
Entah telah berapa lama aku tertidur. Ketika Bi Ratna membangunkan dengan sangat perlahan. Kuusap mukaku yang masih terasa berat. Kupandangi Bi Ratna yang nampak sangat tak tega sebenarnya membangunkan aku. Pasti ada sesuatu yang sangat penting yang disampaikan oleh Bi Ratna. Seketika matanya nampak berkaca-kaca hingga matanya menetes ke lantai.
"Ada apa Bi Ratna?" aku seperti ikut menahan lara menyaksikan tangisan itu.
"Ada kabar duka dari Senopati Adi Raka, barusan saya mendapat emailnya," kata Bu Ratna sambil menahan tangisnya.
Seketika perasaanku makin haru dan tenggelam dalam larut kepedihan mendengar kabar itu. "Kabar duka. Apa yang terjadi dengan Senopati Adi Raka, Bi?" aku sudah berpikir pasti lelaki yang aku cintai itu telah meninggal dunia. Hingga menyebabkan Bi Ratna sesenggukan seperti ini.
"Lihat email dari Senopati ini, Non," Bi Ratna menyodorkan email yang telah dibacanya tersebut.
Ribuan waktu berlalu, aku menunggumu dalam kesakitan belahan hatiku..
Sejak hari itu di Hotel Samudera, aku selalu menahan rindu..
Rindu yang membuat aku sakit, bagai raga tak bernyawa.
Kekasihku... ribuan waktu aku menunggumu dalam kesakitan...
Sakit yang seolah-olah hendak menerbangkan nyawaku...
Kini aku tergolek lemah di pembaringan...
Tubuhku mulai lelah menanti cintamu...
Tubuhku semakin rapuh...
Aku kini seperti menghitung hari...
Aku menunggumu belahan jiwaku...
Di RS. Cermin Sehat aku menantimu..
Serta merta air mataku tumpah semakin menjadi-jadi manakala telah selesai membaca surat itu. Bersamaan dengan itu Bi Ratna juga semakin sesenggukan. Kami berdua bertangis-tangisan. Senopati Adi Raka yang aku cintai itu kini sedang sakit keras dan masih sempat mengirim e-mail seperti ini. Aku segera membalas email tersebut. aku berharap Senopati Adi Raka segera sembuh dari sakitnya.
Mengapa takdir membuat kita begini wahai sang impianku..
Aku telah berusaha menerobos serakahnya penghalang rindu..
Tapi sia-sia..
Cepatlah sehat cepatlah sembuh wahai sang impianku
Kita pasti segera akan bertemu kembali
__ADS_1
Janji kita tak akan pernah teringkari
Di sini aku rangkai ribuan doa untuk kesembuhanmu wahai sang impianku...
Bertahanlah!! Aku akan datang menemuimu
Tunggulah aku....
Selesai membalas surat itu. Aku bergegas berbenah menyiapkan diri ke RS. Cermin Sehat. Tak ada yang dapat menghalangi keberangkatanku sore ini menemui Senopati Adi Raka. Aku harus segera menemuinya. Aku tak ingin terjadi sesutau apapun jua atas dirinya. Apalagi sampai dijemput maut. Aku lebih baik mati bersamanya, jika Senopati Adi Raka meninggal dunia gara-gara aku tak pernah menemuinya lagi.
Belum sempat aku mengganti baju untuk ke rumah sakit, tiba-tiba ayahku datang ke kamar ini.
"Selamat ya anakku, kamu selangkah lagi akan jadi menantu orang terkaya di negara ini. Akan bersuamikan orang tertampan," kata ayahku.
Dalam kesempatan ini aku ingin meminta ijin jalan-jalan keluar barang sebentar saja. Aku sedang mencari alasan yang tepat untuk itu. Salah berbicara pasti ayah tak mengijinkannya. Ayahku sedang senang hatinya tentu dengan akan mudah mendapat ijin darinya.
"Ayah. Sudah lama aku tak berjalan-jalan ke luar. Bolehkah aku ke luar rumah saat ini," aku menyampaikan maksdu hatiku.
"Haruskah saat ini, sebentar lagi akan masuk waktu magrib dan malam segera akan datang, tundalah sampai besok," jawab ayahku.
"Ini sangat mendesak ayah, seseorang sahabat sedang sakit keras. Aku harus menemuinya, sebelum terlambat," kataku berterus terang.
"Kalau begitu. Kamu boleh keluar, ditemani oleh dua orang pekerja rumah dan sopir yang ikut mengawal kemanapun kamu melangkah," kata ayahku akhirnya memberikan ijin.
"Terimakasih ayah."
"Ingat. Kamu sudah bertunangan. Jangan lupa pakai cincin tunangan di jari manismu, kemanapun kamu pergi," kata ayahku kemudian.
Bagaimana aku bisa keluar rumah tanpa cincin itu, ayahku tak bakalan mengijinkan tanpa aku pakai cincin pertunangan tersebut. Setelah merenung beberapa saat akhirnya aku putuskan untuk tetap pergi menjenguk Senopati yang terbaring lemas di rumah sakit. Biarlah aku cari ide agar jariku luput dari perhatian ayahku.Aku lupakan sejenak kerisauan tentang cincin itu, aku hanya menyayangkan harganya yang terlalu mahal. kalau dicuri orang cincinku itu di kamarku ini pasti akan menjadi sebuah hal yang sangat membuat kegaduhan di rumah ini. Ayahku bisa marah besar.
Kali ini tak main-main. Rupanya ayahku telah menyiapkan dua orang polisi wanita yang mengawal kepergianku ke rumah sakit. Sopir tetap Pak Trisno yang juga bertugas sebagai bodyguard bagiku. Sudah pasti aku sangat tidak mungkin melarikan diri seperti beberapa hari yang lalu. Tapi aku memang tak berniat melarikan diri saat ini. Bukankah aku telah menjawab keinginan ayahku untuk mau menikah dengan Tampan Menawan demi menyelamatkan banyak nyawa.
Untunglah ayahku tidak terlalu memperhatikan jemariku saat aku berpamitan. Aku menarik nafas lega akhirnya bisa berangkat. Aku lupakan cincin yang hilang itu demi menemui Senopati Adi Raka yang terkulai lemas di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit aku segera menuju ruang di tempat Senopati Adi Raka di rawat. Aku disambut oleh kedua orang tua Senopati yang terlihat matanya sembab. Seperti menangisi keadaan Senopati yang berbaring lemah tak berdaya.
"Setiap waktu dia memanggil dan menyebut namamu selalu, Feby," tutur ibunya padaku setelah aku melihat Senopati tak sadarkan diri di tempat tidur rumah sakit ini.
Wajahnya sangat pucat. Dalam sekejap aku merasakan kepedihan yang termata dalam yang mengisi relung-relung hatiku. Aku tak tega melihatnya. Sampai air mataku jatuh berderai. Lalu aku duduk bersimpuh di samping pembaringan Senopati Adi Raka. Aku genggam erat jemari tangannya. Walau tangan itu kaku aku tiba-tiba merasakan kehangatan yang mengalir seketika.
"Kenapa Aa Seno bisa sakit seperti ini, Bu?" masih dalam genggaman jemari tanganku, aku bertanya poada ibunya yang tiba-tiba juga duduk bersimpuh di sampingku. Sementara ayahnya tetap duduk di kursi kamar rumah sakit.
"Dia butuh kamu Feby. Berjanjilah pada saya, kamu akan selalu hadir di dekatnya?"
"Tentu Ibu," jawabku singkat.
Aku genggam tangan Senopati lebih erat lagi, aku berharap dia terbangun saat kedatangan aku ini. Aku ingin memberikan dia senyuman dan semangat bahwa aku selalu ingin hadir bersamanya.
"Sebelum dia jatuh sakit secara tiba-tiba, menurut staff di kantor Kades tempat ia bertugas, Senopati mengalami kegelisahan yang amat sangat. Sepertinya ada sesuatu yang ia pendam, sampai-sampai ia tak bisa makan sedikitpun, entah apa yang ia pikirkan," kata ibunya lagi.
__ADS_1
Aku jadi teringat peristiwa di Hotel Samudra. Aku yakin ada kaitannya sakit Senopati dengan kejadian tersebut.
__ADS_1