
Aku yang tak bergeming sedikitpun manakala disuruh mempersiapkan diri untuk ke salon oleh para pekerja. Seperti biasa. Ketika para pekerja yang ayah suruh membujukku untuk melakukan sesuatu gagal. Akhirnya ayahku yang turun langsung ke gudang ini. Kehadiran ayahku biasanya disusul oleh ibuku di belakangnya, ibu biasanya selalu waspada akan hal-hal kasar yang dilakukan oleh ayah. Semoga kai ini ibuku juga mendampingi di belakang ayah. Setidak-tidaknya ibuku bisa menjadi tameng ketika ayahku menamparku lagi apabila keinginannya tak terwujud hari ini.
Tapi aku sepertinya sudah bertekad untuk tetap menolak hal tersebut, apapun resikonya. bahkan kematian sekalipun. Aku sempat berpikir ingin mati bila pertunanganan ini terus dilakukan.
"Hanya kau yang menolak menikah dengan konglomerat. Aneh!" Ayahku mulai membujukku dengan kata-katanya.
Aku sungguh tak memperdulikan kata-kata itu. aku tetap saja menatap tembok seperti tadi, sebagaimana bujukan para pembantu atau pekrja di rumah ini merayuku.
Aku ingin diam saja seperti patung dan membekukan hati.
"Coba kamu pikirkan Lagi anakku.Kita hanya di hadapkan pada dua pilihan. Mati atau menikahkamnu dengan Tampan. Kau jangan terlalu egois jadi anak. Kau tidak mau berkorban sedikitpun untuk masa depan keluarga ini, itu karena kau masih sangat kecil nak. Kau hanya mementingkan diri sendiri. Kalau kau mau berkorban tentu jutaan manusia terselamatkan. Perusahaan keluarga ini bisa bangkit kembali. Ribuan karyawawan perusahaan kita dan anggota keluarga mereka yang mungkin jumlahnya jutaan dapat menyambung hidup kembali. Mereka bisa makan. Keluerga ini juga bisa tentram kembali," entah mengapa kudengar suara itu sedikit parau.
Aku mencoba mencoba menoleh pada wajah ayahku. Baru kali ini ia meneteskan air matanya seperti ini.
"Kau terlalu mementingkan lelaki itu. Lelaki yang mencarimu di hotel Samudera. Mungkin kamu pikir dia bisa menyelamatkan jutaan nyawa karyawan perusahaan milik keluarga kita nak. Tidak. Sama sekali tidak. Uangnya tak bakal cukup untuk membangkitkan perusahaan milik keluarga yang terjerembab," ayahku makin terlihat sendu. Air matanya banjir.
Apakah yang harus kulakukan. Apa yang harus kukatakan. Kalau direnungkan pikiran ayahku tentu ada juga benarnya.Entahlah kali ini sepertinya ayahku benar-benar serius mengatakan ini. Apakah cinta ini benar-benar membuatku menjelma menjadi anak durhaka.Di sisi lain aku benar-benar tak bisa membantah cinta ini. Cintaku pada Senopati Adi Raka.
"Hanya ada satu pilihan yang bisa menyelamatkan nyawa manusia dan perusahaan keluarga, kau harus menikah dengan Tampan Menawan itu," ayah menatapku tajam.
Aku tetap belum bisa menjawabnya. Hingga lama kami terdiam. Ayahku sepertinya kehabisan kata-kata dan entah mengapa dia juga seperti membeku sama seperti hatiku yang membeku.
Kebekuan di antara kami tiba-tiba mencair. Ibuku datang, membuat aku dan ayahku sama-sama menoleh ke tangga yang dituruni ibu. Kulihat ayahku menyeka sisa air mata di wajahnya. Lalu dia berlalu dari hadapanku berpapasan dengan ibu di tangga, menatap ibuku sesaat lalu menghilang di balik pintu gudang tanpa kata-kata.
__ADS_1
"Kenapa ayahmu menangis?" kata ibuku sesampai di hadapanku.
Aku hanya menggeleng karena aku juga tak bisa menjelaskan pada ibuku bahwa ayahku menangis bercucuran air mata karena berbicara tentang perusahaan miliknya yang akan hancur bila aku bersikeras tetap tak mau dinikahkan dengan Tampan Menawan.
"Ayahmu menangis itu pertanda buruk,"
Aku mencoba mencerna ucapan ibu. Bukankah itu hanya sebatas tangis ketakutan ayah saja menjadi miskin bila pertunangananku dengan Tampan Menawan gagal?
“Ayahmu menangis pertanda bahaya anakku. Dia menangis karena kecewa yang teramat dalam. Dia siap mengambil resiko kematian atas tangisnya itu, kematian di antara kita semua. Entah itu ayah atau ibu atau engkau sendiri Febby,” suara ibu berhenti dengan nada parau.
Kali ini ibuku juga menangis dan mendengar kata-katanya yang menyebut-nyebut kematian akan terasa mengerikan. Aku harus bagaimana sekarang? Lebih baik aku saja yang mati. Bila aku mati semuanya akan selamat. Bukankah kematian aku tidak mempengaruhi perjanjian ayahku dengan keluarga Wibisono, konglomerat ayahnya Tampan Menawan itu.
“Kalau begitu aku saja yang mati Ibu,” aku menatap ibuku dengan serius menanti tanggapan itu.
“Kalau kamu mati artinya kamu juga membunuh ibumu ini nak, tanpa kamu hidup ibu akan tak berarti lagi,”
Haruskah hidup sekejam ini. Aku tiba-tiba tak kuasa mendengar tangisan ibu yang berubah menjadi isakan.
Haruskan aku berkorban untuk menghidupi orang banyak. Haruskah aku menikah dengan Tampan Menawan demi jutaan nyawa karyawan perusahaan keluarga ini.
“Ibu. Sudahlah jangan menangis terus. Jangan menangis lagi karena aku sekarang sudah berubah pikiran,”
akhirnya aku tenangkan bathin ibuku.
__ADS_1
“Kau bersedia menikah dengan putra konglomerat Wibisono itu,” ibuku memegang bahuku dengan mata yang kini masih berkaca-kaca.
“Tak ada pilihan lain Ibu,” aku menjawab datar. Sebenarnya seiring dengan pernyataanku itu telah terbersit pula
keinginanku akan membuat perhitungan dengan Tampan Menawan nanti. Tidak ada yang akan mati antara aku atau ibuku mapun ayahku. Kematian akan dirasakan nanti olehnya. Dia harus menebus keputusan ini suatu saat nanti dengan nyawa. Aku akan menjelma jadi penjahat baginya dalam hubungan suami istri nanti.
Hanya Tuhan dan Malaikat yang tahu rencana di hatiku ini, aku menikah dengan Tampan Menawan sementara aku akan tetap tak bisa melupakan kekasih sejatiku Senopati Adi Raka. Walau bagaimanapun jua aku harus menepati janjiku padanya untuk menjadi seorang istri.
“Sekarang ibu akan sampaikan dulu ini pada ayahmu ya, Feby,” ibuku berjalan cepat-cepat ke arah anak tangga dan tak lama kemudian menghilang di balik pintu.
Tangisan kedua orang tuaku membuat aku luluh juga. Aku akan bertunangan dengan Tampan Menawan. Tentu pertunanganan itu akan disusul juga oleh pernikahan. Lalu disusul juga oleh kematian Tampan Menawan. Karena aku berencana membunuhnya. Jangan ada yang bertanya mengapa aku berubah menjadi manusia yang kejam. Ketahuilah aku juga tak menginginkan kematian itu untuk orang yang nanti jadi imamku tersebut. Tapi rencana ini mampu menghidupkan banyak nyawa. Nyawa kedua orang tuaku dan para karyawan yang bekerja di
perusahaan mereka.
Hanya beberapa menit ibu kembali lagi. Kali ini dengan dua orang wanita yang senantiasa menjagaku bergiliran. "Ayahmu sangat senang hatinya atas jawaban kamu itu, Feby,"
Aku memaksakan senyum pada ibuku.
Lalu dua orang wanita itu segera membereskan semua pakaianku yang ada di gudang.
"Hari ini kamu akan kembali ke kamar, ya," ibuku mengatakan padaku seolah menjawab keherananku atas apa yang dilakukan oleh dua orang pekerja rumah itu. Mereka semua perlahan-lahan memindahkan pakaianku yang selama ini aku gunakan di gudang ini.
Sebenarnya ini tak terlalu menggembirakan bagiku. Di gudang ataupun di kamar bagiku sama saja.
__ADS_1
"Non Feby, hari ini mandi dulu ke kamar, ujar salah satu pekerja rumah tanggaku. Dia membimbingku naik tangga.
"Hari ini kita akan ke salon. Bajumu yang paling bagus dan baru sudah menunggu di kamar. Untuk dikenakan pergi ke salon," ibuku menyambung.