
Hari ini aku sedang berada di sebuah Salon pria guna merapikan diri. Aku harus merapikan rambutku yang mulai gondrong. Kumis dan jenggot yang mulai tumbuh liar walau belum lebat karena umurku sudah 16 tahun menjelang 17 tahun.
Rambut sudah rapi, aku memberikan nilai sempurna untuk karyawan salon yang telah menata rambutku yang nampak seseuai keingin. Tak lupa aku memberi uang lebih untuk pekerjaannya tersebut. Hanya satu yang masih nampak tak sesuai keinginan, seluruh wajahku tertutup jerawat kutukan. Jerawat besar yang tak kunjung sembuh semenjak aku dilahirkan ke dunia fana ini.
Kutukan jerawat itu bisa sembuh asal aku iklas menghadapi berbagai cobaan apapun saat menjadi suaminya Feby Romansa nanti. Hingga keiklasan itu membuat Feby Romansa jatuh cinta padaku dan kami akan menjalani hidup yang bahagia.
“Aku ke belakang dulu,” kutinggalkan Zibran di ruang salon sendirian dan aku pergi ke toilet salon ini. Zibran yang menemaniku ke salon hanya mengangguk sambil menatapku hilang dari pandangannya di lorong salon menuju toilet. Sesampai di toilet aku buka masker yang setia menutupi hampir seluruh wajahku. Aku dengan leluasa menatap ke kaca mematut rambutku dan wajahku. Entah kenapa setiap kali aku memandang wajahku aku sendiri bergidik melihatnya, apalagi orang lain. Tentu akan sangta menijikan memperhatikan aku,
tak terkecuali Feby Romansa.
Buru-buru aku tutup wajahku kembali dengan masker lalu kembali ke ruang salon. Sesampai di ruang salon aku dapati Zibran mondar-mandir gelisah tak karuan. Begitu aku datang dia langsung memburu ke arahku.
“Kamu terlambat Tam!” ujarnya dengan nafas yang tersengal.
Aku yang tak paham maksudnya hanya bisa menerka-nerka dan bertanya-tanya. “Telambat kenapa?”
“Tadi ada bidadari yang lewat menuju ke sana,” Zibran menunjuk ke arah salon wanita yang berlokasi di samping salon pria ini.
“Bidadari?” aku bertanya seolah tak percaya.
“Feby Romansa. Dia makin cantik saja. Barusan lewat sini menuju sebelah. Kecantikannya persis bidadari,” Zibran menunjuk-nunjuk ke sebelah dengan serius.
Aku hampir melompat mendengar kata Zibran, “Serius!!”
“Serius!!”
Sejenak aku berpikir bahwa mungkin saja Feby Romansa sedang mempercantik diri ke salon. Bukankah esok hari pertunangan kita berlangsung.
“Ayo ikut aku,” aku menyeret tangan Zibran.
Kami berdua bergegas meninggalkan ruangan salon pria tempat aku barusan menata rambut. Menuju salon wanita yang bersebelahan dengan salon pria tersebut.
“Kita hendak mencari Feby?” Zibran perlambat langkahnya setelah hampir sampai di salon wanita di sebelah.
“Aku ingin sekali melihat wajahnya, tapi bagaimana caranya? Aku tidak enak hati bila terlihat oleh Feby Romansa,” aku turut memperlambat langkahku mengikuti langkah Zibran.
“Dengan berpakaian seperti ini. Apa mungkin Feby mengenal kita?” Zibran hentikan langkahnya seperti mencoba berpikir mencari ide.
“Punya ide?”
“Bagaimana kalau kita pura-pura ke bagian resepsionis salon.
__ADS_1
Aku pura-pura bertanya dan kamu melihat kondisi dalam salon. Siapa tahu Feby terlihat,” Zibran memberikan idenya.
“Aku setuju.”
Kami berdua sampai di meja resepsionis. Zibran langsung bertanya-tanya pada sang resepsionis harga jasa salon wanita di situ. Sementara aku langsung mencari sosok Feby Romansa. Lama mengerdarkan pandangan aku belum juga menemukan Feby.
“Zibran,” bisikku pada telinga Zibran memanggilnya yang sibuk bertanya pada resepsionis.
“Ya.”
“Aku tak menemukan Feby Romansa. Apakah dia berjilbab ke sini atau tidak?”
Zibran menggeleng. “Dia datang ke sini dengan rambut terurai lepas ala artis Raisya. Cantik banget, Maudy Ayunda dan Nia Ramadhani lewat.”
Aku hanya tersenyum dikulum mendengar kelakar Zibran. Lalu mencoba mengarahkan pandangan ke segala penjuru di ruangan itu. Tapi hasilnya nihil, aku tidak menemukan Feby.
“Maaf, Mba. Apa ada pelanggan atas nama Feby Romansa di salon ini,” aku tiba-tiba mendekat ke meja resepsionis dan menyakan keberadaan Feby.
“Saudara ini ada hubungan apa dengan orang yang dimaksud?” tanya resepsionis.
Aku sempat ragu harus menjawab apa. Hanya saja aku harus serius memastikan keberadaan Feby di sini. “Aku calon suaminya.”
“Begitu,” jawab resepsionis sambil memandangiku.
“Feby Romansa sedang di lantai dua di ruang 14, menjalani perawatan wajah, tubuh dan rambut,” jawab resepsionis tersebut.
“Terimakasih, Mbak.”
Tanpa berpikir lama, aku segera menaiki tangga menuju lantai dua dan mencari ruang 14. Zibran sampai tergopoh-gopoh menyusul langkahku yang sangat bersemangat.
Tidak sulit mencari ruang 14 yang dimaksud. Aku memperhatikan dengan seksama ke ruangan itu. Di ruangan itu ada empat wanita tamu dan dua wanita pekerja salon. Tiga orang wanita sepertinya menemani Feby Romansa yang sedang menjalani perawatan salon. Aku mengenal salah satunya adalah ibunya Feby. Aku tahu wajah itu ketika mengunjungi rumah Feby saat ia sedang sakit.
Feby Romasa yang sedang duduk di kursi perawatan salon membelakangi posisiku dan Zibran yang mengamati dari luar. Namun aku bisa melihat wajah itu dari dalam cermin. Wajah itu sangat cantik sekali. Aku
beruntung sekali bisa menemukannya di salon ini.
“Kalau jodoh memang selalu saja ketemu, ya,” Zibran menyikut ke arahku.
“Doakan saja aku pasangan yang tepat untuk Feby sobat.”
Lama aku dan Zibran menunggu dan mengamati saja saat-saat Feby Romansa menjalani perawatan kecantikan di salon. Setidaknya ini sudah berhasil melepas beban rinduku yang menggebu. Hingga akhirnya aku dan Zibran memutuskan pulang saat Feby hampir selesai menjalani perawatan kecantikan di salon itu. Aku merasakan hari ini lebih indah dari biasanya.
__ADS_1
****
Sepulang dari melakukan perawatan salon di sebuah tempat yang mahal dan kalangan atas di kota ini untuk pertunangan aku dengan Tampan Menawan esok hari aku dapati Bi Ratna sudah kemabli ke rumah ini.
Aku hanya berucap syukur atas kembalinya wanita yang selalu mendampingiku tersebut. Dia memelukku
dengan penuh kasih sayang, aku membalas pelukan itu dengan penuh keharuan.
“Non Feby semakin cantik saja, baru beberapa hari ditinggal,” Bi Ratna melontarkan pujian sambil melihat perubahan pada tubuh, rambut dan wajahku sehabis menjalani perawatan yang super mahal itu.
“Bi Ratna juga makin cantik, betah ya di kampung,” selorohku menimpali ucapannya.
“Bisa saja Non.Tapi Non Feby betul, secantik seorang putri hari ini.”
Aku melepaskan pelukan Bi Ratna. “Bi. Kita bicara di kamar saja ya.”
Aku kemudian menuju kamarku diikuti oleh Bi Ratna.
“Bi. AKu sudah boleh kembali ke kamar ini. Aku terpaksa menyetujui pertunanganan dengan orang itu,” ungkapku pada Bi Ratna setiba di kamar.
Bi Ratna hanya terdiam mendengar kata-kataku. Dia tentu senang mendengar aku lepas dari hukuman. Tapi dia sepertinya tak tahu menanggapi apa. Mungkin dia agak kaget dengan keputusanku.
“Kecantikan tidak ada artinya sekarang Bi. Bila tidak bisa memilih lelaki yang diimpikan selama ini.”
Bi Ratna tetap diam dengan pernyataanku.
__ADS_1
Bersambung...........................................