
Hari ini perasaanku benar-benar gelisah tak menentu. Kegelisahan ini sudah menyergapku semenjak ibu dan ayahku beserta beberapa orang kepercayaan mereka pergi menuju rumah Feby Romansa. Aku seperti dirasuki oleh sebuah hal yang aku sendiri tak mengerti. Aku hanya mondar-mandir di pekarangan rumahku mengusir rasa tidak nyaman ini. Hingga peluhku bercucuran meski sore ini angin berhembus semilir mendinginkan segenap raga insan di bumi.
Resah dan gelisah ini membuat aku terus berpikiran tak karuan. Apa yang terjadi di rumah Feby di sana. Apa katanya kalau ia tahu bahwa aku dengannya akan dinikahkan. Kalau dia tidak setuju, tentu terjadi pergolakan
di hatinya dan menimbulkan keributan. Walau setiap anak harus menurut setiap perkataan orang tua, tapi kalau
hatinya tidak tertuju pada perihal yang diinginkan orang tua. Bukan tak mungkin ia akan melawan orang tuanya itu. Apalagi jaman sekarang.
Menjelang magrib ibu dan ayahku belum juga pulang, barangkali saja mereka masih berunding hingga malam tiba. Tapi kata ibuku acaranya hanya sampai terbenam matahari. Atau barang kali saja mereka sedang menuju perjalanan pulang.
Malam sudah mulai gelap, akupun masih dirasuki gelisah tak menentu, aku pandang ke luar kalau-kalau kedua orang tuaku sudah kembali. Atau menanyakan pada para pembantu dan satpam rumah kalau-kalau ibu menelpon mereka. Tapi hasilnya nihil. Aku hanya ingin segera mendapat kabar yang menyenangkan dari keduanya.
“Tampan. Tampan,” tiba-tiba seseorang memanggilku dari luar rumah.
Aku memberi aba-aba agar penjaga rumah keluar mencari sumber suara tersebut. Dengan cekatan satpam rumahku yang berjaga malam hari itu ke luar menemui orang tersebut.
“Ada temannya Den, yang datang,” kata satpam.
“Siapa?”
“Zibran,” jawab Pak Satpam.
“Suruh masuk,”
“Baik!”
Aku tak mengira akan kedatangan tamu teman di sekolahku. dia teman sekelasku yang selalu bersamaku di sekolah untuk mencari dan memata-matai Feby Romansa. Barangkali saja Zibran belum tahu aku dikeluarkan dari sekolah itu. Atau dia sudah mendapat kabar itu lalu ingin bertanya untuk memastikannya.
Atau ada kabar penting lainnya yang dibawanya . Aku langsung memburu Zibran begitu dia masuk pekarangan rumah.
“Kamu sendirian ke sini malam-malam begini?” cercahku pada Zibran.
“Semua ini saya lakukan demi kamu Sob, ada kabar penting yang akan kita bicarakan malam ini,”
“Kabar tentang Feby, bukan?” sergahku cepat.
“Iya.”
“Nanti kita cerita di atas, di teras kamarku.”
Lalu aku mengajak Zibran ke kamarku di lantai atas, aku yang sudah tak sabaran ingin mendengar cerita apa yang dibawa oleh zibran kali ini.
“Eh.. kamu tadi ke sini naik apa?” tanyaku pada Zibran saat menapaki tangga.
“Naik grab, motor. Motorku lagi diservis, jadi tidak bisa dipakai,” jawab Zibran.
Aku lalu membuka pintu kamar dan menelpon pembantu rumah untuk menyiapkan makanan dan minuman yang lezat untuk kami sambil mengobrol.
“Ini kamar apa hotel?” kata Zibran sambil memperhatikan sekeliling kamarku takjub.
__ADS_1
“Ya kamar rumah. Nanti kita mengobrol di beranda kamarku ini,”
“Waw. Pemandangan yang sangat indah,” ungkap Zibran begitu mengalihkan padangan pad ataman rumahku yang penuh warna-warni.
“Kamu tinggal di istana seperti ini,” kata Zibran lagi penuh ketakjuban. “Di sana ada kamar mandi yang super luas, ada taman yang sangat indah dan di kejauhan penuh dengan kerlap-kerlip lampu rumah penduduk yang juga
tak kalah indahnya,”
“Kamu mau mandi, nginap aja di sini, esok cobain deh mandi di kolam renang itu,”
“Tapi aku minta ijin nyokap dulu, ya,”
“Pasti diijinkanlah.”
Aku biarkan Zibran mengobrol dengan orang tuanya, aku ingin dia menginap di sini agar lebih leluasa bercerita tentang Feby Romansa.
“Bagaimana, nyokapmu ngasih ijin ngak.”
"Tidak," kata Zibran mengangkat bahu.
“Ya sudah. Besok pagi kamu ke sini lagi, agar kita bisa berenang bareng.”
“Aku ke sini mau menyampaikan hal penting tentang Feby, Romansa. Tentang dia yang sekarang menjelma menjadi seorang youtuber dadakan.”
Zibran memulai menceritakan hal aku tunggu dari tadi.
“Feby Romansa Jingga, itu nama akunnya,” jawab Zibran.
Lantas aku masuk ke kamar mengambil laptop, membuka akun
youtube dan mencari akun Feby Romansa Jingga.
“Ini akunnya?” sodorku pada Zibran setelah menemukan akun tersebut.
“OK!”
Aku lantas menelusuri video-video yang diunggah di akun youtube tersebut. Semua video aku telusuri satu persatu.
“Kamu sudah buka video yang terakhir belum?” tanya Zibran setelah beberapa lama melihat beberapa video.
“Ini sedang buka satu persatu, dulu. Emang video terakhir tentang apa?” aku jadi penasaran.
“Feby sedang bersama seorang cowok di sebuah rumah,” jawab Zibran.
Jawaban itu tentu saja membuat aku panas dingin, lantas aku segera membuka video yang terkahir yang dimaksud Zibran. Benar saja, Feby sedang bersama seorang lelaki muda terlihat sangat bahagia, penuh keakraban.
Dalam sekejab tubuhku dialiri oleh rasa cemburu yang tak menentu, aku bagai ditusuk-tusuk sembillu di ulu hati melihat kebersamaan mereka yang mengenakan baju sama-sama biru. Aku coba tarik nafa, siapa tahu saja lelaki itu sepupunya.
“Siapa lelaki itu?” tanyaku pada Zibran.
__ADS_1
Zibran memandangi lelaki dalam video tersebut. Lalu menggelengkan kepalanya pertanda tak mengenal.
“Bagaimana mungkin dia bisa sedekat itu dengan seorang lelaki?” Zibran malah balik bertanya. “inilah yang aku curigai, dia diam-diam telah dimiliki seseorang,”
Darahku makin mendidih mendengar perkataan itu, rasanya ingin aku berteriak mengatakan pada semua orang bahwa aku yang pantas memiliki seorang Feby Romansa. Dadaku terasa sesak dan turun naik.
Di saat-saat seperti itu ibuku datang. Rupanya ibu telah pulang dan memanggilku.
“Tampan! Tampan!”
Aku menoleh pada ibuku. Senyuman manisnya membawa secercah harapan bagiku. Mungkinkah ibu membawa kabar baik dari rumah Feby Romansa.
“Eh… Ada tamu,” kata ibuku begitu menatap Zibran.
“Dia teman saya Bu. Teman dari sekolah,” jawabku.
“Iya Tante,”
“Pasti kalian saling merindukan bukan, apalagi Tampan sudah ngak sekolah di situ lagi,”
“Maksud Tante?” Zibran terperangah. Lalu memandang padaku.
“Jadi kamu belum tahu Tampan sudah keluar dari sekolah,” kata Ibuku.
Aku memang belum cerita pada siapapun juga tentang aku dan Feby Romansa yang sudah keluar dari sekolah, apalagi menceritakan keluarnya kami berdua karena keinginan ibuku.
“Belum Bu,”
“Iya Zib, aku kelura dari sekolah, begitupun Feby Romansa,” ujarku.
“Hah!” Zibran seperti tercekat.
“Oh. Aku sedih mendengarnya,” kata Zibran. “Aku pamit dulu pulang ya, Bu. Aku di luar grab yang aku pesan sudah menunggu,” kata Zibran.
“Ehh.. Buru-buru amat, ada ongkos tidak,” ujar ibuku.
“Ada Bu,”
“Ini buat ongkos pulang,” kata ibuku seraya menyodorkan uang dua ratus ribu pada Zibran.
“Terimakasih tante,” kata Zibran, kemudian berlalu.
Sepeninggal Zibran aku langsung menanyai pada ibuku tentang pertemuan itu.
“Alhamdulillah berjalan lancar, besok pagi ibu akan ceritakan detailnya ya, sekarang tidurlah dahulu.”
Bersambung.....
__ADS_1