Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini

Kisah Dari Sebuah Pernikahan Dini
Jutaan Kata Rindu


__ADS_3

Bi Ratna hanya terdiam mendengar kata-kataku. Dia tentu senang mendengar aku lepas dari hukuman. Tapi dia sepertinya tak tahu menanggapi  seperti apa. Mungkin dia agak kaget dengan keputusanku yang akhirnya mau bertunangan dengan Tampan Menawan lelaki yang kubenci.


“Kecantikan tidak ada artinya sekarang Bi. Bila tidak bisa memilih lelaki yang diimpikan selama ini.”


Bi Ratna tetap diam dengan pernyataanku.


“Apa Bi Ratna pernah membuka email dari Senopati Adi Raka,” tiba-tiba saja aku menyakan hal itu pada wanita yang dikhususkan ibuku untuk menjagaku tersebut semenjak aku masih duduk di sekolah menengah tingkat pertama.


Bi Ratna hanya menggeleng. “Aku tak berani membuka apapun tanpa sepengatahuan Non Feby.”


Untuk saat ini aku hanya menginginkan pertunangananku dan pernikahan nanti dengan Tampan Menawan tersembunyi dari pengetahuan Senopati Adi Raka.


“Kenapa begitu, Non?”


Karena cinta ini hanya untuknya. Janji dan sumpah yang telah terucap dulu membawa ketetapan hati ini hanya untuknya. Hati yang tak akan terlerai oleh apapun.


“Karena aku tak ingin dia terluka,” jawabku pada Bi Ratna setelah lama berpikir.


Pertunangananku dengan Tampan Menawan boleh saja terjadi. Pernikahan boleh saja berlangsung tidak lama setelahnya. Tapi bagiku pernikahan itu tak akan pernah ada artinya. Aku akan tetap mempersembahkan hati ini untuk orang yang telah membuat sumpah sehidup semati.


“Lalu bagaimana dengan email yang mungkin saja jumlahnya telah ribuan kali dikirim oleh Senopati Adi Raka setelah dia juga telah tidak bisa menghubungi nomor HP yang sengaja dimatikan oleh ayahnya Non Feby?”


Pertanyaan Bi Ratna membuatku sedikit tergugah. Jutaan kata-kata  kerinduan mungkin juga telah


tertulis dari ribuan email tersebut. Senopati tentu dengan setianya menanti setiap balasan kata-kata yang romantis dan indah tersebut. Dia akan senantiasa menunggu konten-konten di akun youtube Feby Romansa Jingga.


“Tapi dia sudah tahu tentang kondisi saya, Bi. Dia tahu saya sedang di bawah pengawasan ketat orang tua. Waktu itu kami ketemu di hotel dalam masa aku melarikan diri. Semoga saja dia memahami keadaan ini,” aku


mencoba menjawab pertanyaan Bi Ratna tadi.


“Jadi Neng Feby pernah lari dari rumah ini?”


“Lari dari gudang hukuman. Tapi entah kenapa kedua orang tuaku bisa menemukan aku kembali di Hotel Samudra itu. Hanya Senopati Adi Raka yang aku beritahu tentang keberadaanku di sana waktu itu. Aku menunggu


kehadirannya. Dia baru datang setelah ayah dan ibu datang telebih dahulu.”


Bi Ratna mengangguk-angguk memahami setiap apa yang aku

__ADS_1


ceritakan. Tak lupa aku juga beritahukan kejadian saat Senopati mencoba merebutku dari genggaman orangtuaku di lif.


“Sedih sekali kisah nya,  Non Feby,” tanpa terasa air mata Bi Ratna mengalir deras mendengar kisah


pelarianku.


“Jangan sedih Bi Ratna. Karena suatu saat nanti aku yakin cinta kami bersatu kembali. Perpisahan ini hanya bersifat sementara,” aku genggam tangan Bi Ratna. “Nanti bila laptop sudah dikembalikan ayah padaku. Aku akan


kembali menyerahkan pada Bi Ratna. Bila ada email yang menanyakan keberadaan diri ini dari Senopati. Katakan saja aku sedang mengalami masa pendidikan oleh keluarga dan tak bisa terhubung oleh media apapun, ya.”


“Baik Non.”


“Katakan padanya nanti. Pendidikan Ini tak butuh waktu lama. Hanya hitungan bulan. Aku akan kembali padanya. Hubungan ini sudah akan bisa dimulai lagi."


                                                                          ***


 


Semenjak pagi ini di mulai kala matahari terbit di sebelah timur. Alam hari ini tak seperti biasanya.  Aku yang terbangun lebih cepat dari pagi-pagi kemarin bisa menyaksikan matahari pagi terlihat lebih besar dari biasanya. Dari kolam renang tempat aku biasa berenang di pagi hari dengan leluasa menyaksikan badai-badai kecil mengelilingi matahari sehingga cahaya bola raksasa itu nampak seperti bergelombang, kadang terlihat separuh bulatan kemudian utuh lagi beberapa saat kemudian.


Sentuhan sinar matahari terasa perih di permukaan wajahku. Rasa perih itu membuatku spontan saja mengusap usap muka yang penuh jerawat kutukan yang tumbuh semenjak aku kecil. Rasa perih yang semakin menjadi manakala aku terus bertahan menatap sinar matahari tersebut. Hingga aku tak mampu lagi menahan rasa perih ini. Rasa perih yang semakin menjadi membuat kulit mukaku terasa seperti mau tanggal. Aku segera berlari ke kamar melihat apa yang terjadi dengan wajahku di cermin lemari pakaianku di dalam kamar.


"Astaga!!" aku menjerit sendirian melihat mukaku sendiri.


Seluruh jerawat di permukaan kulitku terkelupas satu demi. Serpihan kulit jerawat itu berceceran di lantai.


Nyatakah semua ini atau hanya mimpi belaka? Aku mencoba gigit lidahku terasa perih, aku coba pukul pahaku terasa begitu sakit. Semua ini nyata.


Aku kembali memandang cermin. Aku seperti melihat wajah orang asing. Wajah yang tak aku kenal walau aku yakin wajah itu adalah wajahku. Rupanya kulit yang mengelupas itu telah membuat wajahku beda dari biasanya.


Perubahan itu membuatku ingin menanyakan pada ibuku. Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku. Aku lari


tergopoh-gopoh ke lantai bawah menemui ibuku.


Ibuku yang sedang berada di kamarnya terkejut melihat kehadiranku. Ia nampak mengamati mukaku dan wajahku penuh keheranan. Sementara ayahku yang baru selesai mandi tak mengenaliku sama


sekali.

__ADS_1


"Siapa kau?" bentak ayahku ganas.


"Ayah! Ibu!" panggilku.


"Tampan!" ibuku mulai mengenali diriku setelah terdiam beberapa saat.


"Ibu," Aku memeluk ibuku. Ibuku membalas pelukan itu.


Namun, tiba-tiba ayahku melerai pelukan itu. Ia mendorongku dengan kasar. Hingga aku hampir terjerembab.


"Ayah!" aku tak habis pikir kenapa ayahku tak mengenaliku.


"Dia anak kita, Mas!" ibuku membentak ayahku.


"Anak kita dari mana?" ayahku masih keheranan.


Lantas ibuku membangunkan aku dari posisiku yang terjerembab didorong ayah.


"Aku Tampan, Ayah!"


"Tampan coba kamu ceritakan kenapa wajahmu bisa berubah seperti ini!" kata ibuku.


"Aku sendiri tak tahu Ibu, mungkinkah mukaku sudah sembuh."


Pengakuanku membuat ayahku menatapku lebih dekat. Memperhatikan seluruh tubuhku. Kemudian memegang kerah bajuku. Tangannya kemudian merenggangkan bajuku yang ada di bagian bahu. Di situ ada sebuah tahu lalat kecil. barang kali ayah mencoba membuktikan bahwa aku benar-benar Tampan Menawan dari tahi lalat yang ada di bahuku.


"Anakku Tampan," katanya seraya memelukku. Sepertinya ayahku telah yakin bahwa aku adalah anaknya. "Lihatlah anak kita tampan sekali persis seperti namanya," ayahku melepaskan pelukannya.


"Apakah kutukan jerawat itu sudah sembuh, Bu?" tanyaku masih penasaran.


"Pertama-tama ibu hanya bisa berucap syukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa atas apa yang terjadi padamu, Nak. Tapi ini baru permulaan dari awal semuanya."


 


 


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2