
Ribuan rintik-rintik hujan seolah-olah mengecup seluruh tubuhku ketika aku melangkah ke luar rumah. Hujan turun sangat deras sebesar ibu jari membuat aku sangat kedinginan ketika berhasil melewati pagar belakang rumah. Hanya lewat pintu belakang aku bisa keluar dari rumah ini. Karena kalau lewat depan pasti pintu gerbang dikunci dan aku tak tahu siapa yang memegang kunci. Biasanya setiap ayah dan ibuku pulang Pak Trisno atau Bi Gina yang senantiasa membukakan pagar rumah.
Aku mulai kehujanan ketika melangkah lewat gerbang belakang rumah yang sempit. Hujan yang turun sebesar ibu jari sangat deras sekali, baju dalam koper bisa saja basah dan mengenai laptop yang aku simpan di dalamnya. Aku tak ingin kebasahan sia-sia, sementara akses menuju jalan utama butuh sekitar 200 meter.
Semuanya jadi serba salah, kalau aku tetap berteduh dekat pagar rumah bagian belakang, orang yang bekerja di rumah bisa saja melihat aksiku. Ada Mas Rino yang tinggal di rumah ini, dia keponakan dari ayahku yang juga bekerja di kantor dan beberapa karyawan yang juga tinggal di rumah ini, mereka menempati bagai belakang rumah tak jauh dari tempatku berdiri saat ini.
Atau ayahku yang tiba-tiba sudah pulang dari pesta pernikahan putra temannya, atau Bi Gina dan Pak Trisno berhasil menghubungi ayahku, walau terkurung di dalam gudang, Pak Trisno sepertinya memegang alat komunikasi.
Akupun bergegas berjalan menuju jalan utama, untuk menyetop taksi menuju sebuah tempat yang tepat, yaitu penginapan atau wisma atau hotel terdekat dari rumah ini.
***
Malam ini aku benar-benar merindukan Feby Romansa, apalagi saat hujan-hujan seperti ini. Tak kuat menahan rindu aku segera bergegas menuju rumah Zibran, mengajaknya sekedar jalan-jalan menuju rumah Feby Romansa. Aku berharap bisa melihatnya walau sekilas saja. Aku menatap rumahnya saja sudah senang apalagi bisa bertemu dengannya langsung. Aku yakin Feby Romansa adalah miliku, karena perjodohan itu tak bisa terelakan kecuali kematian salah satu di antara kami.
Untunglah ibuku mengijinkan aku sekedar menikmati malam ini, aku hanya bilang ada keperluan ke rumah Zibran saja, dan tidak megatakan akan ke rumah Feby Romansa.
Jalanan yang lengang dan sepi karena hujan membuat perjalanan ini bebas hambatan bebas macet. Hanya ada genangan air di titik-titik tertentu. Tak sampai hitungan jam, aku sudah sampai di jalan utama menuju rumah itu.
Aku menghentikan mobil tidak jauh dari rumah Feby, tiba-tiba Zibran yang duduk di sampingku berteriak.
"Lihat wanita itu, malam-malam seperti ini hujan hendak kemana?"
Aku serta merta memperhatikan wanita itu, berada di pinggir jalan dengan menyeret koper besar. Sepertinya menunggu tumpangan.
"Gila. Bahaya cewek malam-malam begini keluyuran sendiri,"
"Mungkin wanita itu terusir dari rumahnya," kata Zibran.
"Aku coba mendekat ke arah wanita itu,ya," kataku sambil melajukan mobil.
"Astaga itu Feby!!!" teriak Zibran.
Teriakan itu membuat aku lebih memperhatikannya dengan seksama, benar saja itu Feby. Apa yang terjadi dengannya, kenapa dia keluar rumah sendirian dan membawa koper sebesar itu saat hujan-hujan begini?
"Apa yang harus kita lakukan?" kaku pada Zibran.
__ADS_1
"Harus diberi tumpangan!" jawab Zibran.
Aku segera lebih mendekatkan jarak mobilku dengan posisi berdirinya Feby, namun dia tiba-tiba menyetop taksi.
Taksi berhenti dan Feby masuk ke dalam taksi.
"Jangan-jangan dia ke tempat cowok yang ada di video youtube itu," kataku pelan.
"Kita ikuti saja arah taksi itu kemana tujuannya!" saran Zibran.
"Tentu!" jawabku.
Aku menyetir mobil ini mengikuti taksi yang ditumpangi oleh Feby, aku mengharapkan keselamatannya menjelang hari pertunanganan kami. Banyak kejahatan yang bisa mengancam siapa pun jua, apa lagi wanita berpergian seorang diri di tengah malam buta ini.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Feby Romansa sehingga ia pergi dalam rumah pada pertengahan malam dan dalam kondisi hujan deras seperti ini? Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku. Apakah ini terkait juga dengan rencana pertunangan kami yang sebentar lagi terjadi.
"Lihat! taksi yang ditumpangi Feby masuk ke parkiran hotel!" kata Zibran.
Aku segera menghentikan laju kendaraan ini.
"Berarti Feby menginap di hotel itu malam ini,"
"Iya," jawabku mantap."Aku haru memastikan apa yang terjadi dan dengan siapa Feby menginap, kalau perlu kita juga menginap di sini."
Keluar dari taksi Feby segera menuju loby hotel, dan ia sempat menuju ruang resepsionis, sepertinya menanyakan kamar. Tidak ada orang lain yang menunggu di sana, berarti Feby memang datang sendirian. Tak lama kemudian Feby dibantu petugas hotel membawa koper nya menuju lift, sepertinya menuju kamar hotel yang telah dipesannya.
Aku bergegas menuju ruang resepsionis, menanyakan ketersediaan kamar hotel.
"Apa masih ada kamar yang kosong, Mba?" tanyaku cepat.
"Maaf sekali Mas, semua kamar sudah terisi penuh," jawab resepsionis hotel itu dengan sopannya.
Aku hanya bisa lunglai, dan penasaran. " Apa tidak ada yang membatalkan penginapan malam ini, kitta berdua butuh tempat menginap," tanyaku masih penasaran.
"Hingga saat ini belum ada yang membatalkan," jawab resepsionis itu lagi.
Berarti kamar hotel yang dipesan Feby tadi yang terakhir.
__ADS_1
"Coba cek sekali lagi Mbak," pintaku masih penasaran.
Petugas hotel itu memeriksa kembali layar komputer nya. ttak lama kemudia ia menggeleng, "Maaf Mas, semuanya sudha terisi. Nanti kalau ada yang cancel saya akan hubungi Mas, boleh minta nomor teleponnya!" kata petugas hotel itu lagi.
Aku mengangguk dan memberikan kontak handphoneku secepatnya.
"Aku akan menunggu sampai jam 12 malam di loby, ya Mbak,"
"Silahkan kalau itu yang Mas mau," jawab petugas hotel itu ramah.
Aku dan Zibran segera menunggu di ruang resepsionis. Aku berharap Feby akan terlihat di area ini atau turun dan kami bisa saling menyapa. Namun belum sepuluh menit aku duduk, handphone di dalam sakuku berbunyi nyaring. Ternyata dari ibuku.
"Halo Ibu!"
"Masih di rumah Zibran?" tanya ibuku.
"Ibu aku sedang..." belum sempat aku membalas semua pertanyaan ibu, percakapanku sudah dipotong.
"Cepat pulang! sudah malam!" perintah ibuku. Lalu ibu memutus panggilan.
"Bgaiamana?' tanya Zibran di sebelahku.
"Ibuku menyuruh pulang."
"Kenapa kamu tidak berterus terang, tentang ini semua, bukankah kamu dan Feby akan dijodohkan, bilang saja kamu melihat Feby di hotel ini," kata Zibran.
"Aku mau ucapkan itu, tapi ibuku mematikan sambungan telepon, aku harus bagaiamana?"
"Coba hubungi ibumu atau siapapun itu di rumah, pembantu di rumahmu kan banyak," Saran Zibran lagi.
"Tapi ini sudah larut malam, Zib. Hampir pertengahan malam, apakah mereka masih belum tidur,"
"Coba dulu!" pinta Zibran lagi.
__ADS_1