
"Permulaan. Apa maksudnya Bu?" aku tak mengerti tentang apa yang disampaikan ibuku.
"Kutukan itu perlahan-lahan sudah mulai melepaskanmu,Tampan. Ketika wanita yang kamu sukai sudah mulai berniat mempasrahkan dirinya untuk jadi milikmu, saat itu pula kutukan perlahan akan mulai menepi dari dirimu," jelas ibuku.
Tapi aku masih belum mengerti dengan jawaban ibuku. Terlebih apa yang aku alami barusan benar-benar tidak sesuai dengan ucapan ibu. Matahari pagi itulah yang bersinar sangat kuat ke arahku. Matahari dengan badai-badai tak karuan di sekelilingnya.
"Hari ini hari yang kau tunggu Tampan. Feby Romansa telah ditakdirkan untuk jadi milikmu," sambung ayahku.
"Tapi Ibu. Bagaimana mungkin lepasnya jerawat yang telah mengurung mukaku selama belasan tahun terkait dengan Feby Romansa?" tanyaku lagi dengan penasaran.
"Keiklasan kamu tentang sikapnya juga berpengaruh besar pada kutukan itu," jawab ibuku.
"Ibu. Pagi ini aku mengalami suatu yang aneh. Matahari yang bersinar pagi ini disertai dengan badai yang menambah sinarnya semakin menyala-nyala. Nampaknya badai Matahari fenomena jagat raya ini telah terjadi. Sinarnya yang membara menyentuh kulitku. Hingga jerawatku meleleh dan lepas seperti ini," Akhirnya aku menjelaskan pada ibuku apa yang sesungguhnya terjadi.
"Badai Matahari," ayahku mendongakkan wajahnya ke arah Timur. Lalu melangkah ke luar rumah menuju taman. Ibuku menyusul dengan cepat. Akupun melakukan hal yang sama.
Lama ayah menatap Matahari terbit di sebelah Timur. Lalu dia menggeleng-geleng sambil mengangkat bahu pertanda tidak menemukan apa yang dicarinya.
"Tidak ada yang aneh dengan Matahari," kata Ayahku kemudian.
Aku yang penasaran dengan pernyataan ayahku. Kembali memperhatikan Matahari dengan seksama. Kali ini aku melihat Matahari bersinar normal -normal saja. Bersinar lembut seperti pagi-pagi kemarin. Kemanakah badai matahari itu? kemanakah sinar terangnya yang begitu menyengat membakar kulitku.
"Iya. Tak ada yang aneh," ujar ibuku membenarkan ucapan ayahku.
__ADS_1
Secepat itukan badai itu hilang. "Tapi aku tadi di pinggir kolam benar-benar mengalaminya, Bu."
"Itu hanya halusinasimu saja. Hanya penglihatan semu. Hanya dirimu seorang yang merasakan hal itu, Tampan," kata ibuku lagi.
"Bagaimana mungkin itu halusinasi. Ketika panasnya yang membara mampu melelehkan jerawat-jerawat kutukan itu, Bu?" aku masih tak percaya.
"Bukti itu halusinasi. Hanya mukamu saja yang merasa perih dan jerawat kutukan itu meleleh, kulitmu yang lain apakah meleleh? Sungguh itu hanya jalan Tuhan saja melepaskan kutukan itu darimu," jawab ibuku lagi.
Aku memang tidak merasakan panas di area tubuhku yang lain. Padahal di tepi kolam renang. Aku hanya memakai celana renang, yang menutupi area pusar hingga lutut. Bagian tubuh yang lain telanjang. Tapi mengapa tidak meleleh.
"Yang penting kamu sekarang sudah lepas dari kutukan, di saat acar pertunangananmu siang nanti akan dimulai di rumah Feby Romansa,'
"Lihatlah Nak. Wajahku sangat gagah sekali. Tidak pernah kami melihat orang segagah wajahmu di kota ini. Tapi ingat seperti yang ibu katakan tadi, ini baru permulaan. Semua jerawat itu akan datang kembali dalam sekejap saat kesombonganmu datang, saat nanti timbul ketidak ikhlasanmu menghadapi Feby Romansa yang belum bisa menerima dirimu di sisi hatinya," ujar ibuku.
"Aku tentu tak ingin terjadi lagi, Ibu. Aku akan dengan ikhlas menghadapi Feby Romansa nanti," kataku menenangkan diriku.
"Nenek buyutmu dulu juga mengalami apa yang kamu alami. Sembuh perlahan-lahan dari kutukan. Tapi kesembuhannya belum permanen. Pada saat ia cemburu yang tak menentu pada kakek buyutmu, suaminya. Jerawat kutukan itu tiba-tiba muncul dengan sendirinya.Kalau jerawat itu muncul, nenekmu kembali memakai cadar untuk menutupi wajahnya yang buruk," ibuku kembali menceritakan tentang nenek buyutku.
***
Acara pertunangan aku dengan Feby Romansa sedang akan dipersiapkan saat ini. Para sepupu dan tetangga serta karyawan yang dipilih dari kantor sudah hadir mengiringi keluarga ini ke rumah Feby Romansa. Semenjak kutukan di wajahku sirna hari ini banyak sekali kejadian lucu yang menghampiriku. Selain kejadian lucu dengan ayahku yang menganggapku orang asing sebelum berhasil diyakinkan oleh ibuku tadi pagi. Ada kejadian lucu lainya. Mas Rocky yang bertugas di taman dan kolam renang tiba-tiba tercebur ke dalam kolam. Kakinya gemetaran saat melihat wajahku, hingga ia terpeleset. Para pembantu rumah yang menatap wajahku nyaris mengucapkan kata-kata seperti orang yang mengigau saat pertama kali melihat wajahku. Bahkan Bi Narsih pembantu senior di rumah ini pingsan melihat perubahan wajahku.
Aku semakin penasaran seperti apa wajahku saat ini. Karena saat jerawat itu berguguran ke lantai aku hanya melihat sekilas dalam keadaan penuh dengan seribu tanya atas kejadian itu.
__ADS_1
"Aneh sekali," aku mematut wajahku. Setelah baju yang dipersiapkan secara khusus untuk pertunanganan aku pakai. Aku melihat penampilanku di cermin. Aku merasa itu bukan diriku. Aku rasa itu hanyalah orang asing yang baru aku kenal. Malaikat yang menjelma jadi manusia, rupawan,maaf walau barang kali wajah itu mampu menandingi ketampanan Nabi Yusuf. Manusia tertampan di Dunia. Wanita yang melihatnya tanpa merasakan perih saat tangannya tersayat pisau. Ah.. mimpi kali ya. Aku tak boleh sombong seperti yang diamanatkan oleh ibuku tadi pagi.
"Sudah selesai berpakaiannya, Tampan?' seru ayahku dari luar kamar.
Aku segera membuka pintu kamarku. Ayahku sampai keheranan terkagum-kagum memandangku dengan setelan baju formal dilengkapi jas mewah yang aku kenakan."Para tamu yang mengantarmu sudah menunggu di ruang tengah,"
Lalu ayah membimbingku ke ruang tengah dimana para sepupu, para tetangga, para karyawan perusahaan milik keluarga ini telah memenuhi ruang tengah yang luas.Sebagian lagi di ruang tengah dan sebagian lagi di area taman. Social distancing yang mulai longgar membuat mereka denngan leuasa bergerak, tidak semuanya memakai masker. Mereka duduk di kursi yang empuk dengan makanan-makanan yang penuh kenikmatan.
Acaranya akan dimulai dengan makan bersama dulu sebelum rombongan pengatar akan beriringan ke rumah Feby Romansa.
Aku yang memasuki ruang tengah sudah disoroti oleh mata-mata yang mengarah ke arahku. Mereka seperti tak mengenaliku. Semuanya seolah terdiam melihat ke arahku. Yang sedang berbicara mengehntikan pembicaraan. Yang sedang makan menghentikan makananannya. Yang sedang melihat Hp mengalihkan pandangan ke arahku. Semuanya seperti terhipnotis oleh kehadiranku. Setelah diam beberapas saat saat aku baru memasuki ruang tengah, tiba-tiba berganti suara hiruk pikuk tak karuan. Kemudian tiba-tiba seseorang pingsan, nampaknya ia kaget dengan wajahku, ia sepupu wanitaku yang sudah mulai beranjak dewasa.
__ADS_1