
Bulan sabit yang malu-malu menampakan diri di atas langit Kediri, di kaki Gunung Kelud. Malam yang disertai hembusan angin dingin yang semilir tidak terlalu bersahabat untuk penampakan satelit Bumi tersebut. Kadang bulan yang ringkih dan masih teramat kecil dan prematur itu timbul tenggelam dipermainkan awan yang berarak, membuat suasana di tempat ini agak sedikit suram.
Saat ini hampir mendekati jam sembilan malam. Tapi padepokan ini telah diliputi kesunyian yang mencekam. Aktivitas di alun-alun dan bangsal serta tanah apang di padepokan ini telah terhenti semenjak tadi. Persembahan empat belas rupa akan kujalani beberapa saat lagi. Pikiranku yang miris telah menyatu dengan suasana alam yang mencekam.
Senopati Adi Raka semenjak tadi belum juga menampakan diri di beranda kamar ini semenjak dipanggil oleh Eyang Jiwo setengah jam yang lalu. Membiarkan aku di beranda kamar sendirian di tempat asing dan mencekam pada saat malam, keindahan siang hari yang melenakan nampak sirna.
Bulan sabit menghilang dan gerimis kecil telah turun ke Bumi saat ketakutanku memuncak ketika beberapa langkah kaki terdengar dari kejauhan mendekatiku. Aku berharap itu langkah kaki dari Senopati Adi Raka yang telah kembali ke kamar ini setelah dipanggil oleh Eyang Jiwo.
Ternyata dugaanku salah, yang muncul adalah Dio dan seorang wanita muda anak buah Eyang Jiwo setelah aku mengintip dari orden jendela kamar ini.
"Gerimis telah datang, saatnya persembahan empat belas rupa dimulai," ujarnya setelah aku membukakan pintu kamar.
__ADS_1
"Apakah sekarang yang harus aku siapkan?" kataku sedikit gugup.
"Kita langsung menuju tanah lapang di ujung barat Padepokan ini," yang menjawab wanita yang bersama Dio.
"Dimana Senopati Adi Raka?" pertanyaan ini aku tujukan pada Dio.
"Ada bersama Eyang Jiwo di tanah lapang," jawab Dio padaku cepat.
"Sebentar! Aku ambil jaketku dulu."
Aku bergegas menyambar jaket kulit yang disediakan oleh Senopati Adi Raka. Lalu mengikuti langkah Dio dan gadis muda itu menuju ujung barat Padepokan ini.
__ADS_1
Sesampai di tanah lapang aku mendapati Eyang Jiwo dan Senopati Adi Raka sudah menunggu di sana. Pada saat bersamaan juga datang kedua orang tua Senopati Adi Raka ditemani oleh Rendy. Tak lama kemudian gadis yang katanya menyerupai diriku juga hadir di tempat ini bersama ayahnya. Keduanya didampingi oleh dua lelaki muda anak buah Eyang Jiwo yang belum aku kenal.
Kami semuanya berkumpul di tanah lapang dengan guyuran gerimis kecil yang tidak terlalu deras. Masing-masing mengenakan pakaian tebal yang dibawa dari kamar masing-masing. Hanya Eyang Jiwo dan kaki tangannya saja yang mempunyai baju tebal yang seragam.
Eyang Jiwo dan Senopati Adi Raka berdiri hampir berdekatan dengan posisi berhadapan. Mereka dipisahkan oleh sebuah tembok berukuran kecil serupa punden mini yang berundak. Di atas tembok itu aku melihat sebuah wadah berisi air dengan bermacam-macam kembang. Aku tak tahu maksud dari semua itu. Hanya saja tak lama kemudian salah satu anak buah Eyang Jiwo menimba kembang dengan gayung dan memercikan airnya ke seluruh orang yang ada tanah lapang yang gerimis ini.
Akupun terkena percikan itu, bau yang sangat harum yang keluar dari air kembang yang berasal dari wadah tersebut membuat aku seperti berada di tempat dan suasana yang sangat indah. Selanjutnya salah seorang anak buah Eyang Jiwo mengatur tempat kami berdiri. Aku dan gadis yang menyerupai diriku berdiri berhadapan. Sementara yang lainnya hanya berdiri dari kejauhan. Kami semua berdiri dengan posisi menghadap ke arah wadah di atas tembok kecil di tanah lapang ini.
__ADS_1