Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Jumpa Pers Media


__ADS_3

Rumahku ramai kedatangan para wartawan dari media cetak dan televisi serta media online. Kemenangan ibuku yang menggugat berbagai macam jenis media itu atas pemberitaan bohong mengharuskan media itu meminta maaf pada keluarga besar kami. Peristiwa waktu itu bukanlah pemerkosaan aku pada Feby Romansa seperti yang dimuat secara berlebihan oleh berbagai media tersebut. Kini para awak media itu menanggung akibatnya karena kalah di pengadilan dan kalah banding. Selain ganti rugi materi sebanyak 20 miliar akumulatif dari semua media. Mereka juga diwajibkan meminta maaf atas segala kekeliruan.


Para wartawan telah mebayar ganti rugi tersebut yang oleh ibuku uangnya akan diberikan atau disumbangkan pada pemerintah untuk menangani virus corona yang masih merajela. Para awak media pun meminta aku dan Feby Romansa mengklarifikasi secara langsung di depan ratusan wartawan yang berlokasi di aula rumah orang tuaku ini.


Aku baru akan muncul saat Feby dan kedua orang tuanya datang ke sini. Entah mengapa sampai sejauh ini calon istriku itu belum juga tiba di rumah ini.


"Ibu. Wartawan sudah jengah menunggu kita, tapi Feby dan kedua orang tuanya belum muncul juga. Apa yang terjadi denganya?" kataku penuh kecemasan pada ibuku.


"Sabarlah Tampan. Mungkin jalanan macet. Wartawan itu tetap akan menunggu walau sampai larut malam. Karena berita itu penting untuk mereka. Apalagi ini kelanjutan berita yang pernah viral pada saat itu," jawab ibuku.


Aula yang ditempati untuk jumpa pers sudah mulai dipenuhi para wartawan dan peralatan jurnalisnya. Parkir mobil yang luas di rumah ini bahkan tak bisa menampung mobil dan kendaraan bermotor para awak media yang sangat banyak jumlahnya itu. Yang tak muat parkir di dalam mobilnya berjajar di pinggir jalan.


Tak lama kemudian mobil rombongan Feby Romansa sampai di rumah ini. Mobil itu langsung menempati parkir bagian dalam yang sengaja dikosongkan untuknya.


Ketika Feby Romansa keluar dari mobil para wartawan memburunya. Namun ayahnya dan ibunya memberi isyarat agar ia diam dulu hingga sampai ke ruang yang kami tunggu.


Panitia penyelenggara acara ini yang tak lain karyawan di kantor perusahaan orang tuaku mengiringi langkah rombongan Feby Romansa. Ayah dan ibuku segera menyambut penuh kehangatan pada orang tua Feby Romansa.


Feby Romansa yang mengenakan jilbab dipadu padankan denga busana mahal yang diberikan oleh ibuku waktu seserahan di acara pertunanganan itu. Calon istriku itu nampak semakin cantik jelita dengan riasaan di mukanya yang sempurna. Dia bagiku seperti bidadari yang baru turun dari langit.


Aku berusaha meraih jemarinya. Mukanya nampak bersemu merah dan menggeliat dalam genggamanku. Entah mengapa dia masih menatapku dengan sinis meski jemarinya aku genggam dengan penuh kelembutan dan kemesraan. Hampir saja genggaman tanganku dilepaskannya kalau tidak ditahan oleh ayahnya yang berdiri di belakangnya.


Setelah lama berbincang satu sama lain, akhirnya kamipun menemui para pemburu berita yang telah tak sabaran menunggu kami. Begitu aku dan Feby Romansa melangkah ke hadapan mereka semua tiba-tiba terdiam. Entah apa yang terlihat oleh mereka. Hingga suasana benar-benar diam beberapa menit. Hingga akhirnya jeperetan kamera tak henti-hentinya mengarah ke kami semunya.


Suara hening tadi berhenti menjadi suasana berisik, beberapa wartawan dengan cekatan meburu ke arahku seperti hendak mencium seluruh jiwa dan ragaku. Mulut mereka semuanya membentuk bulatan memanjang seperti hendak mencium. Untunglah para security yang bertugas mampu menghalangi mereka.


"Tenang semuanya! Tidak ada yang boleh bertingkah aneh-aneh!" ujar salah seorang security melalui pengeras suara.

__ADS_1


Semua mata para wartawan tertuju padaku. Mungkin mereka melihat diriku agak janggal. Sebelumnya aku diberitakan sebagai lelaki yang buruk rupa yang hendak memperkosa Feby Romansa. Tapi kenyataan yang mereka lihat sekarang sungguh jauh berbeda dari yang mereka sangkakan.


"Apakah saudara yang bernama Tampan Menawan itu?" seorang wartawan media online tiba-tiba mendekatiku. Hanya saja sekurity langsung mengusirnya sebelum aku menjawab. Wanita jurnalis tetap tak bergeming di tempatnya. Dia terus menatapku seolah-olah matanya ingin melompat ke luar dari rongga matanya. Seakan-akan dia ingin menelanku bulat-bulat.


Tiba-tiba wanita jurnalis itu berlari ke arahku setelah mendorong sekuriti yang menghalanginya. Ia lalu mendaratkan ciuman di pipiku. Aksi nekatnya mencuri perhatian para wartawan lainnya. Ia diberi tepuk tangan dan teriakan-teriakan tak menentu dari rekan seprofesinya itu. Hanya saja tiba-tiba ia jatuh pingsan tak sadarkan diri. Sekuriti segera menggotong tubuh itu ke tempat yang lebih aman.


"Klarififikasi segera dimulai, para wartawan harap tenang dan meletakan dengan rapi semua mic di tempat yang telah disediakan," salah seorang panitia penyambut wartawan memberi aba-aba setelah aku dan Feby Romasa beserta orang tua kami masing-masing tiba di meja yang ditetapkan.


Sapa pembukaan wartawan dimulai oleh ibuku dan dilanjutkan oleh ayah Feby Romasa. Pembicaraan keduanya berlangsung sepuluh menit.


Selanjutnya adalah klarifikasi dari kami berdua yang membantah pemberitaan yang beredar selama ini. "Saya menitik beratkan di sini bahwa kabar yang berhembus tentang pemerkosaan oleh saya seratus persen berita hoak. Semua berita hoak sifatnya menjatuhkan sekolah kami waktu itu yang sedang populer dan ternama. Dan juga ingin menjatuhkan nama besar keluarga orang tua saya," kataku mengklarifikasi.


Selesai aku berucap seperti itu, para wartawan itu mengajukan banyak pertanyaan. Terutama terkait wajahku yang kini bagaikan langit dan bumi dibanding wajah sebelumnya. Di bagian ini aku tak mau menjawab pertanyaan wartawan.


Aku malah membacakan puisi cinta di depan para wartawan itu yang aku persembahkan untuk Feby Romansa:


Aku dan kekasihku hanyalah sepasang remaja yang polos tanpa noda


Aku dan kekasihku bulan dan bintang yang bersinar


Aku dan kekasihku seperti seribu bunga dan boneka keabadian


Ucapanku penuh penghayatan menyampaikan puisi itu pada Feby Romansa di hadapan ratusan wartawan tersebut. Membuat suasana yang tadinya hiruk pikuk menjadi romantis. Tak lama kemudian beberapa petugas acara menghamparkan ratusan bunga dari Jepang dan puluhan boneka yang putih berbentuk awan.


Aku mengambil salah satu dari bunga dan boneka itu dan memberikan pada Feby Romansa.


Feby Romansa memandangi wajah ayahnya. Lama aku memegang boneka dan bunga itu barulah Feby Romansa menerimanya dengan sedikit senyuman. Akupun bernafas lega.

__ADS_1


Tepuk tangan ribuan wartawan mengiringi senyuman Feby Romansa. Ribuan bidikan lensa kamera tak henti-hentinya mengarah pada kami seolah-olah mengerayangi kami semua yang sedang menggelar jumpa pers media untuk meluruskan nama baik kami dan citra keluarga ini.


Orang tuaku tersenyum puas, hal yang sama juga terlihat dari wajah kedua orang tua Feby Romansa. Aku tak kalah bahaginya karena untuk pertama kalinya Feby Romansa mengarahkan senyumannya padaku.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2