Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Tersadar


__ADS_3

aku segera menuju ruang UKS, diikuti oleh langkah cekatan Ibunya Tampan.


Sesekali dia berkata-kata penuh umpatan dan terdengar jelas olehku. Tapi aku diam saja.


"Tahu ngak Neng, saya banyak menghamburkan uang untuk sekolah ini, demi memuluskan langkah tampan ke sekolah ini, 1 miliar...."  kata ibu itu kemudian.


Aku berhenti sejenak,


"Tapi ini yang terjadi dengan Tampan," lanjutnya lagi.


"Bu maaf, aku hanya bisa mengantar sampai di sini," kataku.


"Kenapa"


"Tidak apa-apa. Ruang UKS hanya 5 langkah lagi kok," aku menunjuk ke arah pintu yang di atasnya telah dilabel tulisan RUANG UKS.


"Tidak. Tidak.Tidak.,,,Kamu pasti butuh imbalan untuk mengantar saya, sehingga tidak iklas begini." kata ibu itu. lalu ia mengeluarkan 10 lembar uang seratusan dan menaruhkan di saku bajuku.


"Saya ikhlas Bu," aku mengembaikan uang itu ke tangan Ibunya Tampan.


"Kalau iklas, ambil uang itu dan temani saya ke Ruang UKS seperti perintah Bu Guru mu tadi. Tidak sopan amat..."


Kata-kata menyebalkan Ibunya Tampan membuat dadaku terasa sesak.


Akhirnya aku memutuskan mengantarnya sampai ke ruang UKS, aku takut kalau dia lebih marah lagi kalau aku tinggalkan begitu saja.


"Tapi Ibu ambil kembali uangnya ya,""' pintaku.


"Jangan," balasnya cepat.


"Baiklah, nanti uang ini akan saya berikan pada orang yang lebih membutuhkan," jawabku.


 "Hah, mulia sekali hatimu." katanya melongo sambil memperhatikan nama yang tertera di baju yang kupakai.


                                                                          ***


 


 


Semerbak wangi bunga yang sangat harum membangunkan aku dari tidur yang indah ini. Setelah mataku terbuka, aku baru sadar wangi tiada tara itu berasal dari parfum ibu yang didekatkan pada hidungku. Parfum mahal dari Jepang, selalu dibawa ibu kemana pun dia pergi.

__ADS_1


Ibu tersenyum ke arah ku, lalu mendekap ku penuh kehangatan. Di sampingnya ada teman sekelasku, wanita yang telah memberi senyum hangat di kelas tadi mengapa terlihat cemberut. Muka itu kenapa memendam sebuah kekesalan. Dia segera memalingkan mukanya penuh dengan kebencian ketika aku menatapnya. Bukankah dia satu-satunya orang yang memberi ku senyuman di kelas tadi. Apa yang terjadi padanya hingga berubah rona wajahnya padaku? Apakah dia juga mencibir ku layaknya teman-teman yang lainnya.


Sebelum terbangun dan tersadar dari pingsan, aku selalu berada di alam mimpi. Dia adalah sosok yang bersamaku di tempat yang sangat romantis dan dalam mimpi itu aku melakukan perbuatan.... Ahhh indahnya mimpi itu. Tapi aku malu menceritakannya.


"Syukurlah. Kamu sudah siuman" ibuku melepas rangkulan nya.


"Dia harus minum teh manis hangat ini, Bu," wanita paruh baya kemungkinan petugas dapur sekolah menyodorkan secangkir teh hangat kepadaku.


"Eit. Jangan!" ibuku langsung menolaknya.


"Tidak apa, Bu" Aku langsung menyerobotnya, aku tenggak teh itu hingga airnya yang segar mengakir ke dalam tubuhku. Aku merasa lebih kuat sekarang.


"Apa itu steril" tanya ibuku pada wanita pekerja dapur sekolah itu.


Wanita paruh baya itu hanya tersipu malu sambil mengangguk.


"Pasti steril, Ma," sambarku cepat. Aku meneguk teh manis hangat itu hingga tetesan terakhir, gelas kosong tak tersisa.


"Kasihan! Sepertinya kamu haus sekali." kata ibuku kemudian.


"Aku mau segelas lagi, Bi" kataku menyodorkan gelas itu pada petugas kebersihan yang belum kukenal namanya itu.


"Namanya siapa Bi, teh manisnya manjur sekali," kataku memuji.


"Selera kamu itu lho, rendahan banget. Minum teh manis kayak gitu saja nambah, coba di rumah makanan dan minuman serba lezat, kamu tak pernah suka," celoteh ibu.


"Bi Ranum!" panggil ibuku pada wanita perkerja dapur sekolah itu.


"Iya Bu,"


"Kamu saya kasih uang Rp. 500.00,00 ini, buruan beli makanan dan minuman yang enak di sekitar sini, untuk Tampan," kata ibuku sambil mengeluarkan uang lima lembar ratusan.


"Banyak sekali ini,"


"Sisanya buat Bi Ranum,"


Bi Ranum segera berangkat, namun teman sekelas ku yang ternyata bernama Feby Romansa itu memanggilnya, aku tahu dari nama yang menempel di bajunya.


"Bi Ranum, kemarin suami Ibu terjatuh dari motor, saya ada sedikit rezeki untuk Bi Ranum," Feby mengeluarkan segepok uang dari sakunya, lalu menyerahkan pada Bi Ranum.


Namun Ibu saya langsung menghadang tangan Feby,

__ADS_1


"Enak saja! Heh itu uang dari saya khusus buat kamu," teriak ibuku pada Feby.


Jadi uang itu dari ibuku, kenapa ibu sampai memberinya uang? aku berpikir keras.


"Heh Bi Ranum, berapa uang yang kamu butuhkan untuk kesembuhan suami mu yang jatuh," tanya ibuku pada Bi Ranum.


"Tujuh juta cukup Bu, perkiraan saya sampai sembuh," kata Bi Ranum.


"Ini, Bi Ranum terima uang dari saya, nanti sepulang bekerja ibu urus suami Ibu secepatnya, kasihan sekali saya mendengarnya,"


Bi Ranum terkejut terkeget-kager menerima 7 bongkahan uang yang dikeluarkan ibu dari tasnya.


Langsung saja ia bersujud sukur ke lantai, dan komat-kamit berdoa...


***


 


 


 


Sudah tiga hari aku terbaring sakit dan hanya meringkuk lemas di balik selimut di rumah.Kejadian ganjil bersama Tampan di ruang UKS yang tak kuduga-duga mengubah kondisi psikologisku.  Semua itu membuat badanku panas dingin tak karuan. Setiap kali aku mengingat Tampan, perasaan benci menyeruak teramat dalam ke relung-relung hatiku. Apa salahku sampai Tampan melakukan kejadian tak senonoh itu padaku.


Setiap kali aku mengingatnya, aku seperti terhempas gelombang di lautan lepas, hingga seluruh persendianku terasa tanggal. Ribuan kali kejadian yang menjijikan itu telah hadir hanya dalam tiga hari terakhirku ini. Aku benar-benar merasa tak berharga.


Aku tak menceritakan semua itu pada siapapun, termasuk pada orang tuaku, aku takut semua ini akan menjadi aib dan melemahkanku saja. Dokter yang memeriksa ku mengatakan aku tidak mengalami apa-apa, hanya terserang tipes akibat kegiatan di sekolah yang super padat.


***


Semenjak aku bermimpi dengan Feby di ruang UKS sekolah, mimpi itu ternyata berlanjut hingga ke rumah. Waktuku sepanjang tidur hanya bersama dengannya. Mimpi yang tak berkesudahan, kadang kali kami bermimpi melakukan hubungan terlarang, hingga seluruh celanaku kebasahan lagi setiap kali terbangun. Di saat itulah Setiap malam aku menyebut namanya, setiap hari aku selalu merindukan nya.


Aku tak peduli dengan sebutan wajah corona yang dialamatkan teman-temanku pada-ku di kelas, dan nama itu mulai menyebar dengan cepat ke seantero sekolah. Namun, lama kelamaan teman-temanku agak sungkan juga kepadaku, terlebih mereka tahu siapa orangtua-ku sebenarnya, entah dari mana sumbernya, mereka tahu orang tua-ku penyumbang terbanyak untuk sekolah ini tahun ajarna baru ini, angka fantastis, miliaran rupiah begitu mereka berbisik-bisik.


 


 


 


 

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2