Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Cinta Terpecah Dua


__ADS_3

Jadi semua ini ulah Eyang Jiwo orang sakti berpenampilan seperti manusia dari jaman dahulu itu. Ada apa sebenarnya? Apakah penculikan ini juga ada kaitannya dengan Senopati Adi Raka atau orang tuanya. Karena kedua orang tua Senopati Adi Raka yang berhubungan langsung dengan Eyang Jiwo untuk pengobatan anaknya. Tapi, bukankah Senopati Adi Raka sudah sembuh ataukah ada hal lain yang menimpanya. Aku ingin bertanya pada kedua orang yang bernama Dio dan Rendy di hadapanku untuk memastikan.


"Bukan penculikan yang kami lakukan tapi penyelamatan," kata Dio padaku.


"Penyelamatan!"


"Betul apa yang dikatakan Rendy. Semua ini hanyalah bentuk menyelamatkan anda dari kejahatan orang tua anda sendiri," Sambung Rendy.


"Sebenarnya pemberitaan diberbagai media mengganggu sekali bagi kedua orang tua Senopati Adi Raka, itu bagaikan neraka bagi mereka berdua mengetahui anda telah memiliki seorang lelaki lain selain anak mereka Senopati Adi Raka," kata Dio.


Ternyata dugaanku benar. Ini ada kaitannya dengan Senopati Adi Raka. Senopati Adi Raka, aku sempat melupakannya tatkala ketampanan Tampan Menawan mengalihkan mataku di acara jumpa pers itu. Pusi yang dia rangkai dan bunga-bunga serta boneka yang dia persembahkan untukku di hadapan para pewarta mampu mengusik hatiku untuknya. Barangkali saja hal ini diketahui oleh Senopati Adi Raka sehingga ia cemburu buta dan kedua orang tuanya juga marah sehingga mengadukan pada Eyang Jiwo.


"Senopati Adi Raka itu lelaki gagah dan baik hati anda tahu itu bukan Feby Romansa," kata Rendy padaku. Sebuah perkataan yang membuat aku membenarkan tanpa harus menjawab.


"Tapi lihatlah sekarang, Feby! Puisi dan bunga serta boneka itu seperti telah menyihirmu. Kamu mulai melupakan Senopati. Saat ini hatimu berbunga-bunga pada lelaki itu karena ada kekuatan mistis yang terkandung pada puisi dan bunga-bunga serta boneka yang diberikan. Kekuatan itu hampir memupus cintamu pada Senopati. Menghalau kekuatan cinta jiwo yang telah kau persembahkan bersama dengan Senopati Adi Raka," kali ini Dio berkata panjang lebar padaku.


Lalu apa yang harus aku lakukan kalau sudah begini. Kenapa semuanya jadi begini? Aku mencintai dua lelaki sekaligus. Kedua lelaki yang sangat-sangat tampan dan menawan hati. Kekuatan mistis apa yang terkandung dalam puisi Tampan. Hal gaib apa yang tertanam pada boneka-boneka dan ribuan bunga yang ad adi rumahnya itu sehingga aku dalam sekejap jatuh cinta. Aku yang tadi begitu membencinya!


"Kejadian itu telah membuat ibunya Senopati menangis berurai air mata. Anda telah membuatnya kecewa!" kata Dio lagi.


Tak lama setelah Dio mengucapkan kata itu, tiba-tiba dari arah pintu depan muncul ibunya Senopati Adi Raka. Berjalan menuju ke arahku. Sorot matanya seperti hakim yang mendakwa seorang pesakitan di persidangan. Aku tak pernah melihat sorot mata penuh kebencian itu sebelumnya.


"Feby Romansa kau hadir dan membuat anakku Senopati Adi Raka jatuh cinta dengan pesona kecantikanmu," ujar ibu Senopati Adi Raka sesampainya di hadapanku.


"Iya Ibu. Maafkanlah saya. Saya juga sangat mencintainya," jawabku.

__ADS_1


"Cintamu telah kau bagi dengan lelaki lain, ini bisa membuat Senopati gila. Kamu harus tahu itu," bentak ibu Senopati Adi Raka padaku tiba-tiba saja, aku sedikit terkejut.


"Saya tak bermaksud seperti itu Ibu," jawabku pelan.


"Lalu kenapa orang tuamu menghina Senopati Adi Raka saat mengunjungimu ke rumah orang tuamu. Ternyata kau telah bertunangan dengan lelaki lain, mengapa ini tak pernah kau ceritakan sebelumnya pada kami. Dan yang lebih celaka lagi. Ayahmu menembaki Senopati Adi Raka," kata ibu Senopati Adi Raka penuh emosional.


"Bagaimana keadaannya sekarang, Bu? Apakah dia baik-baik saja?"


Ibu Senopati Adi Raka diam saja mendengar pertanyaanku. Saya berharap anaknya itu baik-baik saja. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Karena cintaku hanya untuknya.


"Sekarang ikutlah dengan saya, Feby. Kita lihat kondisinya sekarang," ujar Ibu Senopati Adi Raka setelah terdiam cukup lama.


Aku mengikuti langkah Ibu Senopati Adi Raka menaiki tangga menuju lantai atas rumah ini. Di belakang kami Rendy dan Dio menyusul langkah kami yang tergesa.


Setiba di lantai atas ibu Senopati masuk ke sebuah kamar. Ternyata di situ ada Eyang Jiwo dan Senopati Adi Raka sedang menjalani sebuah pengobatan. Melihat kami masuk Eyang Jiwo menghentikan pengobatan yang diberikan pada Senopati Adi Raka.


"Lihatlah Senopati Adi Raka terluka parah!" kata ibu Senopati Adi Raka.


Aku memperhatikan seluruh tubuh Senopati Adi Raka. Kalau-kalau ada tembakan yang bersarang di tubuhnya. Tapi anehnya aku tak menemukan tanda bekas luka apapun di raga tersebut. Tidak ada balutan verban bekas luka atau apapun itu. Kalau ada luka tembakan dari peluru pistol ayahku pasti akan meninggalkan jejak di tubuhnya. Kalau Senopati Adi Raka terluka dia tak akan ada di rumah ini. Dia tentu akan ada di rumah sakit.


"Luka apakah yang dia derita Senopati sehingga wajahnya sepucat ini?" aku menayakan hal tersebut pada Eyang Jiwo.


Eyang Jiwo serta merta tak menjawab pertanyaaku. Dia hanya memandangku dari ujung rambut sampai ujung kaki


seakan-akan melihat sesuatu yang ganjil pada jiwa dan ragaku.

__ADS_1


"Jawaban ada pada dirimu sendiri," ujar Eyang Jiwo setelah menatapku secara misterius seperti itu.


Aku paham dengan yang dimaksud oleh Eyang Jiwo. Luka batin Senopati begitu dalam bisa saja karena peristiwa penembakan itu atau perlakukan orang tuaku yang sangat memalukan padanya.


"Maafkan aku Eyang!" kataku padanya.


Eyang Jiwo memperhatikan Senopati Adi Raka yang kelihatan sangat pucat. Aku kemudian mendekati Senopati Adi Raka.


"Kamu tahu kenapa aku terluka?" ucap Senopati Adi Raka dengan suara yang lemah padaku.


Aku tak tahu harus menjawab apa saat ini. Aku hanya menundukan mataku ke lantai ketika mata itu terus menatapku.


"Aku terluka karena mengetahui kamu sudah bertunangan. Acara jumpa pers yang kamu lakukan di depan ratusan wartawan itu mebuat lukaku makin parah karena kamu terlihat sangat senang dengan lelaki itu," kata Senopati Adi Raka kemudian.


"Luka itu bukan luka bhatin biasa Feby," sambung Eyang Jiwo. "Tapi itu luka karena pengaruh persembahan cinta jiwo yang sudah melekat di tubuh Senopati. Setiap kali kamu berdekatan dengan lelaki yang telah terikat pertunanganan denganmu itu. Saat itu pula dia akan tersiksa secara batin."


"Maafkan aku!" ujarku.


"Tidak cukup hanya dengan maaf. Kamu harus menghindari tunanganmu itu. Tunganmu itu memiliki sebuah kekuatan gaib dari leluhurnya. Karena setiap kali kamu berada di dekatnya akan mengubah cintamu pada Senopati Adi Raka jadi sebuah petaka seperti ini. Cintamu pada Senopati akan buyar seketika betapapun kuat dan besar cinta itu. Persembahan cinta jiow yang kamu lakukan dnegan Senopati tidak akan mampu menahan kekuatan cinta yang dimiliki oleh lelaki tunanganmu itu."


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2