhirnya tersenyum, lalu mengeluarkan uang dua puluh juta dari dalam tas nya. Menyerahkan pada Feby dan psikolog itu. Semua yang ada di ruang itu kaget, hanya aku dan ibu ku yang sudah terbiasa dengan suasana seperti itu, ibu memang sering bagi-bagi uang untuk sebuah hal yang ia anggap pantas untuk itu.
“Terimalah uang ini Feby,” kata ibu ku menyodorkan uang itu pada Feby.
“Tidak Bu,” Feby dengan cepat menolak uang itu, lalu berbisik pada psikolog di sampingnya
“Sumbangkan saja uang itu untuk sekolah, Bu,” kata psikolog yang mendampinginya.
“Baiklah, barang kali kurang, ini tiga puluh juta lagi,” ibu ku mengeluarkan uang sebanyak tiga puluh juta, lalu disatukan dengan uang yang tadi.
"Waduh banyak sekali uang Ibu," kata psikolog
"Tapi uang itu tetap Ibu sumbangkan ke sekolah ya," bujuk Feby.
"Baiklah!" Ibu terima uang ini," kata Ibu ku lalu menyerahakan uang itu ke walas.
Ibu walas dan guru BK mengangguk saja mengamati uang tersebut. Keduanya belum sempat mengiyakan. Namun dari luar terdengar suara-suara orang berteriak-teriak tak karuan. Jumlahnya sangat banyak saling sahut menyahut satu sama lain, Semua yang di ruagan terkejut bukan alang kepalang mendengarnya.
bersambung....
__ADS_1